
Sementara di kantor Arga,
Tuan William pergi terlebih dahulu dan membiarkan Evan berada di sana. Beliau tahu ada istrinya hingga memberi Evan kelonggaran untuk bercengkerama dulu.
Arga bersidekap melihat mereka berdua yang membisu di dalam ruangan. Dia juga diam sambil menunggu kedatangan Asha. Pintu terketuk lagi. Kali ini Arga yakin itu Asha.
"Biarkan aku yang membukanya, itu pasti Asha." Tangan Arga maju kedepan, mencegah Rendra berdiri hendak menuju pintu. "Akhirnya kamu datang." Asha tersenyum.
Asha masuk dengan kedua tangan Arga di bahunya. Asha melihat isi dalam ruangan yang membuat bola matanya melebar. Banyak orang yang sangat jarang terlihat berkumpul dalam satu tempat. Ini sangat langka.
"Wow... ada pesta reuni disini," gumam Asha pelan. Evan dan Chelsea mengarahkan pandangan mata mereka ke arah perempuan muda itu.
Sudah lengkap semua personel cerita ini, ucap Rendra dalam hati.
"Chelsea, kamu tadi menanyakan siapa Asha sebenarnya?" tanya Arga mengulang pertanyaan Chelsea. Bola mata Asha yang masih berdiri melirik Arga. Chelsea memang menanyakan soal Asha tadi. Mendengar ini Evan menatap Arga sebentar lalu menatap Chelsea.
"Kamu masih menanyakan hal semacam itu, Chelsea?" ini bukan pertanyaan tidak percaya dari Evan. Namun lebih kepada nasehat. Untuk apa melakukan hal yang sia-sia seperti itu?
Chelsea hanya membuang muka. Dia tidak menjawab pertanyaan Evan.
Tangan Arga menarik tubuh Asha agar lebih dekat dengannya. "Dia kekasihku. Aku mencintainya...," ucap Arga yakin. Evan sudah tahu soal ini jadi dia tidak terlalu terkejut. Berbeda dengan Chelsea, dia membelalakkan mata. Dia tertegun. Asha hanya menipiskan bibir mendengar ini.
"Apakah kau tahu ada apa denganku sebelum kita berhasil melakukan pertunangan, Arga?" tanya Chelsea seperti ingin menyalahkan seseorang. Mata Arga melihat ke Evan. Meminta pendapat Evan soal ini. Apakah dia perlu menjawab atau tidak. Tangan Arga masih memeluk Asha. "Apakah kamu tahu apa yang orangtuamu katakan padaku, Arga?" tanya Chelsea seperti sengaja mengatakan ini sebagai senjata pamungkas agar Arga sadar kalau ini tidak benar.
"Aku sudah memberitahunya Chelsea," sahut Evan membuat perempuan ini melebarkan matanya tidak percaya.
"Kau memberitahunya?" tanya Chelsea tertegun.
"Ya."
Asha di bimbing duduk di sebelah Evan yang kosong. Menempatkan dia juga dalam lingkaran keribetan hubungan mereka.
"Aku tidak tahu persis apa yang orangtuaku katakan padamu, tapi aku tahu tentang saat itu dari Evan," jelas Arga.
"Lalu? Lalu apa, Arga?" kejar Chelsea. Dia ingin tahu bagaimana respon Arga setelah tahu bahwa Bundanyalah yang menyebabkan kegagalan pertunangan mereka.
"Apa yang kau tanyakan Chelsea? Semua sudah jelas bukan?" Belum sempat Arga menjawab, Evan sudah menjawabnya. Evan tidak suka Chelsea seperti itu.
"Apa yang sudah jelas, Evan?" tanya Chelsea tidak ingin di campuri oleh Evan. Matanya menatap Evan tajam lalu melihat ke Arga sekali lagi. "Aku tahu kau pasti memikirkan hal ini Arga. Katakan padaku, apa yang kau pikirkan...," paksa Chelsea seperti memohon.
"Apa kamu tidak bisa melihat dan mendengar bahwa Arga mencintai Asha?!" Dia langsung berdiri. Nada suara Evan meninggi.
"Itu bukan cinta!" bantah Chelsea. Dia seperti tidak mau mendengar kebenaran seperti ini. Dia menolak kenyataan.
__ADS_1
"Apalagi Chelsea... Sebenarnya apa lagi yang kau harapkan?" Evan berusaha merendahkan suaranya. Berusaha sabar dengan sikap keras kepala dan tidak masuk akalnya. Rendra berulangkali membetulkan letak kacamatanya. Dia lelah dengan cerita cinta mereka.
