ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya

ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya
Pertemuan Yang Mengharukan Ibu dan Anak


__ADS_3

Blam…blam…blam…petir yang keluar dari tubuh Naga Berzirah menyambar ke segala arah dan menghancurkan beberapa perabot rumah yang tersusun rapih yang ada di ruang kerja Luan.


Dalam sekejap Sambaran petir itu membuat ruang kerja Luan berantakan layaknya melihat sebuah gudang, berbagai hal berserakan di mana mana terutama kertas yang berserakan di berbagai tempat.


Bukan hanya itu, tekanan yang begitu besar membuat ruangan itu bergetar dengan sangat hebat bahkan buku buku yang tersusun rapih di atas rak dan beberapa barang lainnya yang berdiri di ruangan itu berjatuhan akibat tekanan yang diberikan oleh Leo.


"Leo hentikan semua ini, kau mengacaukan semuanya!" ujar Misari tapi tidak di dengarkan Oleh Leo, bahkan Fitri menyuruh Misari untuk mundur karena baginya masalahnya dengan Leo hanya bisa di selesaikan antara mereka berdua sebagai ibu dan anak.


"Ibu akan membiarkanmu mendaratkan satu serangan padaku, anggap saja sebagai permintaan maaf karena ibu telah meninggalkanmu, meskipun ibu terbunuh dalam serangan ini tidak masalah asalkan kau puas" Ujar Fitri sambil merentangkan tangannya.


Mendengar hal itu Leo menggigit bibir bagian bawahnya, dia benar benar sedih memikirkan mengenai ibunya dan membayangkan pertemuannya dengan ibunya yang akan berlangsung indah.


Kendati demikian Leo tidak berhenti, dia mengalirkan kekuatan spiritual dalam jumlah besar ke dalam kedua senjatanya yang mana ketika pedang milik Leo di aliri kekuatan spiritual udara dingin segera memenuhi udara sementara derit petir menyambar dari tombak guntur miliknya.


Kilatan kilatan petir menyambar ke segara arah diikuti oleh hancurnya lantai tempat Leo berpijak yang berubah menjadi hitam, tubuh Leo saat ini sudah di selimuti oleh api yang begitu panas sampai sampai semua orang yang ada di ruangan itu bisa merasakan suhu panas yang keluar dari tubuh Leo.


Panas, dingin dan merusak, itulah yang terjadi pada diri Leo saat ini yang mana membuat Luan dan Tiffany yang memang tidak cukup mengenal Leo sangat terkejut.


"Leo hentikan semua ini, kau merusak rumahku dan ingatlah bahwa dia adalah ibumu, kau tidak boleh melakukan hal buruk padanya!" ujar Misari tapi Fitri mengangkat tangan kanannya memberikan kode pada Misari untuk tidak ikut campur dengan keputusan yang Leo ambil untuk kedua kalinya.


"Baiklah Nak, kau bisa menyerang ibu, ibu siap meskipun harus mati di tanganmu!" ujar Fitri sambil merentangkan tangannya.

__ADS_1


Melihat hal itu air mata terlihat menetes membasahi pipi Leo tapi tidak terdengar suara tangisan dari pemuda itu sama sekali.


Dengan menghentakkan kakinya erat erat ke lantai, Leo membuat sebuah bekas terbakar di lantai ruangan itu dan bekas terbakar itu terus merembet hingga menuju ke arah Fitri.


Setelah mengambil beberapa langkah Leo kemudian berlari menuju ke arah Fitri yang sudah siap dengan menutup matanya, bahkan jika dia harus mati di tangan Leo dia akan menerima hal itu karena dia sadar meninggalkan seorang anak yang tidak berdaya adalah kesalahan dari seorang ibu.


Leo memajukan kedua senjata spiritualnya ke arah Fitri secara bersama sama hingga ketika terpaut jarak beberapa centkneter dari Fitri, semua yang dikeluarkan oleh Leo menghilang dan Leo memeluk tubuh ibunya dengan pelukan yang sangat erat.


