ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya

ORBION HUNTER : Harapan Dan Cahaya
Alan Jackson Mencari Masalah


__ADS_3

Setelah dua Minggu melakukan perjalanan panjang menuju kota Lamongan, kelompok Segitiga Emas akhirnya tiba di kota tempat kelahiran dari Leo yaitu kota Lamongan.


Berbeda dari terakhir kali Leo melihat kota Lamongan, kota itu dipenuhi oleh kekacauan dan masih banyak Hunter yang mencari korban jiwa atas insiden serangan Orbion beberapa minggu sebelumnya.


"Sepertinya insiden terakhir kali berdampak sangat besar bagi kota lamongan, lihat kehancuran ini, aku tidak tau berapa banyak Orbion yang dikirim ke kota ini" Ujar Dinda menyaksikan pemandangan di depannya.


Leo tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Dinda lantas Leo melompat dan berlari menuju ke arah Hunter yang mana dari pakaian yang mereka kenakan, mereka berasal dari aliran Matahun.


"Maaf tuan, apakah masih ada korban jiwa yang belum ditemukan atas insiden Orbion terakhir kali?" Tanya Leo menatap ke arah salah satu Hunter yang nampak memerintahkan para Hunter lainnya.


Leo berasumsi Hunter itu adalah pemimpin mereka karena pakaian yang dia kenakan masih sangat bersih berbeda dari Hunter yang sedang mencari para korban jiwa.


"Kalian dari mana saja? Apakah kalian tidak tahu bahwa masih ada dua korban yang belum ditemukan di area ini, kami semua sedang mencari keberadaan dua orang itu" Ujar orang itu menjelaskan sambil menatap ke arah Leo dan yang lainnya secara bergantian.


"Kakak, aku merasa bahwa orang ini menutupi sesuatu yang sangat besar" Ujar Lili dalam bentuk roh berbisik di telinga Leo diikuti oleh anggukan kepala anak itu.


"Dia benar benar mencurigakan, di situasi seperti ini dia memerintahkan para bawahannya untuk mencari korban hilang sampai sampai membuat mereka kelelahan dan dia sendiri bahkan tidak turun tangan" Batin Leo menatap orang yang dia hampiri.


"Hei kau, jangan menatapku seperti itu, karena kalian sudah datang kenapa tidak membantu mereka semua? Cepat bantu mereka sana!" Ujar Hunter itu sambil mendorong tubuh Leo ke belakang diikuti oleh wajah sombongnya.


"Leo" Dinda dan Masamune cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh orang itu yang bahkan dia berani mendorong Leo dengan begitu angkuhnya.

__ADS_1


Jika Leo tidak menahannya maka keduanya pasti akan mengarahkan sebuah pukulan pada orang yang berdiri di depan mereka saat ini.


"Kenapa kau lihat lihat, aku adalah Alan Jackson, keponakan dari Hunter terkuat di kota Lamongan Rui Octavia, jika kau berani menantang apa yang aku katakan maka jangan salahkan aku jika aku menghajarmu sampai babak belur" Ujar Alan menunjuk ke arah Leo kemudian dia membuang ludahnya tepat di depan Leo.


"Rui Octavia, aku mendengar dia berada di tingkat perombakan tulang bintang Lima, Hunter setingkat itu takutnya masih belum cukup untuk mengalahkan musuh saat ini, pantas saja kerusakan begitu besar" Batin Leo sambil memegangi dagu nya dan menolehkan kepalanya ke segala arah.


"Masih tidak segera pergi, apakah kalian semua memiliki gangguan pendengaran ha?" Tanya Alan membentak dengan keras di depan wajah Leo.


"Nona Rui, jika memiliki kesempatan aku ingin bertemu dengannya dan meminta pertanggung jawaban atas banyaknya korban jiwa yang berjatuhan di tempat ini dan keponakannya yang bersikap layaknya bos besar padahal adalah orang tidak berguna!" ujar Leo dengan sangat keras membuat perhatian semua Hunter tertuju ke arahnya.


"Ka..kau apa yang kau katakan, aku adalah Alan.. Ugh" Belum selesai Alan berbicara, sebuah bogem mentah mendarat tepat di wajahnya hingga membuatnya terlempar mundur ke belakang sejauh beberapa meter dan jatuh tersungkur di tanah.


