
"Partikel tuhan, darimana mereka mendapatkan barang itu, apakah mereka menggali makam kuno atau menemukannya secara tidak sengaja.Tapi seharusnya di dunia ini, semua Partikel tuhan telah dihancurkan oleh orang itu, lalu bagaimana dia bisa mendapatkannya" Leo benar benar tidak bisa berkata apapun saat ini.
Partikel tuhan adalah peninggalan peradaban kuno dan para Immortal atau yang lebih dikenal sebagai dewa, dengan kekuatan setara dengan dewa membuatnya sangat sulit untuk mengalahkannya. terlebih Bukan hanya satu Orbion yang menggunakannya melainkan hampir seratus Orbion. Yang lebih mengerikan lagi, semua orang yang tergabung di dalamnya adalah seorang Saint.
"Kau tahu mengenai benda itu?" Tanya Jaya menatap ke arah Leo disusul anggukan kepala Leo, beberapa saat kemudian Misari dan yang lainnya tiba di tempat Leo yang mana mereka semua terlihat sangat panik karena wajah Leo dipenuhi oleh noda darah.
Di antara mereka juga ada Dua Masamune dengan salah satu Masamune yang ditahan dengan pakaian dan postur yang sama persis dengan Masamune yang Leo kenal dan siapapun akan sulit membedakan keduanya jika disandingkan.
Kedua orang itu benar benar mirip layaknya saudara kembar identik tapi bedanya Masamune yang menjadi teman Leo memiliki perasaan sementara yang mereka tahan saat ini memang memiliki fisik layaknya manusia, darah layanya manusia dan nyawa layaknya manusia, akan tetapi dia tidak memiliki emosi ataupun pikiran dan hanya mendengarkan perintah apapun yang diberikan oleh Orbion.
"Kakak, apa yang sebenarnya terjadi di sana, kenapa aku merasakan aura yang cukup akrab berada di antara mereka?" Lili menatap ke atas langit.
Gadis hantu itu merasa dia pernah bertemu dengan pemilik aura itu sebelumnya tapi seingatnya aura yang dia rasakan jauh lebih kuat dibandingkan dengan saat ini.
"Aku juga sama seperti Lili Leo. aku merasa ada sesuatu diantara mereka yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah" Baik Lili maupun Dinda sama sama dibuat kebingungan dengan apa yang terjadi di atas langit, keduanya sama sama bisa merasakan aura yang akrab bagi mereka tapi mereka tidak bisa melihat sangat jauh karena keberadaan mereka semua berada di antara awan.
"Kalian tidak perlu mencemaskan apa yang terjadi, aku akan menyelamatkan ayah cepat atau lambat dari tangan mereka!" ujar Leo, wajahnya benar benar terasa sangat sakit tapi Leo tidak peduli akan hal itu.
Rasa sakit itu seolah hilang digantikan oleh amarah yang terlihat jelas di wajah Leo, bagaimana Leo tidak marah. Apa yang dilakukan oleh para Orbion terhadap dia keluarga serta orang orang terdekatnya benar benar sudah keterlaluan.
__ADS_1
Meskipun tidak membunuh ibunya secara langsung tapi kematian ibu Leo masih ada sangkut pautnya dengan para Orbion, tidak hanya itu, kematian dari gurunya juga tidak lepas dari apa yang dilakukan oleh Orbion demi menguasai bumi.
Leo benar benar tidak memiliki perasaan dendam yang melebihi perasaan dendamnya terhadap para Orbion, dia benar benar merasa bahwa Orbion yang menjajah bumi harus segera disingkirkan apapun yang terjadi.
Tidak peduli berapa banyak korban jiwa yang mungkin akan gugur untuk menghapus keberadaan Orbion, semua elemen masyarakat setidaknya harus ikut berpartisipasi dalam mengalahkan semua Orbion yang ada di muka bumi.
"Kakak, Jagan memaksakan dirimu!"
