
Paris yang sudah berganti pakaian, duduk di sofa ruang tengah dengan gelisah. Tidak ada teriakan histeris atau kemarahan yang terdengar dari ruang baca. Sunyi. Bagaimana bisa tidak ada perdebatan di dalam. Bukankah sedang ada pertandingan 1 vs 2? Sebenarnya bagaimana situasi di dalam sana?
Ketika Paris melihat kakaknya muncul di ambang pintu dengan napas naik-turun karena cemas, Paris sangat gembira.
"Cepat, masuk kedalam...," desis Paris yang tidak betah memikirkan Asha berada di dalam bersama kedua orangtuanya. Arga langsung membuka pintu...
Paris tidak ingin bundanya memberikan tekanan pada Asha seperti yang pernah di dengarnya soal Chelsea dari mulut Asha sendiri.
Paris tidak tahu persis bagaimana kejadiannya saat ini. Namun ia berharap, Asha mampu melewati setiap 'serangan-serangan' yang di lancarkan Bundanya. Dirinya yang telah melewati banyak waktu lebih banyak dengan Asha, sudah merasa dekat. Jadi seperti tidak rela jika Bunda menyakitinya. Apalagi menurutnya, Asha bisa jadi kakak yang seru kalau memang bisa di beri restu oleh orangtuanya.
***
Beberapa jam sebelum Asha masuk ke ruang baca...
"Apa yang ingin kamu katakan, Sha?" tanya Bik Sumi saat bertemu di ruang cuci. Beliau sedang membawa cucian dari lantai dua.
"Sebelumnya, maafkan aku Bi. Maafkan aku telah melakukan kesalahan," ujar Asha dengan menunduk.
"Salah apa?" tanya Bik Sumi yang sepertinya siap mendengarkan pembicaraan Asha. Helaan napas berat Asha menandakan dia tengah berpikir suatu hal berat.
"Maafkan aku tidak jujur pada Bik Sumi. Aku...." Asha ragu untuk meneruskan kalimatnya. Namun Bik Sumi tidak mendesak, beliau hanya diam menunggu. "Aku ... sebenarnya memang punya hubungan dengan ... tuan muda." Asha mengatakannya dengan takut. Bik Sumi diam.
"Itu tidak ada hubungannya sama Bibik. Kenapa kamu meminta maaf?" Bik Sumi sudah tidak terkejut lagi. Karena Beliau sudah melihat sendiri kedekatan mereka berdua saat tuan muda memapah tubuh Asha tadi pagi.
"Karena Bik Sumi adalah orangtuaku disini. Walaupun Bik Sumi sudah memperingati bahwa jangan mendekati tuan muda, aku malah punya hubungan cinta dengannya," ujar Asha merasa bersalah. Bik Sumi menghela napas.
"Semua sudah terjadi."
"Dan sekali lagi maaf, Bik. Aku ingin menghadap ke Nyonya Wardah." Mendengar ini, Bik Sumi membelalakkan matanya terkejut.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku berjanji pada Arga untuk menerima lamarannya. Sebelum itu, aku harus menghadap ke Nyonya Wardah dan meminta maaf terlebih dulu." Tangan Bik Sumi menutupi mulutnya karena menganga tidak percaya. "Aku berjanji tidak akan melibatkan Bik Sumi dan Rike. Kalau hal buruk terjadi padaku, aku akan pergi dengan sendirinya. Tolong Bik Sumi ijinkan aku menghadap," pinta Asha sambil menarik kedua tangan Bik Sumi yang jadi Ibu di dalam rumah majikan ini. Beliau terdiam lagi.
Bik Sumi menggeleng.
"Bik Sumi tidak setuju?"
__ADS_1
"Bukan. Bik Sumi tidak tahu harus menanggapi apa. Semua itu terserah padamu. Kamu sudah dewasa. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dan putuskan." Bik Sumi pasrah rupanya.
"Doakan Asha."
"Apa tidak sebaiknya kamu menunggu tuan muda menemanimu? Pasti beliau akan memberi perlindungan padamu. Sepertinya tuan muda sangat menyayangimu."
"Aku tidak ingin dia melihat aku di tolak orangtuanya, Bik. Kemungkinan aku di terima sangat tipis. Dia pasti memperjuangkanku, aku yakin, tapi aku tidak mau dia memberontak kepada orangtuanya, Bik. Bagaimanapun orangtua lebih penting daripada lainnya." Senyum menghias di bibir Asha. Senyum tipis meragu.
***
Saat ini, di ruang baca.
"Dengarkan baik-baik..." Kedua anak manusia ini mempertajam pendengaran untuk mendengarkan kata-kata Tuan Hendarto dengan baik. "Ayah merestui hubungan kalian berdua dengan syarat... Arga tidak pernah dengan sengaja mengabaikan pekerjaan. Bagaimanapun pekerjaan itu penting." Tuan Hendarto menekankan lagi soal ini.
"Iya, Ayah." Arga mengangguk. Asha melihat ke arah Tuan Hendarto dan mengangguk juga.
"Sekarang bagaimana perasaan kamu, Asha?" tanya Tuan Hendarto lembut. Beliau paham Asha tidak bisa bicara banyak lagi. Dia masih terguncang. Arga menoleh ke Asha.
