Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Ngidam?


__ADS_3

..."Bagaimana keadaan Asha?" tanya Tuan Hendarto....


..."Baik, Ayah," jawab Asha....


..."Benarkah? Apa tidak ada gangguan ibu hamil di pagi hari?" Sepertinya beliau paham itu. Mungkin nyonya Wardah juga mengalami hal yang sama dulunya....


..."Iya, tapi bunda sudah memberikan cara penanganan dengan baik."...


..."Begitu... Syukurlah. Usahakan siaga di pagi hari, Ga. Rasa tidak nyaman di pagi hari lebih terasa daripada waktu-waktu yang lain." Ayah mertua begitu memahami....


..."Iya, Ayah."...


...[ Episode Sebelumnya ]...



Arga akhirnya memutuskan berangkat bekerja setelah yakin istrinya baik-baik saja. Mengecup kening istrinya terlebih dahulu untuk memberi kekuatan padanya.


"Aku berangkat kerja, ya. Aku akan menuju mall di kampungmu. Ada sesuatu yang ingin aku bawa atau sampaikan pada bapak dan ibu?"


"Tidak ada. Aku bisa menelepon mereka sendiri kalau ada perlu."


"Ya sudah. Telepon aku jika kamu ingin aku ada di rumah."


"Iya." Kepala Asha mengangguk. "Hati-hati." Arga juga mengangguk.


Pagi ini dia harus berangkat ke mall baru di tanah kelahiran Asha. Melihat perkembangan dan juga tempat yang sudah di sewa oleh perusahaan milik tuan William. Karena ini menyangkut tuan William, pasti Arga datang bersama Evan.


Perbincangan yang seru soal istri hamil mereka, di mulai dari Evan. Memang semuanya berasal dari pria itu. Karena pria itu lebih dulu punya banyak cerita dan pengalaman soal istri yang hamil, daripada Arga.


"Perut Chelsea semakin besar. Tubuhnya jadi semakin cepat lelah." Evan mulai bercerita sambil duduk di samping Arga. Evan tidak ingin membawa mobil sendiri. Dia meninggalkan mobilnya di kantor dan ikut dalam mobil Arga.


Mendengar ini Arga tidak menanggapi, tapi telinganya bisa menangkap perkataan Evan dengan baik. "Namun, itu membawa hal baik bagiku. Karena perutnya itu, dia kini sangat tergantung padaku." Bibir Evan tersenyum. Menandakan itu suatu kebetulan yang menyenangkan.


"Ya... seorang istri memang tergantung pada suaminya." Akhirnya Arga menanggapi dengan sedikit enggan. Tanpa menoleh. Hanya berkomentar dengan tangan masih berkutat pada ponsel.


Evan hanya duduk bersandar di kursi mobil dengan nyaman. Sesekali kepalanya, menengok ke samping. Ke arah Arga sambil bercerita.


"Apalagi di rumah tidak ada seorang pelayan."


"Kenapa tidak merekrut pelayan?" tanya Arga dengan keengganannya. Masih.


"Di awal pindah rumah, memang kami memutuskan tidak memakai jasa seorang pelayan. Tidak ada pelayan memang repot, tapi juga menyenangkan karena kita berhasil melakukan semuanya berdua. Semua kegiatan di rumah sehari-hari kita kerjakan berdua. Sangat menggembirakan." Evan tersenyum sangat bersemangat untuk bercerita.


Kepalanya menggeleng dengan bibir melengkung membuat senyum bahagia. Kadang tangannya menutupi mulutnya, karena tidak ingin tertawa terlalu lebar karena ini sangat membahagiakan. "Kita semakin dekat dengan berbagai kegiatan kecil dan sepele. Aku sangat menyukai kehidupanku yang sekarang." Sangat tergambar sekali kebahagiaan yang di rasakan Evan.


"Itu sebuah pengakuan bahwa kau tidak bahagia awalnya." Arga menemukan sebuah celah untuk mengejek Evan. Menggunakan kesempatan ini tanpa menyia-nyiakannya. Ada kepuasan yang tidak di sadari Arga, yang terpancar dari matanya.


"Ya... dengan kisah yang getir itu aku memang sedikit merasa tidak bahagia." Evan tidak menutup-nutupi bahwa dia mengalami masa hidup yang pilu, saat memilih menerima tawaran Chelsea menjadi suaminya hanya karena ingin membuat Arga sakit hati. Manik mata Arga melihat dan menangkap aura sedih dari raut wajah Evan. Dia mendengkus.


