
Mata Hanny mengerjap lalu menggigit bibir. Lantas menatap ke samping, ke arah Arga sambil menyelipkan anak rambut ke balik telinga. Berupaya mengalihkan pandangan agar tidak bersirobok dengan dia.
Paris juga tidak berkutik di tempatnya. Seandainya bisa, Paris segera menarik lengan perempuan bernama Hanny itu untuk pergi. Dia sudah muncul tidak pada tempatnya. Namun itu tidak mungkin. Apalagi ingin menarik lengan Asha dan membawa dirinya dari ketidaknyamanan berada di antara mereka. Ini bukan wilayahnya.
Deni mencolek bahu Andre mengajaknya ke pinggir lapangan. Meskipun Asha sedang bersitegang dengan Arga, bukan berarti mereka juga ikut melakukan hal sama.
"Kita duduk saja di pinggir lapangan," kata Deni ke Cakra. Lelaki ini menolehkan kepala dan mengangguk mengikuti usulan Deni, setelah beberapa detik sebelumnya tidak merespon ajakan Deni. Sudah beberapa langkah, Deni berhenti jalan dan membalikkan tubuh.
"Dre! Kenapa diam saja di sana? Ayo ke pinggir lapangan," Deni mengayunkan tangannya mengajak Andre untuk bergabung dengannya.
"Ah, iya," jawab Andre sedikit tersendat saat menjawabnya. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Kemudian mengajak kakinya melangkah sembari sesekali melihat ke arah mereka bertiga yang sedang terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan.
"Kau tahu siapa dia, Sha?" tanya Arga bertanya dengan menggerakkan matanya menunjuk Hanny. Mata Asha tidak melihat ke arah Hanny yang kini tertarik dengannya. Mata Asha hanya ingin menatap Arga.
Setelah terdiam beberapa menit, tiba-tiba bibir Asha tersenyum seraya membuang napas pelan sambil menunduk. Dari tempat Deni sekarang yang duduk sejajar dengan Paris, dia bisa melihat Asha dan Arga dari samping. Senyuman barusan bisa mereka lihat dengan jelas.
Ini membuat mereka heran. Ada apa dengan Asha? Arga saat ini marah dan Asha tersenyum?
Paris menautkan kedua alisnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena tidak bisa menebak isi dari benak Asha.
"Asha jadi gila karena bodyguard-nya mau putusin dia," celetuk Andre seenaknya dari pinggir lapangan lalu menggeleng dan menghela napas.
"Heh? Beneran nih, Arga mau putusin dia?" bisik Deni juga. Mereka berdua jadi seperti tukang gosip.
"Sepertinya. Tukang basket itu kan orangnya suka tidak empati sama orang lain," imbuh Cakra lalu melihat ke arah lain.
__ADS_1
Benarkah?
Arga juga tidak menduga. Saat ini. Pada detik ini juga, dia... gadis yang membuatnya marah, justru tersenyum. Apakah dia puas, sudah melihat dirinya sedang kebingungan dengan sikapnya?
"Kau pasti tahu apa yang akan terjadi bukan? Karena saat ini aku sedang bersamanya." desak Arga dengan emosi tinggi lagi. Ekor mata Hanny melirik melihat sikap tidak biasa barusan. Dia lupa tatapan mata nanar tadi. Keberadaan Asha yang tidak wajar sejak tadi di depan Arga, mengusik rasa ingin tahu Hanny. Siapa perempuan bernama Asha ini?
Asha menegakkan punggung dan mulai berkata, "Aku sangat tahu kemungkinan kamu bisa menghilang dan tidak kembali padaku, Ga. Aku sangat paham itu..." Arga diam. Hanny melihat ke arah Asha dan memperhatikan gadis itu dengan seksama. Kemudian menatap ke Arga lagi.
"A, a-aku lebih baik tidak di sini," ujar Hanny hendak menjauh. Tangan Arga terulur di depan tubuh Hanny. Hanya jarak beberapa inci saja tangan itu akan menyentuh tubuh Hanny. Arga ingin menghentikan langkah Hanny. Akhirnya Hanny diam tidak bergerak dari tempatnya. Paris jadi ikut gelisah melihat Asha dan Arga.
Andre dan Cakra berdiri bersamaan. Deni yang masih duduk tidak mengerti, kenapa mereka berdua berdiri. Tangannya hendak menggapai tangan Andre untuk menyuruhnya duduk lagi, tapi saat tak sengaja melihat raut wajah Andre, tangannya tidak jadi menarik tubuh Andre. Deni juga mencoba menyelisik ke arah Cakra. Lelaki ini juga bermimik sama. Andre dan Cakra sama-sama sedang cemas.
Asha mendekati Arga lagi dengan hati-hati. Arga masih bertahan dengan diam. "Aku tidak perlu merasa cemas dan khawatir kehilanganmu, karena... Aku percaya padamu," ujar Asha dengan raut wajah tenang tapi penuh dengan kesungguhan. Mata Arga melebar.
