ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya

ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya
Sikap Dinda


__ADS_3

Baik Leo, Dinda maupun Masamune cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Lili bahwa dua kerajaan di dunia Astral telah runtuh, terutama Leo, dia tau betul seberapa kuat setiap kerajaan astral karena dia pernah pergi ke kerajaan Laut Selatan wilayah kekuasaan Ratu Laut Selatan.


Leo juga tahu seberapa besar kuat dari kerajaan astral yang mana satu kerajaan astral saja memiliki lebih dari satu makluk yang memiliki tingkat pelatihan Saint Suci.


Akan tetapi Lili tidak mengetahui pasti mengenai kerajaan astral mana yang telah dihancurkan, yang jelas dia mendapatkan informasi dari aura negatif di udara bahwa dua kerajaan astral telah runtuh.


Mereka tidak membahas masalah runtuhnya kerajaan astral dan memilih mengalihkan topik pembicaraan karena bagi mereka runtuhnya kerajaan astral tidak ada hubungannya dengan mereka.


Terlebih makhluk gaib adalah makhluk Yang memiliki kehidupan abadi, jika tidak menyerang jiwa mereka,.maka sebanyak apapun mereka dihabisi, tetap saja hasilnya akan sama mereka bisa kembali hidup, hanya kerajaan yang runtuh adalah masalah yang sepele bagi makhluk gaib.


"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Masamune menatap rekan rekannya secara bergantian.


"Kalau kalian tidak repot, kalian bisa menemani aku pergi untuk membuat senjata, kalian sudah memiliki senjata spiritual tapi aku belum memilikinya" Ujar Dinda yang mana membuat Leo menatapnya dari atas sampai bawah.


"Apa yang kau lihat dasar mesum!" Ujar Dinda ketika dia melihat Leo menatap tubuhnya naik turun yang mana setelah Dinda mengatakan hal itu, ekspresi wajah Leo berubah menjadi buruk.


"Kakakku bukan orang seperti itu, dia hanya heran karena kau bahkan belum menyentuh tingkat pembentukan inti, kenapa kau terburu buru dengan senjata spiritual" Ujar Lili yang muncul di tengah tengah Leo dan Dinda.


"Hantu kecil sepertimu tau apa, meskipun aku terlihat paling lemah di antara mereka, aku masih lebih baik dibandingkan dengan kakakmu" 


"Heh, benarkah, kalau begitu kenapa kau tidak melawanku?"


"Kenapa aku harus melawanmu, aku punya masalah dengan kakakmu bukan dirimu!" 

__ADS_1


"Meskipun tanganmu telah sembuh, sepertinya matamu masih buta, kakakku tidak seburuk apa yang kau katakan, kakaku saat ini mengalami luka yang sangat serius bagaimana mungkin dia melawanmu" 


"Bilang saja kalau takut" Ujar Dinda sambil membuang mukanya.


"Kalian berdua, apakah pertengkaran kalian sudah cukup, Lili jangan pernah sombong dengan apa yang kau miliki, apa yang kau miliki bukan untuk menyombongkan diri tapi gunakan itu untuk menolong orang lain, dan Dinda, aku katakan sekali lagi padamu, apa yang kau pikirkan mengenai diriku semuanya adalah kesalahan besar, dan aku ingatkan padamu, jagalah sopan santunmu karena tidak semua orang suka dengan perlakukan yang kau berikan" Ujar Leo kemudian dia mengayunkan tangannya dan melemparkan satu botol pil kepada Dinda.


"Gunakan itu, dengan itu kau bisa menembus tingkat pembentukan inti dengan mudah" Ujar Leo.


"Sudah sudah, kita adalah satu kelompok jadi jangan bertengkar, lebih baik kita istirahat di sini sebentar, meskipun bangunan ini sedikit rusak setidaknya masih bisa ditempati" Ujar Masamune sambil membopong Leo masuk dan Lili mengikuti di belakangnya.


