Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Kecewa


__ADS_3



Proses pengesahan berlangsung.


Sah.


Kata itu singkat dan sederhana, tapi punya makna yang berharga. Apalagi bagi mereka berdua yang sudah yakin bisa menjadi satu dalam sebuah keluarga dan ingin mengabdi setia pada kehidupan rumah tangga. Nuansa pengikatan suci ini berjalan penuh dengan kesakralan. Penuh haru dan bahagia. Saat memasang cincin di jari manis, pun saat Asha mengecup punggung tangan Arga, saat itulah dia harus mengabdi kepada lelaki itu. Mereka sudah menjadi suami istri yang sah dan resmi.


Kedua mata orangtua Asha berkaca-kaca. Setelah lama putri mereka berjuang keras bekerja demi kehidupan keluarganya yang lebih layak, akhirnya jerih payah putrinya terbayarkan. Bapak merasa bangga dan sedih.


"Dia tiba-tiba saja mau menikah, Buk," desah Bapak yang seperti berat melepas putrinya. Ibu menepuk punggung tangan suaminya untuk menenangkannya.


"Doakan saja dia selalu sehat dan bahagia, Pak. Itulah sekarang tugas kita. Setelah anaknya menikah, tugas orangtua itu bukannya putus dan berhenti. Kita masih harus terus menerus mendoakan anak-anak kita," kata Ibu yang juga menahan haru di matanya. Beliau juga ingin menangis tapi ditahan.


Ibu tahu, Asha jadi kesayangan suaminya karena walaupun perempuan, putrinya itu bertekad menjadi seperti tulang punggung walaupun tidak ada yang memintanya.


Saat mulai berdiri dan mengelilingi ruangan untuk menyalami semua keluarga yang datang menyaksikan pengesahan resmi ikatan Arga dan Asha menjadi suami istri, Asha perlu mengambil napas dalam-dalam, kemudian membuangnya. Merasakan sesak karena tegang saat Arga mengucapkan kalimat suci tadi.


Tiba saat mencium punggung tangan Bapak, Asha menangis. Di tak kuasa lagi menahan airmata. Memeluk bapak erat.


"Tetap jadi orang baik ya, Nduk. Jangan berubah...," nasehat bapak yang membuat Arga dan orang-orang yang ada di dalam, yang mengikuti prosesi ini berkaca-kaca dan terharu. Lalu Arga bergantian memeluk Bapak. "Jangan lupa janji kamu untuk tidak menyakiti putri bapak," bisik Bapak membuat Arga mengangguk.


Nyonya Wardah tersenyum saat Asha mendatanginya.


"Asha... jangan lupa harus bisa masakin buat Arga, lho." Airmata Asha yang tadi masih ada, jadi langsung terhapuskan gara-gara kalimat Nyonya Wardah. Asha terkesiap. Mata Arga menatap Bundanya tajam. "Tapi Bunda yakin bisa kok. Arga makannya tidak aneh-aneh." Nyonya Wardah tersenyum sambil memeluk Asha kemudian. Meralat nasehatnya karena Arga seperti mau meledak


"Kamu akhirnya nikah juga, Ga..." ujar Nyonya Wardah sambil memijit-mijit lengan putranya gemas dan geregetan. Arga meringis bahagia. Beliau sempat merasa bersalah karena pernah menggagalkan pertunangan Arga yang mengakibatkan gugurnya membawa Chelsea ke pelaminan. Namun Nyonya kembali berpikir bahwa mungkin itulah jalannya hingga Arga menemukan yang lebih baik.

__ADS_1


Arga berpindah ke Ayahnya. Sebelum memeluk putranya, Tuan Hendarto menghela napas. Lega. Putranya benar-benar menikah.


"Kamu sudah menepati janji untuk tidak bermain dengan ajakan lamaran. Kamu hebat. Jadilah pria sejati dalam segala hal. Terutama menyangkut istrimu." Ayah Hendarto mengatakannya dengan tegas dan sangat berwibawa.


Semua orang di dalam mengucap amin bersama-sama. Mendoakan, kalimat-kalimat penuh dengan harapan baik dari kedua orangtua mempelai terwujud menjadi nyata. Semua wajah lega dan bahagia. Arga menatap Asha seakan berkata, ini sudah selesai Sha... Aku berhasil menyatukan cinta kita dengan ikatan suci. Asha tersenyum menyambut tatapan hangat Arga, suaminya.


Orang-orang kampung yang ikut menyaksikan proses ini terlihat tersenyum-senyum saat Arga berjalan mendekati jendela tempat mereka mengintip. Wajah tampan Arga jadi hiburan sendiri bagi mereka.


Asha berpelukan erat dengan Paris.


"Akhirnya Kak Asha...." Asha benar-benar jadi kakak bagi Paris. Kakak ipar. Tangan Asha mengelus punggung Paris. "Adik Kak Asha ganteng juga," bisik Paris saat lihat Juna.


"Dia adik yang sableng," ujar Asha sambil melirik Paris. Maksudnya mereka berdua sama. Satu species.


***


Malam ini, setelah acara selesai dan keluarganya pulang. Arga tinggal di rumah Asha hingga dua hari sampai saat resepsi pernikahan untuk tamu perusahaan keluarga Hendarto terlaksana. Asha nampak sudah selesai melepas semua pernak-pernik pernikahan yang memakai adat jawa pada tubuhnya. Arga hanya memperhatikan perempuan itu bolak balik ke kamar mandi yang letaknya di luar kamar dengan mata gelisah di atas ranjang. Asha juga sudah membersihkan semua make-up yang menempel pada wajahnya.


