Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Kejujuran


__ADS_3



Awalnya mereka merasa kebohongan itu tidak perlu di ungkap. Namun Arga berpikir harus mengatakannya dengan jujur. Ada kemungkinan saat orangtuanya datang kerumah Asha, mereka tidak sengaja membahas pekerjaan Asha dirumah mereka. Bukan bertujuan untuk menghina atau mencemooh, hanya saja mungkin akan ada pembahasan yang mengungkap cerita kenalnya mereka berdua atau celetukan tak sengaja.


"Jangan sedih, Sha. Karena pilihanmu yang aneh dengan mau bekerja sebagai pelayan di rumahku, akhirnya kita bisa bertemu. Ini takdir yang manis, Sha. Bukan kesalahan. Ini takdir kita berdua hingga bisa bertemu." Arga mengusap punggung tangan Asha.


"Nak Arga sebaiknya menginap disini saja," ucap Ibu yang mendatangi mereka berdua. "Besok saja pulangnya. Walaupun naik mobil, tidak baik lelah dalam perjalanan. Sejak tadi kalian belum istirahat bukan. Asha bisa menyiapkan tempat tidur di kamar Juna. Biar Juna tidur di depan tv," kata Ibu memberi tawaran. Juna, yang sedang duduk lesehan di atas karpet di depan tv sambil main game di ponselnya, melongok. Arga memang tidak berniat pulang hari ini kalau belum bisa mengambil hati Bapak.


"Aku biar disini saja, Kak." Juna memberikan kuasa atas kamarnya kepada Arga. Bibir Arga tersenyum saat Juna mempersilakan Arga menempati kamar tidurnya.


"Baik. Bapak kemana, Buk?" tanya Arga nekat menanyakan. Setelah makan malam tadi, beliau tidak muncul lagi.


"Ada. Di kamar. Darah tingginya kumat...," bisik Ibu. Arga dan Asha terkesiap. Apakah karena mereka berdua? Asha langsung menatap pintu kamar bapak yang dekat dengan meja makan. Menatap sedih.


***


Pagi hari Arga bangun di kejutkan oleh nuansa kamar yang berbeda. Dia lupa bahwa dirinya ada di rumah keluarga Asha. Kamar Juna, adiknya Asha. Arga segera bangkit dan melipat selimut. Dia ada di rumah keluarga Asha, jadi harus segera bangun. Ada ketukan pintu yang membuatnya menoleh cepat.


"Ini aku, Asha. Aku masuk."


"Masuklah..." Setelah ada sahutan dari dalam, Asha membuka pintu dan masuk. Arga sudah merapikan tempat tidur dan selimut. Asha membawa teh hangat untuk Arga. Tangan Arga menerima teh itu dan meminumnya pelan-pelan.


"Tidurmu nyenyak?" tanya Asha. Arga menyodorkan gelas yang isinya sudah habis. Asha menerimanya.


"Iya. Aku sangat terkejut bahwa aku bisa terlelap dengan cepat di rumah kamu yang baru aku datangi. Mungkin aku merasa nyaman berada di sini. Ya... meskipun Bapak bersikap seperti itu..." Asha tersenyum Arga betah dan nyaman.

__ADS_1


"Ini aku bawakan handuk juga perlengkapan yang lain." Asha menunjukkan pada Arga perlengkapan mandi yang lengkap. Semuanya baru karena mereka tidak menduga akan menginap. Kemarin saat semua membersihkan diri, mereka berdua cukup tertekan untuk bisa berpikir normal hingga tidak sempat melakukannya. Mereka masih di penuhi rasa tegang karena mau menghadap Bapak di meja makan.


Walaupun Bapak belum memeberi kepastian soal restu, tidur tadi malam membuat jernih pikiran mereka sejenak. Itu sangat membantu ketegangan di tubuh mereka.


"Semuanya baru aku beli, kecuali handuk. Itu handukku. Belum terpakai jadi aku berani membawakan untukmu. Cepat mandi di kamar mandi di ujung. Lalu segera ke bawah." Asha menepuk pipi Arga pelan dan gemas


"Kamu tidak apa-apa, Sha?" Asha yang sudah berjalan, berhenti dan noleh kebelakang.


"Ya. Jangan khawatir. Ada kamu di sini, jadi aku bisa tenang," ucap Asha sungguh-sungguh.


Di bawah, Bapak sudah berpakaian dinas. Juna juga memakai seragamnya. Ibu tidak ada, mungkin sudah berangkat ke warung tadi pagi. Makanan sudah siap di meja. Arga dan Asha masih canggung.


"Kalian sudah bangun? Ayo sarapan," kata Bapak melihat Arga dan Asha turun dengan bersikap biasa. Arga menunduk memberi salam. Bapak tersenyum. Lalu mereka duduk bersama. Juga sarapan pagi bersama. Bapak terlihat mulai tenang. Namun keadaan meja makan menjadi sunyi lantaran tidak ada yang berani membuka mulut duluan.


Juna selesai duluan karena akan segera berangkat sekolah. Akhirnya hanya tinggal mereka bertiga.


