ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya

ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya
Jaya, Sang Pembawa Cahaya


__ADS_3

"Bukankah organisasi kegelapan kalian terlalu berlebihan, kalian dengan tidak tahu malunya menyerang orang yang naik tingkat di depan kalian dengan cara semacam ini" Ujar Jaya yang mana dia mengarahkan tangan kanannya ke depan dan seketika sebuah tombak muncul di tangannya yang mana kemunculan tombak itu membuat beberapa cahaya bergerak merembet ke segala arah.


"Kau! Siapa kau sebenarnya?" Tanya pemuda itu sambil menunjuk ke arah Jaya yang mana ketika melakukan hal itu, cahaya bergerak dengan sangat cepat dan dalam hitungan detik tangan yang digunakan untuk menunjuk jaya terpotong dengan sangat rapi sehingga darah tidak menyembur keluar dari bekas potongan itu.


Pemuda itu dengan segera mundur beberapa langkah ke belakang, dia tidak cukup bodoh berurusan dengan seorang Saint dengan kekuatannya saat ini, bahkan hanya dengan serangan ringan yang diberikan oleh Jaya, dia yakin bahwa dirinya akan tamat jika berusaha menahannya.


"Kau ingin mengetahui namaku bukan, kalau begitu aku akan berbaik hati memberitahumu, namaku adalah Jaya, Sang Pembawa Cahaya" Ujar jaya yang seketika membuat pemuda itu terkejut.


Di seluruh dunia, hanya tiga nama yang ditakuti oleh Organisasi kegelapan, yang pertama adalah aliran legendaris yang mana dipercaya Selama beberapa tahun terakhir telah terlahir banyak Hunter tingkat saint disana, yang kedua adalah Satria Sang Saint Suci yang berani memporak porandakan tatanan sebuah negara bahkan menentang pemerintahan dengan membunuh siapapun yang dianggap bersalah, meskipun demikian Satria tidak dianggap sebagai buronan karena kinerjanya yang cukup bagus menghadapi para Orbion dan yang terakhir adalah Jaya, Sang Pembawa Cahaya, kekuatannya hanya berada sedikit di bawah Satria dengan perangai yang menjunjung tinggi keadilan, dia akan melakukan apapun agar keseimbanga dan keadilan bisa terjaga dan menentang apapun yang menurutnya tidak tepat.


Dibandingkan dengan nama nama besar itu, Organisasi kegelapan layaknya seekor anak remaja yang ingin bertanding dengan orang yang usianya jauh lebih tua dan memiliki lebih banyak hal di dalamnya.


"Ternyata benar, berada di dunia Astral bisa membatasi kekuatanku, kini aku bisa bertarung dengan seluruh kekuatan yang aku miliki di dunia nyata" Ujar Jaya kemudian dia membentuk sebuah bola cahaya di tangan kanannya dan dengan santainya dia melemparkan bola cahaya itu ke atas hingga beberapa saat kemudian tembakan cahaya melesat dan menembus jantung pemuda itu membuatnya tumbang tidak bernyawa.


"Setidaknya aku tahu bahwa Organisasi kegelapan terlihat dengan kejadian ini" Ujar Jaya kemudian dia menatap ke arah Dinda yang sedang naik tingkat.


Dia juga bisa melihat bahwa Dinda mendapatkan Ilham jurus ketika melakukan naik tingkat yang mana proses untuk mendapatkan sebuah Ilham jurus sangat sulit, mendapatkan Ilham jusus hanya memiliki peluang satu banding satu seratus juta dan Dinda mendapatkan peluang kecil itu.

__ADS_1


"Anak ini, bakatnya sungguh luar biasa dan potensinya masih belum terjamah, sudahlah, lebih baik aku tidak mengurusnya dan sepertinya anak kecil yang coba diselamatkan oleh anak ini pingsan karena terkejut dengan apa yang barusan" Ujar Jaya menatap ke arah anak kecil yang tidak sadarkan diri kemudian dia menatap ke arah langit.


