Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Maaf


__ADS_3



Asha memang sedang berada di ruang baca bersama Nyonya Wardah. Raut beliau nampak serius saat menghadapi perempuan yang menjadi pelayannya ini.


"Maaf, maafkan saya sudah bersikap lancang kepada anda," ujar Asha dengan suara penuh dengan sikap hormat dan sopan.


Nyonya Wardah menghela napas panjang saat Asha berdiri di depannya.


"Setelah bersembunyi menjalin hubungan cinta dengan Arga, kenapa baru sekarang kamu meminta maaf?" Pertanyaan pertama mulai di lontarkan Nyonya Wardah dengan suara biasa tapi tegas dan kuat.


"Maaf, saya hanya seorang pelayan. Saya punya rasa takut yang besar. Selalu merasa takut karena saya merasa kecil di depan Anda. Baru sekarang saya berani meminta maaf."


"Kamu sengaja mendekati putraku?" Ini seperti sebuah tuduhan. Dimana yang berada di bawah akan selalu nampak sebagai akar dari sebab suatu permasalahan, jika itu di anggap adalah hal buruk.


"Maaf, saya tidak punya keberanian. Tidak pernah terpikir oleh saya, bahwa saya akan menjalin hubungan dengan seorang Tuan Muda. Ini murni hanya sebuah kebetulan. Saya minta maaf."


"Jadi putraku sengaja mendekatimu?" tanya Nyonya Wardah seperti berniat memutar-balikkan pertanyaannya. Asha diam. Ini seperti pertanyaan menjebak. Dia perlu memikirkan lagi perlu menjawab atau tidak. Asha mencoba berdiskusi dengan dirinya sendiri. Memilah lagi, jawaban apa yang harus di lontarkan jika ingin menjawab.


"Mungkin bukan sengaja mendekati. Karena pekerjaan saya, jadi saya bisa terlihat dekat dengan putra putri Anda, Nyonya..."


"Aku juga tidak tahu apa yang Arga pikirkan, tapi aku ingin tahu pendapatmu. Bagaimana dengan semua ini. Tentang kamu dan Arga? Apakah mungkin?"


"Saya tidak bisa berpendapat. Saya hanya menunggu keputusan dari Anda, orangtua Arga." Asha tentu tahu ini tidak mungkin. Namun dia sedang mencoba.


"Lalu, jika saya bilang tidak, apa yang akan kamu lakukan? Tetap berusaha keras agar Arga tetap bersamamu? Memaksanya lari dan kabur untuk memihakmu?"


"Saya hanya ingin memohon kepada Anda dengan segala kekurangan saya. Mohon maafkan saya.."


"Dengan segala kekurangan?" Kedua alis Nyonya bertaut. "Kenapa kamu hanya memohon dengan segala kekurangan? Kamu tidak menyebutkan kelebihanmu? Kamu tidak punya kelebihan untuk di tunjukkan kepadaku, bahwa kamu pantas untuk menjadi istri putraku?" tanya Nyonya Wardah menyipitkan mata.


"Maaf, saya tetap merasa tidak punya kelebihan jika berhadapan dengan Anda. Juga... saya tidak bisa menyebutkan tentang kelebihan saya. Anda majikan saya, Anda pasti mengerti saya ini punya banyak kekurangan daripada kelebihan. Saya merasa tidak pantas berkata tentang kelebihan saya...." Asha masih menunduk dengan menyatukan kedua tangannya di depan.


"Jika kamu sudah mengerti tidak punya kelebihan, kenapa masih menjalin cinta dengan Arga? Apa yang perlu lagi saya pertimbangkan?" Asha menarik napas pelan. Nyonya Wardah sangat cerdas hingga bisa memberikan pertanyaan dari apa yang sudah di katakan dari jawaban Asha. Nyonya Wardah melihat celah itu.


"Maka dari itu saya memohon pada kebaikan hati Anda, Nyonya. Saya meminta maaf atas keegoisan ini. Keegoisan saya untuk mencintai putra Anda hanya dengan hati saya," ujar Asha. Setelahnya Asha menggenggam erat jari-jarinya sendiri.


