Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Penjelasan dokter Murad


__ADS_3


Dokter Murad menjelaskan, menurut penelitian, bahwa mual muntah selama kehamilan bisa mengurangi risiko keguguran.


Penelitian ini dikatakan jika pada Ibu hamil yang tidak mengalami morning sickness, berisiko mengalami keguguran 3,2 kali lebih besar daripada dengan Ibu hamil yang mengalami morning sickness.


Selain itu, Ibu hamil yang berusia kurang dari 25 tahun yang tidak mengalami mual muntah akan beresiko mengalami peningkatan keguguran sebesar 4 kali lipat daripada Ibu hamil yang mengalami rasa mual dan muntah.


Bahkan, resiko keguguran akan meningkat drastis menjadi 12 kali lipat pada Ibu hamil yang berusia lebih dari 35 tahun yang tidak merasakan mual dan muntah.


"Istri Anda masih terbilang kuat. Untuk mual dan muntah pagi ini yang bisa di bilang lebih parah hanya kejadian normal. Muntah saat hamil adalah pertanda janin kuat, kemungkinan karena adanya respon alamiah tubuh guna melindungi janin, sehingga bisa berkembang dengan baik di dalam rahim Ibu. Respon ini berupa sinyal dari dalam tubuh untuk menolak zat atau makanan, yang mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan Ibu maupun janin serta merangsang adanya pemasukan nutrisi lebih berkualitas yang dibutuhkan Ibu dan janin. Di samping itu, mual dan muntah juga bisa menjadi mekanisme bagi janin untuk mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi perkembangan janin." Arga mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama.


"Jadi ... apakah mungkin karena istri saya memakan sesuatu yang tidak baik bagi janin?"


"Mungkin saja. Jadi saat itu janin memproteksi dirinya sendiri dengan membuat ibunya mual dan muntah. Kadang banyak orang justru ingin mual dan muntah saat hamil karena ingin mengetahui secara tidak langsung bahwa bayi mereka sehat."


"Jadi apakah mual dan muntah istri saya bisa di anggap baik?" tanya Arga. Pria ini ternyata lebih cerewet di banding istrinya sendiri yang sedang mengandung.


"Meskipun dinilai sangat wajar, mual pada ibu hamil memang bisa berbeda-beda. Tingkat keparahannya memang tidak sama, ada yang mual biasa saja, sampai mual yang benar-benar mengganggu dan membuat kesulitan untuk makan dan beraktivitas. Bagaimana dengan nyonya ini?"


"Saya masih bisa makan dengan baik, dok," jawab Asha.


"Namun pagi ini, istri saya lebih lemas daripada biasanya saat habis muntah." Arga tetap mengatakan ini lebih parah.


"Karena masih tergolong wajar dan tidak terus menerus, saya menjawab, iya. Ini tidak berbahaya. Melihat tubuh istri Anda masih dalam berat badan yang sehat dan tepat itu bukan masalah."


Arga menatap istrinya. "Jadi benar-benar aman, ya dok?"


"Jika tingkat keparahannya tidak bisa ditoleransi, segera lakukan konsultasi dengan saya. Hal ini tentu saja untuk mencegah bumil kekurangan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang janin. Ingat, stunting pada anak juga bisa disebabkan dan dimulai sejak janin di dalam kandungan. Tak hanya sulit makan, ketika mual menyebabkan tidak bisa mengonsumsi minuman apapun, hingga istri Anda mengalami penurunan berat badan, kondisi ini pun sangat berisiko dan perlu segera melakukan pemeriksaan. Namun karena saat ini istri Anda tidak punya banyak masalah dengan mual dan muntahnya, saya rasa ini masih aman."

__ADS_1


Walaupun Arga masih merasa tidak yakin, dia sedikit lega.


"Anggap saja janin di dalam perut istri anda sangat pintar hingga bisa merespon mana makanan dan minuman yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri. Hingga memunculkan respon mual dan muntah bagi ibunya."


Mendengar kata janin pintar, Arga tersenyum puas tanpa sadar. Raut wajah bangga melintas dan singgah di ekspresinya. Bukankah secara tidak langsung bahwa dikatakan keturunannya adalah bayi yang pintar.


