
Mata Arga dan Asha yang tadi sempat membiarkan Hanny, kini tercengang melihat tangan Hanny di tarik oleh seseorang. Asha menjauhkan kepalanya dari dada Arga.
"Eh, kenapa dia membawa Hanny pergi?" tanya Asha dengan manik mata mengikuti langkah mereka berdua lalu menengadah, melihat Arga.
"Aku tidak tahu," jawab Arga melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah mereka yang keluar dari pagar kawat yang mengitari seluruh lapangan basket ini. Lapangan basket ini lapangan outdoor.
"Sebaiknya kita mengikuti mereka," ajak Asha. Arga mengangguk. Lalu kaki mereka bersama hendak keluar lapangan.
"Dalam rangka apa dia bersamamu?" tanya Asha tenang tanpa melihat ke arah Arga. Walaupun begitu ini bukan pertanyaan main-main.
"Dia sengaja mengikutiku, beralasan ingin pergi denganku kepada orangtuanya, karena dia juga sepertinya tidak suka berada di dalam pertemuan itu," jelas Arga tanpa menoleh.
"Wow, kau sudah bisa memahaminya. Hebat. Berarti kalian sudah lama kenal." Mata Asha melebar mendapat jawaban itu. Ada nada mengejek disana. Curiga. Sangat jelas dan tidak di tutup-tutupi.
Kali ini Arga yang menoleh dan menghentikan langkah Asha dengan menggeser tubuhnya tepat di depan Asha, membuat kepala Asha terantuk dada Arga. Tentu saja ini membuat Asha terpaksa berhenti. Tangan Asha hendak terangkat untuk menyentuh kening dan mengusap, tapi Arga sudah menangkap bahu Asha dengan kedua tangannya. Asha mengerjap kaget.
"Aku baru mengenalnya, hari ini. Jadi hilangkan pikiranmu yang berprasangka buruk tentangku," kata Arga sengaja memberi tekanan pada kalimatnya. Berusaha meyakinkan gadisnya.
"Lalu?" tanya Asha remeh.
"Baru saja bilang percaya penuh padaku, sekarang sudah curiga dan berpikiran macam-macam. Kau itu sungguh tidak bisa di percaya," Arga menyentil kening Asha dengan jarinya karena geregetan. Asha meringis sambil sedikit menutup matanya. Tangannya memaksa keluar dari pegangan Arga karena ingin mengusap keningnya.
Arga melepaskan kedua tangannya dan mendahului tangan Asha untuk menyentuh kening itu. Lalu mengusap-usap kening gadisnya dengan perhatian. Asha membiarkan Arga mengusapkan untuknya.
"Sedikit hukuman buatmu karena berpikir aneh-aneh. Sudah?" tanya Arga memiringkan kepala menilik wajah Asha. Menanyakan apa usapannya sudah meredakan sentilan di kening Asha atau belum. Kepala Asha mengangguk.
"Perempuan itu tidak akan berdiam diri membiarkanku memelukmu, kalau dia benar-benar menginginkanku, kecuali kamu_ yang sering terlihat dingin daripada peduli padaku," tuduh Arga yang masih menghadap Asha sambil merapikan rambutnya. Mendengar itu Asha mendongak.
"Baik dia maupun siapapun yang akan orangtuamu perkenalkan nanti, aku tidak mungkin ikut bahagia, Ga. Aku hanya mencoba menahan diri," bantah Asha.
"Silahkan... Aku tidak akan menahanmu, jika kau ingin melepaskan marahmu. Aku lebih bahagia jika kau akan memarahiku saat ada hal seperti ini lagi," ujar Arga sembari menangkupkan pipi Asha dengan kedua tangannya.
"Wahh... Kau menyukai tantangan perjodohan ini sepertinya." Mata Asha melebar lagi meledek Arga lagi.
"Heii... Aku tidak akan menikah kalau tidak denganmu, paham?" Asha memerah. Dia berusaha mengkerjap-kerjapkan mata dan mencari arah pandangannya yang mulai hilang arah. Arga tersenyum gadisnya merona merah.
