
Paris hanya membiarkan mereka lalu dia fokus lagi pada rak makanan di depannya. Sementara Arga masih menatap Asha -lebih tepatnya menatap bibir Asha- yang memerah. Itu tak lain adalah jejak yang di buat oleh gigitan kecilnya saat ******* bibir itu.
"Bibirmu terluka," ujar Arga pelan sambil menyentuh dagu Asha dan permukaan kulit bibir merah itu. Asha langsung memaksa menyatukan bibirnya agar tidak di sentuh tangan Arga. Lalu tangannya menepis tangan Arga pelan. Menjauhkan wajahnya dari Arga.
"Ga... Tanganmu..." Asha mendelik dan geregetan. Arga tahu. Dia hanya khawatir.
"Ke dokter ya?"
"Buat apa?" tanya Asha menoleh cepat ke Arga.
"Mengobati bibirmu," ucap Arga dengan wajah serius. Asha meringis ngeri dengan jawaban Arga. Dia tidak bisa membayangkan berangkat ke dokter hanya karena bibirnya terluka. Walaupun perih, itu hanya sebuah luka kecil. Pun masalah yang membuat bibirnnya terluka adalah karena di cumbu pria ini.
"Baru kali ini aku mendengar lelucon jahat dari bibirmu," tukas Asha seraya bergeser dari lemari pendingin, ke rak-rak roti di sebelahnya. Tangannya memegang roti dalam kemasan itu dan membaca tanggal kedaluwarsanya. Roti semacam ini biasanya punya tanggal kedaluwarsa yang pendek. Tidak seperti snack yang punya kedaluwarsa yang panjang. Mungkin hanya menyediakan waktu seminggu dari waktu produksi setelah itu harus di buang.
"Kenapa?" kali ini Arga yang heran.
"Bagaimana bisa aku di rujuk ke dokter hanya karena bibirku terluka? Itu tidak masuk akal." Asha menggeleng tanpa mengalihkan pandangan ke arah Arga. Dia masih melihat tanggal kedaluwarsa roti kemasan itu.
"Kalau kita sedang sakit memang harusnya berangkat ke rumah sakit atau dokter. Itu juga di sebut sakit bukan? Kamu sedang terluka, Sha," jelas Arga.
"Benar. Luka ini di sebabkan oleh orang yang tidak sopan sudah mencuri ciuman pertamaku," ucap Asha dengan wajah dinginnya. Arga melirik, untuk melihat raut wajah apa yang tergambar saat kalimat itu terucap.
"Kamu mengatakan itu dengan tampang dingin, seakan-akan ingin mengulitiku.." Arga menowel dahi Asha pelan dengan gemas. Asha mengadu sebelum menoleh dengan keningnya yang berkerut samar
"Aku kesal. Kau tahu?" Arga tersenyum melihat ekspresi Asha seperti ingin menggigit dan mengoyak tubuhnya.
"Sudah?" tanya Paris yang sudah muncul di belakang mereka. Asha noleh dan sedikit bergeser dari Arga yang ternyata berdiri sangat dekat dengannya. Dia belum menuntaskan pembelian makanan untuk orang-orang di rumah. Dikarenakan Arga mengajaknya ngobrol dengan tema sensitif yang membuat buyar akalnya. Harus menahan kesal, malu dan menggeram dengan tertahan untuk mengusir rasa canggung itu. Pun harus memarahi Arga karena merasa biasa saja dengan isi pembicaraannya.
"Belum," jawab Arga mewakili, karena melihat Asha tidak segera menjawab. Paris noleh heran. Namun Paris mengabaikan.
"Lama banget?" tanya Paris lagi.
"Kalau kamu beli untukmu sendiri jelas saja cepat memilihnya. Sementara dia sedang membelikan makanan untuk orang rumah, jadi masih harus berpikir dulu mau belikan apa," ujar Arga membela Asha. Walaupun sebenarnya tidak perlu di bela juga tidak masalah.
"Kakak jadi juru bicaranya Kak Asha, ya?" tanya Paris menyadarkan Arga. "Sejak tadi aku tanya ke Kak Asha, malah Kak Arga terus yang jawab," kata Paris menautkan kedua alis. Arga tersenyum.
"Aku sudah selesai berbelanja. Ayo...," Asha mau melangkah menjauhi rak makanan di belakangnya. Dia memilih tidak membelikan makanan untuk orang rumah daripada membuat Paris lama menunggu. Namun tangan Arga mencegahnya seraya memegang tangan Asha. Menahan tubuh itu untuk pergi.
Mata Paris langsung tertuju ke tangan kakaknya yang memegang tangan Asha. Matanya tidak berkedip melihat itu. Matanya melebar lalu menaikkan pandangan ke arah kakaknya yang sedang menatap Asha.
