
"Jangan duduk di belakang, di depan saja. Aku tidak mau ada bentrokan," ujar Paris yang menjulurkan kepalanya keluar dari jendela mobil saat Asha mendekat ke pintu belakang. Paris menghindari kontak mata dengan kakaknya karena sejak tadi dia sudah melancarkan lirikan maut.
Asha melihat ke Arga. Tangan lelaki itu membukakan pintu dan menyuruh Asha masuk. Itu menandakan memang dia menginginkan Asha duduk di depan.
"Lain kali langsung duduk di depan saja, Kak. Daripada seseorang ribut-ribut karena kakak ada di belakang," ujar Paris yang langsung di sambut senyuman khas milik Arga. Paris mencebik. Dia melakukan itu bukan untuk kakaknya, melainkan untuk Asha. Kakak pelayan itu tetap saja membatasi sikap walaupun Arga sudah memberikan pengumuman bahwa dia adalah kekasihnya. Paris merasa tersentuh juga. Kasihan lebih tepatnya.
Apa aku sudah melakukan hal buruk ya, tadi? Memberi peringatan dan ancaman? Seperti mafia nihh...
Paris tahu diri dengan tidak mengikuti mereka. Dia meminta Sandra menunggunya di depan Mall milik keluarganya untuk jalan-jalan. Sebenarnya Arga juga berniat kesana, tapi Paris sudah minta turun duluan di depan pintu masuk Mall karena Sandra sudah ada di sana.
"Kita berpencar. Nanti telepon aku kalau kalian sudah ingin pulang," ucap Paris dari luar mobil. Paris melongok melihat ke Asha yang berada di sebelah Arga. Mengepalkan jari-jarinya seraya berkata, "Kak, Asha... Semangatt." Asha tersenyum dan mengangguk. Lalu Paris melambai dan pergi.
"__,Sha?" tegur Arga. Asha melebarkan mata dan menoleh ke samping dengan gugup.
"Ya?" tanya Asha setelah mampu mengumpulkan semua kesadarannya.
"Kenapa? Kamu sedang memikirkan sesuatu?"
"Tidak," Asha menggeleng.
"Paris mengatakan sesuatu?" tebak Arga benar. Melihat kedekatan mereka berdua, pasti ada saja pembicaraan tentang jadiannya dia dan Asha dari mulut Paris. Karena Arga tahu betul watak adiknya.
"Bukan," kilah Asha. Dia masih membantah.
"Dia adik yang ribet. Karena dekat denganku dia seperti ingin selalu menjagaku. Padahal aku ini lebih dewasa dari dia. Juga aku adalah seorang pria. Maafkan dia kalau mengatakan sesuatu yang menyinggung atau mengganggu pikiranmu," ujar Arga tulus.
Dia mendapati Asha terlihat tidak tenang hari ini. Pikirannya sedang beredar kemana-mana. Dia seperti sedang gelisah.
"Walaupun memang Paris mengatakan sesuatu, itu bukan hal yang perlu membuatku gelisah," ucap Asha seraya menoleh ke Arga dengan wajah di buat tenang. Mungkinn... ucap Asha dalam hati. Tangan Arga terulur untuk mengusap rambut Asha.
"Jangan memikirkan sesuatu di sini sendirian," Arga menunjuk ke kening Asha yang mengerut. "Otak kamu terlalu kecil jika harus menampung banyak hal memusingkan. Kamu bisa berbagi padaku. Bukankah begitu gunanya ada aku di sampingmu," ucap Arga sambil tersenyum.
Aahhh senyummu memang indah. Melihat kamu memang jadi menghangatkan.
Mobil sampai pada area parkir. Tiba-tiba Asha menurunkan tubuhnya. Meringkuk dan bersembunyi. Arga yang ada di samping Asha melihat aneh dan heran.
"Ada apa, Sha?" tanya Arga ingin tahu. Dalam meringkuknya Asha kasih kode Arga untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Sembunyi. Sembunyi, Ga," Arga tidak langsung menyetujui usulan Asha. Karena alasan di balik keinginannya bersembunyi tidak jelas. Arga mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat gadisnya ingin bersembunyi. Di depan mobil, Cakra melintas.
Cakra? Jadi dia yang membuat Asha ingin bersembunyi?