"Semua memang punya sebab-akibat sebagaimana langkah yang sudah kita ambil. Tidak ada yang salah dengan itu."


Tak di sangka Evan tersenyum bahkan tertawa. "Aku tahu itu sengaja kau tujukan padaku." Evan menunjuk Arga dengan senyum mengerti bahwa temannya itu seperti sedang mengatakan bahwa itu semua adalah akibat dari perbuatan mereka berdua yang sudah melukai perasaannya.


Evan tidak marah. Dia mengerti. Juga karena semua itu adalah masa lalu. Dia merasa tidak harus marah. Tidak ada rasa sakit lagi saat ini. Semua lenyap. Waktu membiasakan dirinya tidak tersakiti karena masa lalu.


"Bagaimana kabar Asha, apa dia juga mengalami gangguan pada kehamilannya? Apalagi usia kehamilannya masih muda. Itu masa-masa dimana banyak sekali gangguan pada perutnya." Evan melebarkan mata seakan kembali pada masa itu. Dimana istrinya juga mengalami hal yang sama.


"Ya. Tadi dia mengalami mual dan muntah di pagi hari. Aku baru pertama kali melihatnya seperti itu. Yah, meskipun aku sudah pernah melihat dia pingsan. Ini tetap menjadi hal baru bagiku."


"Itu sangat menyiksa memang." Evan setuju.


"Benar. Rasa tidak nyaman itu membuatnya harus merintih dan lemas di kamar mandi dalam belasan menit. Aku tidak bisa membayangkan Asha harus berada pada kondisi seperti itu saat sendirian." Arga ngeri sendiri membayangkan apa yang barusan dia katakan.


"Chelsea juga mengalami itu, tapi tidak terlalu parah. Beruntunglah kami. Apalagi dia berada di rumah sendiri."

__ADS_1


"Apa kau tidak khawatir?" tanya Arga sambil menengok ke samping, tapi dalam sekejap juga melihat ke arah ponselnya lagi.


"Jangan bilang. Aku sangat khawatir. Tentu saja aku terus saja video call ingin tahu keadaannya. Aku juga menyarankan dia menerima pelayan baru, tapi Chelsea menolak. Dia merasa tidak apa-apa. Rasa itu juga tidak lama singgah pada perutnya. Kami sungguh di beri kemudahan. Chelsea mengalaminya hanya sebentar. Apalagi saat bertambahnya umur kehamilan, rasa itu hilang. Yang paling terasa adalah ngidam."


"Ngidam?" tanya Arga penasaran. Kali ini dia menoleh. Sengaja melepas jari jemarinya agar melepas dari ponsel. Berhenti sejenak karena ingin tahu kelanjutan dari temannya.


"Saat ibu hamil itu biasanya di sertai keinginan ingin makan, minum atau ingin memiliki sesuatu. Semacam keinginan-keinginan yang wajib di penuhi. Biasanya bukan yang biasa. Kadang yang sedikit aneh dan bahkan sangat aneh."


"Aneh? Apa itu? Mengapa sepertinya sedikit menyulitkan?"


Evan tersenyum. Bukan mengejek, hanya ingin membuat Arga tidak berpikiran yang berlebihan. "Benar. Itu aneh. Bukan hal menakutkan sebenarnya. Chelsea pernah ingin makan mie ayam yang gerobaknya ada gambar ayamnya, padahal itu sudah agak malam. Aku harus mencari kemana-mana. Terakhir ketemu di daerah rumah orangtuaku. Disana ada mie ayam yang gerobaknya ada gambar ayamnya. Karena kenal baik dengan orangtuaku, mereka mau membuatkan mie ayam walaupun sudah malam."


"Mie ayam dengan gerobak yang ada gambar ayamnya?" ulang Arga tidak percaya.


"Benar."


"Memangnya Chelsea mau ngapain dengan gerobaknya?" tanya Arga mengernyit. Rendra merasa geli dengan pertanyaan tuannya. Buat Arga itu tidak masuk akal. Bola mata Arga melihat ke Evan dengan mimik wajahnya yang mencela.


"Tidak ada. Itu hanya keinginan dari jabang bayi." Awalnya Evan tetap menjawab pertanyaan Arga dengan baik walaupun sedikit mencemooh dan aneh.


"Memangnya bayi mau mainan gerobak ayamnya?" lanjut Arga bertanya sambil mendengkus merasa aneh, membuat Evan tidak bisa lagi untuk tidak tertawa. Rendra yang ada di bangku kemudi di depan, juga ingin tertawa, tapi di urungkannya. Dia tidak bisa ikut-ikutan Evan menertawakan tuannya. Sedikit gelengan kepala dan senyuman tipis untuk menuntaskan rasa geli di telinganya.