__ADS_1
"Teruskan saja belanjamu, biarkan Paris yang menunggu," ujar Arga dengan mata yang penuh dengan perhatian yang kentara. Paris bisa melihat itu. Lalu matanya melihat ke arah Asha yang membalas tatapan dengan kecanggungan yang tidak biasa. Walaupun hanya secuil, karena mata Paris sedang dalam mode memindai, itu bisa di temukan dengan mudah.
Mereka sedang apa? Aura apa nih?
Asha menghempas pegangan Arga saat dia terkejut melihat Paris yang sedang melihatnya. Arga melihat ke arah yang sama dengan Asha, yaitu melihat Paris. Adiknya yang masih sekolah itu sedang menatap mereka berdua dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.
"Benar kan, Paris? Kamu mau menunggu dia menambah belanjaannya?" tanya Arga memberi perintah. Dia tidak terusik dengan mata Paris yamg penuh selidik. Arga masih mampu bersikap biasa.
"Ya.. terserahlah. Ini titip belanjaanku ya Kak," lagi-lagi Arga yang menyambar keranjang belanjaan yang di sodorkan Paris ke Asha.
"Dia sudah membawa keranjangnya sendiri," ucap Arga memberi alasan. Paris menghela napas. Lalu melongok ke dalam keranjang merah yang di pegang Arga. Mengambil satu minuman dingin yang pertama di ambilnya.
"Aku bayar ini dulu. Aku tunggu kalian berdua si luar. Puas-puasin belanjanya. Mana uangnya?" tangan Paris menengadah meminta. Arga meletakkan keranjang di bawah lalu merogoh dompet pada saku belakangnya. Menyerahkan lembaran lima puluh ribuan ke Paris. Lalu Paris segera menuju kasir untuk membayar satu kaleng minuman dingin.
Asha melanjutkan belanjanya yang di temani kalimat-kalimat Arga yang tak berhenti membuatnya geram. Arga hanya tersenyum geli. Gadisnya sedang bersungut-sungut ingin menghajarnya saat ini juga.
***
Setelah lima belas menit di habiskan Paris sendirian duduk di depan dinding kaca minimarket, akhirnya mereka berdua muncul. Sengaja di beri beberapa tempat duduk untuk pengunjung di depan dinding kaca minimarket ini.
"Akhirnyaa..." ujar Paris sangat lega. Lalu segera menuju pintu mobil padahal Arga masih berjalan di belakangnya. Asha juga menuju pintu belakang di sisi lain mobil. Arga masuk duluan di depan. Di ikuti Paris dan Paris kemudian. Barang belanjaan sengaja di bawa Arga untuk di taruh di bangku depan karena leluasa.
Handphone Asha berdering. Setelah melihat penelepon itu, Asha menerima panggilan itu dengan sumringah tanpa sadar.
"Siapa yang sedang meneleponmu?" tanya Arga dari bangku di belakang kemudi. Paris bisa mendengar pertanyaan itu tapi dia diam saja walaupun ada yang janggal.
"Cakra," bisik Asha seakan tidak ingin tahu kalau dia sedang bersama Arga. Tangannya juga menjauhkan handphone dari telinganya.
"Pakai mode loud speaker," perintah Arga tiba-tiba. Asha melihat ke arah Arga. Ingin bertanya kenapa harus mengubah mode itu. Bukankah perbincangannya akan di dengar semua orang? Memang bukan telepon penting, tapi kalau harus memperdengarkan perbincangan dengan Cakra pada semua orang, Asha enggan.
"Maaf, aku akan bicara cepat. Ini hanya berbincang sebentar," bantah Asha pelan sambil menutup handphone-nya agar Cakra tidak mendengar pembantahannya. Arga membanting setir ke arah kiri. Dia sedang menepikan mobil di pinggir jalan dan berhenti
"Aku bilang pakai mode loud speaker, Asha!" perintah Arga sambil dengan gertakan gigi yang terdengar jelas. Arga menggeram marah. Memaksa Paris yang sedang memainkan handphone-nya mendongak mendengar kakaknya berteriak.
Asha tertegun di tempat duduknya. Dia membiarkan Cakra berbicara sendiri. Paris terkejut dan terheran-heran dengan teriakan kasar barusan. Kakaknya marah, dia tahu. Namun penyebab Arga marah, Paris belum paham.
Tangan Asha mengambang dengan kedua matanya menatap Arga tidak percaya. Arga keluar dari mobil dan mengajak kakinya berjalan menuju pintu Asha duduk.
"Keluar," pinta Arga. Paris masih terperangah. Ada apa dengan kakaknya? Setelah menghela napas panjang seakan kehabisan oksigen untuk bernapas, Asha mengikuti kemauan Arga. Tangannya memutus telepon Cakra sepihak. Paris bingung dan ikut keluar mobil. Namun Paris tidak mendekat.