Nyonya Wardah diam. Asha juga diam dan berdoa. Dia tidak tahu, dengan menjawab semua pertanyaan Nyonya Wardah, apakah dia dianggap mampu atau justru terlihat pongah. Merasa yakin akan kekuatan cinta Arga hingga berani berdiri disini dan menjawab. Asha tidak tahu, hanya berdoa.

__ADS_1


***


Di luar, Paris terkejut melihat Ayahnya yang sudah pulang. Kenapa justru Tuan Hendarto yang datang terlebih dahulu. Kemana Arga? Paris yang tidak bisa tenang jadi belum mengganti seragamnya. Bahkan dia belum meletakkan tas ranselnya.


Tuan Hendarto heran melihat putrinya sedang berdiri gelisah di depan ruang baca.


"Kamu tidak mengganti seragammu dulu, Paris?" tegur Ayah. Paris terkesiap.


"Iya, Ayah...," jawab Paris lalu segera menuju ke kamarnya untuk mengganti baju.


Pintu ruang baca terbuka.


Tuan Hendarto muncul dan melihat Asha yang berdiri dengan kaku di depan sofa. Mata Tuan Hendarto ganti melihat ke arah istrinya. Bahu Nyonya Wardah terangkat.


Tubuh Asha semakin gemetar. Degup jantungnya berdetak kencang. Dia sedang menghadapi dua orangtua Arga sendirian. Nyonya Wardah membisikkan sesuatu pada suaminya. Tuan Hendarto tampak mengangguk mengerti jalan ceritanya.


"Kamu Asha bukan?" tanya Tuan Hendarto.


"I-iya Tuan," jawab Asha langsung gugup. Satu pertanyaan saja sudah membuat dadanya sesak. Atmosfer ruang baca ini seperti menjadi gelap. Kental dengan intimidasi tak terbantahkan dari mereka berdua. Dua orang paling berpengaruh dalam keluarga Hendarto.


Tanpa mengatakan apapun saja, Asha sudah merasa tunduk kepada wibawa Tuan Hendarto. Apalagi kalau harus di jejali pertanyaan-pertanyaan seperti yang di lontarkan Nyonya Wardah tadi. Apakah dia sanggup menjawab atau bahkan terselip lidah karena rasa gugup dan takut yang mendera?


***


Sementara itu di kantor, Arga yang sudah membaca pesan Paris terkejut. Pikirannya kalut. Berkali-kali Arga coba menelepon Asha tapi tidak bisa. Lalu Arga menelepon Paris.


"Kakak! Kenapa belum pulang?" sembur Paris gemas saat sedang ganti baju di dalam kamarnya.


"Aku belum bisa pulang," jawab Arga kecewa pada dirinya sendiri.


"Tapi bagaimana Kak Asha?"


"Aku akan memepercepat pekerjaanku. Tolong kamu pantau keadaannya. Jika sangat mendesak, telepon aku."


"Baik."


Asha adalah hal penting, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan pekerjaan. Tidak harus meninggalkan pekerjaan sepenting ini. Ini soal Mall baru yang sangat dinantikan oleh ayahnya. Arga tertekan. Dia harus berusaha fokus pada pekerjaan, sementara hatinya tidak tenang memikirkan Asha.


Berungkali dia harus menghela napas. Rendra melirik melihat direkturnya tidak tenang. Ada yang membuatnya gelisah. Semua orang yang terkait pada pembahasan ini melihat ketegangan ini. Suasana hati direktur mereka yang tidak nyaman.

__ADS_1


"Perlu saya menyuruh Maya membuatkan minuman agar Anda rileks, Tuan?" tawar Rendra segera.


"Tidak. Tidak perlu," tolak Arga. Rendra tidak paham ada apa. Setahu dia, mereka berdua sudah berdamai dari perang dingin itu. Lalu apalagi yang di cemaskan?


