
Mereka berdua keluar dari ruang VIP dan di sambut anggukan kepala Rendra.
"Kita pulang," ajak Arga. Rendra lega akhirnya dia bisa pulang dan kembali dalam pelukan tempat tidurnya yang nyaman. Di meja bar, Angga langsung berdiri saat melihat tuan mudanya muncul. "Kamu datang bersama dia?" tanya Arga ke Asha. Asha mengangguk. "Kamu bawa mobil juga?" Kali ini bertanya pada Angga.
"Tidak, Tuan. Saya bawa sepeda motor," jawab Angga.
"Jadi kalian kesini naik sepeda motor?" tanya Arga sedikit terkejut. Asha melirik.
"Karena siapa, aku dan Angga nekat kesini dini hari seperti ini?" tanya Asha dengan mata terfokus ke arah diri Arga dengan geram. Arga menjauhkan wajahnya dari Asha yang sedang menoleh ke arahnya.
"Berarti demi aku?" ujar Arga menelisik ke wajah Asha senang dan mengucapkannya dengan nada menggoda. Asha menipiskan bibir. Tiba-tiba Arga menarik tubuh Asha yang berada di sampingnya agar mendekat. Lalu mengecup rambut Asha. Perempuan ini sampai harus menahan napas karena terkejut.
Untuk Rendra, mesranya tuannya ke Asha sudah sangat biasa, apalagi dia sudah melihat mereka berdua dengan level yang lebih tinggi. Yaitu saat mereka berdua bercumbu di dalam ruangan tadi. Sampai saat ini jika Rendra teringat, wajahnya sedikit terasa panas karena malu. Wajar, dia belum pernah mencium wanita manapun. Dia agak sulit dekat dengan wanita jika berhubungan dengan masalah percintaan.
Tidak bagi sopir keluarga Hendarto. Angga mendelik kaget. Bola matanya membulat penuh. Kemudian matanya mengerjap berulang-ulang. Bukan karena ciumannya. Namun lebih kepada siapa yang melakukannya. Fokusnya lebih ke pelaku dan korbannya. Mereka Tuan Muda dan pelayannya. Ekor mata Rendra melirik ke Angga yang sepertinya terkejut dengan interaksi manis Tuannya. Tanpa sadar ujung bibirnya terangkat. Rendra tersenyum. Dia pernah pada posisi Angga, yaitu terkejut.
"Tapi kali ini kamu tidak boleh naik sepeda motor bersamanya. Tubuhmu akan semakin kedinginan," kata Angga semakin mempererat rengkuhan tangannya pada bahu Asha, "Rendra pulang bawa motor saja. Lalu Angga pulang bawa mobilku." Angga dan Rendra mengangguk.
Rendra ijin pulang terlebih dahulu. Dia rindu tempat tidurnya. Lalu Asha dan Arga masuk ke mobil. Angga langsung duduk di depan.
**
"Paris belum tidur?" tanya Arga terkejut saat di beritahu Angga.
"Iya tuan."
"Nona menunggui kita karena takut Nyonya bangun. Nona Paris berpatroli," ujar Angga memberitahu.
"Benarkah?" Tangan Arga mengambil handphone. Mencoba menghubungi adiknya. "Kamu masih bangun?" tanya Arga.
"Iya, cepatlah pulang.Aku tidak bisa bertahan lama lagi. Aku lelah menunggu kak Asha untuk pulang. Cepatlah pulang, kak. Aku... Whoamm...." Paris menguap. Suaranya terdengar terseret-seret.
"Kita sudah dalam perjalanan pulang. Tidurlah."
"Tidak. Aku takut Kak Asha ketahuan."
"Memangnya, aku akan diam saja kalau Bunda akan memarahinya? Sudah, tidurlah...." Akhirnya Paris menurut karena sejak tadi saja dia sudah terjungkal karena tidak kuat menahan kantuk.
Di dalan mobil, Asha juga memaksa matanya tetap terjaga.
"Tidurlah... Kau sangat lelah," kata Arga sambil menyentuh kepala Asha.
__ADS_1
"Jika saat ini aku tidur. Aku akan sulit di bangunkan. Karena aku sangat mengantuk dan lelah, juga...."
"Tidak apa-apa. Aku akan menggendongmu," ujar Arga yang membuat Asha mendengkus dan mencibir. Namun akhirnya dia terlelap juga. Arga meletakkan kepala Asha agar bersandar pada bahunya. "Dia memang sulit di kendalikan. Menyerangku lebih dulu?" Arga tersenyum sendiri saat menggumamkan ini. "Itu di luar dugaan," gumam Arga pelan seraya memberikan kecupan pada pucuk kepala Asha yang terlihat sangat nyaman tidur bersandar di bahunya.
