Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Bertemu lagi


__ADS_3



"Mbak Asha, enggak apa-apa?" tanya Rike saat berdua di tempat cuci.


"Enggak apa-apa. Kenapa, Ke?" tanya Asha heran. Pagi ini jelas sekali kalau dia tidak sedang tidak enak badan. Dia sedang dalam keadaan sehat.


"Tadi malam kan tuan muda di kenalkan sama seorang perempuan. Pasti di jodohkan," Rike menyimpulkan. Tadi malam dia ikut membantu Bik Sumi dalam acara pertemuan Tuan Muda sama perempuan itu menggantikan Asha. Jadi dia paham kalau Tuan muda di jodohkan.


"Oh, itu..."


"Mbak Asha kok biasa saja? Bukankah mbak Asha pacaran sama Tuan Muda?" Rike langsung serius melihat rekannya.


"Iya, tapi sepertinya sudah enggak apa-apa." ujar Asha tidak yakin. Di meja makan tadi Arga sudah menegaskan untuk menolak perjodohan. Menurut Arga tidak akan terjadi apa-apa antara dia dan Hanny. Namun Asha hanya bisa percaya dan tidak terlalu memikirkan seperti biasanya.


"Jadi tuan muda tidak jadi di jodohkan, begitu?" Asha mengangguk. "Memang Nyonya Wardah itu suka sekali menjodohkan tuan muda, mbak. Padahal tuan muda seperti enggak minat sama perempuan. Eh... sebelum pacaran sama mbak Asha maksudnya," Rike meralat kata-katanya. Dia yang lebih dulu kerja di sini memang lebih tahu cerita di kediaman keluarga Hendarto ini.


"Benarkah?" Asha menarik wajahnya membuat kerutan samar pada dahinya.


Tidak minat sama perempuan? Tidak mungkin. Sikap gila yang dia tunjukkan padaku sebelum jadian, apakah bukan karena terlalu minat dengan perempuan? Dasar Arga, dia menyimpan sifat serigalanya yang terpendam dari semua orang. Jadi hanya aku yang tahu nih, betapa buasnya lelaki itu? Atau dia seperti itu hanya padaku? Ah... Arga.


"Tuan muda kan gagal bertunangan itu mbak. Jadinya enggak minat sama perempuan," lanjut Rike bercerita.


Mungkin kemunculanku memang tepat. Saat dia patah hati, aku datang. Entah itu bagus atau tidak.


Handphone di sakunya bergetar. Ternyata Arga.


"Nanti ke kantor, bawakan aku bekal. Aku ingin makan siang di temanimu," begitu pesan Arga yang dibuka Asha pagi ini.


Bagaimana mungkin aku berangkat ke sana tanpa alasan yang jelas? Asha berdecak kesal.


"Tidak bisa. Tidak ada..." belum selesai Asha mengetik balasan, Arga sudah mengirim chat baru lagi.


"Aku sudah memberitahu bunda untuk membuatkan bekal dan menyuruhmu membawakan ke kantor, jangan khawatir." Begitu pesan Arga selanjutnya. Arga sudah menyiapkan semua. Asha hanya tinggal melaksanakan apa yang sudah di siapkan oleh Arga.


***


Di kantor,


Arga duduk di kursi kerjanya menanti kedatangan tamu yang di maksud Ayahnya. Pintu terketuk. Rendra masuk dengan wajah yang sedikit terasa aneh. Arga ingin bertanya tapi tidak jadi karena Rendra sudah berbicara.


"Orang yang di utus Tuan William sudah datang, Tuan." Rendra memberi tahu. Arga mengerjap dan mengangguk. Lalu masuk seorang pria yang membuat Arga menipiskan bibir dan menghela napas.

__ADS_1


"Selamat pagi," sapa Evan dengan senyum ramah. Arga tidak membalas sapaan itu. Hanya diam dan masih memandang Evan dari tempat duduknya. Rendra paham situasi canggung ini. Menjadi orang paling dekat dengan Direktur membuatnya mengerti cerita-cerita yang jarang orang tahu. Namun untuk hal ini, Rendra yakin semua orang tahu. Kisah Evan, Chelsea dan Arga.


"Silahkan duduk, Tuan." Rendra mempersilakan Evan duduk di sofa tempat Arga menerima tamu.


"Terima kasih Rendra, kamu masih saja kaku seperti biasanya," ujar Evan dengan senyumnya.