Arga membuka pintu mobil dan keluar. "Cakra!" panggil Arga membuat Asha mendelik di dalam mobil. Setelah meyakinkan bahwa yang memanggilnya di kenalnya, Cakra berhenti lalu mengangkat tangan. Kemudian Arga memutar dan menghampiri sisi pintu lain tempat Asha meringkuk untuk bersembunyi.
Kenapa dia memanggil laki itu sih.
Pintu mobil terbuka. Asha terkejut.
"Sedang apa?" tanya Arga sengaja. Untuk membiarkan Asha menerima tatapan matanya. Asha langsung memperbaiki cara duduknya. Dia tidak lagi meringkuk dan bersembunyi. Mendehem karena Arga menatapnya lurus. Merapikan rambut dan keluar dengan elegan. "Barusan sedang apa?" tanya Arga lagi tidak suka karena Asha tidak segera menjawab.
"Tidak... Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Asha sambil mengkerjap-kerjapkan mata karena gugup. Pupil mata Asha membesar yang menandakan dia sedang berbohong. Ini adalah reaksi stres fisiologis bahwa dia merasa tidak nyaman, atau tidak ingin menjawab pertanyaan Arga.
Cakra mengamati dari kejauhan. Mendapati Arga sedang bersama seorang perempuan. Mata Cakra menyipit merasa kenal dengan perempuan di sebelah Arga. Akhirnya Arga sampai juga di depan Cakra.
"Asha?" tanya Cakra merasa mendapat kejutan dengan penampilan temannya. Mata Andre menyeluruh melihat Asha dengan bibir mencebik dan kepala mengangguk-angguk pelan. Menilai penampilan Asha kali ini dapat nilai baik. Serasa jadi juri dia.
"Hentikan!" ujar Asha dengan kakinya yang terjulur ke depan ingin menginjak laki Andre. Tentu saja Andre menghindar.
"Lalu... tangan itu kenapa?" tanya Cakra polos sambil menunjuk tangan Arga yang menggenggam tangan Asha. Mata Asha mendelik dan ingin menariknya. Tapi Arga menahannya. Lalu Asha tertawa garing karena tidak bisa melepaskan genggaman Arga yang mencolok. Menetralkan rasa malunya dari mata-mata temannya yang menatap curiga dan heran.
"Iya," jawab Arga mantap jiwa. Langsung saja duo temannya berteriak heboh kayak ada pertandingan sepak bola.
Semua saling meledek Asha habis-habisan. Andre yang sering jadi partner main basket Asha juga semakin heboh.
"Ciee... Asha nih. Sekarang pintar menggoda lelaki," ujar Andre sambil menepuk lengan Asha pelan sambil menaikkan kedua alisnya, menggoda. Mata Arga melihat interaksi ini, dengan mata menyipit, "Dapat mangsa kali ini yee...," Asha mengkerucutkan bibir dan ngomel di ledekin mereka. Bagi mereka Asha itu layaknya saudara. Jadi mereka memang nampak sangat dekat.
"Jadi ini penyebab kamu memutuskan teleponku secara sepihak waktu itu?" tanya Cakra yang memang setelah kejadian itu tidak menelepon lagi. Matanya melirik Arga yang berwajah biasa saja mendengar Cakra mengatakan hal itu. Seperti itu sudah seharusnya. Asha tersenyum tersipu malu mendengar Cakra menemukan sendiri alasannya memutus sambungan telepon.
Merasa Asha sedang mengalami ketidaknyamanan dalam bekerja karena dia, Cakra jadi jarang menelepon Asha kecuali Asha yang sedang ada perlu.
Karena sudah bertemu, mereka memutuskan cari makan bareng. Ini akan memaksa Arga mengeluarkan biaya tambahan.
"Jangan menuruti mereka untuk mentraktir makan-makan, Ga. Mereka juga punya pekerjaan, jadi bisa membayar makanannya sendiri," inget Asha sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah outlet makanan.
Karena ini di luar dan bukan di rumah majikan, Asha sedikit bisa leluasa berinteraksi. Seperti menjadi orang lain. Arga memperhatikan gadisnya dengan seksama. Asha yang sedang melempari Andre dengan kentang goreng dan mencebik tidak sadar Arga memperhatikannya.
