ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya

ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya
Awal Dari Akhir Bag 2


__ADS_3

Satria sudah memiliki cukup kesadaran setelah meminum pil yang diberikan oleh Misari. Dia bisa melihat perang telah pecah dan kekacauan terjadi dimana mana.


Banyak Orbion yang sudah berada di tingkat saint turun dan melakukan pertarungan terbuka di atas tanah bersama dengan Hunter di pihak manusia.


Sementara Orbion yang berada di atas langit tengah berhadapan dengan para Hunter dari dunia Astral.


Satria bisa melihat jaya berdiri di sampingnya menunggu dia sadar dan ketika Satria sadar, Jaya segera membuat wajahnya jauh jauh dari pria itu.


"Kau terlihat tidak menyukaiku, apakah masalah itu masih kau pikirkan?"


"Cih, jangan membahas hal yang tidak penting, cepatlah, kita masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan" Ujar Jaya sambil mengeluarkan senjata spiritualnya berupa tombak.


"Terimakasih karena sudah membantuku tapi memang saat ini kita tidak perlu membicarakan masa lalu, dan terimakasih karena sudah menolongku" Ujar Masamune. Dia bangkit dengan sisa sisa tenaganya dan membentuk sebuah tombak yang terbuat dari petir di tangannya, bersamaan dengan itu seluruh tubuh Satria diselimuti oleh petir berwarna hitam. Senada dengan racun yang menyerang tubuhnya.


"Bukan aku yang menolongmu tapi putramu, dia ada di sana!" ujar Jaya menunjuk ke arah Leo dan ketika melihat Leo tengah dirawat oleh Misari dan Lili, sebuah senyuman terlukis di wajahnya.


"Dia sudah menjadi sangat kuat" Ujar Satria sebelum dia mengalihkan perhatiannya pada para Orbion.


"Baiklah, mari kita tunjukkan kekuatan kita!" ujar Satria. Setelah mengatakan hal itu tubuhnya bergerak dengan sangat cepat diikuti oleh puluhan ledakan dari hantaman petir yang menyebar ke segala arah.


Gerakan Satria cukup cepat tapi masih ada yang lebih cepat dibandingkan dengannya, ya dia adalah jaya, dengan sihir cahaya memungkinkan jaya untuk bergerak dengan sangat cepat meskipun kecepatan yang terlalu tinggi bisa berakibat buruk pada tubuhnya, Jaya tetap melakukan hal itu.


Dalam waktu sekejap mata dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dan menghabisi Orbion yang lengah akan pertahanan karena sibuk dalam pertarungan.


Kecepatan yang dimiliki oleh Jaya layaknya sebuah teleportasi tapi kedua hal ini jelas sangat berbeda, Satria bergerak dengan kecepatan cahaya bukan teleportasi. Terlihat dari bajunya yang robek karena kecepatan gerakan yang dia lakukan serta kulitnya yang melepuh akibat gesekan dengan udara.


"Cepat seperti biasa, tapi aku tidak bisa membiarkanmu merebut semua perhatian" Satria melemparkan tombaknya ke atas dan bersamaan dengan hal itu, lingkaran petir terbentuk di ketinggian kurang lebih seratus meter dan penjara halilintar menghancurkan apapun yang menjadi halangannya.

__ADS_1


Tidak ada yang tidak hancur akibat serangan itu bahkan Orbion yang berusaha mendekati Satria harus kehilangan nyawanya karena tegangan tinggi dari petir.


Tapi seperti apa yang dilakukan oleh Jaya, jurus yang memiliki kekuatan besar pasti memiliki sebuah kelemahan. Kekuatan petir yang ada di dalam kurungan petir itu tidak bisa dikendalikan oleh Satria sehingga beberapa Sambaran menghantam dirinya dan membuat racun yang ada di dalam tubuhnya semakin parah.


Jika Satria tidak mengalirkan kekuatan spiritual untuk menahan racunnya, mungkin saat ini racun yang ada di dalam tubuhnya akan menyebar ke seluruh tubuhnya.


"Aku harus menyelesaikan ini semua dengan cepat!" batin Satria sambil menahan rasa sakit yang dia rasakan akibat mengeluarkan jurus itu.


…..


"Leo…apakah kau bisa mendengarku?" sebuah suara misterius bisa Leo dengan di tengah tengah kegelapan yang ada di pandangannya.


Suara itu terdengar sangat akrab baginya tapi dia tidak tahu siapa yang berbicara dengannya.


"Siapa kau dan bagaimana kau bisa tahu mengenai diriku?" Tanya Leo pada suara itu tapi tidak ada jawaban sama sekali kecuali rentetan gerakan yang muncul di kepalanya.