Dinda sendiri saat ini hanya tersedia di tempatnya sambil memandangi pil pemberian Leo, entah kenapa kata kata yang keluar dari Mulut Leo berbunyi terus menerus di telinganya dan mengulang kata kata yang sama.


"Apakah benar selama ini semua orang menjauhiku karena sikapku pada mereka?" Ujar Dinda kemudian dia mencengkram erat pil pemberian Leo dan berlari keluar dari bangunan yang akan mereka tinggali.


Maka dari itu saat ini dia mencari tempat yang bisa digunakan untuk menenangkan diri dari semua beban pikiran yang ada di dalam kepalanya.


"Apakah kau tidak terlalu berlebihan padanya, memang dia sedikit tidak menyenangkan tapi bukankah seharusnya kau bersikap lemah lembut terhadap seorang wanita?" Masamune menatap ke arah Leo yang melihat Dinda berlari pergi dari kediamannya dari celah jendela yang dia pecahkan.


"Meskipun dia adalah wanita, dia masih seorang Hunter, seharusnya dia bisa menangani hal ini dan berpikir dengan jernih setiap konsekuensi atas semua tindakannya" Ujar Leo menanggapi pertanyaan Masamune.


…..


"Apakah aku orang yang begitu menyebalkan? Kenapa orang orang menjauhiku?" Dinda saat ini menundukkan kepalanya sambil menatap sebuah bangunan yang berdiri sangat megah tapi bangunan itu sudah hancur dimana mana akibat serangan para Orbion.

__ADS_1


Tidak bisa dikatakan sebagai pemandangan yang bagus karena bangunan itu sudah hancur tapi hancurnya bangunan itu memberikan arti tersendiri bagi Dinda.


Dinda memandangi bangunan itu cukup lama hingga perhatiannya teralihkan pada suara tangis anak kecil, dia mencoba mencari sumber suara itu dan menemukan seorang anak yang menangis tersedu sedu menatap bangunan yang hancur di depannya.


Tanpa pikir panjang Dinda berlari ke arah anak itu.


"Adek, kenapa kok menangis?" Tanya Dinda memandang ke arah anak itu, dia memang sengaja berubah sikap menjadi lebih sopan dibandingkan dengan sebelumnya karena lawan bicaranya saat ini adalah seorang anak kecil.


"Kakak, tolong…"


"Anak yang merepotkan, apakah kau tidak tahu bahwa kami sedang mencarimu, ikut aku atau kau akan aku tinggalkan ditempat ini!" Ujar pemuda itu menarik tangan anak kecil yang menangis itu menjauh membuatnya menangis semakin keras.


"Diam, aku bilang diam dan ayo jalan!" Ujar pemuda itu menarik anak kecil yang sedang menangis itu membuat Dinda merasa sangat marah.


Jika dia diberikan kesempatan mungkin saat ini pemuda yang menarik anak itu akan habis di tangannya tapi entah kenapa pikirannya saat ini berkecamuk dan saling bertentangan satu sama lain.


Dinda berpikir mungkin apa yang terjadi di depan matanya adalah pandangannya mengenai dirinya sendiri yang selalu berpikir dalam satu arah dan menganggap dirinya paling benar padahal di sisi lain, ada banyak hal yang seharusnya tidak dilakukan yang mana hal itu bisa merugikan banyak orang.


"Apakah aku selama ini dipandang oleh orang lain seperti pemuda ini, memaksakan kehendakku terhadap segala sesuatu dan berpikir bahwa aku adalah orang yang paling benar" Ujar Dinda menatap kejadian kedepannya hingga teriakan anak itu membuat Dinda kembali tersadar.


"Kakak Tolong…!" Ujar anak itu dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.


Begitu tersadar Dinda mencengkram tangan pemuda yang menarik anak kecil itu sambil menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Tak mau kalah, pemuda itu juga menatap ke arah Dinda dengan tatapan tajam hingga kejadian berikutnya hanya kehening selama beberapa saat.


__ADS_2