Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Pesan Bapak


__ADS_3



Terkadang jujur itu pilihan paling sulit untuk di lakukan meskipun itu untuk hal yang baik, karena setiap manusia punya ketakutan yang berbeda-beda dalam hidupnya. Satu persatu manusia akan punya rasa takut yang tidak sama pada diri mereka_ PELAYANKU, ASHA.


.


.


"Bapak pamit dulu ya, Nduk... Ingat, kerja yang rajin. Dan yang paling penting adalah jujur. Dimana pun kita berada kita harus jujur, benar kan, Nak Arga?" tanya Bapak.


Mendengar ini keduanya membeliak terkejut. Hati mereka langsung seperti di pukul memakai palu. Di tusuk-tusuk dengan senjata tajam. Mereka merasakan sakit dan perih. Kalimat Bapak memukul mereka dengan telak.


Keduanya mendadak diam serentak. Arga hanya mengangguk menanggapi nasehat Bapak Asha. Lalu melihat Asha sekilas. Dia melihat Asha tertunduk menggigit bibir menunjukkan wajah bersalah. Arga tahu gadis itu sedang tersiksa batinnya karena sudah membohongi orangtuanya.


Rendra muncul membawa dua kantong besar berisikan kue yang di sukai Asha. Mengalihkan perhatian karena rasa bersalah tadi. Mata Asha melebar sekejap melihat kedatangan Rendra. Sepertinya mereka berdua merencanakan semuanya sedemikian rupa. Hanya mereka berdua. Arga tidak mengajaknya berunding.


"Ini apa?" tanya Bapak yang di sodori dua kantong kue itu dengan bingung. Mata beliau mengerjap berkali-kali. Tangan beliau tidak menerima pemberian itu.


"Oleh-oleh dari kita untuk keluarga Bapak dirumah," kata Arga.


"Kenapa saya di beri hadiah semacam ini? Saya kan hanya datang melihat anak saya ini ..." tolak Bapak sopan.


"Tidak apa-apa, Pak," ujar Rendra ikut memberi pengertian.


"Saya ya ndak enak, Nak Arga... Masak saya datang berkunjung, langsung di beri oleh-oleh seperti ini?"


"Terima saja, Pak. Itu kesukaan Ibu bukan? Tuan ini memang sering membelikan sesuatu untuk karyawannya. Asha juga pernah di belikan kue dari toko yang sama itu juga," tambah Asha, membantu Arga memaksa Bapak untuk bisa menerima pemberiannya. Kasihan juga jika nanti Bapak menolak pemberian Arga yang sudah di rancang dengan baik itu. Asha tidak mau lelaki itu kecewa.


"Begitu ya... " kata Bapak ragu. Rendra siap memberikan kantong kresek itu lagi. Asha mengangguk. Akhirnya Bapak mau menerima pemberian itu. "Padahal saya kesini ndak bawa apa-apa, malah saya pulang di kasih oleh-oleh," kata Bapak sambil mengangkat dua kantong kresek kue.


"Tidak apa-apa, Pak."


"Terima kasih Nak Arga." Arga mengangguk. "Tolong nasehati putri saya yang sangat tidak bisa diam ini. Bila dia melakukan salah, tolong tegur saja. Jangan sungkan," pesan Bapak.

__ADS_1


Tidak bisa diam? Bapak nih... Asha tersenyum masam.


"Iya, Pak," jawab Arga dengan senang hati.. Menegur Asha adalah hobinya. Apalagi mendapat ijin dari orangtua, itu semakin memudahkannya.


"Asha, kamu juga harus menuruti apa yang di bicarakan atasanmu ini ... Jangan suka membantah. Kamu juga harus selalu bersikap baik sama atasan. Sudah, Bapak pulang dulu. Jaga kesehatan kalian berdua." 


"Rendra, tolong antar Bapak sampai ke pintu keluar," pinta Arga.


"Aduh, tidak perlu. Saya masih tahu jalan pulang. Tidak perlu di antar," tolak Bapak. "Saya permisi..." pamit Bapak. Semua mengangguk.


"Hati-hati di jalan ya, Pak," ujar Asha.


"Iya." Bapak juga mengangguk ke arah Rendra yang berdiri tidak jauh dari Arga berdiri. Mereka bertiga melepas kepergian Bapak. Asha mendesah lega dan lelah.


"Kau sengaja tidak ingin memberitahuku soal Bapak, ya?" tegur Arga langsung. Asha mengusap keningnya dengan satu tangan. Seakan-akan merapikan anak rambut yang masih mengganggu, padahal rambutnya sudah di gelung dengan baik dan rapi. Asha tidak menjawab.


Sebenarnya Arga ingin mencubit hidung Asha karena mau menghindarkan pertemuan dia dan Bapak, tapi di tahannya. Terlalu mencolok jika dia bermesraan disini.


Rendra masuk ke dalam butik dan melakukan perbincangan lagi. Sementara Arga menelepon pemilik butik untuk berterima kasih. Asha masih berdiri memakai seragam butik, menunggu mereka berdua menyelesaikan perbincangan tugas. Akhirnya Arga selesai menelepon.