"Dia tidak bermasalah dengan itu. Jadi biarkan saja dia seperti itu," jawab Arga membalas kritikan Evan terhadap bawahannya. Evan menoleh ke Arga yang mulai beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri sofa.


"Benar juga. Karena sikapmu yang seperti itu banyak perempuan yang menyukaimu. Itu sangat menakjubkan," ujar Evan seraya menepuk bahu Rendra pelan. Kemudian dia duduk di sofa dan tersenyum mengakui kharisma Rendra.


"Terima kasih, Tuan." Rendra mengatakannya bukam karena merasa Evan sudah memujinya. Dia hanya melakukan itu agar Arga tahu, dia setuju dengan apa yang Tuannya katakan.


"Kau pasti tidak menyangka, orang dari perusahaan milik Tuan William adalah aku," tebak Evan terlebih dahulu.


"Benar. Aku tidak akan menduga, orang yang sudah melakukan kesalahan besar berani muncul dengan wajah tanpa merasa bersalah," balas Arga dengan senyum tipis tersungging di ujung bibir.


"Kau masih mengingat cerita itu?"


"Kita disini bukan membahas soal itu kan?" Arga balas bertanya.


"Maaf, aku bukan bermaksud mengingatkanmu soal Chelsea," Evan mengatakannya dengan sungguh-sungguh.


"Pasti. Kamu datang kesini pasti bukan akan cerita soal Chelsea, karena jika iya, apapun itu aku rasa enggan berbicara denganmu." ujar Arga tegas. Evan menghela napas.


"Kalian sama saja. Kamu dan Chelsea. Kalian berdua sama-sama datang dengan sikap seperti tidak pernah terjadi apapun. Aku tidak masalah dengan itu. Cerita itu sudah lama," kata Arga mengangkat tangannya untuk meminta Rendra memberikan dokumen berisikan kerjasama yang sudah di bahas oleh Ayah dan Tuan William.


"Chelsea mendatangimu?" tanya Evan sedikit terkejut. Arga hanya memandang. Dia tidak menjawab.


Kamu masih saja ingin menemuinya, Chelsea? Walaupun aku tahu, tapi ini masih terasa sakit.


**


Sekitar jam satu Asha berangkat ke kantor Arga. Dengan mengendarai motor matic milik keluarga Hendarto, Asha berangkat sendirian. Setelah lama tidak kesini sendirian, Asha jadi sedikit tidak tenang.


Apalagi sekarang berbeda dengan dulu. Statusnya bukan hanya sebagai pelayan di rumah pemilik perusahaan ini, tetapi juga sebagai kekasih Arga Hendarto putra pemilik perusahaan.


Mungkin terdengar keren, tapi menurut Asha ini juga menegangkan dan menakutkan. Melihat kesenjangan mencolok antara mereka berdua, mustahil bagi Asha melenggang santai bak seorang calon nyonya.


Sebuah klakson keras mengagetkan Asha yang sedang melaju pelan saat mau masuk area parkir di basement. Hingga Asha sedikit oleng dan terpaksa menghentikan motornya.


"Sialan!" umpat Asha sambil mendelik ke arah mobil.


Lalu Asha menepikan motornya dan memarkir di area parkir karyawan. Asha terkejut melihat mobil itu berhenti di depan. Berarti pemilik mobil itu mendengar umpatan barusan. Dengan tegang, Asha menanti orang yang berada di dalam mobil muncul.

__ADS_1


Ternyata Evan. Dia terkejut menemukan laki-laki itu di sini. Sepertinya Evan hendak masuk ke arah gedung yang sama dengannya. Asha menghentikan langkahnya dan berusaha menyembunyikan diri di antara mobil-mobil perlahan.


Dia ingin bersembunyi secara alami. Bermaksud membiarkan laki-laki itu masuk terlebih dahulu. Lalu kembali muncul saat lelaki itu sudah masuk gedung. Dia tidak ingin bertemu dengan Evan.


Kenapa dia bisa ada di sini? Apa yang di kerjakannya?


"Rupanya itu kau. Perempuan yang tadi malam bersama Paris." Tak di sangka ternyata Evan melihatnya. Asha tertangkap basah sudah bersembunyi. Evan menemukan Asha yang berdiri bersandar pada badan mobil.


