Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Perbincangan di bangku kayu


__ADS_3

Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.


Selamat membaca!


.


.


.



Rupanya acara interogasi ini tidak berjalan lama. Tidak seperti dalam bayangan mereka bertiga. Arga segera menyudahi interogasinya dengan cepat. Setelah Angga pergi, Asha masih bingung. Dia tidak bisa beranjak dari tempatnya, karena Tuan Muda masih saja melihatnya. Seperti masih ada hal yang ingin di bicarakan.


Mata Asha melirik ke sebelahnya. Paris di sana seperti terpukul dengan nasehat-nasehat kakaknya. Mungkin dia jadi ketakutan dan tidak enak kalau Asha dan Angga di berhentikan karena menuruti dirinya. Seperti tidak adil sih kalau mereka berdua akan di berhentikan gara-gara puterinya.


Bagi Angga yang tidak terlalu berperan banyak dalam keonaran di dalam klub malam sih, kesalahannya sedikit. Namun bagi dirinya yang sempat berada pada posisi sama dengan Paris, sepertinya berbahaya.


"Terima kasih," ujar Asha juga mengucapkan kata itu sambil membungkuk untuk memutus interogasi ini dan pergi kembali ke pekerjaannya. Arga mengangguk menerima ucapan itu. Dia menangkap kemuraman di mata Asha. Lalu gadis ini memutar tubuh mendekati timba berisi cucian.


"Maafkan aku kak. Pasti kakak tidak bisa meyelesaikan pekerjaan karena aku. Ayah juga terlihat tidak senang karena itu. Karena kakak jadi seperti melalaikan tugas. Bagaimana ini?" Paris cemas dan merasa sangat bersalah.


Jadi dia belum menyelesaikan pekerjaannya dan langsung ke kantor polisi? Juga harus menyembunyikan penyebab pekerjaannya belum selesai demi semua orang. Dia memilih di anggap tidak kompeten oleh Tuan Hendarto, ayahnya. Daripada memberitahukan perkara di kantor polisi. Ternyata tidak semudah seperti kelihatannya, ya?


"Untuk itu biar aku yang mengurusinya. Yang perlu kamu ingat jangan membuat keonaran lagi, apalagi mengajak pekerja di rumah ini ikut dalam keonaranmu," nasehat Arga kepada adiknya.


"Iya.." Paris menjawab dengan lemas. Lalu Paris menghampiri Arga. "Bagaimana dengan direktur perusahaan textil itu? Aku baru tahu itu adalah kakak Sandra," tanya Paris lagi. Dia masih ingat dengan jelas telah memukul wajah lelaki berjas itu. Ingin tahu bagaimana kelanjutan dengan direktur itu. Sampai detik ini tidak penjelasan dari Sandra.


"Aku belum sempat menemuinya. Tapi Dirga sudah menyelesaikan masalah dengan mereka. Apakah kamu sudah meminta maaf?" selidik Arga. Karena melihat kelakuan Paris, Arga ragu adiknya sudah meminta maaf. Karena majikannya ngobrol disana, Asha merasa tidak leluasa bergerak. Kalau biasanya ini tempat paling jauh dari jangkauan majikan, kini justru mereka sedang mengobrol dengan santai di bawah pohon rindang itu.


"Aku rasa sudah," jawab Paris tidak yakin. Arga menarik wajahnya dan menatap Paris dengan menyipitkan mata. "Kak Asha! Bukankah kita sudah meminta maaf ke laki-laki itu?" tanya Paris ke Asha yang hendak kembali berkolaborasi dengan timba cokelat di belakangnya. Menyelesaikan penjemuran yang terasa seperti keong. Sangat lamban.


"Ya. Di kantor polisi," jawab Asha. Dia tidak jadi mengambil cucian basah, takut Tuan Muda dan nona muda masih mengajaknya bicara soal klub malam.


"Aku ingat. Kak Asha menarikku untuk meminta maaf saat di kantor polisi. Walaupun lelaki itu masih menatap pongah, aku dan kak Asha terus meminta maaf," jelas Paris yang membuat Arga menolehkan kepala melihat ke arah perempuan muda itu. Asha menurunkan pandangan ke bawah. Kearah sandal jepitnya yang berwarna putih dengan tali berwarna kuning.


"Bagus. Juga jangan menyuruh dia memakai pakaian anehmu itu," kata Arga menunjuk Asha dengan dagunya. Asha mengangkat kepala.

__ADS_1


"Pakaian aneh?" tanya Paris heran. Lalu mengangkat dagu berusaha tanya ke Asha apa maksud kakaknya. Asha hanya mengedikkan bahu. Dia tidak mau berpikir, dia hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan segera.


"Pakaian yang membuatnya tidak nyaman dan tidak bisa bergerak bebas. Aku tidak suka melihatnya. Dia seperti terkekang dengan pakaiannya." Paris manggut-manggut serius mendengarkan Arga berbicara sambil sesekali menoleh ke Asha yang berdiri dekat timba kesayangannya.


Menurut Paris, kakaknya sedang berada pada level keanehan tinggi. Saat ini dia sedang mengurusi cara berpakaian pelayannya. Arga seperti sangat paham soal itu. Dia peduli.


"Saya boleh melanjutkan pekerjaan saya?" tanya Asha yang tidak betah harus membiarkan cuciannya terbengkalai. Menangguhkannya dalam batas waktu yang tidak di tentukan. Asha bertanya pada mereka berdua. Karena mereka berdua adalah majikan. Namun yang peduli hanya Arga.


Tubuh Arga yang memang sedang menghadap ke arah Asha, memudahkan dia melihat gadis itu. Kepala Arga mengangguk dengan anggukan yang penuh pengertian. Setelah mendapat ijin dari Arga, Asha melanjutkan pekerjaannya.


