Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Gusar


__ADS_3


Suasana hening lagi.


"Aku tidak tahu kenapa aku terus saja berpikir, kenapa kamu muncul disana bersamanya," ujar Arga yang duduk di kursi dekat pinggir ranjang rumah sakit. Wajah itu sedikit menunduk. Bola matanya juga seakan-akan sengaja tidak ingin menatap langsung ke arah Asha. Sebisa mungkin untuk menghindar.


"Tidak ada yang memberitahu soal aku datang ke tempatmu bekerja?" tanya Asha balik. Seingat dia, sebelum berangkat ke tempat kerja Arga, dia memberitahu ibu mertua dan Bik Sumi. "Bunda, bik Sumi, Angga..." Asha menyebutkan nama-nama yang tahu apa keperluannya mendatangi mall tanpa memberitahu suaminya. Arga diam tidak menjawab. Asha mengamati raut wajah suaminya. "Aku ingin memberimu kejutan sambil membawa bekal makan siang." Asha mencoba menjelaskan. Walaupun dia yakin ibu mertuanya sudah memberitahu. Namun Arga masih diam.


"Ya. Aku tahu." Asha menatap suaminya. Dia sengaja, batin Asha. Karena Arga selalu saja bersikap seperti ini jika menyangkut Reksa, Asha mencoba bersabar. Dia paham.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Reksa? Kamu ingin bertanya soal dia?" Asha akhirnya memulai sendiri pembahasan soal pria itu. Pria yang tidak sengaja di temuinya saat perjalanan menuju kantor Arga. Pria cinta pertama yang dulu mengusiknya. Dulu. Itu dulu saat dirinya belum mengenal Arga. Belum di cintai Arga. Namun sekarang baginya pria itu bukan apa-apa. Hanya sekedar memori lama yang masih ada di lembaran ingatannya. Bahkan tidak sedikitpun mampu mengusiknya.


Mendengar nama itu di sebut, Arga mendongak. Kali ini mata itu mau bersirobok langsung dengan bola mata Asha. Arga memang sepertinya sangat terusik dengan keberadaan dirinya dan pria itu.


"Ya," jawab Arga tegas.


Asha yang sudah terlihat tidak pucat berinisiatif untuk memperbaiki duduknya. Tubuh Arga mendekat untuk membantu istrinya duduk dengan nyaman. Tak lupa, Arga membenahi letakĀ  bantal untuk penyangga tubuh istrinya. Penyangga itu terlihat tidak tepat dan melorot. Mungkin karena sudah sejak tadi istrinya duduk.


Meskipun kemungkinan pria ini sedang marah, dia tahu posisinya sebagai suami. Selain bibirnya yang sangat minim bicara, perlakuannya tetap seperti biasa.


"Silakan bertanya. Aku akan menjawabnya."


"Aku tidak ingin bertanya." Asha melihat suaminya yang seperti kebingungan sendiri.


"Lalu?" Arga diam. Pria yang sudah menjadi suaminya itu terlihat tidak konsisten sendiri dengan jawabannya yang di lontarkan untuk menunjukkan dia sedang marah. Arga sedang kacau. "Jika ingin marah, marahlah... Silakan."

__ADS_1


"Sha. Jangan memancingku." Arga mengatakannya dengan sentuhan geram pada nada bicaranya juga mengiba. Dia tidak menduga Asha akan berkata seperti itu.


"Aku tidak memancingmu. Hanya ingin membuatmu lega. Dari sikapmu sejak waktu itu, aku sudah bisa menduganya kalau kamu marah. Jadi aku sediakan waktu untukmu marah." Arga menutup mulutnya untuk diam dan menatap istrinya. Tatapan mata itu ternyata sebuah keterkejutan. Namun Arga segera memalingkan wajah.


"Tidak ada hal lain yang ingin dibicarakan?" tanya Arga masih berputar-putar di topik yang sama. Dia semakin gusar.


Asha menghela napas sejenak mendapat pertanyaan itu. "Soal apa? Masih membahas Reksa? Kita hanya kebetulan bertemu. Kalau kamu ingin aku bercerita saat kita berjumpa waktu itu, aku akan bercerita. Aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain saat itu selain perutku yang terus saja bergolak. Kamu tahu, Ga ... saat itu dinding perutku terlalu sakit untuk bisa berbincang dengan Reksa. Untuk menoleh padanya saja untuk bilang terima kasih aku belum sempat. Tidak banyak yang harus aku katakan padamu. Aku juga sudah menjawab pertanyaanmu soal keperluanku, kenapa tiba-tiba saja bisa muncul di mall hari itu." Asha mengatakannya dengan tenang sambil sesekali mengernyit. Sepertinya rasa di perut itu membuatnya tidak nyaman.