"Leo apa yang kau lakukan nak?" Tanya Fitri yang cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Leo, dia merentangkan tangannya berusaha memeluk Leo tapi begitu teringat kesalahannya dia mengurungkan hal itu.


"Ibu tahu aku begitu takut kehilangan ibu, selama ini aku hidup dengan ibu dan selama ini ibu yang mengajariku berbagai hal, mengarahkan ku jika aku melakukan kesalahan dan mendidiku dengan didikan terbaik, kehilangan ibu bagiku adalah kehilangan dunia yang sangat berharga" Ujar Leo dengan air mata yang terus menetes tanpa henti.


Kehilangan sosok yang menjadi pelita dan penunjuk jalan baginya dan sosok yang selalu menyayanginya apapun yang terjadi.


Kini begitu Leo melihat ibunya, dia tidak ingin melepaskan wanita itu bahkan untuk sesaat karena dia tidak ingin kembali kehilangan barang berharga yang tak ternilai harganya yaitu seorang ibu.


Mendengar apa yang Leo katakan membuat Fitri juga menitihkan air mata, dia menekuk tangannya dan memeluk Leo dengan arat penuh dengan kasih sayang sambil membelai rambut anaknya yang pendek.


"Ibu juga tidak akan meninggalkanmu lagi, maaf jika sebelumnya ibu pergi tanpa mengucapkan apapun padamu" Ujar Fitri sambil mengelus rambut putranya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Meskipun Fitri adalah seorang Hunter yang kuat dan bisa bertahan dari segala macam rasa sakit, tapi ketika hatinya diserang maka dia tetap akan menangis.

__ADS_1


Bagaimanapun Fitri adalah seorang manusia yang tidak sempurna.


"Kak Dinda, apakah kakak melihat air keluar dari mataku mataku? Melihat kakak bertemu dengan ibunya membuatku sangat terharu, andai saja aku juga bisa bertemu dengan ibuku pasti kebahagiaanku akan lengkap" Ujar Lili sambil mengelap air mata yang keluar dari kedua matanya.


"Kakak?" Tanya Fitri menatap ke arah Lili yang mana setelahnya Leo melepaskan pelukannya dari Fitri dia mulai menjelaskan mengenai Lili.


"Ibu, maaf karena aku tidak meminta izin pada ibu atau ayah, ketika melakukan perjalanan aku dan Lili memutuskan untuk menjadi adik kakak jadi ada yang menemaniku dalam berpetualang" Ujar Leo yang mana membuat Fitri semakin sakit hatinya karena dia tidak bisa menemani putranya dalam setiap kondisi.


Fitri memejamkan matanya sejanak dan mengambil nafas dalam dalam sebelum menatap ke arah Lili. "Kemarilah, karena putraku adalah kakakmu maka kau sama saja dengan putriku" Ujar Fitri dengan senyuman tipis di wajahnya yang mana membuat Lili menangis sejadi jadinya sebelum dia berlari dan menjatuhkan dirinya di pelukan Fitri bersama dengan Leo.


"Hua, ibu" Ujar Lili dengan teriakan sejadi jadinya karena selama ratusan tahun, baru kali ini dia bisa memeluk seseorang yang bisa di anggap ibu.


"Lili, kenapa tubuhmu terasa begitu dingin, apakah kau sakit?" tanya Fitri sambil melepaskan pelukan keduanya dan menatap ke arah Lili dengan tatapan yang mengisyaratkan kekhawatiran.


Suhu dingin yang dirasakan oleh Fitri di tubuh Lili benar benar ekstrim bahkan Fitri belum pernah merasakan suhu sedingin Lili sebelumnya.


"Maaf ibu, aku tidak memberitahu ibu sebelumnya"Ujar Leo sambil membersihkan bekas air matanya dengan mengulapnya dengan baju yang dia kenakan.


"Apa yang ingin kau katakan, bicaralah" Ujar Fitri dengan Lembut membuat hati Leo terasa begitu tenang.


"Lili bukan manusia melainkan Roh yang menggunakan suatu teknik untuk mengambil wujud manusia" 

__ADS_1


__ADS_2