ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya

ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya
Kekacauan di Dalam Pelelangan (Bag 1)


__ADS_3

"10 Milyar"


"10,5 Milyar"


"11 Milyar"


Harga dari Mutiara yang dilelang terus melejit naik tanpa bisa dihentikan, beberapa orang yang tidak memiliki uang yang cukup hanya bisa melihat para sultan memberikan tawaran harga untuk Mutiara yang ada di atas panggung, bahkan para tamu VIP saling berebut untuk mendapatkan batu itu.


"Leo kau yakin tidak ingin mencoba menawar untuk Mutiara itu, kau bilang bahwa mutiara itu tidak boleh sampai jatuh ketangan yang salah jika kau tidak menawarnya maka.."


"Jangan takut Dinda, aku sangat yakin barang berharga seperti itu tidak akan mudah untuk didapatkan meskipun memiliki satu triliun sekalipun, kita hanya harus mempersiapkan diri karena aku sangat yakin sebentar lagi akan ada kekacauan karena barang itu" Ujar Leo dan beberapa saat kemudian ruang VIP mereka dibuka dan seorang pria bertampang menyeramkan masuk ke dalam.


"Maaf tuan, barang yang ada di pelelangan kali ini sangat berharga jadi kami harus memastikan bahwa tidak ada orang yang mencoba mendapatkannya dengan cara yang salah" Ujar pria itu tapi Leo tau apa maksud sebenarnya dari orang itu datang ke ruangan VIP mereka.


"Tidak masalah, aku tau seberapa berharganya benda itu dan kami juga menyadari bahwa yang kami tidak akan cukup untuk membelinya" Ujar Leo sambil menggerakkan tangannya sebagai isyarat bagi Dinda dan Masamune mengenai orang yang masuk ke ruang VIP mereka.


Bukan hanya ruangan VIP Leo melainkan semua Ruang VIP didatangi oleh orang orang dengan pakaian menyeramkan dengan senjata spiritual yang sudah dikeluarkan.


Akan tetapi, orang orang yang berada di dalam ruang VIP tentunya bukan orang biasa, mereka rata rata adalah seorang Hunter berpangkat tinggi sehingga meskipun orang orang itu melancarkan serangan pada mereka semua, belum tentu mereka dapat mengalahkan para tamu VIP.


"Apa yang dikatakan oleh Leo sepertinya benar, dia bisa melihat sampai sejauh ini apakah Jurus Mata Dewa Wang Miliknya sudah sampai di tingkat mata Waktu" Batin Dinda sambil menatap ke arah Leo.


Dinda tidak terlalu mengambil pusing mengenai masalah itu karena apa yang terjadi di atas arena lebih membuatnya tertarik, tawar menawar terus dilakukan hingga salah satu ruangan VIP memberikan tawaran yang tidak bisa dibayangkan oleh orang orang.

__ADS_1


"100 Milyar rupiah" suara orang yang ada di dalam ruangan VIP itu memberikan tawaran hingga membuat semua orang terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"100 Milyar pertama"


"100 Milyar kedua"


"100 Milyar, apakah ada yang menawar lebih tinggi? Kalau tidak ada maka secara resmi mutiara ini menjadi milik tamu terhormat dari ruangan VIP  di sebelah sana" Ujar Pembawa acara pelelangan sambil menunjuk ke arah ruangan VIP yang menawar dan setelah resmi terjual, Mutiara itu berniat dibawa masuk untuk diserahkan tapi sebelum itu suara itu menghentikan mereka semua.


"Tidak perlu sungkan untuk membawa barang itu kembali, aku akan membawanya secara pribadi dan untuk pembayarannya mari kita lakukan di atas tempat pelelangan ini" Ujar suara dari ruangan VIP itu yang mana membuat beberapa tamu VIP mulai memberikan kode kepada bawahannya.


