
Karena tingkah Tuan Mudanya yang membuat Asha uring-uringan, gadis ini lupa kalau harus ke kamar Paris untuk mengambil cucian kotor. Padahal dia sudah berada di lantai bawah. Di ruang tengah.
Kalau mau kembali, dia harus menaiki anak tangga lagi. Itu melelahkan. Mengingat dirinya kurang tidur, semakin menguras tenaganya yang hari ini tidak punya stok banyak.
Asha berdecih kesal. Namun karena ini adalah pekerjaan, Asha memutar tubuhnya dan kembali menaiki anak tangga. Memaksakan kakinya menjejak satu persatu anak tangga yang kini seperti bukit tinggi yang terjal.
Masih menenteng tas Arga, perempuan muda ini menuju lantai dua. Sesampai di lantai dua, dia lupa jika harus memanggil Paris lagi untuk membuka pintu kamarnya. Tidak mungkin dia langsung masuk begitu saja. Itu tidak sopan. Asha menggeram lagi dalam hati.
Asha menengok ke belakang, dimana ada anak tangga di sana. Jika kebawah mencari Paris, dia harus melewati itu lagi. Asha mendesah lelah.
Dari arah koridor di depannya muncul Tuan Muda. Dia sedang berjalan kearahnya. Dengan menyipitkan mata, Arga mencari tahu ada apa Asha masih berdiri di sana. Melihat itu Asha panik. Mau berjalan turun Arga sudah dekat dengan anak tangga. Namun mau langsung ke kamar Paris tidak mungkin.
"Masih di sini?" tanya Arga heran. Matanya melihat tas berisi pakaian kotornya masih berada pada tangan Asha. Walaupun tidak mau, Asha harus tetap menjawab. Bagaimanapun dia adalah majikannya.
"Iya," jawab Asha pendek.
"Masih ada perlu denganku?" tanya Arga. Mata jahil itu muncul lagi.
"Tidak," jawab Asha buru-buru sambil menarik tubuhnya mundur. Arga tersenyum. Ketakutan tubuh Asha pada dirinya sungguh mulai terlihat menggemaskan.
"Baiklah... Aku ingin turun ke bawah. Mau turun denganku?" tawar Arga seraya menunjuk tangga dengan telunjuknya. Asha menjawab dengan gelengan kepala. Sebenarnya dia bimbang. Mau minta tolong atau tidak. Bibirnya menjadi sulit bicara karena selain dia adalah tuan muda, karena lelaki ini sudah mempermainkannya tadi.
"Aku turun ya...," pamit Arga lalu membelokkan tubuhnya menuju anak tangga.
"Tunggu," cegah Asha akhirnya setelah menelan ludah, membuat langkah Arga berhenti. Menengok ke belakang.
"Ada apa?" tanya Arga dari anak tangga kedua.
__ADS_1
"E... Aku... mau minta tolong," pinta Asha dengan kalimat terputus-putus. Dia terpaksa meminta tolong tuannya. Mendengar permintaan tolong yang baru di dengarnya, Arga tertarik. Tidak ada pelayan yang berani mengatakan permintaan tolong padanya.
Tanpa berpikir ulang Arga mau menaiki tangga lagi dan berdiri tepat di depan Asha. Tubuh bagus Arga memang menjulang tinggi dengan sempurna.
"Ada apa?" tanya Arga dengan penuh perhatian. Perempuan muda ini sudah bisa bersikap lebih tenang daripada pertama bertemu. Ini kemajuan bagi Asha.
"Aku ingin mengambil cucian di kamar Paris. Karena aku belum mendapat perintah langsung dari Nyonya Wardah, aku merasa tidak nyaman harus masuk ke kamar Paris sendirian," jelas Asha sambil sesekali melihat ke arah Arga dan melihat kearah pintu kamar Paris bergantian.
"Kamu memintaku mengantarmu ke kamar Paris?" Asha mengangguk dengan canggung. "Jadi kamu Ingin di temani aku?" tanya Arga mengulang pertanyaan Asha dengan sengaja. Bermaksud menggoda perempuan ini yang mulai mendongak melihat raut wajahnya, seperti sudah menduga, bahwa dia tentu tidak akan semudah itu mau membantunya.
"Iya. Kalau kamu mau. Kalau tidak aku akan turun ke bawah memanggil Paris," kata Asha tidak mau memperpanjang obrolan dengan Tuan Mudanya. Arga memiringkan kepala menyelisik garis wajah Asha yang mulai masam. Terlihat jelas dia masih kesal dengan perkara di dalam kamarnya tadi.
"Iya ayo. Aku antar ke kamar Paris," ajak Arga segera menghentikan bercandanya karena mulai melihat Asha mau pergi. Asha mengikuti langkah Arga dari belakang, yang menuju kamar nona mudanya. Tangan Arga terulur memegang pegangan pintu dan membukanya lebar-lebar untuk Asha. "Silahkan..." ujar Arga mempersilahkan sambil memainkan dagunya. Arga berniat hanya menunggu di luar kamar.
Asha melangkah masuk ke kamar Paris. Namun sampai di dalam kamar dia ingat belum di beri tahu dimana letak cucian kotor milik Paris di letakkan. Namun Asha tidak segera menyerah. Pertama Asha berjalan ke samping lemari pakaian. Dimana itu adalah tempat paling mungkin meletakkan pakaian kotor.