Asha mengusap rambutnya pelan. Lalu mendekat ke arah Arga sedikit canggung. Tangan Arga menarik lengan Asha dan membuat tubuh itu terpelanting di atas tempat tidur. Arga langsung memerangkap tubuh itu dengan kedua sikunya berada di kedua sisi kepala Asha. Sementara tubuhnya membungkuk tepat di atas tubuh Asha. Berusaha untuk tidak menindihnya.


Asha tahu kedua mata Arga sudah penuh hasrat untuk menyatukan tubuhnya. "Aku boleh melakukanya kan, Sha?" tanya Arga terbakar penuh.


"Tidak." Kening Arga merengut. Tidak percaya bahwa Asha menolaknya. Dia suaminya dan Asha menolaknya? Hawa dingin mencekam terasa dari raut wajah Arga. "Hapus kerutan di dahimu ini. Kau bisa cepat tua sebelum aku." Telunjuk Asha menekan di atas dahi Arga yang mengkerut.


"Aku tidak akan seperti ini kalau kamu tidak bertingkah," ujar Arga menggeram dan tidak bisa lagi menahan marah. Arga marah dan semakin marah besar. Hendak langsung pergi keluar kamar tapi Asha mencegah.


"Malam ini aku tidak bisa di sentuh," ucap Asha bersungguh-sungguh.


"Kenapa, Sha?" tanya Arga sudah marah sampai ubun-ubun. Asha menghela napas. Asha yang sudah setengah bediri mulai mendekat ke tubuh suaminya.

__ADS_1


"Aku ini masih 'kotor'. Belum bersih, jadi tidak boleh di sentuh olehmu." Arga bingung hingga membuat marahnya menurun. Dia harus mencerna kata-kata Asha dengan baik.


"Aku tidak paham, Sha." Walaupun berpikir dengan sangat keras, Arga tidak bisa menemukan arti dari kalimat Asha.


"Aku sedang masa menstruasi. Haid," jelas Asha sedikit canggung. Ini juga pertama kalinya dia harus membahas ini dengan seorang pria. Wajah Arga dengan seraut marahnya yang sudah menjadi-jadi tadi mulai berkurang. Arga mulai paham. Tangannya menepuk dahinya sendiri. Dia merasa malu karena marahnya hampir saja meledak tadi.


"Maaf," ucap Arga menyadari kesalahannya. "Kamu juga tidak langsung saja mengatakannya, membuat aku berpikir yang tidak-tidak." Asha tersenyum merasa bersalah juga. Dia tidak bisa mengatakannya. Saat melihat wajah Arga yang sangat ingin menyatu dengannya membuat bibir Asha tidak tega mengatakannya. Dia menunggu momen yang tepat. Hanya saja, karena dia juga gugup, dia juga kehilangan konsentrasi mencari moment yang tepat.


Arga memeluk tubuh Asha yang berdiri dengan wajah bersalahnya.


***


Asha terbangun dan sedikit terkejut saat sebuah lengan membebani tubuhnya. Seperti seluruh berat badannya terkumpul pada lengan kuat itu. Mereka tidur dengan berpelukan. Arga yang kecewa tidak bisa menyentuh istrinya akhirnya terlelap karena lelah.


Asha segera bangkit dari tidurnya dan bersiap membersihkan diri. Saat keluar, Juna juga muncul dari pintu kamarnya.


"Aku mandi dulu, takut telat sekolah. Mbak nanti aja. Tidur lagi juga enggak apa-apa, ibu enggak akan marah," ujar Juna sambil menguap selebar-lebarnya. Lalu masuk ke kamar mandi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang menyebabkan rambutnya acak-acakan.


Akhirnya Asha turun ke kamar mandi bawah. Untung kosong jadi Asha segera masuk ke kamar mandi. Ibu tidak ada. Apa sudah mulai jualan di warung lagi? Setelah membersihkan diri, Asha membuatkan teh hangat untuk Arga. Lalu membawa ke lantai dua.


Saat masuk kamar di lihatnya Arga menggeliat karena matahari menerjang masuk lewat jendela.


"Sudah bangun? Aku buatkan teh hangat untukmu." Senyum Asha mengembang. Arga mencoba memudarkan kabut dari matanya. Asha duduk di pinggir ranjang lalu menyodorkan secangkir teh hangat. Setelah bisa mengumpulkan semua kesadarannya, Arga bangkit dan menerima secangkir teh dari tangan Asha. Setelah Asha menerima cangkir kosong dan meletakkannya di meja nakas, Arga memeluknya.


"Aku mencintaimu... tapi aku tidak bisa menyentuhmu." Arga menyuarakan rasa cintanya juga menyuarakan kegeramannya tidak bisa menyentuh tubuh istrinya. Asha tersenyum geli. Mungkin ini mengecewakan, tapi siapa yang dengan sengaja merencanakan ini.


"Kamu terdengar sangat kesal," ledek Asha.


"Ya, aku kesal." Tiba-tiba Arga menancapkan bibirnya di atas kulit leher Asha yang segar terkena percikan air. Terdengar erangan terkejut dengan sedikit bumbu sensual didalamnya keluar dari bibir Asha tanpa sadar. Membuat Arga mendesis. "Kamu tampak nikmat pagi ini."

__ADS_1



__ADS_2