
Selama menempuh perjalanan kembali menuju kota Jakarta, ada hal berbeda yang dilakukan oleh Leo selama perjalanan kali ini, Leo membeli dua buah batang logam yang beratnya mencapai lima puluh kilogram dan mengikatnya di kedua kakinya.
Leo melakukan hal itu karena sudah hampir satu bulan dia tidak melatih tubuhnya sampai batas kewajaran yang biasa dilakukan oleh Ryan gurunya, memang pada masa awal latihan dengan Ryan, Leo berpikir bahwa latihan yang diberikan oleh Ryan tidak ada gunanya baginya tapi setelah mengetahui apa manfaat latihan dari Ryan, Leo lebih sering melakukan latihan bahkan tanpa diminta oleh gurunya.
Leo tidak ingin malas-malasan karna dia takut apa yang dilakukannya saat ini bisa berdampak buruk pada pelatihannya, terlebih masih ada banyak musuh kuat yang menunggunya jadi tidak ada alasan bagi Leo untuk memperkuat dirinya sendiri dengan cara pelatihan yang wajar, memang pelatihan itu Dimata orang lain tidak wajar tapi di mata Leo wajar jika dia melakukan latihan itu untuk memperkuat tubuhnya.
Saat hari pertama Leo menggunakan beban di kedua kakinya untuk menempuh perjalanan, Leo hanya mampu menempuh jarak sekitar lima puluh kilometer, karena hal itu pula kakinya terasa begitu keras dan sangat sakit untuk melangkah, bahkan Leo merasa nyeri yang begitu mengerikan dari kedua kakinya seolah kaki kaki milik Leo telah remuk.
Akan tetapi bukannya menghentikan latihan ekstrim setelah apa yang dia rasakan, yang dilakukan oleh Leo justru sebaliknya, Leo justru menggunakan metode pelatihan itu dan memaksa dirinya sampai titik dimana Leo benar benar tidak kuat untuk berlari.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah, masih ada waktu yang tersisa sebelum aku menemui Lili dan yang lainnya, aku harus bertambah kuat" Ujar Leo.
Setelah insiden tsunami di laut selatan, Leo menyadari satu hal bahwa kekuatannya saat ini sebagai seorang Hunter masih sangat terbatas, bahkan untuk menahan terjangan dari gelombang besar Tsunami, dia sampai kehabisan kekuatan spiritual dan terombang ambing di lautan.
Jika saja Leo tidak menelan mutiara laut pemberian Vivian, mungkin dia sudah berubah menjadi fosil di dasar laut saat ini.
Apa yang dilakukan Leo membuat semua orang yang melihatnya bertanya tanya mengenai kewarasan Leo dan bagaimana dia bisa menyiksa dirinya dengan beban beban seperti itu, meskipun beberapa dari mereka adalah Hunter, mereka berpikir apa yang dilakukan oleh Leo percuma karena kekuatan dan ketahanan fisik seorang Hunter akan meningkat setiap saat bersamaan dengan meningkatnya kekuatan mereka.
__ADS_1
Mendengar banyak cemoohan dan hinaan dari banyak orang tidak membuat Leo patah semangat, dia terus berlari hingga setelah lewat sebelas hari, Leo baru tiba di kota Jakarta.
Beban yang dia bawa sudah tidak terasa terlalu berat bagi Leo bahkan dengan beban itu tubuhnya sudah bisa menyesuaikan dan bergerak semakin cepat setiap waktunya.
Leo belum mencoba berlari tanpa menggunakan beban di kakinya sehingga ketika dia tiba di kota Jakarta, dia memasukkan beban itu ke dalam cincin penyimpanannya dan berlari menuju rumah sakit terdekat dan hasil yang dia dapatkan cukup mengagumkan, langkah Leo lebih ringan dibandingkan dengan sebelumnya dan gerakannya yang dilakukan oleh Leo dua kali lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan penuhnya, meskipun Leo berada di tingkat pembentukan inti bintang 3, dia sudah bisa mengimbangi orang yang berada di tingkat Perombakan tulang bintang 1 jika membahas mengenai kecepatan.
Kenapa Leo berlari ke rumah sakit? Karena Leo tidak tahu dimana dia harus menemukan Lili dan lainnya selain rumah sakit, mereka pasti tahu dimana keberadaan Lili dan yang lainnya karena dengan luka yang diderita oleh Masamune dan Dinda, mereka masih membutuhkan obat.
"Kenapa aku merasakan firasat yang buruk ketika kembali kemari? Padahal sebelumnya tidak ada perasaan aneh" Ujar Leo menghentikan larinya sambil menolehkan kepalanya ke segala arah tapi dia tidak menemukan hal aneh yang mencurigakan.
"Mungkin hanya Firasat" Ujar Leo dan kemudian dia berjalan menuju ke arah rumah sakit kota Jakarta.
Di tangan kanan Orbion itu terdapat sebuah pedang dengan pola pola aneh dan beberapa tombol di sekitarnya.
Orbion itu menatap ke arah Leo sambil menyiapkan senjatanya untuk melancarkan serangan dadakan dan membunuh Leo.
"Apakah dia memang berbahaya seperti apa yang dikatakan oleh orang itu, mulut manusia sulit untuk dipercaya dan sangat beracun" Guman wanita itu sambil menatap ke arah Leo sebelum Leo mulai mengambil ancang ancang untuk berlari.
__ADS_1
"Dia akan pergi, aku harus mencegahnya sebelum dia berada di tempat yang ramai" Ujar Orbion itu kemudian dia melesak ke arah Leo.
Leo yang menyadari ada musuh di belakangnya segera menggunakan kemampuan langkah awannya yang mana membuat serangan Orbion itu mengenai udara kosong.
"Sial!" ujarnya sebelum pandangannya berubah ke arah Leo yang juga menatapnya saat ini.
"Orbion, kalian sudah melakukan pergerakan di bumi, sepertinya apa yang dikatakan oleh ayahku benar" Ujar Leo memandangi Orbion di depannya kemudian dia mengeluarkan tombak Guntur yang mana ketika tombak itu keluar petir petir menyambar ke segala arah berpusat pada tubuh Leo.
Orbion itu juga mengeluarkan pedang yang Leo tahu pedang itu bisa berubah ubah menjadi berbagai macam senjata yang berbeda dari apa yang dia ingat dari pertarungannya dengan Orbion sebelumnya.
"Kau harus mati!" Ujar Orbion itu sambil mengarahkan pedangnya ke arah Leo yang mana ketika hal itu terjadi senjata yang sebelumnya berupa pedang berubah menjadi sebuah meriam plasma yang mana energi kejut yang sangat besar berkumpul di ujung senjata itu.
Dengan satu tembakan, sinar cahaya melesat menuju ke arah Leo yang mana ketika cahaya itu ditembakkan, Leo memusatkan sihir petir ke ujung tombak Guntur miliknya.
Pertemuan dua kekuatan yang berbeda membuat ledakkan yang cukup besar ditempat berdirinya Leo saat ini.
Tembakan dari meriam plasma yang dikeluarkan oleh senjata Orbion itu menghantam kekuatan petir Leo yang mana membuat cahaya meriam plasma terpecah belah menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin dia bisa menahan serangan itu, kalau begitu bagaimana dengan ini?" Orbion itu meremas sesuatu berbentuk kubus di pinggang kanannya dan seketika benda itu berubah bentuk menjadi meriam plasma yang lain.
Saat ini Leo harus berhadapan dengan dua meriam plasma sekaligus, karena hal itu sambil menahan tembakan meriam plasma yang pertama, Leo mengeluarkan pedang miliknya.