"Benar Leo, kau jangan memaksakan dirimu, mereka semua bukan tandinganmu, terlebih mereka memiliki partikel tuhan yang dijadikan senjata spiritual mereka"
Ujar Lili dan Misari secara bersama sama, keduanya sama sama memiliki hubungan yang dekat dengan Leo melebihi siapapun yang ada di sana, jadi wajar jika keduanya merasa khawatir.
"Tidak, kita harus memaksakan diri kita bertarung dengan para Orbion itu, jika mereka dibiarkan maka kekuatan yang mereka miliki tidak akan bisa dibayangkan!" ujar Leo, dia berusaha bangkit meskipun sangat sulit melakukannya dengan darah yang menutupi sebagian pandangannya.
"Aku tarik apa yang aku pikirkan padamu, kau memang anak dari Satria tapi kau berbeda darinya, baiklah kalau begitu, aku tidak bisa membiarkanmu menghadapi mereka seorang diri. Aku akan ikut" Ujar Jaya berdiri di samping kanan Leo dengan sebuah senyuman yang mana senyuman itu sedikit menenangkan Leo.
"Yah bagaimanapun kau adalah dewa kami selama ratusan tahun terakhir yang kami temui, bagaimana mungkin aku membiarkanmu bertarung sendiri, aku juga ikut!" kali ini Nyi Blorong mengatakan hal itu dan dia berdiri di samping Kiri Leo.
"Kita telah membentuk kelompok segitiga emas bukan untuk berdiam diri tapi untuk melindungi banyak orang, jadi kami tidak akan ragu untuk ikut, benar begitu kan Masamune?" tanya Dinda menatap ke arah Masamune yang mana membuat Masamune terkejut dari lamunannya dan segera menolehkan kepalanya ke arah Leo dan yang lainnya.
__ADS_1
"Ah iya" Ujar Masamune. Meskipun tubuhnya ada di sana bersama dengan mereka semua tapi pikirannya saat ini berada di tempat lain, pikiran Masamune saat ini mengingat ingat mengenai masa kecilnya tapi ada beberapa ingatan memori yang tidak lengkap.
……
Di dalam pikiran Masamune saat itu, dia bisa melihat seorang wanita dengan pakaian merah, dengan noda hitam atau entah pakaiannya hitam dengan noda merah menempel pada tubuhnya.
Bayang bayang Masamune pada wanita yang ada di dalam pikirannya membawanya ke dalam sebuah kisah yang sama sekali tidak dia ingat, hanya pecahan pecahan ingatan yang tertinggal di kepala Masamune.
"Dimana ini, kenapa aku bisa berada di tempat ini dan tempat macam apa ini? Kenapa aku tidak bisa mengingat tempat seperti ini?" Masamune mengatakan hal itu sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Wanita di depannya sebelumnya tiba tiba menghilang dan ketika Masamune mencarinya, dia bisa melihat wanita itu di sisi lain tempatnya berada saat ini dan menunjuk ke sebuah arah.
"Apakah aku harus mengikutinya?" Ujar Masamune dan karena dia benar benar tidak tahu, Masamune memutuskan untuk mengikuti kemana Wanita itu pergi.
Dia mengikuti wanita itu dari belakang dan Masamune bisa merasakan kepalanya terasa sakit secara bersamaan.
Wanita itu membawa Masamune ke sebuah sungai dimana di dalam sungai itu terdapat dua orang tengah bermain, dua orang anak kecil yang setidaknya berusia 8 tahun.
"Ada apa ini? Kenapa aku merasa suasana begitu akrab seolah aku pernah melakukan hal itu" Ujar Masamune menjelaskan dan beberapa saat kemudian Masamune bisa merasakan kepalanya hampir meledak.
__ADS_1
"Hahahaha, tidak kena Wek" seorang anak laki laki menjulurkan lidahnya yang membuat gadis kecil yang digoda oleh anak itu marah dan keduanya saling kejar di dalam air.