"Bapak sudah menjawab pertanyaan banyak orang bahwa Asha itu bekerja di sana. Kenyataannya Asha tidak pernah bekerja disana. Bapak malu pada diri sendiri sudah berbohong. kamu tahu perasaan seperti itu kan? Di tambah lagi, kamu Nak Arga, yang sudah Bapak anggap baik dan mampu membimbing Asha, ternyata juga ikut ambil andil dalam kebohongan itu." Asha mulai merebak tangisnya.


"Saya sangat menyesal Pak. Maafkan saya." Arga langsung meminta maaf. Asha sudah tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.


"Bahkan Bapak lebih kecewa ternyata kamu yang jadi kekasih Asha, kenapa tidak bisa membimbing putri Bapak."


"Beribu maaf, Pak. Saya tidak berniat menyakiti Bapak. Saya mohon dengan sangat, maafkan saya," ucap Arga berisi permohonan dan sangat tulus. Dia jadi mengerti maksud bapak. "Asha melakukannya, ingin Bapak tidak kecewa tapi malah membuat Bapak terluka. Maafkan saya. Saya salah." Asha menangis. Arga memeluk Asha yang menangis.


"Maafkan Asha, Pak. Asha bersalah. Asha sudah membuat Bapak kecewa," ujar Asha masih dalam pelukan Arga.


"Bapak mungkin kurang setuju kamu jadi pembantu, tapi kalau ternyata kenyataannya seperti itu lebih baik, seharusnya kamu lebih baik jujur dari awal. Jangan justru membuat alasan, Nduk. Berbohong itu membuat lelah hati sama pikiran, karena jadi tidak tenang. Berbohong itu bebannya berat." Asha mengangguk sambil sesenggukkan.

__ADS_1


"Hhh... " Bapak menghela napas. "Nak Arga, kalau memang serius sama putri Bapak, cobalah bijaksana dalam memilah memberi bantuan Asha dalam hal apapun. Yang terpenting dari kita adalah hati yang jujur, Nak...."


"Iya Bapak. Kedepannya saya akan berusaha tidak terjadi lagi kesalahan seperti ini." Masih memeluk Asha yang menangis, Arga menunduk hormat. Berjanji menjadi orang yang lebih baik.


"Bapak ijinkan kalian berdua menuju ke jenjang yang lebih serius. Namun janji... jadilah orang baik yang jujur hatinya. Siapapun kita, jika hati sudah tertutup sama ketidakjujuran akan tidak berharga." Arga dan Asha mengangguk. Bapak yang sudah menyelesaikan makannya mulai berdiri.


"Nak Arga... jangan pernah menyakiti putri Bapak ini. Bagi bapak, bagaimanapun keadaan putri bapak sekarang, dia tetap sangat berharga bagi bapak. Lebih baik di lepaskan dan kembali kepada Bapak, kalau memang nanti Nak Arga tidak sanggup menjaga hatinya," ucap Bapak berkaca-kaca.


"Bapak...." Asha langsung menghampiri Bapak dan memeluknya. Lalu menangis sejadi-jadinya. Bapak mengusap-usap punggung putrinya dengan sayang. Mata beliau masih berkaca-kaca.


"Sudah, sudah." Bapak menepuk punggung Asha. Arga berdiri juga.


"Saya tidak akan melepaskan putri Bapak... Saya sanggup menjaga hati putri Bapak. Terima kasih sudah memberikan restu dan ijin bagi kita berdua." Bapak mengangguk menanggapi janji Arga.


Akhirnya Bapak berangkat kerja. Asha memeluk Arga dengan bahagia.


"Kita berhasil, Sha. Kita telah mendapat restu dari kedua orangtua kita," bisik Arga. Isak tangis Asha masih tersisa sedikit. Dia hanya menganggukkan kepala. Arga memeluk erat. Menciumi kepala Asha berulang-ulang bersyukur semuanya berjalan lancar.


Kini mereka sudah mengantongi dua ijin dari kedua orangtua mereka. Setelah Arga menelepon Bundanya dan menceritakan sudah mendapat ijin, Nyonya Wardah meminta Asha tinggal.


"Bunda meminta kamu tinggal di rumah orangtuamu dulu."


"Aku di beri ijin tidak bekerja lebih lama?" tanya Asha yang menganggap dirinya masih bekerja di rumah keluarga Hendarto. Kedua alis Arga bertaut.


"Kamu ini bukan pekerja di rumahku lagi, Sha. Kamu ini calon menantu mereka." Arga menunjuk dahi Asha dengan gemas. Mata perempuan ini berkedip-kedip. Lalu meringis malu mendengar sebutan baru itu. Calon menantu. "Aku akan mengubah statusmu sebagai pelayan keluarga Hendarto menjadi pelayan khusus Arga Hendarto. Melayani dengan segenap hati dan menyerahkan keseluruhan dirinya pada Arga Hendarto," ujar Arga sambil menaikkan dagu Asha agar melihat ke arah matanya.


__ADS_1


__ADS_2