"Saya ... tentu merasa lebih baik. Terima kasih Tuan dan Nyonya...," ucap Asha lambat, seraya membungkuk sopan. Suaranya masih serak karena menangis tadi.
Suasana ruang baca terlihat tenang dan damai. Walaupun masih ada sisa tangis di wajah Asha, dia sudah merasa lebih baik. Bahkan sangat baik. Bagaimana tidak. Sejak masuk ke dalam ruang baca, paru-parunya tidak bisa nyaman untuk bernapas. Tersendat oleh rasa takut dan kegentaran menghadapi orangtua Arga.
Membuat dirinya berkali-kali menyakiti tangannya sendiri dengan mengepal kuat-kuat agar teralihkan oleh rasa yang menyesakkan dada. Sekarang, setelah semuanya jelas, Asha bisa bernapas lega.
"Melihat kamu yang sangat marah kepada kita, Bunda juga berpikiran seperti Ayahmu," imbuh Nyonya Wardah.
"Dugaan ayah dan Bunda salah. Kamu masih memihak ayah dan Bundamu dengan tetap mengupayakan kami berdua, menerima dia sebagai anggota keluarga." Tuan Hendarto mengatakan ini dengan bersyukur dan bangga. Bocah mereka sudah dewasa. Keaadan membuat dia lebih bijaksana. Dugaan Ayah membuat Arga menipiskan bibir merasa bersalah dalam hati.
Dugaan Beliau tidak salah. Arga memang akan menempuh jalan itu, kalau tidak ada kesepakatan yang sejalan dengan keinginannya. Namun dia ingat lagi perkataan Asha waktu itu. Dia harus memilih hal paling penting diantara hal penting lainnya.
Hal paling penting itu adalah keluarganya. Tanpa keluarganya dia bukan siapa-siapa. Meskipun kadang itu membunuh keberadaan dirinya, tapi kenyataannya memang seperti itu. Keluarganyalah yang membuatnya seperti ini. Dia tidak harus egois dengan tanpa mendengarkan Bunda dan Ayah. Walaupun dia yakin tidak salah memilih Asha, dia harus bisa merangkul kedua orangtuanya untuk mendukung keputusannya.
"Bunda rasa mungkin Asha juga berperan disini. Kita salut, dia juga berani memberitahukan hubungan kalian berdua sendiri. Padahal dia gemetar karena sangat ketakutan. Bunda sangat terkejut tadi."
"Bukannya Bunda yang sengaja menginterogasi Asha?" tuduh Arga.
"Kamu ini...," ujar Nyonya Wardah gemas. "Asha mendatangi Bunda sendiri untuk meminta maaf dan mengatakan tentang hubungan kalian berdua." Arga tertegun. Jadi ini semua ulah gadis bebalnya? Dia tidak menyangka Asha akan seberani itu menghadap mereka berdua sendirian. Bukan, dia bukan berani. Asha hanya nekat menghadap orangtua Arga sendiri. Matanya melirik Asha yang membasahi bibirnya karena ketahuan.
Penerimaan keluarga Arga kepada dirinya memang di luar skenario Asha. Walaupun begitu ini adalah anugerah terindah. Ini sangat membahagiakan.
"Bunda tidak menyangka Asha akan sangat lama untuk mengaku soal ini. Hingga membuat Bunda harus diskusi dengan Ayah." Manik mata Nyonya Wardah melebar. Begitu juga dengan Arga. Asha hanya mengerjap. Kali ini dia bisa mendongakkan kepalanya sedikit. Hidungnya yang memerah sungguh lucu. Kalau biasanya dia terlihat garang karena sikap enggan dan keberaniannya, kali ini Asha nampak penurut dan lemah. Seperti membutuhkan pegangan Arga di bahunya agar tetap bisa menegakkan punggung.
__ADS_1
"A-apa maksud Bunda? Jadi Bunda sudah...." Arga tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Matanya melihat bunda dan ayahnya dengan penuh pertanyaan.
"Kamu pikir kita ini siapa, Ga?" Nyonya Wardah melirik ke arah suaminya. Tuan Hendarto menarik punggungnya untuk bersandar pada badan sofa. "Kita ini orangtua kamu. Bagaimana bisa kita tidak tahu tentang putranya. Apalagi Ayah... Ayahmu itu punya banyak orang yang bisa melaporkan semua yang terjadi di kantor," jelas Nyonya Wardah sambil menyilakan kaki. Mungkinkah mereka sudah tahu kejadian-kejadian Asha dan Arga sejak lama?
"Ayah tahu, soal Asha?" tanya Arga seraya menyentuh dagunya dan menoleh ke Asha. Berpikir lagi tentang kisahnya dengan Asha yang terjadi di kantor.
"Tidak dari awal, tapi ayah tahu kamu pasti sangat peduli dengannya," kata Tuan Hendarto merujuk pada Asha. Kalimat ini membuat Asha malu. Mereka berdua, lebih tepatnya dirinya, merasa bisa bersembunyi dari keluarga Arga, tapi kenyataannya adalah beliau bisa menemukan jejak-jejak cinta yang mereka tinggalkan dengan mudah.