"Entah kenapa aku merasa akan ada hal besar yang terjadi, aku harap kekuatan bumi bisa bersatu untuk melawannya dan orang bodoh itu berhenti menghabisi Hunter tanpa alasan" Guman Jaya kemudian dia melangkahkan kakinya.


Satu langkah saja Jaya sudah menghilang dari sana tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


"Hiyah…." Selang beberapa menit setelah Jaya meninggalkan Dinda, wanita itu sudah resmi menjadi seorang Hunter yang berada di tingkat Pembentukan Inti bintang satu, bukan hanya kekuatannya yang meningkat tapi Dinda juga mendapatkan Ilham jurus yang sangat hebat, terlebih Ilham jurus itu memiliki atribut serangan angin yang sama dengan kemampuan sihir yang dikuasai.


"Sungguh keberuntungan yang sangat besar, aku tidak menyangka akan mendapatkan keberuntungan sebesar ini, tunggu bagaimana dengan anak itu?"Dinda segera berubah sikap ketika mengingat gadis kecil yang coba dia selamatkan dan ketika dia menolehkan kepalanya ke belakang, dia menemukan gadis itu terjatuh tak sadarkan diri.


Dinda berusaha mencari orang dari Organisasi kegelapan yang menyerangnya beberapa saat yang lalu tapi yang dia temukan adalah mayat yang tergeletak tidak berdaya dengan darah yang mengenang di sekitarnya.


….


"Aku tidak bisa melihat ke dalam tubuh anak ini, dia benar benar anak biasa" Ujar Lili yang mana setelah Dinda membawa anak itu, Leo dan yang lainnya segera memeriksa keadaannya dengan sangat intensif dan dari cerita yang diberikan oleh Dinda, mereka mencoba menggali informasi lebih dalam mengenai anak itu.


"Apakah kau yakin tidak menculik anak ini dari suatu tempat?" Tanya Leo sambil menatap ke arah Dinda dan memegangi dagunya.

__ADS_1


"Siapa yang menculiknya, kau pikir aku sama seperti…" Dinda menghentikan kata katanya kemudian dia menundukkan kepalanya, terlihat bahwa wanita itu menggigit bibir bagian bawahnya sebelum dia mengucapkan kata lainnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk"


"Tidak masalah, aku tahu kau akan belajar menghargai orang lain setelah kata kata yang aku ucapkan, dan tenang saja aku tau kau tidak menculik anak ini, aku hanya ingin mencoba hasilnya" Ujar Leo memotong apa yang ingin dikatakan oleh Dinda.


"Kau…" Dinda terperangah dan menunjuk ke arah Leo, dia benar benar tidak bisa berkata kata menghadapi Leo, pola pikir yang dimiliki oleh anak itu benar benar berada jauh dari apa yang bisa dipikirkan seseorang dalam waktu yang sangat singkat.


"Sudah sudah, Leo apakah kau tidak memiliki cara untuk membuat anak itu sadar? Mungkin kita bisa bertanya padanya setelah dia bangun" Ujar Masamune sambil memeluk punggung Dinda membuat Dinda menghela nafas panjang.


"Masamune, apakah kau tidak merasa bersalah?" Ujar Dinda dengan urat urat yang bermunculan di kepalanya.


"Merasa bersalah? Untuk apa?"Tanya Masamune dengan tangan kiri menggaruk kepalanya membuat banyak urat bermunculan di kelapa Dinda.


Plak...tamparan keras mendarat di pipi Masamune membuat pipi pemuda itu membengkak dan membekas berwarna merah, melihat hal itu bahkan Lili hampir tertawa dan wajah Dinda masih nampak tidak senang terhadap Masamune.


"Kau pikir aku orang seperti apa, jangan pikir meskipun aku sudah berubah kau bisa menyentuhku begitu saja, aku adalah wanita baik baik" Ujar Dinda sambil memperbaiki pakaian yang dia kenakan agar tidak ada bagian tubuhnya yang terekspos keluar.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak akan mengulangi nya lagi" Ujar Masamune dengan wajah bengkak menatap ke arah Dinda dan yang lainnya yang mana hal itu memancing gelak tawa ketiganya.


__ADS_2