Arga tentu tidak diam saja melihat gerakan Rendra di bangku depan.


"Kau sedang menertawakanku, Rendra?" tanya Arga tenang tapi mampu membuat bawahannya diam.


"Tidak Tuan." Rendra langsung mengatupkan rahangnya dan membetulkan letak duduknya. Senyum langsung lenyap dari bibirnya. Lalu mengerutkan dahi dan menatap Evan tajam.


Evan mulai bisa menyelesaikan tertawanya. "Bukan seperti itu, Ga. Ini tidak bisa di jelaskan secara logika. Kau akan mengerti jika nanti Asha akan menuntut ingin sesuatu."


Begitu?


"Seaneh apapun itu, usahakan untuk memenuhinya. Demi kebahagiaan ibu dan bayi. Meski sulit, akan terasa menyenangkan saat kita benar-benar bisa mewujudkan keinginan istri dan anak kita." Evan mengatakannya dengan matanya yang sangat hangat. Haru dan bahagia tercampur dengan baik di sana.



...****************...


Tidak sengaja saat bekerja di area mall, Arga bertemu mertuanya di koridor panjang dan lebar ini. Beliau masih memakai seragam safarinya. Datang bersama dengan beberapa orang yang berpakaian sama.


"Selamat siang, Bapak," sapa Arga terlebih dahulu sambil menyalami beliau.


"Oh, Arga." Bapak sepertinya terkejut bertemu menantunya disini. Semua orang yang berpakaian sama, menoleh serempak ke arah Arga yang tinggi. Mata mereka melihat dengan terpesona. Kepala Arga mengangguk memberi salam pada teman-teman kantor bapak mertua.


Beberapa ibu-ibu juga mulai kasak-kusuk. "Menantunya ya, Pak? Saya hapal lho wajahnya. Karena menantu pak Akbar ini ganteng." Salah seorang ibu berpakaian safari menyuarakan pendapat tentang Arga dengan senyum mengembang disana. Beberapa ibu lainnya juga ikut tersenyum setuju.


"Bagaimana keadaan keluargamu?"


"Sehat semua, Pak."


"Dan Asha?"


"Dia juga sehat, Pak."


"Syukurlah, dia kan sedang hamil. Apa tidak rewel?" tanya Bapak sangat khawatir.


"Tidak. Asha itu perempuan yang kuat, Pak." Arga harus bisa menenangkan mertuanya. Asha merupakan anak kesayangan bapak mertuanya. Juga hati-hati berbicara, karena beliau punya penyakit jantung.


"Mampir dulu kerumah kalau ada waktu luang. Kamu juga bisa bertemu ibu di sana. Ya sudah. Lanjutkan bekerjanya." Arga mengangguk saat beliau menepuk lengannya. Lalu pergi dengan iringan pertanyaan dari beberapa teman beliau masih seputar Arga.


"Orangtuanya Asha?" tanya Evan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka. Arga mengangguk. "Seperti bukan orangtuanya saja."


"Kenapa?" tanya Arga tidak suka.


"Bapak mertuamu barusan sangat lembut. Sementara istrimu itu punya mata dingin dan tajam. Juga sangat kuat." Evan memutar dan melebarkan mata. Teringat pertemuan pertama kali dengan perempuan itu.

__ADS_1


"Karena kau berhasil di hajarnya?" seloroh Arga mencemooh lagi.


"Benar." Evan tertawa.


...****************...



Di kediaman keluarga Hendarto, Asha sedang kebingungan harus melakukan apa. Karena saat dirinya senggang, tangannya ingin mengerjakan sesuatu. Namun saat ibu mertua tahu, beliau langsung mencegah. Beliau yang sedang ke dapur mencari bik Sumi terkejut melihat dirinya mencuci piring. "Aduh, jangan cuci-cuci piring. Tinggalkan saja." Nyonya Wardah langsung mendekat dan menyentuh tangan Asha agar dia melepaskan piring yang di pegangnya.


"Saya..."


"Sudah. Lepaskan saja. Tidak perlu melakukan pekerjaan ini." Nyonya Wardah tetap menyuruh menantunya untuk tidak melakukannya. "Sudah tinggalkan saja. Arga nanti akan marah jika melihat bunda membiarkan kamu melakukannya."


Arga marah?