Alan mengerang kesakitan di tanah membuat beberapa Hunter berlari menuju ke arahnya dan membantunya untuk berdiri.


"Lepaskan, aku tidak butuh bantuan kalian" Ujar Alan menepis semua tangan yang mencoba membantunya kemudian dia menunjuk ke arah Leo.


"Kau, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, lihat saja aku akan membuatmu babak belur!" ujar Alan kemudian kekuatan pembentukan inti bintang satu meledak dari tubuhnya.


"Sungguh arogan, dia pikir dia siapa? Orang sepertinya akan mencemari nama buruk Hunter jika dibiarkan" Guman Masamune sambil mengumpulkan kekuatan spiritual di tangan kanannya yang mana ketika Leo menolehkan kepalanya ke arah Masamune, senyuman tipis terlukis di wajahnya.


"Masamune, bagaimana jika kau mencoba hasil latihan beberapa hari terakhir dengan menghajarnya, aku pastikan dia akan menjadi samsak yang bagus" Ujar Leo dengan senyuman tipis di wajahnya.

__ADS_1


"Aku memang ingin melakukannya, orang sepertinya jika dibiarkan akan membuat nama baik Hunter tercemar!" Ujar Masamune kemudian dia mengeluarkan kekuatannya dan aura Pembentukan Inti bintang 5 meledak dari tubuhnya.


"Spirit Stone yang diberikan oleh Nyi Blorong sebelumnya benar benar sangat berguna untuk meningkatkan basis pelatihan kita, hanya dua Minggu Masamune sudah berada di tingkat pembentukan inti bintang 5, Dinda berada di tingkat Pembentukan inti Bintang 3 dan untuk Lili, dia tidak bisa menyerap kekuatan dari Spirit Stone tapi pelatihannya juga tidak kalah cepat dengan menyerap Aura kematian dari pedang milikku" Guman Leo menatap ke arah Masamune.


Perkembangannya benar benar begitu pesat hanya dengan beberapa bongkah batu yang bagi kaum siluman dan mahluk halus merupakan batu kutukan.


"Kau, terimalah seranganku!" Ujar Alan melancarkan pukulan tapi pukulan itu ditahan dengan mudah oleh Masamune.


Bahkan Masamune tidak mengeluarkan tenaga yang berarti untuk menahan serangan itu, hanya dengan satu gerakan tangan pukulan yang dilancarkan oleh Alan berhasil ditahan oleh Masamune.


"Begitu lemah, mungkin kata katamu memang benar jika dia bisa menjadi samsak untuk latihan, tapi aku tidak yakin dia bisa menerima tiga pukulanku?" Ujar Masamune.


"Heh, anak kecil seperti kalian juga berani berlagak di depanku, aku ingin lihat….Ugh" Pukulan keras mendarat di perut Alan hingga membuatnya melemparkan seteguk darah dari mulutnya sebelum dia terlempar sangat jauh dan menghantam puing puing bangunan hingga membuat puing puing yang dihantam oleh Alan terbang ke berbagai arah.


"Kau lihat, hanya dengan satu pukulan dia sudah terluka separah itu, sepertinya tidak bisa berkata dengannya untuk saat ini" Ujar Alan sambil menggeleng gelengkan kepalanya sambil menatap ke arah Leo.


Kratak...kratak...puing puing bangunan berjatuhan ketika Alan berusaha bangkit dari tempatnya, beberapa Hunter berusaha membantu Alan untuk bangkit tapi dengan angkuhnya pria itu menolak bantuan dari semua orang yang ingin membantunya.


"Sudah sampai seperti itu, dia masih bersikap sama seperti sebelumnya, apakah memang Hunter yang berada di kota Lamongan otaknya sudah rusak sepertinya?" Tanya Dinda.


"Kalian sudah membuatku seperti ini, maka rasakan kemarahan dari bibiku!" ujar Alan kemudian dia mengambil ponsel dari sakunya dan menelepon sebuah nomor yang bertuliskan Bibi Rui.

__ADS_1


__ADS_2