__ADS_1
Tangan Asha menunjuk berkali-kali dengan panik, ke arah Hanny untuk mengalihkan mata Arga yang menatap bibirnya dengan penuh hasrat.
"Han, Hanny... K-kita bisa kehilangan mereka," kata Asha mengingatkan. Arga paham maksud Asha dan menyentuh ujung hidung Asha pelan.
"Aku mengalah. Ini penting. Jadi kita harus mengikuti mereka," Arga melepaskan tangannya dari wajah Asha. Kepala Asha menggeleng dan mengerjapkan mata. Merapikan rambutnya yang sudah rapi dengan gugup.
Dadanya juga berdesir. Ada rasa menggelitik dan menyenangkan menjalar pada semua ruang hatinya. Dia bahagia.
***
Di lapangan basket, ketiga manusia disana sedang mengalami rasa keterkejutan yang sangat melihat adegan Asha dan Arga. Juga di lanjutkan dengan adegan dramatis, Andre menarik tangan Hanny. Perempuan baru yang di bawa Arga. Cakra dan Deni menghampiri Paris yang masih melihat ke luar lapangan.
"Dia siapanya Arga, Paris?" tanya Cakra.
"Perempuan yang di kenalkan Bunda pada kak Arga. Semacam calon tunanganlah...," jawab Paris tanpa berhenti melihat Andre dan Hanny yang terlihat dari tempat mereka berdiri. Dari sini Arga dan Asha yang berhenti tidak terlihat karena terhalang pepohonan.
"Lalu kenapa Andre membawa dia pergi?" tanya Deni.
"Bukannya disini temannya adalah Kak Deni? Kok tanya ke aku?" Paris balik tanya. Deni menggeleng, dia bertanya karena tidak paham.
"Sepertinya Andre kenal," ujar Cakra menyimpulkan.
"Aku sudah mencemaskan mereka berdua. Sangat di sayangkan jika mereka memilih pisah," ujar Cakra sangat lega. Dia seperti seorang Bapak yang sangat mencemaskan putrinya.
"Kak Cakra khawatir sekali ya?" tanya Paris.
"Asha itu tidak bisa dengan mudah menunjukkan perhatiannya pada orang yang di sukainya," ungkap Cakra.
"Mengerti sekali, soal kak Asha?" Paris tanya lagi.
"Dia temanku. Aku sudah mengenalnya sudah lama. Aku paham," jelas Cakra.
***
Rupanya mereka berdua tidak pergi jauh dari tempat Arga memarkir mobilnya. Hanny dan Andre.
"Kita tidak perlu sejauh ini," ucap Hanny dengan ragu-ragu, "Lepaskan tanganku," pinta Hanny. Mendengar itu, pemilik tangan besar itu melepaskan tangan Hanny dengan perlahan. Meskipun terkejut, dia berhasil menenangkan diri.
"Maaf," ucap Andre terkesiap. Kecanggungan yang muncul membuat kesunyian yang membentang.
__ADS_1
Dia lupa bahwa dia tidak punya hak untuk ikut dalam suasana aneh di antara mereka. Tiba-tiba saja dia punya keberanian untuk membantu Hanny terlepas dari ketegangan dan ketidaknyamanan di lapangan basket. Kini mereka berada di area parkir yang berada di depan lapangan basket. Di dekat mobil Arga.
"Kenapa membawaku pergi?" tanya Hanny polos yang justru membuat Andre semakin berwajah polos karena tidak tahu alasannya. Matanya mengerjap. Kebingungan menjawab pertanyaan Hanny. Sejak kemunculan perempuan ini, dia sudah ingin menghampiri Hanny. Namun itu tak dilakukannya. Dia merasa tidak punya wewenang untuk menghampiri.
"Mungkinnn.. karena aku tidak mau melihatmu dalam suasana tidak menyenangkan itu," jawab Andre merasa menemukan jawaban. Andre menjawabnya dengan menggaruk kulit pelipisnya yang tidak gatal. Menyipitkan sebelah mata dan melihat ke arah lain. Dia sendiri mendadak ragu.