Jadi Nyonya Wardah sengaja menanyakan banyak pertanyaan itu hanya untuk menguji Asha? Nyonya Wardah tahu tentang mereka dari suaminya. Tuan Hendarto menceritakan soal Arga dan Asha setelah lamaran di dapur itu.
Walaupun begitu, Nyonya Wardah sungguh terkejut saat Arga menunjukkan sikap sayangnya kepada Asha. Ini diluar dugaan beliau.
Beberapa orang kantor menceritakan tentang Arga dengan seorang perempuan di kantor, bukan Chelsea. Setelah di ketahui, ternyata itu Asha pelayan dirumah beliau yang sering bareng Paris putrinya. Bagaimanapun beliau adalah pemilik dari perusahaan yang di pimpin Arga, banyak orang-orang milik beliau yang bisa melaporkan tentang tindak-tanduk putranya.
Tuan Hendarto tidak pernah menegur putranya soal perempuan kecuali mengganggu pekerjaan. Selama ini tidak ada kejadian yang menganggu pekerjaan selama mereka bersama, jadi Tuan Hendarto tidak perlu merisaukan itu.
"Tapi apa kamu benar-benar berpikir kita akan menolakmu, Asha?" tanya Nyonya Wardah penasaran. Asha menipiskan bibir. Tidak tahu haruskan masih perlu menjawab atau tidak. Asha gelisah.
"Bunda...," tegur Arga tidak setuju Nyonya Wardah mengeluarkan pertanyaan itu. Nyonya Wardah hanya tersenyum.
"Bunda hanya bertanya. Bunda paham kenapa dia berpikir seperti itu. Banyak yang menceritakan orang kaya itu jahat dan sadis. Padahal orang kaya itu juga manusia yang juga punya hati," ujar Nyonya Wardah yang langsung memeluk lengan suaminya,"Seperti Ayahmu, ini...,"
"Bunda. Disini masih ada Asha," tegur Ayah malu. Ternyata di balik sifat tegasnya, Tuan Hendarto punya sisi manis juga.
"Asha itu sudah dewasa meskipun tidak pintar masak." Kalimat ini sangat menusuk, tapi Asha paham. Dari sekian kalimat yang terucap tadi, kalimat ini yang sepertinya sungguh menancap jelas di hatinya. Itu berarti Asha harus belajar memasak lebih giat. "Lagipula sebentar lagi dia akan menikah dengan Arga," ujar Nyonya Wardah yang membuat Arga menipiskan bibir dan geleng-geleng kepala. Asha jadi canggung dan merona malu mendengar kata menikah dari bibir Nyonya Wardah. Juga melihat interaksi Nyonya Wardah yang tidak pernah di lihatnya.
Arga tiba-tiba berdiri dan membungkuk. "Terima kasih Ayah dan Bunda. Arga sangat berterima kasih dengan kebaikan hati kalian berdua, mau menerima perempuan pilihan Arga." Tuan Hendarto tersenyum. Begitupun juga Nyonya Wardah.
"Kamu itu memang sangat meremehkan kita berdua, Ga. Kamu pikir, darimana kamu bisa menjadi pria baik? Karena kamu adalah keturunan kami. Berarti kami ini sama denganmu. Kami adalah orang baik," tegas bunda lucu. Ayah tersenyum.
Arga menghampiri mereka berdua. Lengannya memeluk Ayah, kemudian berganti memeluk dan mengecup pelipis Bundanya. "Terima kasih...," ucap Arga dengan bersungguh-sungguh yang membuat Tuan Hendarto dan Nyonya Wardah semakin terharu. Mata mereka sedikit berkaca-kaca.
"Jaga sia-siakan pilihan kamu sendiri," ujar Ayah sambil menepuk bahu Arga. Kepala Arga mengangguk.
Asha menggigit bibir haru di sofanya melihat sikap Arga. Setelah itu Arga mendekat ke Asha lagi dan merengkuh bahunya dari samping. Menggosoknya pelan dan berulang-ulang sambil tersenyum dan menatapnya sayang. Asha tersenyum juga.
"Kapan kita bisa mengajukan lamaran pada orangtua Asha, Ga?" tanya tuan Hendarto. Mereka berdua terkesiap.
"Ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan, Bunda," kata Arga lambat dan ragu, yang membuat Ayah dan Bunda memicingkan mata mendengarkan Arga bicara. "Keluarga Asha belum tahu, hubunganku dan Asha," ungkap Arga yang langsung membuat tuan Hendarto dan Nyonya Wardah terkejut.
"Hah? Sebenarnya kalian ini bagaimana sih?" gerutu Nyonya Wardah membeliak tidak percaya. Mereka sibuk bersembunyi dan berbohong. Maka dari itu Asha belum memberitahu soal Arga. Apalagi tidak.ada kepastian akan di terima orangtua Arga, Asha tidak berani. "Bunda tidak percaya kalian benar-benar memilih bersembunyi seperti itu. Bahkan pada keluarga Asha." Bibir Nyonya Wardah menipis melihat mereka berdua.
__ADS_1