Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Rendra melihatnya


__ADS_3


Hh... Rendra menghela nafas di depan pintu. Tangannya yang memegang pegangan pintu jadi membeku di sana. Berdiam diri menentukan pilihan, mau pergi apa menunggu saja. Rendra gamang mau melanjutkan rencananya untuk segera menemui direktur. Keraguannya muncul.


Tangannya tadi sudah menyentuh pegangan pintu dan mendorongnya pelan, tapi di tutup kembali saat melihat tuan muda dan pelayannya ada di sana. Di depan meja kerja, direktur berdiri begitu dekat dengan perempuan itu. Sangat dekat yang membuat perempuan itu mundur gugup tapi tidak terlihat sangat ketakutan.


Sebenarnya Rendra ingin masuk dan membuyarkan ketegangan yang meliputi ruangan. Namun Rendra baru menyadari bahwa ini bukan hal yang patut dia lakukan dan khawatirkan. Lalu Rendra mendengar percakapan yang menggugah selera untuk didengarkan. Namun Rendra tetaplah Rendra. Dia adalah bawahan yang baik meskipun kadang tatapan matanya sangat tajam. Begitulah akhirnya Rendra menutup pintu saat tuannya mengucapkan kata-kata terakhir,


"Aku tidak akan menggigitmu dan menciummu. Tidak untuk hari ini." Rendra yang membawa dokumen berisi laporan di tangannya menghempas nafas lagi di depan pintu. Berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa. Hanya berjaga layaknya seorang penjaga pintu.


Mita yang duduk di meja kerjanya yang berada tak jauh dari depan pintu melihat Rendra dengan heran. Mata perempuan itu menyelidik ada apa Rendra berdiri di sana. Mulutnya tergerak untuk bertanya, tapi bola mata Rendra yang tajam bergerak dari balik kacamata beningnya dan menatap ke arah Mita yang memperhatikannya.


"Lakukan tugasmu dan berhenti memperhatikanku. Karena saat ini aku juga sedang melakukan tugas bukan sedang bermain-main," hardik Rendra kaku dan tajam. Mita langsung menunduk dan melakukan pekerjaan dan tidak menghiraukan Rendra yang berdiri di depan pintu. Mita membiarkan orang kepercayaan Direktur itu melakukan apa saja. Dia harus benar-benar diam dan tidak melakukan apa-apa hanya karena penasaran. Itu membahayakan.


Rendra adalah orang yang di takuti semua karyawan selain Direktur Arga. Bahkan mungkin lebih terlihat garang daripada direktur sendiri. Karena dengan jabatan orang kepercayaan Arga, dia menanggung banyak beban pekerjaan. Juga berhak menyimpan semua cerita, tingkah dan polah direkturnya bagaimanapun juga.


Bahkan kejadian barusan. Mulutnya harus bungkam bahkan pada keluarga direktur sendiri yang tak lain adalah pemilik perusahaan.


Di dalam ruangan,


Asha yang mencaci maki tuannya dalam hati kemudian segera menarik paksa handphone-nya yang ada di tangan tuan muda. Benda itu berhasil berada pada tangan Asha dengan cepat. Karena Arga sudah sengaja ingin melepaskan benda itu.


"Terima kasih. Nona Paris sedang menunggu, jadi saya permisi dulu," ucap Asha ingin segera mengakhiri drama ini. Lalu dia membungkukkan badan dan segera berjalan menuju pintu. Arga masih tersenyum di tempatnya, sembari memandangi perempuan yang membuka pintu dengan gugup itu. Tentu saja Asha merasa gugup, karena dia yakin tuan muda masih memandanginya dari belakang dengan seringai menyebalkan.

__ADS_1


Saat pintu terdengar akan di buka dari dalam ruangan, Rendra bersiap menyambut dengan menggeser tubuhnya ke kiri. Dirinya tidak lagi harus menjaga pintu karena berarti situasi di dalam sudah normal. Salah satu dari orang yang ada di dalam pasti akan keluar entah siapa itu. Namun Rendra yakin itu adalah pelayan rumah, Asha.


"Eh," Asha terkejut dengan keberadaan Rendra yang tepat di dekat pintu.


"Selamat siang, sekretaris Ren..." sapa Asha ramah.


"Selamat siang," jawab Rendra terdengar agak formal dan resmi. Raut muka Asha mengerut. Dia menjadi heran. Namun di abaikan karena bisa saja dia hanya salah mengira. Tidak mungkin Rendra menyapanya secara resmi layaknya majikan.


