Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Interogasi intern


__ADS_3

Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.


Selamat membaca!


.


.


.



Setelah semua selesai sarapan, mereka berkumpul di depan tv. Berbincang dengan menyeruput teh hangat. Paris jelas tidak mau ikutan berkumpul bersama orang tuanya di sana. Karena pembahasannya pasti soal bisnis, ekonomi dan semua hal berat semacamnya. Paris tidak punya banyak tempat untuk hal-hal itu di otak kecilnya. Sekarang dia masih menikmati menjadi gadis muda yang ingin jatuh cinta pada pangeran pujaan hati.


Kaki Paris melangkah menuju taman belakang. Dia ingin menemui Asha yang sedang berkutat dengan jemurannya.


"Ini baju kak Arga semua yah?" kata Paris sambil menyentuh dengan ujung jarinya ke arah jemuran yang masih basah. Asha melongok dari balik jemuran.


"Mungkin. Ini pakaian yang aku dapat dari tas yang di berikan Tuan Muda," jawab Asha seraya memeras cucian basahnya.


"Sebelum kak Arga suka sekali muncul di dalam rumah selain kamarnya, pernah ketemu di luar rumah sama kakak gak?" tanya Paris tiba-tiba.


"Pernah. Di lapangan basket mungkin," jawab Asha tanpa melihat. Karena itu pertanyaan biasa saja Asha mau menjawab. Paris mengangguk paham.


"Saat Kak Asha main basket?"


"Iya. Bareng Cakra. Tapi saat itu Cakra belum tahu aku kerja di rumah ini." Asha memeras jas kerja yang di berikan Tuan Muda untuk menutupi roknya.


"Makanya Kak Cakra bingung saat Kak Asha bisa bareng kak Arga waktu itu.. " Paris ingat saat Asha terlantar gara-gara Kakaknya masih mempedulikan Chelsea.


Perempuan itu. Sudah lama sejak makan siang di ruangan Kak Arga dia tidak muncul. Mungkin dia sudah tidak lagi menggoda Kakak. Ataukah karena kakak sedang sibuk dengan hal yang baru, jadi tidak ada celah bagi perempuan itu?


Mata Paris memperhatikan Asha yang masih melakukan pekerjaannya.

__ADS_1


"Kalau menurut kak Asha, kak Arga itu orangnya bagaimana?"


"Memangnya Paris yang jadi adiknya enggak tahu?" Asha balik bertanya. Karena itu pertanyaan aneh buat Asha. Tidak perlu bertanya ke orang lain kalau yang kamu tanyakan adalah saudaramu sendiri. Bukankah yang paling mengerti itu keluarga sendiri.


"Ngerti sih," jawab Paris sambil garuk-garuk kepala. Merasa bodoh bertanya hal yang sudah tidak perlu di pertanyakan lagi ke orang lain.


"Nah itu, kenapa nanya ke aku. Disini kan aku tidak begitu kenal sama Tuan muda," Asha menunjuk Paris dengan jentikan jari, karena berhasil menemukan jawaban.


"Kak Asha aneh, lho..."


"Aku? Benarkah? Hmmm...." Asha tergelak mendengar tuduhan Paris.


"Tuh, benarkan... Di bilang aneh responnya datar saja. Tapi lebih parah kak Arga, sih," Paris mulai mendekat ke arah bangku kayu yang ada di bawah pohon rindang.


"Kenapa?" tanya Asha.


"Belakangan ini dia aneh," Paris meregangkan otot tubuhnya sebelum akhirnya duduk di bangku itu. Asha mengambil timba warna cokelat. Berpindah tempat karena tempat menjemurnya sudah penuh. Mencari tempat lain yang kosong untuk menjemur.


"Bukankah biasanya juga aneh," kata Asha yang sebenarnya lebih tepat dianggap ejekan. Ekor mata Paris melihat ke arah Asha dengan sedikit lebih serius.


"Sepertinya ini semacam interview yah? Semua pertanyaan yang kamu ajukan adalah seputar pendapatku soal Tuan Muda." Asha menatap lurus Paris yang duduk di bangku di depannya. Dia menemukan arah semua pertanyaan nona muda. Tujuan Paris tidak terwujud. Paris tergelak. Merasa ketahuan.


"Bukan, hanya iseng saja," kilah Paris sambil menggaruk kepala lagi.



"Jadi membicarakanku di belakang bersama dia adalah keisengan mu?" tegur Arga yang muncul di area penjemuran bersama Angga. Paris berjingkat kaget. Lalu berdiri dan reflek mensejajari tubuh Asha. Angga yang ikut dengan Tuan muda -sebenarnya dia di giring ke sini- juga ikut berjejer bersama Asha. Mata perempuan ini melihat ke arah Paris dan Angga bergantian.


Paris langsung menutup mulutnya. Berdiri sambil menunduk. Arga duduk di tempat Paris duduk tadi. Melihat dua orang di sebelahnya sudah bersikap seperti terdakwa, Asha menghela napas.


"Kau sudah selesai menjalankan tugasmu?" tanya Arga seraya menggunakan telunjuknya untuk menunjuk Asha. Memberi keterangan bahwa pertanyaan ini untuk pelayan bagian mencuci itu.