"Arga masih mencintaiku, Evan! Dia tidak akan mencintai orang lain! Tidak mungkin dia mencintai perempuan seperti dia!" Chelsea langsung berdiri, berteriak dan menunjuk Asha dengan marah.
Arga ikut berdiri dan menarik tubuh Asha untuk berdiri. Langsung memeluk tubuh Asha di sebelah Evan karena takut Chelsea melukainya. Mata Chelsea semakin merah karena marah.
"Maaf Chelsea. Saat ini aku mencintainya. Kamu dan aku adalah kisah lama. Itu sudah usai," ujar Arga meyakinkan. Dia kalut. Dia mulai meneteskan airmata.
"Itu tidak mungkin, Arga! Tidak mungkin!" Semua tertegun melihat kekalutan Chelsea. Evan segera menghambur ke arah Chelsea dan memeluknya erat.
"Sudahlah Chelsea, sudah... Jangan mempermalukan dirimu lagi. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini," ujar Evan menenangkan istrinya. Chelsea menangis, meronta seraya memukul-mukul dada Evan. Namun Evan bersikeras mendekap tubuh itu. Hingga akhirnya terdiam dan menangis dalam pelukan Evan.
Dia marah. Entah marah ke siapa? Arga, yang tidak lagi mencintainya? Asha, yang berhasil membuat Arga melupakannya? Atau Evan yang masih saja mau menemaninya walaupun dia tidak mencintai pria itu.
Asha menipiskan bibirnya merasa terenyuh dengan sikap Chelsea. Dia menyadari perempuan itu mencintai Arga. Kegilaannya kepada Arga belum pudar. Cinta Chelsea mungkin sangat besar. Dia berusaha melupakan kekecewaannya karena gagal menjadi tunangan Arga, dengan jalan yang salah. Yaitu jalan yang justru membuatnya semakin ingin dekat pada Arga. Keberadaan Asha membuatnya sadar bahwa Arga sudah tidak mencintainya lagi, tapi dia berusaha menutup mata akan itu. Dia ingin Arga menghampirinya dan memintanya kembali. Chelsea salah. Perkiraannya meleset.
Asha tidak menyalahkan Chelsea. Dia juga pasti tertekan dengan orangtua Arga. Mata Asha jadi berkaca-kaca juga.
Ternyata selagi mata mereka memusatkan perhatian ke Chelsea, Rendra sudah tidak ada di dalam ruangan. Dia pergi keluar dan berjaga-jaga. Karena teriakan Chelsea tadi sempat membuat pegawai di luar tersentak kaget. Walaupun tidak tahu apa yang di bicarakan, mereka masih bisa mendengar teriakan Chelsea.
Mereka juga tadi berkerumun karena sempat melihat Chelsea dan Evan masuk dalam ruangan Arga. Banyak terkaan, apa yang akan terjadi dengan mereka yang penah terlibat cinta segitiga. Kemunculan Rendra dari balik pintu bisa menghalau mereka untuk bubar.
"Keposesifan akan berakibat buruk..." gumam Asha yang membuat Arga tertarik untuk menjawab.
"Sikap posesif tidak akan menjadi hal buruk kalau orang yang di beri sikap itu paham kalau itu hanya bentuk dari rasa cinta yang besar. Juga kalau keduanya punya rasa cinta yang sama, karena posesif itu dilakukan untuk melindungi hati orang yang kita sayangi tidak teralihkan oleh orang lain," kata Arga pelan di dekat telinga Asha.
***
Sore ini Wardah bertamu ke rumah orang kepercayaan keluarga Hendarto, Sanjaya. Livy, istri Sanjaya terkejut dengan kedatangannya.
"Aduh, Wardah. Kenapa tidak memberitahu lebih dahulu kalau mau kesini...," kata Livy merasa kebingungan dengan tamu besar yang mendadak datang. Nyonya Wardah hanya tersenyum. "Ada apa nih, kok sepertinya penting," Livy sudah mulai bisa menenangkan diri. Wardah tersenyum ramah.
"Aku mau menawari puterimu untuk menjadi tunangan puteraku, Arga." kata Wardah dengan menyeruput teh lemon hangat.
"Bukankah puteramu itu..." Livy tidak meneruskan kalimatnya karena merasa lancang dan tidak sopan.
"Iya... dia memang tidak bisa mendekati wanita lain. Gara-gara pertunangannya batal dengan Chelsea," potong Wardah cepat. Paham Livy sebagai istri bawahan suaminya tidak akan berani membahas itu.
"Benar. Aku dengar seperti itu dari orang-orang kantor saat aku mampir menemui, Sanjaya," terang Livy. Sebagai istri sekretaris owner perusahaaan milik keluarga Hendarto, Livy juga sudah mendengar kisah itu dari suaminya.
