Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Keinginan Asha


__ADS_3


"Bin, besanmu cantik." Bu Darmi mencolek lengan ibu Asha sambil berbisik. Ibu Asha hanya tersenyum menanggapi. Tangan mereka sigap membuat jajanan ini dengan mulut yang tidak berhenti bicara. Ada saja yang di omongkan mereka. Kali ini mertua Asha.


Dengan sudah lahir dari keluarga berada, nyonya Wardah tampak berbeda. Beliau yang sudah punya pembawaan yang bagus jadi terlihat mencolok dengan warga sekitar yang rata-rata petani juga pedagang pasar.


Tanpa riasan tebal dan menor, juga pakaian yang glamor, nyonya Wardah memang sudah terlihat cantik. Seperti pada tingkatan level lain daripada warga juga saudara ibu Asha yang kumpul untuk membantu.


"Terlihat mewah," tambah Yu minah.


"Namanya juga orang kota." Ibu Asha menimpali.


"Iya. Juga sepertinya orang penting. Kayak pernah tahu dimana gitu...." Bu Welas mencoba berpikir.


"Kenapa mikirnya lama. Kita memang pernah ketemu di mall baru." Kali ini Bu Kades yang bicara.


"Benar, ya Bu Narto?" tanya bu Welas menghentikan berpikirnya. Yang lain langsung mencondongkan badan ingin mendengar jawaban Bu Kades. Ibu Asha hanya melirik sebentar lalu tidak memperhatikan.


"Iya. Saya kan pernah ngajak ibu-ibu pkk ini ke acara pembukaan mall baru itu. Masa sudah lupa. Besan Bu Binan ini kan istri pemilik mall baru itu." Saat bibir bu Narto mengatakan ini semua mulut menganga dengan mata melebar. Decakan kagum dan terkejut terdengar.


Nyonya Wardah yang duduk agak jauh dari mereka sampai mendengar seruan kekaguman itu dari tempat duduknya. Beliau sampai menoleh sebentar karena merasa ada yang memperhatikan. Dan dugaannya benar. Banyak ibu-bu yang sedang menoleh ke arahnya hampir bersamaan.


"Kenapa, Bun?" tanya Paris yang ikut datang membantu. Mendengar ini Asha yang ada di antara mereka mendongak.


"Sepertinya ibu-ibu itu sedang memperhatikan Bunda, deh." Paris dan Asha melihat ke arah mereka.


"Bunda enggak pakai make-up tebal, jadi terlihat sedikit ... jelek." Paris sengaja menjahili bundanya. Asha mendelik kaget.


"Benarkah?" Tangan nyonya Wardah otomatis hendak menyentuh wajahnya. Asha segera mencegah.


"Tangan bunda kan kotor habis pegang kue-kue ini." Nyonya Wardah menunduk menatap tangannya.


"Benar. Untung kamu cegah." Nyonya tersenyum melihat menantunya. "Paris jangan meledek Bunda. Kamu mengerjai Bunda yah?" Paris cekikikan di pelototin beliau.


"Maaf, kalau bunda tidak nyaman dengan pandangan orang-orang." Paris dan nyonya menoleh bersamaan.

__ADS_1


"Kok jadi kamu yang meminta maaf. Bunda enggak apa-apa."


"Tenang saja, Kak. Bunda ini tahan banting." Paris menenangkan.


......................



......................


Acara syukuran tiga bulanan berjalan lancar. Orangtua Arga dan Paris sudah pulang terlebih dahulu. Ayah bersama Angga, sopir rumah. Sementara Arga dan Asha masih tinggal di rumah ibu.


Walaupun ibu juga sudah mempersilakan mereka jika saja hendak ikut pulang, tapi Arga sudah berniat tinggal. Menginap saja dulu. Karena Asha habis makan tadi mulai mengalami mual-mual lagi.


Arga bantu memijit pelan bahu istrinya yang menunduk. Menuntaskan muntahan yang masih terasa di perutnya.


"Perutnya sakit?" tanya Arga cemas.


"Ya. Sedikit," jawab Asha sambil meringis merasakan gejolak di perut yang mulai terasa lagi. Asha mulai muntah lagi. Dengan cekatan, Arga mengambil gayung dan menyiram muntahan di lantai kamar mandi.


Setelah muntahan mulai berkurang, rasa mual juga mulai mereda. Asha meminta gayung di tangan suaminya.


"Baiklah. Aku tunggu di luar pintu." Arga menyerahkan gayung di tangannya dan keluar dari kamar mandi. Asha berkumur berkali-kali mencoba menghilangkan rasa tidak nyaman pada langit-langit mulut karena muntahan tadi. Setelah itu membasuh muka. Kemudian menarik handuk yang tergantung di dinding kamar mandi dan mengeringkan wajah.