Arga terlelap juga dan menyandarkan kepalanya pada kepala Asha. Dua anak manusia yang sedang terlibat dalam perang dingin sejak beberapa hari yang lalu, mulai berdamai. Keadaan mulai tenang. Namun mereka masih harus menaklukkan orangtua Arga yang tidak pernah membahas soal lamaran Arga di meja makan.
Angga dari pantulan kaca kecil di atasnya melihat mereka berdua.
"Jadi, mereka berdua ini pacaran? Makanya kok kelihatan perhatian banget Tuan Muda ke Asha waktu itu...," gumam Angga baru sadar. Dia teringat saat di kantor polisi.
***
Sekitar jam 3.30 Angga sampai di depan gerbang. Pak Yus sudah membukakan pintu gerbang karena sudah di beritahu Paris terlebih dahulu. Arga sudah bisa bangun tanpa di bangunkan oleh Angga. Mobil sengaja di parkir di dekat pintu belakang agar memudahkan Arga menggendong tubuh Asha. Gadis itu belum bangun rupanya.
Bik Sumi yang sudah bangun terkejut melihat tuan muda membopong tubuh Asha dari pintu belakang. Beliau yang tidak tahu menahu kalau Asha tidak ada di kamar tidurnya semalam bingung. Apalagi mendapati Asha dalam keadaan menutup mata dan di bopong oleh Arga.
"As-Asha kenapa Tuan?" tanya Bik Sumi setelah bisa menghilangkan rasa kagetnya.
"Tidak apa-apa, dia hanya mengantuk dan kelelahan," sahut Arga. Bik Sumi mengikuti.
Rike yang belum bangun akhirnya terbangun juga karena mendengar pintu kamrnya di buka lumayan keras. Lalu mengkedip-kedipkan mata karena matanya masih berkabut. Berusaha melebarkan mata secepat mungkin, karena melihat Asha yang di bopong tuan muda.
Namun Rike tidak mendekat. Hanya melihat Asha yang di baringkan di atas tempat tidur, sementara dia memutupi sebagian wajahnya dengan selimut. Dia sedang dalam kedaan masih baru bangun tidur. Walaupun tuan muda tidak akan memperhatikan, ini memalukan jika di lihat tuam muda. Juga kurang sopan.
"Tolong jangan marahi dia, Bi. Dia sedang berusaha membantuku tadi. Aku yang menyuruhnya mendatangiku hingga membuatnya keluar rumah pada jam-jam seperti ini. Maaf kan saya , Bi...," ucap Arga tiba-tiba Arga membungkuk yang langsung membuat Bik Sumi terperanjat kaget.
"Bibi janji jangan memarahi Asha. Dia tidak bersalah."
"Iya, Tuan. Sudah, jangan meminta maaf, Tuan. Anda sebaiknya tidur dulu. Ini sudah hampir jam 4. Anda pagi nanti pasti akan ke kantor bukan?" ujar Bik Sumi pada tuan muda yang sudah di kenalnya sejak beliau masih kecil. Seperti orangtua yang menyaksikan pertumbuhan anak-anaknya. Arga mengangguk.
"Jangan bangunkan dia, Bi. Sepertinya hari ini dia tidak bekerja. Pasti dia kelelahan karena dini hari masih belum tidur," pesan Arga lagi sebelum keluar dari kamar. Bik Sumi mengangguk.
Apa yang di lakukannya sampai pagi ini? Kenapa dia tidak tidur?
**
Pagi kembali menyapa. Rutinitas pagi para pekerja berjalan bagaimana semestinya. Pak Yus membersihkan taman. Baik yang depan maupun belakang. Angga mencuci mobilnya sambil menguap lebar. Itu pun berkali-kali hingga membuat airmatanya mengalir.
"Kamu kok nangis, Ga?" tanya Pak Yus heran tapi juga tergelak merasa lucu. Badan sopir ini gempal karena sering ngegym.
"Aku ini gak nangis Pak Yus. Karena menguap terus jadinya airmatanya keluar," bantah Angga sambil mengusap airmata.
Arga berusaha melebarkan mata. Kedua bola matanya memanas. Dia juga sangat mengantuk. Walaupun begitu, Arga nampak sehat dan kembali bersemangat. Dia punya stock vitamin lagi untuk menjalani kesehariannya, yaitu Asha. Gadisnya kembali lagi padanya. Bahkan menerima lamaran darinya.
