
Seharian penuh Leo menikmati hari liburnya dengan berjalan-jalan, pada awalnya liburan yang dilakukan oleh Leo berlangsung cukup santai tanpa ada masalah Yang harus dihadapi, tetapi ketika menjelang sore hari tiba-tiba langit berubah menjadi gelap.
Leo mendongakkan kepalanya menyaksikan awan yang terus berkumpul dan membentuk pusaran di atasnya, bukan hanya Leo tetapi orang-orang yang menikmati suasana liburan juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Leo.
Mereka dibuat penasaran dengan kepulan awan yang tiba-tiba berkumpul dan membentuk pusaran di atas langit, mereka tidak berpikir bahwa awan-awan itu adalah badai karena suasana pada saat itu sangat tenang dan angin berhembus dengan normal.
Tidak ada hal aneh yang terjadi kecuali kemunculan awan hitam itu.
"Sepertinya akan terjadi sebuah badai, badai yang sangat besar" Ujar Leo sambil menyaksikan pusaran angin itu.
Semua orang sibuk memperhatikan pusaran angin itu hingga sesuatu turun dengan kecepatan yang luar biasa dari dalam pusaran angin itu.
Sebuah kapsul mendarat tepat di tengah tengah kerumunan, tapi kapsul itu tidak berbahaya karena tidak ada apapun yang terjadi setelah kapsul itu mendarat.
Semua orang berkumpul untuk menyaksikan apa yang terjadi, dan benda apa yang jatuh di hadapan mereka saat ini, bahkan beberapa dari mereka mulai mencoba menghancurkan kapsul besi itu dengan berbagai benda yang mereka temukan.
Akan tetapi kapsul itu sangat keras, meskipun dihantam oleh balok kayu maupun besi batangan, tetap tidak ada yang terjadi pada kapsul itu selain beberapa goresan pada permukaanya.
Barulah beberapa saat kemudian bagian bawah kapsul itu mengeluarkan asap putih yang membuat semua orang berlarian menjauh dari kapsul itu, mereka tidak cukup berani menghadapi hal kecil seperti itu karena rasa takut mereka yang begitu besar terhadap Orbion.
Setelah asap putih itu keluar kapsul besi itu nampak mulai terbuka layaknya kelopak bunga yang mekar dan dari dalam kapsul itu nampak sosok menyerupai manusia akan tetapi dengan wajah yang berwarna merah terang.
__ADS_1
"Orbion!" Ujar salah satu dari orang orang yang ada di sana menunjuk ke dalam kapsul dan membuat semua orang menjadi panik.
Beberapa bahkan tidak bisa bergerak saking terkejutnya dengan apa yang mereka lihat di depan matanya.
Orbion, makhluk asing yang menyerang bumi mengandalkan teknologi yang sangat maju, sebenarnya bukan hanya teknologi yang diandalkan oleh para orbion melainkan teknik bertempur mereka yang sangat hebat.
Orbion paling lemah yang pernah dihadapi oleh manusia setara dengan tingkat pemurnian tubuh bintang 4, dan kekuatan fisik mereka puluhan kali lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan fisik manusia pada umumnya.
Terlebih, tiap kali Orbion menyerang bumi mereka selalu menggunakan pakaian tempur lengkap, serta senjata yang mematikan dan kali ini, Orbion yang muncul di hadapan Leo memiliki senjata berupa senapan laser yang digenggam di kedua tangannya.
Melihat hal itu tubuh Leo bergetar ketakutan, baru kali ini dia berhadapan dengan Orbion secara langsung, ditambah saat ini Orbion yang ada di depan matanya memiliki senjata yang sangat mematikan, akan sangat sulit mengalahkannya dengan tingkat kekuatan yang dimiliki oleh Leo saat ini, yang bisa dia lakukan untuk saat ini adalah meminta bantuan.
Mata Leo terbelalak ketika dia melihat seorang anak yang sedang menangis sendirian di samping Orbion yang saat ini sudah membuka matanya.
Tidak ada orang yang bisa dimintai tolong untuk menyelamatkan anak itu dan semua orang sibuk dengan diri mereka sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ujar Leo yang mana saat ini otaknya bekerja lima kali lipat lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan anak itu.
Tapi di situasi yang genting seperti itu, Leo benar benar sulit untuk menemukan solusi dari apa yang terjadi di depannya, justru saat ini Orbion itu tengah berjalan menuju anak kecil itu dan mengarahkan senapan laser tepat ke kepala anak yang sedang menangis itu.
"Sial, tidak ada pilihan lain" Ujar Leo merapatkan giginya, di situasi seperti saat ini tidak ada alasan baginya untuk terus berpikir mengenai solusi, yang harus dia lakukan adalah mengambil tindakan atas apa yang terjadi, karena jika dia tidak mengambil tindakan maka nyawa anak kecil yang sedang ditodong senapan oleh Orbion itu akan benar benar melayang.
__ADS_1
"Langkah awan!" Ujar Leo yang mana dengan satu gerakan yang sangat cepat, Leo melesat dan menarik tubuh anak yang menangis sebelum tembakan dilakukan oleh Orbion itu.
Sebuah cahaya melesat dan akhirnya menciptakan bekas hitam di tanah setelah Orbion itu melancarkan tembakannya, ketika Orbion itu tidak menemukan tubuh anak kecil yang dia serang, dia menoleh ke segala arah dan menemukan Leo tengah merangkul anak itu.
"Ternyata ada seorang Hunter di sini, tapi kekuatanmu masih terlalu lemah untuk menghadapimu!" Ujar Orbion itu sambil mengarahkan senapan lasernya ke arah Leo.
Leo yang melihat hal itu dibuat panik dan dengan cepat mengeksekusi Langkah Awan sekali lagi untuk menghindari serangan.
Tapi serangan itu tidak terjadi sekali, setelah gagal melancarkan serangan pada Leo, Orbion itu kembali melancarkan serangan serangan berikutnya hingga tempat Leo saat ini dipenuhi oleh kilatan kilatan cahaya ke berbagai arah.
Banyak hal yang ada di dekat Leo terbakar dan ada beberapa yang hangus akibat serangan itu, jika saja Leo dihantam oleh serangan itu maka dia akan mengalami luka yang cukup serius.
"Pergerakanku sedikit terhambat, bertarung sambil melindungi seseorang itu sangat sulit!" Ujar Leo sambil meringis menahan rasa lelah dalam dirinya.
Jika dia terus bertarung dengan anak itu di dalam pelukannya, maka Leo akan kehabisan kekuatan spiritual dalam waktu yang sangat singkat.
Bahkan saat ini Leo sudah menggunakan banyak kekuatan spiritual untuk menghindari setiap tembakan yang diarahkan kepadanya.
Kesekian kalinya Orbion itu melancarkan tembakan ke arah Leo, pada tembakan tembakan sebelumnya Leo masih berusaha untuk fokus tapi saat ini dia sedikit kehilangan fokusnya dan telat untuk menghindar sehingga serangan laser dari senapan milik Orbion itu menembus bahu kanannya membuat darah segar mengalir keluar dari bekas Luka itu.
"Arg.." Leo hanya bisa meringis kesakitan ketika hal itu terjadi, dia mencoba mencari tempat aman untuk anak kecil itu agar dia aman dari serangan Orbion, dengan suara tangis anak itu, kemanapun Leo pergi pasti akan ditemukan oleh Orbion yang berhadapan dengannya saat ini.
__ADS_1