Asha tersenyum geli dengan pemikiran konyolnya barusan.


"Saya permisi pulang, sekretaris Ren...," pamit Asha yang langsung di beri anggukan hormat oleh Rendra. Asha terkejut melihat perubahan itu. Matanya mengerjap berkali-kali.


Anda tidak salah, bung? Anda sedang tidak bercanda, kan?


Sangat menakjubkan dan mengherankan. Biasanya sekretaris Rendra dengan tatapan dinginnya akan menyambut Asha dengan sikap biasa tanpa penuh penghormatan seperti barusan. Hanya sikap wajar sebatas senior dan junior yang selalu ia tunjukkan.


Kenapa sekretaris berubah drastis seperti itu... Aduh sudahlah aku harus segera menemui nona Paris yang pasti menggerutu kesal di lantai bawah.


"Saya datang tuan," Arga mulai memasuki ruangan.


"Ya," jawab Arga yang melangkahkan kaki kembali ke tempat duduknya. Lalu menghempaskan punggung di atas kursi kerjanya yang terasa empuk. Rendra memasuki ruangan dengan tenang. Bersikap biasa dan sewajarnya. Merasa tidak tahu dan tidak mendengar, atau melihat apa-apa. Rendra berjalan menuju meja kerja.


Tanpa mengeluarkan kata-kata, Rendra yang membawa laporan dari bagian keuangan dan HRD divisi fashion, menyerahkan ke direktur Arga. Tangan Arga berangsur menerima laporan itu lalu membukanya.

__ADS_1


"Kamu melihatnya?" tanya Arga tiba-tiba tanpa melihat ke arah Rendra yang berdiri di hadapannya. Direktur Arga sedang membaca satu persatu laporan yang di serahkan tadi. Sebelah alis Rendra terangkat. Berusaha mencari sendiri arti dari pertanyaan tuannya.


Soal apa ini? Apa soal tadi? Tidak mungkin.


"Kejadian di dalam ruangan ini barusan," jelas Arga. Mata Rendra sempat membeliak tadi.


Apakah Direktur melihat aku yang sempat masuk ke dalam ruangan saat dia sedang mendekati perempuan itu?


Kali ini Arga memindahkan indra penglihatannya dari berkas laporan yang di pegangnya menuju kearah Rendra yang sempat terkejut.


Rendra diam masih memilah jawaban. Mana jawaban yang tepat untuk di ucapkan saat ini. Masih berpura-pura tidak tahu atau mengaku bahwa dia memang melihat semuanya?


Setelah berpikir dan memilah, Rendra akhirnya mencoba memilih kata lain selain tahu dan tidak tahu.


"Maaf, tuan." Dia memilih kata Maaf untuk di ucapkan sambil menunduk dengan maksud mengaku salah. Mata Arga menatap Rendra serius. Namun bukan tatapan marah.


"Aku tahu tadi kamu masuk ruangan dan keluar lagi." Rupanya Arga melihat semuanya. Dugaan Rendra benar.


"Maaf tuan. Lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi. Saya lalai tidak mengetuk pintu terlebih dahulu untuk memastikan anda sedang tidak bersama siapa-siapa di dalam ruangan ini." Arga mengakui kesalahannya dengan cepat.


"Tidak. Tidak apa-apa. Lain kali kamu juga perlu dan harus melakukan itu jika aku sedang bersama wanita lain." Rendra mendongak. Arga meletakkan berkas laporan di atas meja dan kembali melihat ke arah Rendra.


"Kau boleh masuk dan menerobos sesuka hatimu. Kacaukan suasananya sebisamu, saat aku dengan wanita manapun yang tak sengaja ada di dalam ruangan ini dengan maksud lain selain soal pekerjaan. Namun untuk dia, biarkan saja. Kamu hanya perlu membiarkan dia di dalam ruanganku selama mungkin dan bersikap seperti tadi untuk menjaga di luar. Aku percaya padamu."

__ADS_1


"Baik tuan." Tanpa perlu berpikir terlalu lama lagi Rendra paham situasi dan cerita saat ini. Juga tidak perlu bertanya lagi siapa yang di maksud tuannya dengan menyebut 'Dia'. Itu pasti Asha pelayan dari rumah tuan besar Hendarto pemilik perusahaan ini.



__ADS_2