"Oh, ya?" tanya Hanny dengan mata senang yang tidak di lihat Andre. Dia hanya mengangguk tidak jelas dengan pandangn tidak terarah. Manusia banyak omong ini mendadak minim bicara. Kosa katanya yang banyak saat ingin menyerang Asha, lenyap.
"Terima kasih," ucap Hanny tulus.
Mereka kembali diam. Suasana hening dan senyap.
"Seharusnya kamu bisa segera pergi dari sana secepatnya," tukas Andre memecah kesunyian. Lalu memburu nasehatnya dengan cepat, saat Hanny membuka mulut untuk membantah. "Walaupun Arga memaksamu tinggal, kamu harus pergi dari sana."
Hanny tersenyum tipis. Merasa nasehat Andre benar dan dia tahu itu sejak tadi. Hanya dia mengabaikan.
"Iya. Aku seperti pemain tambahan yang menyebalkan di sana," ujar Hanny sambil menautkan kedua tangannya di belakang. Kakinya menggerakkan flat shoes-nya pelan dengan kepala menunduk. Andre diam memperhatikan perempuan di depannya, yang biasanya hanya di lihat sepintas tanpa bisa bertanya ataupun mengajak bicara.
Perempuan yang membuat Andre yang biasanya konyol dan banyak bicara menjadi pendiam dan canggung. Dia, Hanny. Dia seorang teller bagian nasabah prioritas di bank tempat Andre bekerja sebagai security.
Saat bertemu dengannya, Andre yang memang banyak humornya ini sering menyapa Hanny dan mentraktirnya makanan kecil di kantin layaknya teman-teman perempuan lainnya. Andre memperlakukan Hanny seperti yang lain. Gadis manis yang lembut tata bicara dan sikapnya.
Setelah keakraban itu, tiba-tiba Andre mendapat informasi rahasia. Hanny adalah putri kepala cabang bank tempatnya bekerja. Mendengar itu Andre sedikit tidak nyaman. Perlahan, dia mengurangi celetukan ringan yang biasanya meluncur tanpa rem dari bibirnya.
Andre yang sudah merasa tertarik dengan Hanny yang lembut itu merasa kecil bila berbicara dengannya. Mungkin karena ada sedikit bumbu suka, Andre merasa harus menjauh dari Hanny demi perasaannya sendiri.
"Kamu tidak bertanya kenapa aku datang bersama laki-laki itu?" tanya Hanny hati-hati. Entah kenapa dia ingin menanyakan itu. Andre menoleh ke arah Hanny dengan sedikit terkejut yang spontan. Menanyakan hal itu adalah pertanyaan pertama yang ingin dia tanyakan kepada Hanny sejak tadi. Namun itu tidak mungkin.
"Aku tidak punya hak untuk bertanya," jawab Andre tersenyum tabah. Dia merasa perasaannya sudah campur aduk sejak tadi. Kali ini semakin menjadi, apalagi jika membahas itu.
"Kamu ingin bertanya?" tanya Hanny seperti sengaja ingin mengejar dengan pertanyaan itu.
"Mereka ada di sini," ujar Andre saat melihat Asha dan Arga muncul di balik pintu lapangan basket.
"Dre...," sebut Hanny pelan seraya menarik ujung kaos Andre. Mata Andre terkejut saat melihat itu. Lebih terkejut lagi saat mendongak ke arah wajah Hanny. Mata itu menatapnya sedih seakan memohon. "Aku ingin kamu bertanya soal ini," ucap Hanny membuat Andre tidak bisa berucap kata.
"Sepertinya kita tidak perlu mendekat," bisik Asha memutar badan, memaksa Arga berhenti melangkah. Arga tahu suasana aneh itu. Lelaki ini menurut dan mengikuti Asha untuk bersembunyi di dekat pepohonan.
__ADS_1