
Saat Arga menghela tubuh Asha masuk ke dalam ruang kerjanya, Rendra juga mempersilahkan Evan masuk dalam ruang kerjanya, karena sudut bibir Evan sedikit sobek karena pukulan Arga. Jadi Rendra berusaha menyembunyikan luka itu dari pandangan orang lain.
Karyawan berdatangan dari makan siangnya. Lorong ini mulai ramai. Evan mengikuti usulan Rendra dan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Di dalam, Rendra mengambil kotak p3k yang di letakkan dalam laci di sudut ruangan. Lalu memberikan pada Evan.
"Tidak perlu. Aku hanya butuh minum," tolak Evan. Rendra meletakkan kotak P3k di atas meja. Lalu menuju meja dispenser dan mengambil air minum.
Setelah menyerahkan gelas berisi air, Rendra duduk di atas sofa di seberang Evan. Tetap berlaku sopan seperti tidak ada kejadian apa-apa.
"Bagaimana bisa dia sedih dan marah? Aku tidak bisa paham dengan pikiran perempuan itu ...," ujar Evan menyuarakan ketidak percayaannya dengan sikap Asha. Rendra hanya mendengarkan. "Kau dengar sendiri dia meremehkan Chelsea, bukan?" tanya Evan ke Rendra berusaha mendapatkan dukungan. Rendra masih diam. "Bukankah dia pelayan rumah Arga? Kenapa bisa dia dengan santai menjalin kasih dengan mudah?" Evan masih menggeram.
"Tidak ada yang mudah dalam kehidupan ini, Tuan ...," ujar Rendra mulai bicara, setelah lama tadi tidak menanggapi kata-kata Evan. Dulu mereka adalah satu rekan dalam pekerjaan. Evan adalah manajer bagian penyewa outlet dalam mal milik Arga.
"Bukankah terlihat mudah, melihat dia yang hanya seorang pelayan, bisa menjadi kekasih Arga yang kita tahu adalah putra pemilik perusahaan yang besar," Evan mengangkat tangannya seakan menggambarkan betapa agungnya seorang Arga yang menjadi putra pengusaha.
"Itu yang kita lihat. Kita juga tidak tahu siapa yang memulai, tapi kita yang melihat, pasti akan berpikir bahwa si perempuan yang sudah menggoda direktur Arga karena berhasil menjadi kekasihnya. Kita tidak tahu, tapi pasti si perempuan terlihat menjadi tidak tahu diri karena lancang menjalin kasih dengan majikannya. Kita tidak tahu Tuan, kita hanya melihat dan menyimpulkan," Rendra masih duduk dengan tenang dan sopan meskipun mulutnya berbicara panjang dan penuh sindiran.
"Bukankah kau juga akan berpikir sama seperti kebanyakan orang berpikir tentang mereka?" tanya Evan seperti ingin tahu apa yang di pikirkan Rendra, orang yang paling tahu baik-buruknya seorang Arga.
"Saya hanya melihat, tidak perlu berpikir tentang keduanya. Saya cukup banyak pekerjaan menjadi sekretaris direktur Arga. Jadi saya tidak membutuhkan pekerjaan tambahan yang bisa membebani pikiran saya," jawab Rendra dingin seperti biasanya.
Evan tersenyum mencemooh. "Kau memang orang setia milik Arga Hendarto. Hargamu pasti sangatlah mahal untuk menahan mulutmu tidak membicarakan tuanmu."
"Terima kasih sudah memuji, tapi sayang saya tidak butuh pujian dari anda ... Itu terlalu murah. Saya bisa membelinya satu karung penuh di pasar loak untuk membeli pujian semacam itu dengan uang receh," jawab Rendra datar yang membuatnya semakin menakutkan. Evan menaikkan alis terkejut dengan balasan Rendra.
"Rupanya kau sedang gusar karena aku membicarakan perempuan milik Arga," ejek Evan mendengar sindiran tajam dari mulut Rendra.
__ADS_1
"Saya tidak punya hak dan wewenang atas itu. Saya hanya mengatakannya atas dasar kita berdua yang sama-sama berasal dari kalangan orang bawah." Rendra menatap tajam ke arah Evan.
"Aku tidak tahu soal itu. Sudahlah ...," Evan mengibaskan tangannya. Dia tahu Rendra mulai serius dan itu tidak di inginkannya. Evan tidak perlu membangunkan macan yang sedang tidur. Suasana tidak lagi menjadi asyik kalau dia harus punya hal yang membuat kaku di antara mereka juga.
"Sama seperti Anda dan Chelsea. Entah ada apa dibalik gagalnya pertunangan direktur Arga. Semua orang melihat dan menganggap bahwa Anda yang telah merebut nona Chelsea."
"Benar. Mereka tidak tahu ada alasan di balik semua hal yang terjadi, tapi pasti mereka menghakimiku bahwa aku yang salah. Yah ..., semua orang memang hanya tahu sampulnya saja. Itulah kehidupan. Aku juga tidak perlu memberitahu semua orang siapa diriku," Evan mengatakannya dengan pengertian penuh. Dia menyadari hal ini saat menerima permintaan menikahi Chelsea. Namun rasa cintanya yang mendalam membuatnya membutakan mata hatinya.
Asha yang sudah merasa baikan ingin segera kembali kerumah. Walaupun Arga sudah membuatkan alasan untuknya, berlama-lama disini juga akan mencurigakan.
Tanpa sengaja saat Asha dan Arga keluar, Evan juga keluar. Mata Asha bertemu dengan mata Evan.