"Kamu pakai jurus apa Sha, dia yang di kelilingi wanita cantik bisa memilih kamu?" tanya Cakra sedikit meledek.
__ADS_1
"Jurus apa ya...," kata Asha berlagak mikir.
"Memang enggak ada perempuan lain selain Asha, Ga?" kali Andre yang ngomong. Ini anak kalau ngomong rada nyeleneh. Asha langsung menendang kaki Andre dari bawah meja. Andre meringis karena Asha berhasil menendang.
"Banyak. Tapi di mataku cuma kelihatan dia saja," jawab Arga yang langsung membuat Andra kasih applaus ke Arga. Wahh... Asha jadi berbunga-bunga. Walupun begitu Asha merupakan tipe manusia yang bisa menahan kegembiraan agar tidak terlihat heboh.
Tanpa malu dan sungkan, Cakra dan Andre pamit pergi duluan karena memang sedang janjian sama teman perempuan mereka. Berhubung ini traktiran, mereka menyerahkan diri untuk ikut.
"Aku bilang jangan mau di suruh bayarin mereka...," ujar Asha gemes.
"Kamu terlihat beda ya kalau sama mereka.." ujar Arga seperti tidak mendengarkan perkataan Asha. Dia merasa sedang tersisih. Jadi seperti merasakan perbedaan besar antara Asha sebagai kekasihnya dan sebagai Asha saat ini.
"Berbeda?"
"Kamu lebih terbuka bersama mereka daripada bersamaku. Padahal aku kekasihmu," ujar Arga pelan.
"Jangan merasa kecil hanya karena persahabatanku dengan mereka. Kamu kan tahu mereka hanya orang biasa yang masih di bawah kamu yang jadi putra pemilik Mall terbesar di berbagai tempat. Persahabatan ini adalah hal kecil," ujar Asha menyeruput cokelat hangatnya. Arga mendengkus.
"Jangan berpikiran seperti itu, Sha. Kalau kau hanya berpikir aku harus merasa baik-baik saja karena aku kaya, kamu salah. Orang kaya juga perasaan gelisah yang sama dengan orang-orang yang kamu sebut orang biasa. Kita juga manusia pada umumnya. Punya hati dan perasaan yang sama seperti semua manusia di dunia ini, Sha," Asha menggeser matanya ke kanan. Ke arah Arga yang tiba-tiba saja berwajah muram. Pandangannya melihat lurus ke depan.
"Lelaki manapun akan merasa muram saat gadisnya lebih terbuka kepada teman-temannya daripada dirinya. Siapapun kamu Sha, karena sudah aku pilih jadi kekasihku. Jadi aku akan merasa tersisih jika kamu bisa berekspresi bermacam emosi di depan mereka daripada aku." Asha menoleh menatap Arga yang berwajah getir.
"Jangan berpikiran terlalu jauh, Ga. Aku bisa bermacam emosi karena mereka dan aku hanyalah teman. Kamu dan aku adalah kekasih, juga....," Asha memberi jeda kalimatnya, karena dia perlu menghela napas.
"Aku Tuan muda? Aku majikanmu?" tanya Arga menemukan kegelisahan yang selalu menyita pikiran Asha.
"Ya, itu mungkin salah satunya. Yang lain adalah... Aku tidak begitu, karena kamu cukup berharga yang membuatku tidak berkutik menghadapimu. Tentu saja aku menahan diri tidak bersikap macam-macam." ungkap Asha seraya menyingkirkan rambut Arga yang menutupi dahinya. Merapikan rambut itu dengan lembut. Entah kenapa tiba-tiba Asha berani menyentuh Arga lebih dulu.
Arga menangkap tangan Asha dan mengecup telapak tangan itu. Mata Asha nanar dan merasakan debaran di dadanya.
"Aku siap kok kalau kau ingin macam-macam denganku," ujar Arga membuat Asha merona. Mata Arga berkilat sensual.
"Apa yang sedang kau bicarakan? Kenapa setiap perkataanmu selalu menjurus ke hal-hal lain sih! Bikin geram saja," gerutu Asha.
"Memerahlah semaumu saat di depanku, Sha. Aku menyukaimu yang seperti itu.." Arga terkekeh menyebalkan.
.
__ADS_1