Bersamaan dengan itu beberapa orang mulai mengeluarkan senjata spiritual sementara yang telah mengeluarkan senjata spirirual sejak awal berlari dan melancarkan serangan pada semua orang tidak bersalah.


Mereka membunuh siapapun yang menurut mereka memang perlu dibunuh dan karena kejadian itu tempat pelelangan menjadi sangat ramai dan semua orang tidak memperdulikan apapun banyak yang lebih memilih untuk melarikan diri.


"Mereka terlalu meremehkan kita bukan, mengirim seorang Pembentukan inti bintang 7 untuk menghadapi kita bertiga" Ujar Masamune.


"Karena tuan ini terlalu meremehkan kita maka aku akan menunjukkannya serangan dari tingkat Pemurnian Tubuh bintang 9" Ujar Dinda kemudian dia melapisi pukulannya dengan sihir angin dan dengan pukulan yang sangat keras dia bisa membuat pria itu terdorong mundur dan segera mengambil sikap siaga.


"Aku pikir aku mendapatkan bagian paling mudah untuk menghabisi tiga anak kecil tapi sepertinya kalian bukanlah orang biasa" Ujar orang itu.


"Kami bukan orang bisa, bahkan dia juga!" Ujar Leo dan setelah Leo mengatakan hal itu, tubuh pria itu perlahan lahan mulai terangkat ke udara tanpa tahu apa penyebabnya.


Padahal saat ini di mata Leo, Masamune dan Dinda, Lili sedang mengangkat kerah baju pria itu ke atas dan seberapa keras pria itu berusaha memberontak, dia tetap bisa menyentuh roh milik Lili karena Lili hanyalah hantu.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan padaku anak anak kecil, kalian ingin mati ha!"


"Mati, bukankah itu ucapan bodoh untuk orang yang sebentar lagi menemui ajalnya?" ujar Leo dan setelah Leo mengatakan hal itu pria itu segera mengayunkan pedang yang ada di tangannya hingga pedang pedang itu membentuk pisau pisau angin yang sangat tajam.


Pisau pisau angin itu bergerak dengan cepat dan karena gerakan yang begitu cepat, Leo dan yang lainnya harus bergerak sangat cepat untuk menghindar dari serangan itu.


"Kita harus segera menghabiskan atau dia akan menambah masalah bagi kita!"Ujar Leo karena dia tau bahwa serangan itu pasti akan menarik lebih banyak orang untuk masuk kedalam ruangan VIP mereka.


Leo melapisi tangannya dengan kemampuan sihir api sementara Dinda melakukan hal yang sama tapi bukan sihir api melainkan sihir angin.


Keduanya menggerakkan tangan mereka bersama sama menuju ke arah pria itu dan ketika pukulan keduanya mendarat di perut orang itu, seketika tubuh orang itu terlempar sangat jauh hingga membentur dinding ruang VIP Sampai membuatnya retak.


"Apakah dia sudah mati?"


"Sepertinya tidak mudah untuk membuatnya mati dengan serangan itu, kita harus bertarung serius jika ingin mengalahkannya!" ujar Leo diikuti oleh keduanya yang mulai mengambil sikap kuda kuda.


…..


Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama ketika serangan dimulai, lima orang mengepung dua orang yang menawar untuk Mutiara itu seharga seratus juta sebelumnya dengan niat membunuh yang sangat kuat keluar dari tubuh kelima orang itu.


"Kami tidak akan membunuhmu asalkan kau berbaik hati memberikan Mutiara itu dan Uang yang kau miliki pada kami!"


"Kau ingin merampok kami, sepertinya setelah kepergian kami banyak orang yang sudah tidak memperdulikan kehadiran dan keberadaan dari kami semua, kau urus dia!" Ujar seorang pria yang masih nampak begitu tenang duduk di kursinya.

__ADS_1


"Baik pak!" ujar orang yang lebih muda sebelum dia melangkahkan kakinya menuju ke arah gerombolan orang yang mengancam mereka.


__ADS_2