***


Di ruang baca,


"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan dengan bersembunyi seperti ini?" tanya Tuan Hendarto dengan suara rendah berwibawa milik beliau.


"Sudah lama, Tuan...," jawab Asha lancar meskipun dengan bibir gemetar.


"Lalu, apa yang kamu harapkan setelah lama menjalin hubungan tanpa ada publikasi pada semua orang, terutama orangtua Arga?" tanya Tuan Hendarto. Asha diam. "Bukankah setiap pasangan yang menjalin hubungan cinta pasti berangan-angan ingin di kenalkan pada orangtua dan menuju ke pernikahan? Sementara Arga tidak pernah sekalipun mengenalkan pada kita. Kamu sengaja di sembunyikan dari keluarganya. Apa yang bagus dari hanya menjadi pasangan yang di sembunyikan?"


"Maaf. Arga tidak pernah berniat menyembunyikan saya dari Tuan dan Nyonya."


"Lalu kenapa Arga tidak pernah memberitahu kita? Padaku, misalnya. Karena dibanding Ayahnya, dia lebih dekat denganku," ujar Nyonya Wardah.


"Karena saya yang memintanya, Nyonya," jawab Asha membuat Tuan Hendarto dan Nyonya Wardah terkejut. Mereka berdua saling berpandangan. Seakan saling menanyakan kenapa Asha meminta di sembunyikan.


"Kamu? Kenapa?" tanya Nyonya Wardah heran. "Bukankah semua perempuan menginginkan sebuah pernikahan?"


"Maaf, saya sama seperti perempuan yang lain yang menginginkan pernikahan dengan orang yang di cintai, tapi pasangan saya bukan orang biasa. Saya juga tidak menduga akan hal ini. Bahwa saya punya kekasih yang tak lain adalah Tuan Muda rumah majikan tempat saya bekerja. Saya perlu memikirkan lagi apa saya harus saya lakukan. Apakah harus maju atau mundur."


Sesungguhnya di balik semua jawabannya, Asha merasakan ketakutan yang sangat. Dia menekankan pada dirinya lagi bahwa dia harus berusaha dan mencoba dulu sebelum kalah. Lagi-lagi tangannya mengepal erat hingga menimbulkan rasa panas pada telapak tangannya.


"Dan kamu memilih mendesak kita?" tanya Tuan Hendarto dengan suara rendahnya yang masih sangat berwibawa dengan aura tegas yang kental disana. Membuat Asha gemetar dan berkeringat dingin. Asha coba menggenggam jari-jarinya sendiri agar mampu bersikap tenang. Meyakinkan diri sendiri bahwa dia kuat. Suami istri ini tahu, tubuh pelayan yang di cintai putra mereka itu gemetar. Namun bara tekad masih menyala di matanya saat menjawab.


"Maaf. Saya hanya meminta maaf dan memohon," ujar Asha pelan.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika keinginanmu tidak tercapai?" Pertanyaan ini lagi. Dua kali orangtua Arga menanyakan hal ini. Asha sempat frustasi.


Pintu terbuka lagi. Kali ini Arga yang muncul dengan wajah gelisah dan cemas. Juga tatap matanya yang bergetar. Matanya langsung melihat ke arah tubuh Asha. Arga terenyuh melihatnya. Bahu perempuan itu menegang. Dia pasti tertekan.


Walaupun Asha tidak bisa melihat raut wajah Arga, tapi dia merasa lega hanya dengar langkahnya. Meskipun dia menunduk, dia bisa merasakan keberadaannya. Arga ada di sini. Arga... aku rindu, teriak Asha dalam hati. Ingin rasanya dia berlari dan memeluk tubuh lelaki itu untuk meminta perlindungan.


"Apakah ada pembicaraan yang melewatkan kedatanganku?" tanya Arga. Lebih tepatnya menegur. Pandangan mata Arga menyeluruh. Dia menggeram dalam hati tapi tidak mencoba menguarkan hawa marah ke sekitarnya. Dia tidak ingin terlihat arogan di depan orangtuanya.


__ADS_1


__ADS_2