Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Gelato dan kelas prenatal


__ADS_3


Sesampai di dalam outlet gelato, mereka berdua segera menuju meja kasir. Dimana etalase dengan isian penuh gelato yang bermacam-macam varian terpampang di depan mata. Semua warna-warni gelato begitu menggiurkan. Menggugah selera siapa saja yang menyukainya.


Asha yang pada dasarnya suka, semakin berbinar melihat macam-macam gelato di depannya. Untuk yang satu ini dia tidak pernah bilang tidak. Selalu iya, untuk eskrim atau gelato.


"Mbak, pesen gelato yang baik buat kesehatan ibu hamil," ujar Arga di meja kasir. Mbak kasir bingung sambil mengerjapkan bola matanya. Mendengar ini Asha melihat ke depan. Perhatiannya pada gelato teralihkan oleh kalimat suaminya.


"Maaf, varian gelato kita hanya ada pada menu di atas." Tangan kasir itu menunjuk daftar menu gelato yang ada. "Namun semua gelato kita punya kandungan yang baik untuk ibu hamil. Jadi sangat aman bagi istri Anda." Kasir itu tersenyum melihat ke arah Asha yang berbadan dua. Asha menggandeng lengan suaminya sambil tersenyum.


"Enggak ada gelato khusus buat ibu hamil disini. Pesan gelato rasa kacang hijau saja, Mbak. Toppingnya pakai chocochips sama alpukat ya... Porsi sedang." Asha segera memesan. Raut wajah kasir itu merasa lega. Karena dia sedikit kebingungan dengan permintaan Arga.


"Baik."


"Aku pikir ada." Arga memaksakan pendapat.


"Jelas enggak."


"Untuk suaminya, pesan varian apa?" tanya kasir itu.


"Sama saja, kayak punya istri saya."


"Oke. Dua gelato porsi sedang varian kacang hijau, dengan topping chocochips dan potongan buah alpukat." Kasir mengulang pesanan mereka.


"Ya." Asha mengangguk.


"Sekalian pie buah." Arga memesan saat melihat di daftar menu.


"Buat siapa?" tanya Asha.


"Kamu. Sebaiknya makan pie dulu baru makan eskrim atau gelato. Aku takut perut kamu kenapa-kenapa."


"Okeee..."


Asha sempat kekurangan nutrisi akibat masalah makan dan menyebabkan anemia. Ini di sebabkan mual dan muntah yang terjadi pada Asha lumayan sering. Jadinya dia sedikit kekurangan berat badan.


Meskipun mual dan muntah tidak parah dan masih tergolong normal, itu mempengaruhi makan Asha juga. Dia jadi agak susah makan. Walaupun tidak sampai menyebabkan suatu hal yang membahayakan. Hanya saja jika berat badan ibu hamil tidak naik, itu tidak bagus.


Anjuran dokter bagi Asha sekarang adalah memperbanyak nutrisi untuk menambah berat badan yang dirasa normal untuk ibu hamil. Mengonsumsi es krim atau gelato ternyata memiliki banyak manfaat yang baik bagi ibu hamil.

__ADS_1


Asha memilih gelato, karena kandungan di dalam gelato lebih banyak menggunakan susu dibanding krim. Sehingga gelato pun terasa lebih padat tetapi teksturnya begitu halus.


Biasanya, pewarna gelato juga terbuat dari bahan-bahan alami seperti dari buah-buahan yang menjadi rasa pada gelato tersebut.


"Senang sekali, lihat kamu terlihat lahap sejak makan nasi soto tadi." Arga berkomentar. Pria merasa gembira dengan istrinya yang tidak lagi terganggu dengan mual dan muntah saat makan.


"Iya. Perutku mulai nyaman. Sepertinya umur kandungan bertambah, mual dan muntah mulai berkurang."


"Hh... itu terdengar sangat melegakan."


"Maaf, ya... Sepertinya itu membuatmu kesulitan. Kamu pasti tidak bisa tenang saat aku mual dan muntah." Asha menyentuh tangan suaminya dengan perasaan bersalah.


"Kesulitan yang aku hadapi tentu tidak seberapa dengan kamu yang mengalaminya. Rasanya mungkin berlipat-lipat ganda buat kamu. Namun, aku juga ikut merasa sakit saat kamu kesakitan. Sehat-sehat selalu ya...." Arga membalas sentuhan tangan istrinya dan menggenggamnya.


"Iya... suamiku."


"Lengket...," ujar Arga kemudian. Asha terkekeh.


"Iya. Aku kan habis pegang mangkuk gelato barusan." Asha tersenyum lagi melihat suaminya seperti terkena jebakan. "Mau cuci tangan dulu?"


"Tanggung. Bentar lagi juga belepot sama ini," tunjuk Arga ke mangkuk gelatonya.


...****************...


Semua nasehat cukup untuk membuat nyonya direktur mall besar ini adalah mencukupi nutrisi meskipun dimana mual dan muntah terus terjadi.


Prenatal yoga atau yoga ibu hamil adalah jenis yoga yang memang khusus dilakukan selama masa kehamilan.


Jenis yoga ini bisa membantu ibu hamil agar siap secara fisik dan mental saat melahirkan, baik itu melahirkan normal maupun operasi caesar.


Ibu yang berencana melahirkan di rumah maupun melahirkan di rumah sakit juga dapat merelaksasikan diri dengan yoga hamil ini.