"Belum Tuan," jawab Asha masih menenteng pakaian basah di tangannya yang siap di jemur. "Saya bisa menunda dulu pekerjaan saya kalau memang ini penting," kata Asha. Kepala Arga mengangguk meminta pengertian.

__ADS_1


Berarti Asha harus menangguhkan dulu pekerjaannya. Gadis itu memutar tubuhnya dan meletakkan cucian basah dalam timba di belakangnya. Mengeringkan tangannya dengan mengelap ke celana pendeknya lalu kembali ke barisannya lagi. Barisan orang-orang bersalah.


"Sepertinya kali ini aku harus bertanya dengan serius kepada kalian bertiga... tentang kejadian kemarin malam." Arga memberi jeda pada kalimatnya. Sengaja untuk memberi sedikit tekanan bagi mereka bertiga yang sudah membuat kesalahan.


Sepertinya akan lama, begitu pikir mereka bertiga dalam hati.


Mereka bertiga melakukan gerakan yang seragam. Semuanya tangan ada di depan, seraya menautkan lengan dan jari-jari mereka. Arga melihat tubuh Asha masih tegak berdiri, hanya kepalanya saja yang menunduk.


Asha menoleh ke samping kanan dengan heran. Ke arah Paris yang merapatkan tubuh ke lengannya. Seperti meminta perlindungan darinya. Paris sengaja melakukan itu karena dia sadar, Arga bisa menahan marah kalau ada Asha.


Perawakan mereka yang terlihat sama seperti saudara. Namun badan Asha sedikit lebih tinggi dari Paris. Arga melihat keduanya bergantian dan menemukan sesuatu. Lengan polos Asha yang terlihat kecil tapi kuat menahan pandanganya. Lengan kaos Asha masih terangkat. Dia memang menyingsingkan lengan bajunya tadi. Mata Arga tertancap disana agak lama.


Asha mengikuti arah mata Arga melihat. Lalu dia menemukan lengannya terlihat dengan jelas sampai pangkal lengan. Matanya membulat. Itu tidak sopan menurut Asha. Dia segera menurunkan lengan kaosnya dengan terburu-buru. Arga tersenyum dalam hati. Setelah membuang rasa menggelitik barusan, Arga melakukan interogasinya lagi.


"Sebenarnya ada perlu apa kalian berdua ke klub malam?" tanya Arga kemudian. "Mungkin Angga hanya mengantar, tapi kalian berdua? Apa tujuan kalian kesana?" tanya Arga dengan suara rendah yang mengintimidasi. Tidak ada jawaban. Hanya gerakan gelisah yang berasal dari tubuh Paris.


"Aku sedang bertanya. Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Arga lagi. Masih dengan aura mengintimidasi yang sama.


"Maaf, saya salah..." ucap Asha mendahului. Arga tidak menduga gadis itu yang meminta maaf duluan. Paris menoleh cepat. Dia panik. Yang awalnya sedikit tenang karena merasa kakaknya tidak akan serius memarahi karena ada Asha, sekarang melihat Arga serius, hati Paris ciut. Apalagi melihat sendiri Ayah menunjukkan keterkejutannya, saat Arga mengatakan belum menyelesaikan pekerjaan karena lebih mementingkan hal lain.


"Maaf kak, aku juga salah." Tindakan Asha mendorong Paris untuk mengaku juga.


"Jadi kamu tahu kalau itu salah?" tanya Arga. Paris mengangguk. "Saat kamu belum bisa mempertanggungjawabkan dirimu sendiri, seharusnya kamu bisa menahan diri untuk tidak membuat masalah. Kalau Bunda dan Ayah tahu kalian masuk kantor polisi karena membuat onar di klub malam, aku yakin kamu tahu apa yang akan terjadi," Arga berhenti sejenak. Matanya melirik Asha yang masih menunduk.


"Kamu tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua kalau Ayah dan bunda mengetahui hal ini?" Arga mengatakan dengan tekanan yang dalam pada kalimatnya. Arga juga takut akan hal ini.


"Aku yang mengajak Kak Asha dan Angga, Kak. Mereka hanya ikut aku," bela Paris takut saat Arga mengingatkan hal ini. Bunda pasti langsung memecat mereka yang membawa dampak buruk. Asha menelan ludah. Dia paham apa yang dibahas Tuan muda barusan. Itu pemecatan. Angga sepertinya juga paham.


"Aku masih bisa mencoba berbaik hati kepada kalian untuk tidak memberitahukan masalah ini ke Ayah dan Bunda. Jadi kalian juga harus bisa menutup mulut rapat-rapat, untuk tidak membocorkan perkara ini kepada siapapun. Bisa di mengerti?" tanya Arga memajukan tubuhnya. Semua mengangguk. "Kalian boleh pergi," kata Arga mempersilahkan pekerjanya kembali ke rutinitas masing-masing.


"Terima kasih Tuan. Saya permisi," ujar Angga. Lalu meninggalkan mereka dengan menuju ke halaman depan.


.

__ADS_1


.



__ADS_2