Mata Paris jadi ikut membeliak mengikuti Arga dan Hanny.
Hanny yang berdiri di sebelah Arga menutup mulutnya tidak percaya dengan kalimat yang di dengarnya barusan. Matanya mengerjap berulang-ulang. Dengan sangat jelas dia mendengar kalimat gadis bernama Asha. Tubuhnya mundur. Masih dengan tangan yang menutupi di mulutnya.
"Aku tahu saat ini kau marah bukan karena cemburu. Kau hanya melampiaskan dengan kesal ketakutanmu pada semua yang ada di sini. Melihatku dapat bersikap tenang membuatmu terusik dan beranggapan aku tidak sedang mencemaskan hubungan kita," ucap Asha menyelisik raut wajah Arga yang menatap kosong ke arahnya.
Emosi Arga perlahan menurun. Mata dinginnya mulai mencair. Untaian-untaian kalimat Asha membuat kemarahan Arga luruh dan hancur. "Aku percaya penuh padamu, Ga,"
Asha terlalu menganggap ini adalah hal wajar yang sering terjadi pada pasangan miskin dan kaya sepertinya. Dia tidak memprediksi keadaan ini dari sudut pandang seorang Arga. Lelaki yang mengungkapkan perasaannya walaupun tahu tidak ada kemungkinan bahwa dia akan membalas perasaannya.
Asha hanya sibuk memastikan hatinya sendiri tidak terluka. Dia tidak memperhatikan bahwa lelaki ini juga bisa sakit hati saat dirinya merasa bisa mengatasi kekhawatirannya sendirian. Asha lupa ini adalah hubungan dua hati. Mulut Asha selalu bungkam.
"Maaf. Maafkan aku yang terlalu dingin menanggapi kekhawatiranmu. Maaf aku...,"
"Ya. Kau terlalu tidak peka," potong Arga dengan nada rendah yang dalam.
__ADS_1
"Benar," ucap Asha mengakui kalau dia memang seperti itu
"Kau terlampau tidak peduli dan sangat tenang menghadapi ini hingga membuat aku merasa takut. Aku jadi seperti sedang berjuang sendirian," kata Arga mendengkus menertawakan dirinya sendiri, tapi kali ini bukan marah yang nampak. Arga terlihat tidak berdaya.
Hanny berjalan mundur perlahan. Menjauh dari sisi Arga. Memberi ruang pada mereka berdua. Paris yang sejak tadi bersedekap kini jadi mengusap rambutnya seraya geleng-geleng kepala melihat drama kakaknya.
Sebenarnya Asha juga takut saat pertemuan Arga dengan putri teman Nyonya Wardah. Posisi Asha saat ini sangat tidak menguntungkan. Dia yang hanya sebagai kalangan bawah, tidak bisa berbuat banyak. Sejak awal Asha tahu soal itu. Paham soal itu. Asha hanya perlu sedikit percaya diri untuk percaya pada lelaki yang menawarkan dongeng yang manis.
Selama ini Asha merasa kalau hatinya tidak apa-apa, berarti hati Arga juga begitu. Ternyata dugaannya keliru. Ketenangan hatinya justru membuat Arga tidak nyaman. Membuat Arga ketakutan kalau hanya Arga yang berpikir tentang hubungan ini. Mungkin berlebihan buat Asha, tapi tidak buat Arga.
"Mencintaimu itu ternyata bukan hal yang mudah," gerutu Arga. "Kamu itu kecil-kecil terus saja membuatku cemas...," ujar Arga seraya menghela napas panjang dan membuangnya pelan. Lalu membawa tubuh Asha dalam pelukannya. Asha hanya menurut saat Arga memeluknya di depan semua orang. "Aku ini sayang kamu, Sha..,"
Semua mata membeliak terkejut dengan pelukan Arga.
"Iyaaa... Aku keliru ya?"
"Sangat. Kamu sangat keliru. Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak memendam semuanya sendiri, tapi kamu bebal tidak bisa terbuka padaku. Aku sangat mencemaskanmu tadi, hingga terasa menyesakkan dada. Apalagi tidak menemukanmu di sana," Arga memeluk Asha dengan posesif. Tangannya mengelus rambut Asha dengan lembut.
Asha melingkarkan tangannya pada pinggang Arga. Memberi Arga pelukan juga. Arga terkejut. Ini pertama kalinya Asha menyambut pelukannya dengan sebuah pelukan balasan yang hangat.
Hanny terlupakan. Paris mendekati perempuan itu karena iba.
"Aku tidak menyangka harus membawamu pergi dari tontonan kisah romansa milik Asha dan dia. Mungkin ini akan jadi kisah pertama aku menjadi lelaki serius," ujar seseorang yang lebih dulu melesat mendekati Hanny daripada Paris. Mata Hanny membeliak.
Lalu menarik lengan Hanny yang diam, tak menolak saat tubuhnya dipaksa mengikuti langkahnya. Hanny hanya menunduk menatap tangan besar itu menyentuh lengannya.
__ADS_1