"Jurus ini, jurus pedang surga, Penghakiman, kenapa suara ini bisa memberiku jurus semacam ini? Dia bukan putri dari peradaban kuno, sebenarnya siapa suara itu?"Ujar Leo sebelum dia ditarik menuju ke arah cahaya dan kesadarannya dikembalikan.


Leo berusaha menggerakkan tubuhnya untuk membantu Masamune tapi luka yang ada pada dirinya benar benar luka yang sangat serius karena diakibatkan oleh serangan senjata dari partikel tuhan yang bisa melukai jiwa.


Sebenarnya Leo bisa hidup saja merupakan sebuah keajaiban karena sangat kecil kemungkinan seseorang bisa hidup setelah terkena serangan dari senjata semacam itu.


"Kakak harus istirahat, luka kakak harus dipulihkan terlebih dahulu" Ujar Lili berusaha menahan Leo yang berusaha untuk bangkit.


"Tidak bisa,apakah kalian tidak melihat apa yang terjadi dengan Masamune!" ujar Leo dan setelah mengatakan hal itu, Lili dan Misari menolehkan kepalanya ke belakang dan mereka melihat apa yang Leo lihat sampai bereaksi demikian.


"Dan lagi, kenapa aku tidak merasakan aura spiritual dari Dinda, apa yang terjadi padanya?" Tanya Leo tapi keduanya sama sama menggelengkan kepalanya membuat Leo semakin merasa ada yang aneh.

__ADS_1


Dia mencoba mengedarkan kesadaran spiritualnya ke segala arah dan dia menemukan Dinda terluka sangat parah dengan darah yang mengalir tanpa henti dari perutnya.


Leo tidak tahu apa yang terjadi tapi sepertinya Dinda mengalami pertarungan yang sangat intens dengan para Orbion dilihat dari bekas kehancuran yang ada di dekatnya.


"Apakah segitiga emas benar benar akan berakhir!" Leo berusaha bangkit dari tempatnya, meskipun Misari dan Lili berusaha menahannya Leo tetap bersikeras untuk berdiri.


Terlihat wajah Leo berlinang air mata kesedihan karena dia telah kehilangan dua temannya dalam pertarungan melawan Orbion, Leo benar benar merasa dirinya sangat lemah meskipun semua itu bukan kesalahannya.


"Kalian berdua carilah tempat yang aman, aku akan mencoba menahan mereka" Ujar Leo.


"Kakak, apa yang kakak lakukan, melawan mereka, kondisi kakak saat ini sangat buruk!"


"Benar Leo, kau tidak bisa mengalahkan mereka dengan kondisimu saat ini. Masih ada banyak waktu!" ujar Misari, dia tentu tidak ingin Leo berada dalam masalah karena dia tidak ingin apa yang ada di dalam dirinya menderita.


"Maaf, aku tidak bisa bersama dengan kalian dan maaf Misari, karena aku gagal sebagai calon suami dan calon ayah!" ujar Leo, setelah mengatakan hal itu Leo menatap ke arah Masamune tapi dia melihat Masamune sudah menusuk Masamune yang lain di perutnya.


Keduanya benar benar saling tusuk tapi darah yang mengalir di bawah kaki mereka sedikit aneh bagi Leo, darah itu berputar membentuk sebuah pola aneh dan ketika pola itu terbentuk setengahnya Leo terlihat sangat panik.


"KALIAN BERDUA CEPAT PERGI DARI SINI!" Leo berteriak dengan lantang kemudian dia membentuk dinding spiritual dengan kekuatan spiritual yang dia miliki, dinding yang dibuat oleh Leo selain dilapisi oleh kekuatan spiritual juga dilapisi oleh kekuatan langit dan bumi yang sangat berlimpah membuat keduanya bertanya tanya kenapa Leo membentuk dinding pelindung.


Tapi setelahnya mereka bisa melihat cahaya merah menembus ke atas langit membuat area sekitar mereka hancur dan berubah menjadi cairan berwarna merah.


Semua orang yang masuk ke dalam area serangan, selain berada di tingkat Saint, mereka berubah menjadi genangan darah dan menyempurnakan simbol yang terbentuk di atas tanah.


"Leo"


"Kakak" 

__ADS_1


"Kalian berdua pergi dari sini, pertempuran ini bukan lagi pertempuran yang bisa kalian tangani!" ujar Leo, dia menggertakkan giginya menahan rasa sakit setelah terkena area serangan dari simbol yang terbentuk.


Karena tidak ada pilihan, Misari dan Lili menjauh dari sana karena mereka tahu, saat ini mereka tidak lebih dari sebuah beban.


__ADS_2