
Hari demi hari terus berlalu dan hari menjelang kompetisi terhitung hanya tinggal 2 hari lagi, tidak ada kabar jelas mengenai Fiki bahkan Meskipun mereka mencari di akademi Naga Barat, Fiki tidak bisa ditemukan seolah dia lenyap begitu saja.
Leo juga sudah berusaha mencari Fiki di rumahnya Tapi menurut penjelasan orang tua Fiki, mereka juga sangat khawatir dengan keberadaan Fiki karena sudah berhari-hari Fiki tidak kembali ke rumah bahkan para tetangga dimintai tolong untuk mencari Fiki tapi masih belum ada hasil yang jelas.
Leo Tidak datang ke Akademi setelah mendapat teguran dari kepala akademi untuk kesekian kalinya Karena membuat beberapa guru memutuskan untuk keluar dari Akademi karena menganggap diri mereka tidak cukup berpengetahuan dibandingkan dengan Leo.
Bukan hanya satu melainkan hampir semua guru yang menegur Leo ketika tertidur mereka memutuskan untuk mengambil studi lebih lanjut.
Leo juga sudah membuat jutaan pil yang dapat digunakan untuk melakukan terobosan dan menjualnya ke tempat pelelangan serta ibunya secara bertahap, ini harta yang dimiliki oleh Leo tidak kurang dari 10 triliun rupiah.
Jumlah yang sangat mengerikan yang mana uang sebanyak itu dihasilkan dalam waktu 1 bulan oleh seorang anak muda yang berusia kurang dari dua puluh tahun.
"Ini mungkin adalah pil terakhir yang aku buat untuk ibu, aku akan membuat pil lainnya setelah kompetisi selesai karena aku harus fokus pada satu hal untuk saat ini" Ujar Leo menjelaskan sambil menyerahkan setumpuk pil kepada ibunya.
"Bantuanmu lebih dari cukup, terlebih pil yang lebih kuat dibandingkan dengan pil pil lainnya bisa mempercepat seseorang menembus tingkat, ada orang yang bisa menembus dua tingkat sekaligus ketika dia menggunakannya dan ada yang lebih banyak lagi" Ujar Fitri menjelaskan sambil mengelus rambut Leo.
"Leo, Aku berharap kau tidak memaksakan dirimu dalam kompetisi kali ini, tapi apapun hasilnya nanti aku akan mendukungmu" ujar Fitri dengan senyuman lembut di wajahnya.
"Terima kasih Bu aku akan berusaha semampuku dalam kompetisi ini dan berusaha meraih juara pertama untuk ibu" Ujar Leo dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Ah ngomong ngomong mengenai Misari, ibu dan tuan Luan sudah sepakat bahwa kami akan menikahkan kalian berdua setelah kompetisi selesai, tuan Luan tidak keberatan menikahkan kalian berdua secepatnya karena dia mendengar dari kepala akademi bahwa kau adalah murid paling cerdas bahkan mampu mengalahkan kecerdasan seorang guru" Ujar Fitri.
"Baiklah semangat Leo, ibu akan usahakan hadir ketika kompetisi dimulai untuk melihatmu" Ujar Fitri menatap ke arah Leo sejenak sebelum dia pergi dari sana.
"Sepertinya Ibu memiliki sesuatu yang disembunyikan dariku seolah-olah dia tidak akan pernah bisa melihatku lagi sebenarnya apa yang terjadi?" Batin Leo menatap kepergian ibunya.
……
Sementara itu saat ini di stadion Surajaya tampak segala persiapan ditata dengan sangat rapi, berbagai keperluan untuk kompetisi disiapkan seperti hadiah, pertolongan pertama, tenaga medis, dan segala sesuatu yang menyangkut kompetisi.
Jenius jenius dari berbagai kota mulai berdatangan satu demi satu yang mana setiap kota hanya mengirimkan 6 jenius terbaik mereka.