"Karena itu aku menjadi sangat khawatir. Sejak berita Chelsea menikah dengan orang lain, Arga semakin tidak pernah membuka hatinya pada wanita manapun. Hatinya masih saja terpaut dengan pemilik butik itu," Livy mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Dengan pengkhianatan seperti itu, mungkin Arga terguncang. Itu membuat trauma hingga membuatnya masih belum bisa membuka hatinya untuk yang lain." Livy memberikan pendapat dan pandangan lain soal Arga. "Apakah gagalnya pertunangan mereka..." Livy tidak jadi meneruskan. Dia lupa lagi bahwa perempuan di depannya adalah istri atasan suaminya.
"Benar, aku yang kurang setuju dengan pilihan Arga," ungkap Wardah paham apa yang di maksud Livy. Kepala Livy mengangguk mencoba memahami. "Sampai kapan dia akan terus merasa patah hati. Perempuan tidak hanya dia, bukan?" livy mengangguk setuju. "Ya, maka dari itu aku ingin mendekatkan dia dengan wanita lagi. Kalau dia tidak mencoba, maka aku yang akan memaksanya mencoba." Wardah sangat bersemangat soal perjodohan ini.
"Kamu memang gigih sekali Wardah," puji Livy.
__ADS_1
"Begitulah aku...," ujar Wardah bangga.
"Makanya Hendarto bisa kamu taklukan dengan mudah. Padahal banyak wanita cantik di sekitarnya," ucap Livy dengan senyum menggoda. Wardah tertawa mendengar Livy mengingatkan akan kejadian itu.
"Tolong aku ya... Membuat acara kencan buta untuk mereka."
"Apa putramu sedang tidak dekat dengan seorang wanita? Mungkin saja dia sedang menjalin hubungan dengan wanita di belakangmu. Hanya saja, belum bisa memberitahumu."
"Aku pernah berpikir seperti itu karena Arga berubah. Dia tidak lagi murung. Arga menjadi bersemangat. Tapi saat aku menanyakannya, dia menjawab tidak," jelas Wardah.
"Benarkah? Aku ragu."
"Ku mohon Livy...,"
"Aku tidak tahu. Apa puteriku mau apa tidak dengan perjodohan ini. Walaupun mungkin puteriku mau, apa Arga mau akan setuju?" Livy khawatir.
"Aku tidak langsung menyuruhnya untuk tunangan. Karena aku juga tahu itu tidak mungkin. Tapi aku coba untuk mengenalkan mereka dulu."
"Apa kau sudah pernah melakukan perjodohan ini sebelumnya?" tanya Livy curiga. Wardah tidak menjawab, hanya tertawa. Livy tahu itu artinya iya. "Kamu ini, mentang-mentang punya putra tampan, jadi seenaknya saja menawarkan pada semua orang." Livy menipiskan bibir. Wardah masih saja tergelak.
"Aku bersemangat soal ini."
"Apa Arga tidak marah saat kamu melakukannya? Dia seorang laki-laki. Mungkin dia punya prinsip sendiri untuk menemukan pujaan hatinya."
"Mungkin saja, tapi melihat dia telah salah memilih Chelsea, aku jadi merasa wajib ikut campur."
"Kadang campur tangan orangtua belum tentu baik bagi anak-anaknya." Livy memberi nasehat.
"Aku tahu. Aku hanya akan mencoba membantu sedikit. Hanya sedikit saja." Wardah menunjukkan dengan jarinya.
"Jadi hanya perkenalan saja?" tanya Livy meyakinkan.
"Seperti itu. Ini langkah awal Arga untuk bisa mengenal dengan seorang wanita lagi. Kalau memungkinkan, aku akan terus mendorong mereka ke arah pertunangan dan pernikahan." Wardah yakin akan rencananya.
"Apa kau sudah tahu puteriku?" tanya Livy menyelidik.
"Sedikit... Sekarang ada dimana dia?"
"Di mini resto miliknya."
"Mini resto?" tanya Wardah.
"Iya. Dia bersikeras membuka bisnis makanan," terang Livy menceritakan puterinya yang keras kepala.
"Benarkah? puterimu menarik...," puji Wardah.
"Bukan menarik, tetapi keras kepala." Wardah tertawa. Sanjaya memang ingin anaknya kuliah tinggi. Tapi mendengarkan keinginan Milan yang bertekad untuk berbisnis, Sanjaya setuju. Karena tidak mudah juga mempunyai pikiran seperti itu di usia sangat muda. Jadi Sanjaya membiarkan puterinya mencoba berbisnis.
__ADS_1