Melihat wajah Asha seperti merintih dia langsung berdiri dan mendekat. "Perutmu masih sakit? Kamu pusing lagi? Aku akan panggilkan dokter untuk segera memeriksamu," ujar Arga panik.


"Sedikit, tapi tidak perlu memanggil dokter."


"Mau muntah? Perutmu bergolak lagi? Aku antar ke kamar mandi." Di dalam kemarahannya, Arga tetap memperhatikan setiap gerakan kecil istrinya yang membuatnya merasa kesakitan. Arga masih siaga.


"Tidak. Perutku mulai nyaman lagi saat mendengarmu khawatir." Mendengar kalimat istrinya, Arga tertegun. Tidak menyangka Asha akan sedikit menjebaknya. Mengingatkannya bahwa dirinya masih peduli.


Sepertinya Arga kebingungan sendiri dengan sikapnya. Tangan Arga menggaruk tengkuknya dengan kesal. Dia salah tingkah. Marah, tapi tetap saja khawatir dan cemas akan keadaan istrinya.


"Kamu tahu Sha? Aku cemburu." Akhirnya dengan berani Arga mengaku. Walaupun sebenarnya Asha sudah tahu. Sikap bungkam Arga menunjukkan kalau dia resah dan gelisah dengan kemunculan Reksa lagi. Namun Asha tetap berusaha mendengarkan. "Aku tidak tahu ini wajar atau tidak. Aku merasa kesal melihatmu berdua disana dengan Reksa. Walaupun sudah tahu keperluanmu berada di sana, aku tetap ingin marah. Meskipun pria itu juga sudah memberitahuku kenapa dia menyentuh bahumu dan, dan... hampir saja terlihat seperti akan memelukmu, aku tetap sangat marah." Kalimat terakhir Arga terdengar terbata-bata.


Asha memandang dan mendengarkan suaminya yang mulai meluapkan semua uneg-unegnya dengan gamblang. Arga perlu mengungkap semuanya.


"Aku tetap ingin marah walau tahu kenyataannya bahwa Reksa menolongmu memang karena dirimu kesakitan karena mual akibat kehamilanmu. Bukan karena sebab lain." Arga mengusap rambutnya berulang-ulang.


"Mungkin sangat tidak wajar sikapku yang kekanak-kanakan ini, saat aku akan menjadi seorang ayah. Ini memalukan, tapi memang seperti ini perasaanku saat ini."

__ADS_1


"Aku mengerti."


"Aku marah padamu dan juga marah pada diriku sendiri. Aku seperti bocah kecil yang merajuk karena orang kesayangannya di ambil orang."


"Aku tidak di ambil orang." Asha mengatakan dengan santai dan jenaka. Arga kembali tertegun.


"Kamu bisa setenang itu saat aku sedang marah, Sha?" tanya Arga mendengkus. Menurutnya kemarahannya tadi terlihat bodoh dan konyol. Namun istrinya ini tetap menanggapi dengan kepala dingin. Asha meraih tangan suaminya dan menggenggamnya.


"Aku berusaha tenang. Aku memahami soal kamu cemburu dan sebagainya."


"Kamu tidak marah dengan sikap kekanak-kanakkan ku tadi? Itu konyol, Sha... Aku cemburu dan marah padamu hanya karena soal Reksa menolongmu. Padahal kamu sedang hamil. Kamu tetap bisa menerima sikapku itu?" Arga melebarkan mata tidak percaya.


"Itu bukan sekedar hanya, Ga. Kamu marah, tapi kamu berusaha dengan baik menahan diri dari amarahmu."


"Nyatanya tidak. Aku selalu bungkam tadi. Aku gusar. Aku geram."


"Benar, tapi orang yang marah itu bukan hanya bungkam, Ga. Dia akan melepaskan semua amarahnya dengan jelas, tapi kamu tetap berusaha menjaga mulut untuk tidak berkata yang aneh-aneh karena takut menyakitiku." Asha benar.


Itu terbukti dari kalimat-kalimat Arga yang tidak konsisten. Dia ingin marah tapi masih ingin menjaga hati istrinya. Itu membuatnya kebingungan sendiri.


"Mungkin kamu hanya sedang merajuk. Aku tahu kamu masih tetap menjagaku di waktu malam hari. Meskipun saat aku bangun kamu sudah pergi. Bukannya kamu menginap disini setiap malam?" Asha tersenyum.


Dia mendengar dari bunda dan bik Sumi bahwa suaminyalah yang selalu menjaganya setiap malam. Bahkan Arga tidak ingin di gantikan siapa-siapa.


Arga menghela napas berat. Marahnya hilang karena sikap Asha yang tetap sabar dan tenang saat menghadapinya. Mata Arga menatap istrinya dalam. Kali ini dengan hati yang sangat tenang.

__ADS_1



__ADS_2