"Tidak apa-apa. Kalau kau memelukku tadi aku tidak bisa lagi bersikap kuat. Aku akan menangis sejadi-jadinya." Bibir Asha tersenyum yang di pahami Arga bukan senyum bahagia.


"Kita ke ruanganku dulu. Aku bisa menenangkanmu disana," ucap Arga pelan saat menunggu Rendra.


"Oh, ya? Dengan apa?"


"Banyak. Kau mau aku tenangkan dengan cara apa? Pelukan? Ciuman? Atau hal-hal yang lebih indah lainnya?" ucap Arga masih pelan, tapi kali ini dengan kilat mata nakalnya. Mata Asha melebar dan menggeram. Bisa-bisanya Arga menggodanya saat ini.


***


Beberapa waktu saat Arga masih di depan butik berbincang dengan Bapaknya Asha, Chelsea berjalan memasuki koridor dan ingin segera menuju ke ruang Arga.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Maya.


"Aku ingin bertemu dengan direktur Arga."

__ADS_1


"Direktur masih ada perlu di area outlet. Anda bisa menunggu. Silahkan...." Maya mempersilahkan Arga di sofa depan ruangan Maya.


"Saya akan menunggu Arga di ruangannya."


"Maaf, Nona. Anda tidak boleh menunggu di dalam sana," cegah Maya mulai panik.


"Kenapa?" tanya Chelsea tidak suka


"Sekretaris Rendra memberi tahu seperti itu. Direktur Arga yang memberi perintah," jelas Maya.


"Arga?" tanya Chelsea heran. Maya mengangguk. Kening Chelsea mengerut karena terasa aneh. Sejak kapan Arga tidak memperbolehkan dirinya masuk ke dalam ruangannya?


"Iya Nona. Maaf. Saya tidak berani membantah."


"Baiklah. Aku berjalan-jalan saja dulu sambil menunggu kedatangannya," ujar Chelsea mengalah karena melihat Maya yang takut dimarahi lalu beranjak pergi. Kakinya keluar area perkantoran dan mulai memasuki area outlet. Dengan tubuh proporsional milik Chelsea dan gaya berpakaian yang modis jelas membuat dia menjadi pusat perhatian.


Namun Chelsea sudah terbiasa dengan semua mata memandang takjub itu. Dia tidak terlalu terkejut dengan mata-mata itu. Langkahnya yakin untuk terus melangkah. Saat itu dia menemukan tubuh tinggi tegap itu berdiri. Berbincang dan tersenyum dengan seorang Bapak di depan butik.


Chelsea hendak menghampiri tetapi saat matanya menemukan seseorang yang sungguh aneh berada di sana, langkahnya terhenti. Ada seorang gadis yang seingat Chelsea adalah pelayan rumah Arga. Dia berpakaian seragam butik itu. Diketahui dari seorang karyawan yang berdiri di dalam yang terlihat dari luar. Pakaian mereka sama. Itu menunjukkan pakaian itu adalah seragam.


Apa dia sudah tidak lagi bekerja untuk keluarga Hendarto? Lalu atas rekomendasi Arga dia bisa bekerja di butik itu? Butik itu bukan butik biasa. Pakaian mereka sangat mahal karena kualitasnya yang sangat bagus.


Menilik lagi orang yang berpakaian safari pegawai pemerintahan itu pasti kenalan Arga atau bisa juga customer Mall ini. Chelsea tidak berani mendekat. Di masih perlu memperhatikan dengan seksama. Seperti ada suatu benteng mengelilingi mereka yang memaksa Chelsea tidak boleh mendekat.


Tak lama Rendra datang. Semua gerak-gerik mereka coba dibaca oleh Chelsea. Tubuh Chelsea langsung memutar membelakangi mereka, saat ketiga orang itu berjalan masuk menuju koridor kantor. Bapak berpakaian safari tadi juga sudah pergi.


Menunggu beberapa menit setelah mereka masuk area kantor, Chelsea mengikuti dari belakang. Koridor mulai sepi karena jam istirahat. Sepertinya mereka bertiga sudah melangkah jauh masuk ke dalam ruangan, Chelsea mempercepat langkahnya dan mendadak berhenti.


Di depan pintu ruang kerja Arga, gadis pelayan itu masih berdiri di sana bersama Arga. Itu tidak mengherankan karena Chelsea pernah bertemu perempuan itu di dalam ruang kerja Arga. Namun yang membuat Chelsea terkejut adalah saat matanya melihat tangan Arga menjulur ke belakang kepala gadis pelayan itu dan mengelusnya sayang.


Itu tidak bisa Chelsea pahami. Dia tahu mereka adalah pria dan wanita, tapi dia juga tahu siapa mereka berdua. Mereka adalah pelayan dan majikan. Chelsea terkejut melihat interaksi ini.


Mengapa hubungan seperti itu memerlukan usapan sayang yang sangat dekat? Itu sangat berlebihan untuk seorang majikan yang baik kepada pelayannya. Apakah gadis pelayan itu sedang menggoda Arga?


Chelsea mendadak terguncang.

__ADS_1



__ADS_2