"Aku ingin makan buah." Tiba-tiba saja Asha meminta sesuatu. Wajah Arga menunjukkan keterkejutannya. Tidak biasanya istrinya ingin memakan sesuatu seperti ini.


"Buah?" tanya Arga tidak percaya. Asha mengangguk. "Sekarang?" tanya Arga lagi.


Sekali lagi istrinya mengangguk. "Aku ingin makan buah semangka." Wajah Arga sumringah.


"Baiklah. Ayo kita keluar nyari buah semangka." Setelah pamit sama ibu dan bapak, mereka berdua meluncur mencari mobil yang biasanya menjual buah-buahan di pinggir jalan. "Tumben, punya keinginan makan sesuatu?" Pertanyaan biasa tapi menurut Asha sedikit lain daripada biasanya. Asha bisa menemukan jejak kegembiraan pada pertanyaan sepele suaminya. Ada senyum yang terus saja terlukis di bibir suaminya.


"Karena habis muntah, jadi ingin sesuatu yang segar. Lalu, kenapa kamu terlihat bersemangat?" selidik Asha.


"Oh, ya? Bukannya aku memang selalu bersemangat, jika itu berhubungan dengan kamu dan jabang bayi?" Arga balik tanya sambil menoleh sebentar dan memamerkan senyum manisnya pada istrinya. Asha mengerjap. Terkejut dan takjub pada senyum manis itu.

__ADS_1


"Benar juga."


Setelah berkeliling sepanjang jalan, mereka menemukan satu motor pickup yang membawa buah semangka.


"Tidak usah menawar, langsung beli saja," ujar Arga mengingatkan. Asha mengangguk. Kalau biasanya dia semangat untuk tawar menawar, kali ini Asha menurut. Terlalu ribet saat kondisi perutnya habis mual dan muntah jika harus menawar harga. Mereka sudah mendapatkan satu buah semangka ukuran besar yang di letakkan di bangku belakang


"Aku ingin ke mini market. Aku ingin beli-beli di sana," ujar Asha. Arga hanya mengangguk. Senyumnya terus saja menghiasi bibirnya. Sangat jarang bibir istrinya mengutarakan keinginan. Malam ini jadi terasa lain.


Kalau untuk mini market semacam ini, tentu saja banyak sekali berjamuran dimana-mana. Tidak perlu membutuhkan banyak waktu, mereka sudah bisa menemukan mini market.


Asha terlihat tergesa-gesa ingin segera masuk ke dalam mini market. Arga mengikuti di belakang. Rupanya ibu hamil itu tidak sabar ingin membeli sesuatu. Arga tersenyum melihat tingkah Asha.


Dengan cepat tangan Asha sudah bisa membawa keranjang belanja yang di letakkan di dekat pintu masuk. Kakinya melangkah berjalan menuju rak minuman. Dimana bola matanya langsung mencari sebuah minuman dengan kemasan tetra pack rasa leci dan jambu.


Kemudian menengok ke kanan dan kiri mencari sesuatu. Arga mendekat dan bertanya, "Nyari apa?"


"Rak buah."


"Buah apa?"


"Semangka."


"Bukannya tadi sudah beli?"


"Aku ingin beli buah semangka yang sudah di kupas." Asha masih saja celingukan nyari rak buah. "Mbak, disini enggak jual buah-buahan, ya?" tanya Asha pada kasir yang berdiri di depan komputernya.


"Di lemari pendingin ada buah apel dan pear."


"Bukan. Saya cari buah semangka yang sudah di potong."


"Maaf, kita tidak menjual buah potong. Di mini market setelah tempat ini ada mbak. Disana ada cafenya juga," kata kasir itu memberitahu.


"Ya sudah beli ini saja." Karena tidak ada yang mengantre di depan kasir, Asha meletakkan keranjang belanja di atas meja kasir.


"Itu saja?" tanya Arga yang berdiri di belakangnya sambil melongok ke dalam keranjang hanya berisi dua buah minuman dalam kemasan kotak. Asha mengangguk sambil mendongak. "Enggak butuh yang lain?"

__ADS_1


"Kita ke mini market yang lain. Nyari buah." Arga mengangguk. Kasir menyebutkan nominal, dan Arga mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. Setelah itu mereka segera bergegas menuju mini market yang ternyata masih dengan nama yang sama dengan mini market tadi. Hanya saja sepertinya lebih lengkap. Karena ada mini cafe yang tadi sudah di informasikan oleh karyawan mini market tadi.



__ADS_2