__ADS_1
Arga tidak berharap gadis itu sudah bangun, karena dia tahu, pasti Asha kelelahan pagi ini. Hanya mengirim pesan agar Asha tahu dia menanyakan kabar sejak tadi pagi.
Asha tetap tidak muncul di dapur seperti biasanya. Arga tidak merasa cemas, tadi setelah membersihkan diri, menyempatkan diri untuk menanyakan kabar ke Asha.
"Aku sudah bangun dan memakan roti yang ada di meja. Terima kasih." Rupanya Asha sudah bangun. Kiriman pesan Asha yang di sertai foto setangkup roti dengan susu cokelat dan selembar keju dikirim sesaat setelah Arga mengirim pesan. Tuan muda ini memang memberikan satu bungkus roti tawar beserta susu dan keju yang di titipkan pada Bik Sumi tadi. Tentu Nyonya Wardah tidak tahu.
"Kenapa foto ini hanya sebuah roti? Aku ingin lihat wajahmu," goda Arga.
"Jangan bermain-main, aku sangat lelah harus berfoto di pagi hari. Wajahku bengkak. Capek," balas Asha. Arga bisa membayangkan gadis itu mengkerutkan kening. Bibirnya tersenyum geli.
"Iya paham. Nanti aku menemuimu. Sebentar lagi aku berangkat kerja. Kamu jangan bekerja terlalu keras, aku tahu kamu sangat lelah. Pelan-pelan saja. Jangan memforsir tenaga."
"Ya. Terima kasih tadi sudah menggendongku," kata Asha.
"Kamu sengaja ya?"
"Mana mungkin," bantah Asha. Dia memang tak menyangka dirinya akan terus terlelap saat sampai di rumah. Hingga membuat Arga harus menggendongnya.
"Nantikan aku, setelah meeting selesai. Aku bisa fokus kepadamu. Nanti malam kita akan menemui Bunda dan Ayah bersama." Pesan terakhir Arga membuat Asha menghela napas yang panjang.
**
Nyonya Wardah masih di dapur memasak. Bik Sumi tetap menjadi partner setia dalam memasak. Dengan melakukan pekerjaannya, Bik Sumi masih memikirkan soal Asha. Tentang anak itu yang ternyata memang menjalin hubungan dengan anak majikan. Sesuai apa yang di katakan oleh tuan muda di dapur tempo hari.
Bik Sumi jadi merasa kasihan dengan mereka berdua.
Paris juga terus saja menguap tiada henti. Bahkan sempat meletakkan kepalanya di meja karena rasa kantuk yang tidak tertahan. Ayah belum masuk ruang makan, jadi tidak ada yang menegur Paris. Arga juga menguap sama seperti adiknya. Namun dia lebih terlihat sehat pagi ini.
"Ehem...," deheman Ayah membuat Paris yang memejamkan mata di meja tersentak kaget. Beliau mungkin sengaja berdehem untuk memberi peringatan Paris.
Pagi ini Arga merasa harus fokus dulu untuk pertemuan nanti. Setelah itu baru dia fokus untuk menghadap orangtuanya. Sejak tadi Nyonya Wardah juga banyak diam. Seperti ada banyak hal yang di pikirkan. Ini berkebalikan dengan Arga yang bersemangat.
Bola mata Tuan Hendarto sempat memperhatikan putranya. Beliau melihat Arga seperti mendapatkan baterai baru yang terisi penuh.
***
Untung saja sekolah bubar lebih pagi dari biasanya. Ada kegiatan di dinas pendidikan jadi semua guru akan berangkat kesana bersama-sama. Jadi Paris bisa segera menuju ke kamar tidur. Namun sebelumnya Paris menuju dapur karena ingin minum. Saat itu matanya terusik oleh pintu ruang baca yang terbuka sedikit. Ada orang di sana. Ternyata itu Bundanya dan.... Asha.
Paris terkejut melihat Asha ada di dalam sana. Asha menunduk seperti sedang di hakimi oleh Nyonya Wardah.
Apa yang dilakukan Kak Asha disana?!
Paris segera mencoba menelepon kakaknya. Dia ingin memberitahu kakaknya untuk menolong Asha. Namun saat ini Arga sedang menghadiri meeting penting bersama Tuan Hendarto. Arga mengubah handphonenya dalam mode diam.
__ADS_1
"Kakak, cepatlah pulang. Kak Asha sedang berada di dalam ruang baca bersama Bunda. Aku sempat melihat dari balik pintu yang terbuka sedikit. Kak Asha mungkin sedang dimarahi oleh Bunda." Akhirnya Paris mengirim pesan kepada Arga. Paris panik.