"Biasalah, Arga kan sedikit rewel. Malah sangat rewel di bandingkan kamu." Mata nyonya Wardah memutar dengan dengan geram. Menunjukkan ekspresi lucu. Asha tersenyum.


Akhirnya Asha meletakkan piring di bak cuci. Lalu membersihkan busa sabun pencuci piring yang menggunung di tangannya. Saat itu muncul Bik Sumi dari pintu belakang. Beliau terkejut ada Asha yang berada tepat di depan bak cuci piring.


"Bik, nanti di lanjutin yah, cuci piringnya?" Nyonya Wardah memberi kode.


"Iya nyonya." Bik Sumi mengangguk. Beliau menyegerakan kaki untuk melangkah mendekati istri tuan mudanya.


"Jangan melakukan pekerjaan lain ya, Asha...." Nyonya Wardah memberi peringatan dengan tegas, tapi tidak galak. Tangan beliau memegang kedua bahu menantunya dengan lembut. "Bunda mau ke depan, ada tetangga depan."


"Saya bisa ikut mengobrol."


"Jangan. Ini orang mulutnya sedikit pedas kalau bicara." Nyonya langsung memasang wajah tidak suka. Bukan tidak suka dengan menantunya, melainkan dengan tamu yang saat ini di temuinya. Melihat ini, Asha yakin orang itu pasti sangat hebat dalam membuat orang lain terluka karena kata-katanya. "Bunda yakin kamu bisa menghadapi, tapi lebih baik tidak perlu mendengarkan kata-kata ibu Haidar. Bunda tidak bisa membiarkan cucu bunda harus mendengarkan kata-kata tidak baik dari orang itu." Nyonya Wardah melihat dengan gemas ke arah perutnya yang belum membuncit.


Asha tersenyum senang mendengar ibu mertuanya sudah memperhatikan anak yang di kandungnya dengan sedemikian rupa. Padahal perutnya saja belum berbentuk sebagai ibu hamil dengan sempurna.


"Sangat tidak penting sekali mendengarkan dia berbicara. Bunda ke depan dulu. Bik, siapkan makanan ringan sama minum ya." Setelah mengatakan ini, beliau melangkah ke depan lagi.


"Baik Nyonya. Sudah di tinggal saja." Bik Sumi juga menyarankan Asha untuk tidak melakukan pencucian piring.


"Tidak ada yang bisa aku kerjakan jadinya bosan, Bi...." Asha merajuk.


"Tuan muda bisa tidak baik suasana hatinya, jika kamu memaksa melakukannya." Bik Sumi meringis membayangkan tuan mudanya.


Asha pasrah. Dia mengalah. Lalu dia bingung hendak melakukan apa hari ini. Jika dia tidak boleh melakukan apa-apa, lalu apa yang harus di lakukan untuk mengisi waktu?


"Aku ke belakang ya, Bik?"


"Jangan Sha." Bik Sumi yang sedang membuat minuman untuk tamu langsung menoleh cepat. Mendengar Asha pamit seperti itu, beliau juga ikut-ikutan panik dan mencegah Asha. Akhirnya dia menghela napas. Lalu memilih duduk di kursi meja makan.


...****************...



"Memangnya Arga bilang apa, Bik? Kok bunda sampai harus takut Arga marah," tanya Asha saat bik Sumi sudah memberikan minuman dan kue-kue kering untuk tamu.


"Kamu tahulah tuan muda bagaimana. Tuan muda itu sempat sedikit memberi ultimatum pada kami, yaitu jangan membiarkanmu melakukan pekerjaan. Tuan muda tidak ingin kamu akan kelelahan dan membuatmu tidak sehat."


"Karena aku mual dan muntah tadi pagi?" terka Asha.


"Mungkin saja. Beliau jadi sangat ingin kamu bebas tugas, apa saja."


"Mana bisa, Bi. Aku bisa bosan." Bola mata Asha memutar geregetan.


"Bibik enggak tahu soal itu. Yang penting bibik harus bisa membuatmu tetap tidak melakukan apa-apa. Bibik enggak mau tuan muda marah karena membiarkanmu melakukan pekerjaan rumah." Bik Sumi tidak mau terpengaruh. Beliau lebih takut pada tuan muda daripada Asha.


"Yahh... sepertinya aku harus bersiap mencari kesibukan lain yang tidak di larang." Asha menyandarkan punggung pada badan kursi. Punggungnya terasa tidak lelah saat bersandar seperti ini. Juga menimbulkan rasa nyaman pada perutnya.


__ADS_1


__ADS_2