"Benar. Mungkin saja bayi kami adalah bayi pintar. Karena suami saya juga demikian," puji Asha menambahi. Membuat Arga semakin senang dan bahagia. Dokter Murad tersenyum.


"Kiat agar tidak mudah mual apa saja, dok?" Kali ini Asha yang bertanya.


Penjelasan dokter Murad kali ini juga panjang. Beliau juga memberi pengetahuan baru soal beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir mual dan muntah.


Pastikan perut terisi. Makan dengan porsi sedikit dengan memperbanyak frekuensi (makan sedikit, tapi sering).


Konsumsi multivitamin secara teratur untuk mengurangi efek mual saat hamil muda, namun pastikan saat mengonsumsinya perut sudah terisi dengan makanan.


Hindari makanan atau minuman yang memicu mual.


Konsumsi makanan atau minuman jahe yang bisa membantu meredakan rasa mual.


Perbanyak minum air dengan minum sedikit demi sedikit.


Pastikan waktu istirahat tercukupi.


Gunakan pakaian senyaman mungkin. Banyak solusi agar membuat perut nyaman dan mengurangi mual.


 


......................

__ADS_1


Setelah pulang dari dokter Murad, Arga punya banyak ilmu soal kehamilan. Mual dan muntah, juga di anggap pertanda bayi sehat. Jadi dia tidak perlu merasa panik atau khawatir dengan berlebihan.


"Aku tidak menyangka mual dan muntah itu pertanda janin kuat." Arga terkagum-kagum sendiri dengan kalimat dokter itu.


"Aku juga baru dengar," timpal Asha.


"Benarkah?" Arga terkejut. Dia menolehkan kepala ke arah istrinya yang duduk di bangku di sampingnya dengan cepat. Lalu menoleh ke depan lagi.


"Memang kamu pikir ini kehamilanku yang ke berapa? Jelas saja aku baru tahu tentang ini, suamiku...." Asha gemas dengan tatapan suaminya tadi. Jarinya terjulur ke samping untuk mencubit pipi suaminya.


"Ehh, bukan begitu. Melihat ketenanganmu dengan perihal mual muntah ini, aku pikir kamu tahu lebih banyak dariku." Arga juga ikut menjulurkan tangan untuk mencubit hidung Asha. Asha mendengkus.


"Tidak. Aku tidak banyak tahu soal hamil. Aku hanya yakin saja bahwa aku dan janinku akan baik-baik saja."


"Aku memang tidak bisa mengalahkanmu dalam hal ketenangan diri seperti itu. Walaupun dokter sudah memberiku pengertian soal mual muntah ini dengan jelas, tetap saja mungkin aku akan tetap panik saat melihatmu kesakitan dan lemas seperti tadi. Mungkin aku akan tetap, bahkan lebih cerewet ini itu saat kau mengalaminya lagi." Asha menoleh. Arga merasa kalah dan mengakuinya bahwa dia tidak bisa setenang dirinya.


"Tidak masalah. Teruslah panik dan cerewet soal kesehatanku dan bayi kita. Itu menunjukkan bahwa kamu orang yang hangat. Kamu tidak merasa tenang jika tahu aku kesakitan. Itu pertanda aku di sayang sama kamu." Asha menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya.


"Begitukah?" Arga melirik sekilas ke arah istrinya.


"Meskipun aku sering membantah, aku sebenarnya sangat senang di perhatikan dengan cermat olehmu. Terima kasih...."


"Terima kasih apaan... Itu kewajiban seorang suami. Juga memang aku tidak tahan jika melihat orang yang aku sayangi merasa sakit. Baik tubuh maupun hatinya. Jadi bicarakan saja jika memang hatimu sedang sakit. Aku harus tahu. Jadi aku bisa memperbaiki."


"Orang sebaik kamu mana bisa menyakitiku." Asha tersenyum sambil memeluk lengan suaminya.


"Syukurlah kalau begitu." Arga melepas satu tangan dari kemudi dan mengusap kepala istrinya dengan sayang.


__ADS_1


 


__ADS_2