
Terima kasih masih setia menunggu cerita ini. Selamat membaca. ❤
.
.
.
.
Asha mencoba membuka pintu belakang, tapi tidak bisa. Tangannya mencoba lagi lebih keras. Masih tidak bisa. Asha mendiamkan sejenak lalu mencoba membuka pintu belakang lagi. Hasilnya nihil. Pintu itu masih tidak mau dibuka. Paris juga sedang membuka pintu di sisi lain mobil. Namun Nona Muda itu sudah bisa masuk karena pintu tidak terkunci.
Asha berjalan memutar mengambil inisiatif menuju pintu yang sama seperti Paris masuk tadi. Dia akan masuk mobil lewat sana.
"Eh, kenapa kak Asha kesini?" tanya Paris heran.
"Iya, aku bareng kamu saja," kata Asha dengan memasang senyum manis. Paris mengangguk dan menggeser tubuhnya lalu Asha duduk dengan nyaman. Arga yang datang belakangan melirik ke belakang saat di lihatnya bangku di depan masih kosong.
Asha sengaja duduk di belakang karena selain tidak ada perintah harus duduk di depan, dia juga enggan.
"Kenapa kamu ada di sana?" tanya Arga.
"Aku sedang menemani nona Paris," kata Asha sambil tersenyum sopan.
"Paris bukan anak kecil, jadi dia tidak harus di temani," balas Arga mendengar jawaban Asha. Paris melirik ke arah Asha yang berada di sampingnya. Lalu melihat raut wajah kakaknya. Sepertinya kakak laki-lakinya itu ingin duduk bersama Asha.
"Duduk di depan saja deh kak," Paris akhirnya menyuruh Asha menuruti kemauan kakaknya. Sial! Asha mengangguk dan kemudian membuka pintu untuk keluar dan menutupnya.
Memegang handle pintu depan dan membukanya. Sebelum masuk Asha membungkukkan dulu tubuhnya untuk meminta ijin masuk. Asha merasa masih ada sedikit pembatas di sekeliling Tuan Muda. Meskipun sudah memberi perintah Asha duduk di depan, pembatas yang membuat Asha harus menjaga jarak masih ada.
Lalu Asha menghempaskan punggungnya di kursi mobil dengan gerakan hati-hati.
Paris menguap di belakang. Meskipun belum terlalu malam, gadis SMA itu sudah merasakan kantuk yang sangat. Padahal ini anak tidak melakukan kegiatan ekstra berat seperti Asha dan Arga yang tadi sudah bermain basket, tapi dia sudah ingin tidur.
"Aku mau tidur sebentar. Kalau sampai rumah tolong dibangunkan ya, Kak Asha?" Paris memberitahu dengan matanya yang merah.
__ADS_1
"Ya," jawab Asha sembari melihat ke belakang. Selepas Paris yang sudah terlelap di bangku belakang, suasana di dalam mobil kembali sunyi senyap.
"Tadi hebat. Aku baru lihat kamu memang pandai bermain basket," Arga memulai obrolan terlebih dahulu tanpa menoleh ke arah Asha. Pandangannya masih fokus ke depan.
"Ah iya terima kasih. Tapi aku belum bisa menang dari kamu, jadi aku rasa tidak hebat. Biasa saja," ucap Asha merendah.
"Ya, aku menghentikannya dengan tiba-tiba." Ternyata Arga sadar diri kalau yang menghentikan permainan secara tiba-tiba adalah dia. Maksud Asha begitu. "Diantara mereka bertiga, siapa yang paling akrab?" tanya Arga lagi tanpa menoleh ke samping.
"Mereka yang bermain basket barusan?" tanya Asha memastikan. Dia takut salah paham jadi lebih baik menanyakan terlebih dahulu.
"Iya mereka. Apakah itu Andre?" Sebut Arga mencoba menebak terlebih dahulu.
"Aku dekat dengan mereka semua. Karena kita adalah teman dekat. Kita sama-sama sering man basket bersama-sama. Jadi tidak ada yang lebih istimewa," jelas Asha. Walaupun dia memakai kata aku dan kamu, tetapi dia tetap berusaha bersikap sopan.
"Kamu tidak pernah sengaja keluar berdua dengan salah satu mereka?" tanya Arga yang membuat Asha mengernyit. Pertanyaan aneh ini. Merasa di interogasi tapi belum pernah melakukan kesalahan apa-apa. Asha metasa heran tapi tetap setia untuk menjawab.
"Maksudnya jalan-jalan? Tidak. Aku terlalu sibuk mengurusi pekerjaan. Aku tidak sempat." Asha menjawab dengan sedikit mendramatisir rupanya. Meskipun kenyataannya memang seperti itu. Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja di rumah Hendarto.
"Aku lupa kalau kamu lebih sibuk daripada aku," Arga menarik ujung bibirnya dan mengangkat alisnya. Asha hapal itu cara Tuan Mudanya mengejek. Lumayan berkelas. Namun mengejek tetap mengejek. Asha hanya menggaruk lehernya pelan membiarkan tuannya merasa menang.
"Mainan kunci itu...," ucap Arga lambat. Asha menengok ke samping menanti kelanjutan kalimat Arga, "Bagaimana kalau aku bisa menemukannya?" tanya Arga sambil menoleh sebentar ke Asha.