"Tetap lihat lurus ke depan, tanpa perlu menoleh ke kanan dan kiri, Sha," ujar Arga memberi nasehat. Dia tidak ingin Asha emosional lagi dan meledak-ledak.
"Aku ingin berbicara dengan Asha sebentar," pinta Evan.
"Tidak," sergah Arga. Rendra menipiskan bibir.
"Tidak ada yang salah di antara kita," ujar Asha tenang. Rendra tidak lagi terkejut dengan setiap kalimat dan tindakan Asha. Dia cepat belajar memahami kekasih atasannya.
"Benarkah? Bukankah kau sakit hati karena aku mengatakan soal dirimu yang menjadi pelayan di rumah Arga?" tanya Evan tidak percaya.
"Bukan. Aku tidak peduli orang mengatakan apa soal pekerjaanku. Itu kenyataan. Walau bagaimanapun aku tetap seorang pelayan, tidak ada yang berubah. Marahku tadi tidak ada hubungannya dengan perkataan itu, jadi kau tidak perlu meminta maaf."
"Aku tidak yakin," kata Evan meragukan perkataan Asha yang melupakan kata-katanya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau harapkan?" tanya Arga gusar.
"Atau kau perlu aku hajar dulu untuk percaya kata-kataku dan bisa menyingkir sekarang?" Asha juga mulai kesal. Evan tergelak akhirnya.
"Tidak, tidak. Aku tidak perlu mempermalukan diriku disini." Jari-jari Evan bergoyang menolak tawaran Asha. "Terima kasih sudah memaafkanku. Kita bisa memulai dari awal ...." tangan Evan terulur.
__ADS_1
"Sebenarnya kau sedang apa, Evan?" tanya Arga tak henti-hentinya heran dan gusar. Evan tak bergeming. Asha melihat tangan itu sekilas lalu menatap wajah Evan. "Sha," tegur Arga terkejut saat Asha justru mengulurkan tangan. "Kau juga sedang apa?"
"Dia ingin berbaikan. Bukankah kita harus menerimanya?" tunjuk Asha ke arah Evan seraya mengatakannya dengan santai. Seperti tidak pernah terjadi hal-hal yang menguras emosi tadi.
"Menerima uluran tangan Evan?" tanya Arga seperti mengingatkan diri Asha bahwa tadi dia meledak-ledak karena Evan. Asha mengangguk. Arga menggeleng tidak setuju. Tiba-tiba Asha menangkap tangan Arga dan mengulurkan ke arah Evan. Mata Evan maupun Arga membeliak heran dan terkejut.
"Kalau begitu kalian berdua saja yang berjabat tangan. Jadi aku tidak perlu menerima uluran tangan dia," kata Asha sambil melebarkan mata. Rendra tersenyum tipis. Dia mengerti maksud pelayan rumah keluarga Hendarto itu.
"Kau menyuruhku ...," kata Arga ragu untuk meneruskan kalimatnya. Sejenak dia menemukan maksud Asha barusan.
"Kau ingin kita berdua baikan?" tanya Evan meneruskan kalimat Arga. Kepala Asha menoleh ke arah Evan.
"Bukankah kalian berdua yang sebenarnya punya masalah yang membuat pertemanan kalian hancur? Aku hanya orang baru yang tak sengaja masuk di antara perselisihan kalian. Jadi kurang tepat jika kamu, Evan, meminta maaf padaku. Salahmu bukan padaku, melainkan ke Arga. Minta maaf saja pada Arga," tunjuk Asha ke arah kekasihnya yang menatapnya lurus. Mempertanyakan kenapa harus melakukan hal ini padanya. Asha mendekatkan wajahnya ke Arga, "Aku tahu kamu adalah orang baik," bisik Asha. Kemudian menjauhkan wajahnya dari telinga Arga dan tersenyum.
Arga menghela napas. Tiba-tiba dia menjabat tangan Evan.
"Walaupun kau tidak mengucapkannya, aku memaafkanmu," ucap Arga lepas. Evan pun menerima jabatan tangan Arga dan mendengkus.
"Iya, benar. Maafkan aku," ujar Evan bersungguh-sungguh. Mereka berdua membuang napas lagi. Menghempaskan rasa lelah atas perselisihan yang sudah lama.
***
Walaupun Arga sudah memberi alasan yang tepat atas kepulangan Asha yang lama, tetap saja Nyonya Wardah menanyakan juga.
"Kok lama, Sha? Disuruh apa aja sama Arga?" tanya Nyonya Wardah yang sedang menonton tv bersama Bik Sumi. Nyonya Wardah suka kalau nonton sinetron rame-rame sama Bik Sumi. Soalnya setelah nonton nanti jadi bahas cerita sinetron itu dengan berapi-api. Ada saling adu pendapat soal kelakuan para tokohnya. Mereka berdua duduk lesehan di karpet bercorak harimau loreng berwarna cokelat.
Asha ingin mengungkapkan semua yang sudah di lakukannya di kantor Arga jelas tidak mungkin, "Iya ...," jawab Asha tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudahlah ... Kamu pasti lelah. Aneh juga Arga menyuruhmu macam-macam. Biasanya dia tidak begitu," Nyonya Wardah mengibaskan tangannya dan memberikan Asha pengertian agar memaklumi sikap putranya.
"Tidak apa-apa Nyonya," ucap Asha sambil menekuk tubuhnya. Asha merasa tidak enak pada majikannya. Namun dia juga beruntung dengan tidak adanya banyak pertanyaan dari Nyonya Wardah, karena Asha lupa tidak bertanya soal alasan yang di buat Arga untuknya.
__ADS_1