"Aku tidak tahu dimana Paris meletakkan cuciannya," jawab Asha dengan wajahnya yang entah kenapa terlihat polos. Dia berpikir lagi dimana Paris meletakkan pakaian kotornya. Sudah seperti harta karun saja, nona muda itu meletakkan pakaian kotor. Sulit sekali untuk di temukan. Arga melangkah masuk juga akhirnya. Melihat Asha kesulitan dia berniat membantu.
"Kenapa masuk?" tanya Asha curiga dengan raut wajah waspada. Tangannya beringsut membentuk perlindungan pada tubuhnya tanpa sadar. Perkara di kamar Arga masih menghantuinya. Dia bersiap dan bersiaga. Mata Arga melirik dan tersenyum setengah mengejek.
"Mengapa harus melindungi diri? Aku tidak sedang ingin bermain-main denganmu...," katanya dengan raut wajah di buat seperti tidak minat dengan Asha. Sengaja di buat begitu karena tidak mungkin Arga enggan mendekati perempuan muda yang jika marah justru membuatnya tertarik. Dia hanya sedang berpura-pura tidak mau.
"Mungkin saja...," gumam Asha pelan dengan kejengkelan yang kentara. Arga tersenyum dalam hati. Namun dia tidak ingin memenuhi keinginannya mendekati Asha untuk bermain-main. Dia memang ingin membantu Asha mencari pakaian kotor milik Paris. Seandainya dalam kondisi normal dan di depannya adalah pelayan lain bukan Asha, tindakan membantu ini mungkin tidak ada. Arga lebih memilih memarahi Paris karena membuat pelayan rumah kebingungan. Dia tidak akan berniat masuk ke dalam kamar adiknya dan bersusah payah mencari pakaian kotor yang tidak berharga itu.
Seperti dirinya yang lelah tadi malam, Arga berinisiatif mencari di tempat yang sama dengannya. Di dekat tempat tidur. Karena di samping ranjang tidak ada, Arga mencoba jongkok dan melongok ke bawah ranjang. Dugaannya benar. Ada sekeranjang dengan bentuk cekungan rendah ada di bawah tempat tidur. Arga menarik keranjang itu.
"Kamu menemukannya?" tanya Asha lega yang sudah ada di dekat sana. Dia tertarik mendekati Arga karena melihat dia sedang melakukan sesuatu agak lama di samping tempat tidur. Arga melirik menemukan ketenangan dalam kalimat Asha. Tidak seperti tadi.
"Iya." Arga mulai berdiri dan mengangkat keranjang itu. Memberikan ke Asha yang terlihat lega menemukan apa yang di carinya. Karena kalau tidak segera ketemu pekerjaannya tidak akan cepat selesai.
__ADS_1
"Akhirnya.. Terima kasih," ujar Asha yang mulai nampak santai.
"Sepertinya kau mulai lebih santai kepadaku."
"Bukan. Aku terpaksa." Asha berjalan mendekati pintu mau keluar.
"Berarti kamu tidak marah soal tadi?" Asha menghentikan langkah dan memutar tubuhnya. Menatap tajam ke arah Arga.
"Tidak mungkin aku tidak marah. Aku masih ingat dengan jelas kelakuanmu," Asha menggeram dengan marah tertahan.
"Itu bagus," kata Arga yang membuat dahi Asha mengerut samar. Arga tahu dengan rasa heran yang terlihat di wajah perempuan itu. "Bagus kalau kau masih ingat dengan potongan cerita tadi. Ingat dengan baik-baik saat aku ingin menciummu tadi."
Asha langsung memutar tubuhnya tanpa permisi. Dia harus segera turun ke bawah jika tidak lelaki di depannya itu akan menerkamnya. Arga mengikuti langkah Asha keluar dari kamar. Langkah gadis itu di buat secepat mungkin karena tidak ingin terperangkap lagi dalam situasi yang membuat Tuan Mudanya jadi sangat berbahaya.
Paris yang hendak menuju tangga untuk naik ke lantai dua tidak jadi. Dia berbelok ke sofa di depan tv saat melihat Asha baru turun dengan cepat dan membuat kerutan samar di dahinya. Juga saat di lantai atas Arga berjalan di lorong dengan lambat.
Apa yang di lakukan mereka berdua di kamar dalam waktu yang lumayan lama?
Pikiran-pikiran aneh terbesit di dalam kepalanya. Lalu tiba-tiba Paris merona sendiri dengan pikiran anehnya. Secepatnya dia menghalau pergi dugaan-dugaan yang membuatnya salah tingkah sendiri. Mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Lalu menggeleng tidak percaya dengan apa yang di bayangkannya barusan.
Setelah Asha turun Arga menyusul tidak jauh di belakangnya. Paris melihat raut wajah kakaknya riang gembira di bandingkan wajah Asha tadi. Kalau biasanya Paris akan melontarkan pertanyaan sindiran yang langsung di jawab dengan jawaban asal oleh kakaknya, sekarang dia menahan diri tidak melakukannya.
Arga sedang berbahagia. Jangan membuatnya menyinggung masalah tadi malam. Karena Arga mungkin menyimpan kemarahannya hanya karena ada Asha. Arga menolehkan kepala ke Paris yang sudah lama memandangnya. Paris langsung memutar tubuhnya dan berjalan masuk lagi ke dapur.
.
.
__ADS_1