.


.



.


.


"Sejak kapan kamu bisa berkelahi?" selidik Arga. Bahu Asha berjingkat pelan saat pertanyaan ini meluncur dari bibir Tuan muda. Dia seperti di interogasi juga soal ini. Bagi Arga ini adalah hal yang baru dia ketahui dari adiknya. Juga hal baru dari gadis yang menjemur itu.


"Sekolah asrama khusus perempuan ternyata justru membuatmu jadi jagoan. Lebih baik kau tidak sekolah di sekolah asrama khusus seperti itu," Arga menggelengkan kepala.


"Benarkah? Aku sangat senang kalau kakak juga berpikir demikian. Aku tidak menyukai sekolah asrama yang isinya hanya perempuan saja," ujar Paris bersemangat. Arga melihat ke arah Paris yang sedang memikirkan sesuatu dalam benaknya. Terbukti dari bibirnya yang tersenyum sendiri saat mengatakan itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Arga sambil mendorong dahi Paris pelan. Paris tertawa sambil menjulurkan lidah.


"Memangnya Ayah sama Bunda enggak ada? Kok Kakak masih saja di sini?" tanya Paris baru sadar. Karena setelah sarapan, Arga terpaksa menemani Ayah dan Sanjaya mengobrol.


"Mereka berencana melihat keadaan Mall," jelas Arga. Makanya Arga berani menginterogasi mereka bertiga.


"Kak Asha juga pandai dalam karate, lho." Paris malah mengikutsertakan Asha dalam perbincangannya. Asha langsung mengajak tubuhnya untuk sedikit menyembunyikan diri di balik jemuran. Seperti mendapat angin untuk menanyakan itu, Arga langsung saja bertanya ke Asha.


"Benar, Sha?" tanya Arga dengan kedua matanya yang seperti sedang memprovokasi Asha.


"Bukan ahli. Saya hanya tahu," jawab Asha dengan tangannya masih terangkat karena menjemur pakaian.

__ADS_1


"Berarti kalau aku bersikap macam-macam ke kamu, tubuhmu bereaksi untuk menghajarku, ya?" tanya Arga memulai aksinya.


"Memangnya kakak mau ngapain?" seloroh Paris berusaha mencari tahu. Arga hanya tersenyum simpul mendapat pertanyaan itu dari adiknya.


"Lanjutkan saja ceritamu. Jangan mendengarkan apa yang aku tanyakan ke dia," kata Arga mengacak rambut Paris. Bibir Paris mengkerucut sambil merapikan rambutnya. Mereka sedikit lebih bisa santai. Karena adanya pertanyaan dari Paris, Asha tidak perlu menjawab pertanyaan Tuan Muda yang sangat nyeleneh.


"Terima kasih sudah menyelamatkanku


dan memaafkanku ya, Kak. Juga terima kasih sudah sependapat denganku. Bahwa aku lebih baik tidak sekolah di sekolah wanita dan tinggal di asrama,"


"Apa kau sudah mengajukan permintaan pindah sekolah ke Bunda?" tanya Arga. Paris mengangguk dengan keras. "Bagaimana respon bunda?"


"Bunda akan mempertimbangkan kalau aku mau belajar menjadi istri yang baik," jelas Paris membeberkan perjanjian yang di buat dia dan Ibunda tercinta.


"Istri yang baik?" tanya Arga menoleh.


"Iya. Bunda bilang aku harus mempersiapkan diri untuk jadi calon istri yang baik," Paris mulai menyandarkan tubuhnya di badan bangku kayu.


"Memangnya kamu sudah punya calon suami?" Untuk ini Arga menipiskan bibir meremehkan.


"Bukannn.. Aku hanya perlu belajar. Kata bunda jika mau mendapat suami yang baik adalah dengan belajar menjadi istri yang baik dulu. Bunda bilang contohnya bunda sendiri." Setelah mengatakan ini Paris tergelak. Arga tersenyum juga.


"Belajar seperti apa?"


"Ya... mengerjakan pekerjaan seorang istri yang mengerti dapur. Mencuci piring, belanja di pasar dan juga memasak," Paris mengatakannya seakan itu pekerjaan yang biasa dia lakukan. Padahal ke pasar saja baru bareng Asha waktu itu.


"Oh, makanya waktu itu kamu terlihat berada di pasar bersama Asha?" tanya Arga. Paris mengangguk. Arga jadi ingat lagi lelaki tampan yang mendatangi Asha.


"Bunda juga menyuruh kak Asha belajar memasak bareng aku," imbuh Paris.


"Benarkah?" Kali ini Alis Arga terangkat karena tertarik mendengar penuturan adiknya. Ekor matanya melirik ke Asha yang hampir menyelesaikan tugasnya.


"Iya. Kata Bunda, Kak Asha juga harus mempersiapkan diri jadi istri karena sudah dewasa," jelas Paris yang lagi-lagi menemukan kakaknya tersenyum sambil melemparkan pandangan ke perempuan muda yang sudah menyelesaikan tugasnya.


Asha mengangkat timba warna cokelat itu untuk di kembalikan ke ruang cuci. Tiba-tiba dia merasa kepalanya mulai sakit. Perlahan dia meletakkan kembali timba itu ke tanah. Terik matahari memang mulai tajam. Ini sekitar jam 10. Asha memejamkan mata sebentar. Mencoba tenang dengan berdiam diri.


Arga yang memang sejak tadi memandang ke arah Asha menyipitkan mata. Memperhatikan gadis itu merasa ada yang aneh. Setelah beberapa detik Arga berpikir itu, Asha sudah ambruk di tempatnya berdiri. Mata Arga melebar nanar seraya berlari mendatangi tubuh perempuan muda yang tergeletak di atas tanah paving.

__ADS_1


.



__ADS_2