"Pindah. Duduk di depan," perintah Arga seraya membungkuk mengambil tiga kresek besar hasil belanja tadi dan meletakkan di sebelah Paris. Asha masuk ke dalam mobil lewat pintu depan. Arga juga masuk mobil setelah memastikan Asha masuk terlebih dahulu. Paris akhirnya ikut masuk mobil juga.
__ADS_1
"Kenapa kamu membantah?" tanya Arga setelah beberapa menit semua bungkam.
"Sebenarnya ini soal apa?" tanya Asha akhirnya.
"Kamu tidak tahu? Sungguh?" tanya Arga menahan marah.
"Tidak." jawab Asha pendek dan tegas. Ini semakin membuat Arga uring-uringan. Paris di kursi belakang semakin bengong dan merasa bodoh.
"Kakak kenapa sih?" Akhirnya Paris buka suara. Asha menoleh ke Paris yang ada di belakang sebentar. Seakan memberi dukungan atas pertanyaanya ke kakaknya.
"Aku tidak suka dia membantah saat aku menyuruhnya memakai mode loud speaker. Bukankah dia sedang berbincang dengan seorang laki-laki?"
"Kenapa?" tanya Paris polos. Asha menatap Arga. Berkat sikap Arga tadi, Paris mulai bertanya-tanya.
"Karena dia kekasihku, Paris," ungkap Arga sambil menatap Asha dengan tenang. Tidak peduli yang sedang di beritahu adalah adiknya. Majikan Asha juga. Ini membuat Asha mendengkus. Sebenarnya dia ingin tidak ada yang tahu soal ini. Namun Arga dengan bangga mempersembahkan hubungannya.
"Kalian?" tanya Paris tidak percaya, seraya memajukan tubuhnya. Ingin melihat dan mendengar jawaban dari bibir Asha. Namun Paris tidak mendengar apapun dari pihak Asha. Tidak ada pembantahan sama sekali. Melihat sifat Asha, Paris tahu dia pasti akan membantah dengan sopan. Namun kali ini dia bungkam. Tidak ada jawaban berarti, iya.
Arga tidak mempedulikan Asha yang bungkam. Bagaimanapun perempuan ini tidak menolaknya. Jadi dia berhak mengumumkan hubungannya secara terbuka.
"Siapapun itu aku ingin tahu apa yang sedang kau bicarakan," lanjut Arga.
"Kamu berlebihan," protes Asha.
"Tidak. Apalagi melihat wajahmu yang berubah ceria saat di telepon Cakra, aku juga perlu tahu apa yang sedang kalian bicarakan. Aku berhak tahu tentang itu," tegas Arga sambil menatap Asha dingin. Asha membenarkan letak duduknya. Berusaha menyamankan punggungnya bersandar pada bahu tempat duduk mobil.
Paris menutup mulutnya yang menganga melihat interaksi mereka. Sepertinya Paris terguncang. Asha menyibukkan diri sambil melihat ke arah jalan. Paris sibuk menenangkan diri dari keterkejutannya. Arga juga mulai menjalankan mobil.
Asha menoleh ke belakang, "Adikmu sangat terkejut mendengar pengumumanmu," ujar Asha mengusik ketenangan Arga dalam mengemudikan mobil. Juga ingin mencairkan suasana.
"Jangan pedulikan," jawab Arga datar tanpa menoleh. Asha melirik ke samping, ke arah Arga. Lelaki itu masih berwajah kaku.
"Ini hari pertama kita jadi aku dan kamu dalam artian sesungguhnya. Lebih baik hapus wajah masam itu. Aku tidak suka," kata Asha tidak peduli lagi ada Paris. Arga tidak menjawab. "Ini hal baru. Masih aneh buatku. Maaf...," ujar Asha pelan. Tiba-tiba mobil berhenti. Asha melirik Arga.
"Aku juga mungkin bersikap berlebihan. Maaf membuatmu tidak nyaman," kata Arga melunak. Asha mengerjap dan mengangguk mendengar kalimat Arga. "Paris, tutup matamu!" perintah Arga tiba-tiba membuat Paris melongok kedepan, tapi otaknya masih tidak nyambung. Ini membuat Asha waspada.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Asha menegakkan punggung. Memasang barikade pada tubuhnya.
"Tidak ada. Aku hanya menyuruhnya menutup mata, mungkin saja dia lelah," ujar Arga sambil mengangkat alisnya polos. "Apa yang sedang kau pikirkan, Sha. Buang otak kotormu itu. Dasar mesum..." ledek Arga sambil menyeringai puas.
Sialan!!
__ADS_1