Biasanya, senam yoga ibu hamil fokus untuk melatih pernapasan, latihan untuk area pinggul, dan berlatih berbagai pose.


Arga sengaja memilih kelas untuk Ibu dan Ayah. Karena calon ayah berencana ingin menemani sendiri istrinya saat melakukan persalinan. Dia juga harus merasakan dengan benar bagaimana seorang ibu melahirkan. Hingga ikut tahu perjuangan seorang ibu.


Di kelas ini Ibu dan Ayah bisa sama-sama mempersiapkan persalinan sambil mempererat hubungan. Kelas ini juga dapat membantu calon ayah menjadi lebih tenang saat menghadapi persalinan. Ayah juga akan lebih terlibat dalam kehamilan dan persalinan Ibu.


Sengaja Arga dan Asha mengambil hari sabtu sore untuk pelatihan. Sebenarnya ini ide Asha, karena dia memikirkan soal pekerjaan Arga. Untuknya bisa kapan saja karena hanya berada di rumah. Sementara Arga harus memikirkan jadwal kerjanya.

__ADS_1


Untuk kelas ini adalah ide bunda. Beliau sengaja memberi ide dua orang ini untuk ikut kelas prenatal. Sebenarnya khusus untuk Arga yang bersikap berlebihan pada setiap kejadian yang terjadi pada istrinya terkait kehamilan. Nyonya Wardah ingin Arga bersiap diri dengan persalinan. Berbeda dengan menantunya yang lebih tenang. Arga seringkali panik.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya..." sambut instruktur kelas ini. Sudah ada beberapa pasangan yang datang untuk mengikuti kelas ini. "Nyonya Wardah sudah memberitahu bahwa Anda sekalian akan mengikuti kelas ini. Berapa bulan umur kandungannya?" Instruktur yang berumur sekitar tiga puluh lima ke atas itu mengelus perut Asha.


"Sekitar tujuh bulan lebih," jawab Asha.


"Hampir delapan, ya... " Instruktur sedikit berpikir.


"Sudah terlambat ya, ikut kelas prenatal?" tanya Asha seperti tahu dari ekspresi instruktur barusan.


"Tidak pernah ada kata terlambat jika untuk belajar. Yaitu belajar menghadapi persalinan seperti ini. Tidak ada masalah umur segitu ikut kelas prenatal. Oke. Sudah siap? Kelas akan di mulai. Silakan ambil tempat." Plok! Plok! Suara tepukan membuat semua pasangan menoleh pada instruktur. "Kelas akan di mulai! Silakan ambil tempat semuanyaaaa!!" Instruktur memberitahu dengan suara ceria dan semangat.


Ada bermacam-macam kelas sebenarnya disini. Kelas laktasi, untuk memaksimalkan produksi ASI. Pada kelas ini akan diberikan langkah-langkah memaksimalkan produksi ASI hingga tips dan trik pemberian ASI eksklusif bagi para ibu pekerja.


Kelas hypnobirthing, persiapan persalinan normal.  Di kelas ini, ibu akan dipandu untuk menerapkan sugesti-sugesti positif tentang persalinan sehingga dapat menjauhi rasa takut dan cemas saat proses melahirkan nanti.


Ibu hamil akan diajarkan gerakan-gerakan yang tak hanya membuat tubuh selalu bugar tapi juga gerakan yang mendukung proses persalinan dengan melatih otot-otot tertentu. Tak jarang kelas ini juga disisipkan dengan sharing session yang membahas kiat perawatan diri hingga perawatan bayi.


Semua anggota yang datang hari ini duduk saling berhadapan. Tampak semua suami menunduk menyentuh kaki para istri mereka. Sementara istri meregangkan kaki lurus ke depan.


"Enak?" tanya Arga yang sedang memijat jari-jari kaki istrinya.


"Ya. Pijatanmu sangat bagus. Kakiku terasa ringan." Asha memberi jempolnya pada suami. Memberi pujian atas pijatan yang membuatnya rileks. Pijatan ini benar-benar meringankan lelah di kaki Asha. Kemudian pijatan berpindah ke betis. Bagian kaki ini sering terasa sakit jika kelelahan.


"Sekarang pijatan dari belakang!" Instruktur memberi aba-aba.


Asha berganti posisi dan duduk membelakangi suaminya. Instruktur memberi contoh bagi suami untuk memijat tulang belakang istri bagian atas hingga ke bawah. Arga memijatnya dengan perlahan. Hingga Asha memejamkan mata karena sangat nyaman.


"Kamu menyukainya?" tanya Arga.


"Ya. Ini juga sangat menyenangkan. Sepertinya kelas ini khusus untuk memanjakanku." Asha tersenyum sendiri.


"Benar." Arga mengiyakan sambil melongok ke arah istrinya.


"Apa?" Asha menoleh ke belakang.


"Kamu sekongkol dengan bunda rupanya." Arga pura-pura marah.


"Ih, sekongkol apaan." Asha mengibaskan tangannya di depan wajah suaminya sambil menahan senyum. Kelas prenatal ini begitu memanjakan sang ibu hamil. Hingga perasaan Asha juga sangat nyaman.

__ADS_1


"Selanjutnyaaaa! Pijatan yang jadi favorit para suami," ujar instruktur dengan senyum penuh arti.



__ADS_2