Kemampuan mereka tidak bisa diremehkan bahkan dari semua jenius yang hadir dalam kompetisi kali ini kebanyakan dari mereka berada di tingkat pembentukan inti dan ada beberapa yang sudah menembus tingkat perlombaan tulang.
Hari kembali berlalu, hanya 1 hari lagi menuju kompetisi yang akan diadakan di stadion Surajaya, semua peserta sudah dikumpulkan dalam satu tempat yang sama dan Leo benar benar bisa melihat semua peserta yang berasal dari 29 kabupaten dan 9 kota berkumpul dalam satu tempat.
Setidaknya ada 200 lebih orang yang berkumpul bersama peserta lainnya dan Leo tidak menemukan Fiki dimanapun dia berada membuat Leo bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu.
Ketika Leo sibuk mengawasi sekitar, enam orang peserta yang berasal dari Banyuwangi datang menghampiri Leo dengan sebuah senyuman mengejek yang jelas senyuman itu ditujukan pada Leo karena dari tubuh Leo tidak bisa dirasakan aura pelatihan sama sekali.
__ADS_1
"Heh, Jadi ini jenius dari kota Lamongan, lebih mirip sampah ketimbang jenius" Ujar salah satu dari mereka diikuti oleh tawa teman temannya yang mana membuat mereka semua menjadi pusat perhatian.
"Kompetisi masih belum dilaksanakan dan kau belum tahu siapa yang sampah, jadi jangan menyinggung seseorang yang mungkin saja bisa membuatmu jatuh sampai tidak memiliki wajah untuk diperlihatkan"
"Heh, sampah sepertimu memang sering mengatakan hal semacam itu, yah tapi aku tidak mempermasalahkannya karena kau dan semua wakil dari kota Lamongan akan menjadi yang terbawah dalam kompetisi kali ini" Ujar orang itu sebelum dia pergi dari sana.
"Aku akan menandai kalian semua" Batin Leo kemudian dia teringat akan sesuatu.
"Mereka sangat membenci peserta kota Lamongan Atau mungkin mereka yang telah menculik Fiki? Tidak mungkin, bahkan mereka tidak pernah bertemu dengan Fiki sebelumnya" Ujar Leo kemudian dia berbalik tanpa memperdulikan kontestan dari kota Banyuwangi.
"Mereka sangat sombong seolah mereka benar benar bisa mengalahkan semua orang dari kota Lamongan, aku dengar bahwa kota Lamongan memiliki satu pion kekuatan yang tidak bisa di singgung"
"Maksud mu adalah orang dengan julukan Orang Biasa itu? Aku juga sangat ingin bertemu dengannya dan melihat kekuatannya karena setahuku dia adalah orang yang bisa memecahkan sebuah rekor" ujar beberapa peserta lainnya menatap Leo dan Peserta dari kota Banyuwangi secara bergantian.
"Orang Biasa ya, heh aku ingin mencoba sekuat apa dirinya jika dia bertarung di atas arena melawanku, aku harap dia tidak membuatku kecewa" Seorang pemuda menatap ke arah Leo dengan sebuah senyuman di wajahnya, meskipun Leo bisa menyembunyikan kekuatannya dengan baik tapi orang yang dipanggil sebagai Jay bisa melihat basis pelatihan Leo.
"Jay? Kau harus ingat tujuan kita datang ke tempat ini bukan karena kompetisi melainkan karena tugas yang diberikan pada kita" ujar rekannya mengingatkan.
"Ya iya, aku paham tapi siapa yang bisa menolak bertarung dengan orang yang kuat seperti mereka" Ujar orang yang dipanggil Jay sambil mengangkat bahunya.
__ADS_1
Jay dan kelompoknya merupakan jenius dari kota Surabaya, kekuatannya sudah berada di tingkat perombakan tulang bintang 5 Untuk saat ini dan hampir tidak ada tandingan di dalam kompetisi.
"Kalau begitu prioritas pembantaian kali ini adalah Kota Lamongan dan orang dengan julukan Orang Biasa itu" Batin Jay dengan semangat menatap ke arah Leo dengan senyuman tipis.