Padahal Asha sudah mengaburkan keberadaannya seperti bunglon yang menyatu dengan sekitar untuk mengecoh lawan. Asha memindahkan matanya ke arah laki-laki itu. Lalu dia menegakkan punggung dan berdiri secara wajar. "Apa kau bersembunyi dariku?" tebak Evan melihat tingkah aneh perempuan ini.


"Tidak mungkin," kilah Asha dengan mata melebar.


"Aku rasa mungkin. Untuk dirimu yang tadi malam sudah mencengkeram kemejaku dengan kasar dan mendorongku, itu mungkin," ujar Evan mengingatkan kejadian tadi malam. Asha berdecak kesal. "Bahkan mengepalkan tangan ingin menghajarku," ujar Evan masih ingat detail kejadiannya.


"Maaf, saya ada tugas," potong Asha dan segera menuju pintu masuk gedung. Security itu membiarkan Asha karena sudah tahu tentang Asha yang kesini bersama Paris. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam gedung. Asha masuk ke dalam lift. Laki-laki itu juga demikian. Mereka memasuki lift yang sama.


"Aku heran bisa menemukanmu di sini," Evan sepertinya juga terkejut bisa menemukan perempuan aneh yang berani mencengkeram kerahnya dan mendorongnya layaknya seorang preman ini saat ini. "Aku rasa tidak aneh juga. Jika kamu kenal Paris pasti kenal dengan gedung ini," kata Evan. Asha tidak merespon ocehan lelaki itu. "Kau karyawan gedung ini?"


"Bukan," jawab Asha dengan tidak menoleh.


"Kenapa masuk ke gedung ini lewat pintu karyawan?" tanya Evan penasaran.


"Maaf. Saya rasa anda juga bukan karyawan gedung ini, kenapa anda juga masuk lewat sini?" balas Asha menanyakan hal yang sama. Kali ini menoleh. Evan tersenyum.


"Aku punya urusan penting disini. Mereka mengenalku, itu berarti aku tamu penting disini," ujar Evan mengartikan pada security di depan tadi yang langsung membungkuk hormat saat melihat dia. Asha tidak peduli. Dia harus segera menuju ke lantai paling atas. Arga menunggunya.


Evan masih saja penasaran kenapa gadis berpakaian atasan berbahan kaos berwarna putih dan celana pensil warna abu-abu. Evan seperti berharap gadis ini turun pada salah satu lantai gedung, sebelum dia sampai pada lantai tujuannya. Jadi dia akan tahu perempuan ini akan berhenti dimana. Namun nyatanya, saat akan tiba pada lantai teratas gadis ini masih belum keluar lift.


Pintu lift terbuka pada lantai paling atas.


Evan memperhatikan gadis ini melangkah dengan tenang di lorong. Sengaja ia memperlambat langkah kakinya ingin tahu, dimana gadis ini akan berhenti. Evan mengerutkan kening saat melihat gadis ini tidak berhenti di ruangan manapun yang ada di sepanjang lorong ini. Dia melangkah lurus ke arah ruang utama yaitu ruangan putra pemilik perusahaan.


"Selamat siang, sekretaris Ren," sapa Asha yang melihat Rendra muncul di lorong. Rendra mengangguk. Kemudian Rendra menemukan Evan yang berjalan di belakang Asha. Segera Rendra mempercepat langkahnya mendatangi tamu pentingnya.


"Selamat siang, Tuan. Direktur sedang makan siang jadi anda di minta untuk menambah waktu istirahat sejenak. Silahkan saya antar," ujar Rendra mengantarkan Evan menuju ruang yang khusus di sebelah ruang kerja Arga.


"Apa aku boleh menunggu Arga di ruangannya?" tanya Evan. Rendra tahu Arga pasti sedang berada di dalam ruangan bersama Asha.


"Maaf. Direktur mengatakan, anda menunggu di ruangan ini," Rendra menunjukkan ruangan yang di peruntukan Evan menunggu yaitu ruangannya. Karena percakapan ini Evan kehilangan seseorang yang di ikutinya tadi.


Kemana arah perempuan itu?


"Aku bisa menunggunya di sini bersama Maya," ujar Evan menunjuk Maya yang sedang memperhatikan Evan yang memang tampan. "Halo Maya," sapa Evan yang memang hampir mengenal semua karyawan perusahaan ini karena dia dulu adalah karyawan di sini. Maya berdiri dan tersenyum menerima sapaan Evan.

__ADS_1



__ADS_2