"Hanya itu?" tanya Arga selalu membuat pertanyaan sulit dan selalu menguji kesabaran Asha saat mendengarnya. Asha belum bisa menjawab. Dia masih berunding dengan otaknya. Mencari kalimat sopan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Iya," Ya ampun, setelah mikir malah jawabannya sesingkat itu.
"Bukankah kamu menganggap itu barang yang mewah?" tanya Arga menebak.
"Bukan. Benda itu bukan barang yang mewah tetapi berharga." Koreksi Asha karena arti mewah dan berharga jelas berbeda.
"Sama saja," ujar Arga tidak mau kalah. Tangannya yang memegang kemudi membelokkan mobil ke arah kanan.
"Tidak sama, Tuan. Mewah dan berharga itu beda." Arga menoleh ke samping dengan cepat saat bibir itu mengucap kata Tuan dengan tekanan yang dalam. "Mewah itu mahal. Berharga itu entah mahal atau murah tapi yang di rasakan itu adalah arti dan kenangan dari barang itu." Asha mengatakannya dengan tenang namun dengan tegas. Pandangan yang meihat ke arah Arga di sampingnya terlihat sungguh-sungguh dalam mengucapkannya.
"Bagiku tetap terlihat sama saja. Baik barang itu mewah ataupun berharga tetap terlihat sama, tidak ada artinya bagiku. Karena aku tidak peduli dengan itu dan juga karena aku pasti tidak ada di dalam cerita itu," balas Arga dengan penjelasan dari Asha yang panjang itu.
Tidak ada di dalam cerita? Anda benar tuan. Ini sudah pasti. Tokoh utama ini bukan anda, tapi dia. Yang mungkin saja tidak lagi seperti dulu, bahkan mungkin sudah lupa nama dan wajahku. Menyedihkan, Asha mencibir dirinya sendiri.
__ADS_1
"Berarti kamu sudah menemukan barang itu?" tanya Asha membahas kotak kristal itu. Mungkin yang di lihat orang memang terlihat seperti barang biasa, atau malah terlihat bagai barang rongsokan karena ada retak dan pecah di bagian salah satu siku.
"Tergantung," jawab Arga ngambang.
"Tergantung sama apa?" tanya Asha heran. Arga menghentikan mobil di sisi kiri jalan.
"Kamu mau melakukan tawaran apa denganku?" tanya Arga bersemangat sambil menoleh ke Asha dengan salah satu lengannya bersandar pada kemudi mobil.
Hei... orang miskin sepertiku bisa melakukan tawaran apa denganmu wahai yang mulia.
"Orang miskin tidak pernah melakukan penawaran seperti ini," guman Asha pelan. Seperti bergumam pada dirinya sendiri sambil melihat ke arah lurus dijalanan di depannya. Tanpa sadar bahwa laki-laki di sampingnya bisa mendengarnya dengan jelas.
Arga terkejut Asha mengatakan hal itu. Dia mendehem membuang muka ke arah jalanan di depan. Merasa telah berbicara di luar batas yang membuat Asha merasa tidak nyaman. Dia yang memulai sendiri pembicaraan ini, sekarang justru terjebak pada topik pembicaraan yang tidak nyaman.
Sambil mulai menyalakan mesin dan menjalankan mobil lagi, Arga berdecih merasa salah langkah. Asha melirik heran melihat Arga menggeram dan berdecih. Lagi-lagi Asha merasakan hawa tidak baik ini. Kesalahan apa lagi?
Sebagai orang yang hanya berprofesi sebagai bawahan -tepatnya pelayan rumah- alias pembantu, jiwa mereka selalu di penuhi dengan ketakutan telah berbuat salah. Apalagi saat melihat majikannya beraura negatif seperti ini.
Rasa takut ini tidak lebay, tidak berlebihan. Ini lumrah dan wajar bagi kebanyakan orang yang bekerja pada boss atau majikan. Mereka takut akan kehilangan pekerjaan. Tanpa sengaja Asha menguap. Tangannya segera bergerak menutup mulutnya agar tidak menganga saat menguap.
Arga yang melihat kedepan jadi noleh.
"Kamu lelah?" tanya Arga memiringkan kepala menatap Asha. Tangan Asha bergerak mengusap airmata karena menguap, dengan punggung tangannya.
"Iya. Maaf," kata Asha menyesal. Padahal tuan muda sedang mengajaknya ngobrol, tapi matanya sudah panas dan terasa lemah untuk melihat dengan jelas.
"Tidurlah," ucap Arga. Ini tidak mungkin, jawab Asha di dalam hati.
Bagaimana mungkin dia terlelap di dalam mobil sementara ada Tuan muda sedang memegang kemudi di sampingnya. Dia tidak mau andai dia terlelap, mulutnya akan mengeluarkan dengkuran atau bisa jadi air liur menetes dengan lancar dari sudut bibirnya. Itu akan jadi aib baginya di hadapan tuan muda. Asha merasa tidak sanggup membayangkan aib seperti itu terkuak dimana-mana.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." balas Asha sambil tersenyum dan tak lupa membungkuk. Dia membiarkan dirinya berusaha menahan kantuk. Arga tidak lagi membahas mainan bodoh yang menjebaknya berkata yang membuat Asha tidak nyaman.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih yang sudah vote, like, favorit dan memberi komentar pada cerita ini. Luv yuu...💋