Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Mulai lagi


__ADS_3


"Paris dan Lei satu sekolah. Mereka akrab. Apalagi Lei pernah menolongku saat bertemu di pasar dulu. Jadi aku juga kenal." Asha membantu memberi penjelasan. Bibirnya tersenyum ke arah Lei. Sangat alami dan tidak di buat-buat. Karena memang itu apa adanya.


"Begitu ya..." Evan mengangguk paham. Chelsea mungkin paham, tapi dia juga tidak meneruskan. "Jangan lupa, datang ke acara tujuh bulanan istriku. Kalian tamu istimewa."


"Tenang saja kita pasti datang." Asha menjawab undangan Evan.


......................



......................


Paris ternyata tadi tidak pergi jauh. Dia menemukan keberadaan orangtuanya dan ikut bergabung dengan mereka setelah berkata dingin kepada kakaknya tadi.


Bahkan sampai dirumahpun Paris tetap memasang wajah masam dan tidak bersahabat kepada Arga. Tidak salah kalau Arga akhirnya menggerutu.


"Jadi karena... siapa tadi?"


"Pacarnya Paris?" tanya Asha yang berjalan sejajar dengan suaminya. Arga mengangguk. "Lei."


"Ya. Lei itu. Jadi karena Lei itu keponakan Chelsea, Paris marah ke aku?" tanya Arga menemukan sebab kemarahan adiknya tadi.


"Mungkin."


"Hubungannya apa? Memangnya aku juga tahu siapa Lei itu? Dia adalah keponakan Chelsea saja aku baru dengar," gerutu Arga. Merasa tidak adil jika Paris marah padanya karena hal itu.


Saat ini mereka tengah bersantai di taman belakang. Hanya berdua. Sambil membawa buah-buahan dan cemilan. Sekalian bernostalgia saat mereka pacaran backstreet dulu. Asha mendengarkan gerutuan suaminya sambil mengupas buah apel.


"Jika kenyataannya Lei itu keponakan Chelsea memang kenapa?" Arga minta pendapat istrinya sambil mencomot buah apel yang sudah di kupas.


"Aku akan mencoba bertanya padanya."


"Jika Paris juga memperlakukanmu seperti dia bersikap masam kepadaku, beritahu aku," kata Arga tegas.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin begitu." Asha tahu Paris pasti sangat paham kalau dia tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita Chelsea.


......................


"Aku putus."


Asha terkejut dengan pengakuan adik iparnya. Padahal ini kesempatan Asha bertanya, tapi pada kesempatan ini Paris langsung mengatakan putus soal hubungannya dengan Lei.


"Putus?"


"Ya."


"Apa masalahnya tidak bisa dibicarakan baik-baik?" selidik Asha.


"Kita tidak punya masalah."


"Lalu kenapa kalian putus?" tanya Asha heran. Paris mengedikkan bahu. Gerakan bahu itu menandakan dia tidak peduli lagi dengan keputusan yang di buat olehnya.


"Mungkin memang aku tidak seharusnya jadian sama dia. Begitu juga sebaliknya." Asha mengerjapkan mata.


"Kamu ...."


"Apakah benar yang terbaik?" tanya Asha. Paris diam.


"Tentu saja bukan." Akhirnya Paris membuka suara untuk sebuah kejujuran. "Namun... bagaimana aku bisa terus pacaran sama Lei, padahal aku begitu membenci Chelsea segitunya. Aku juga punya harga diri, Kak. Aku kan sudah mengatakan banyak hal buruk pada perempuan itu karena kak Arga. Bagaimana bisa aku menutup mata kalau ternyata aku juga bisa jatuh cinta sama keponakan dia." Paris mengatakannya dengan kesal. Sedih, tapi juga merasa aneh jika bersedih karena putus dengan alasan konyol itu. Paris mendengkus seraya tertelungkup di atas kasurnya.


Asha hanya mendengarkan tanpa memberi komentar apa-apa. Namanya juga remaja, perjalanan cinta mereka memang sebatas itu.


......................


Kehamilan Asha memang tampak biasa saja tanpa kendala yang berarti. Tidak ada drama ingin ini dan ingin itu yang biasa di dengar Arga dari mulut Evan. Arga sedikit merasa kurang. Dia juga ingin tahu seperti apa ngidam yang Evan katakan. Namun, sampai perut Asha sudah hampir mencapai tiga bulan, keinginan-keinginan yang dikatakan Evan yang biasa terjadi pada Chelsea tidak pernah terdengar dari bibir istrinya.


Pagi ini Asha terlihat membungkukkan badan di depan kloset sambil memegangi perutnya. Perutnya berkali-kali bergolak dan memuntahkan isi perut yang hanya berisi air. Raut wajahnya meringis menahan sakit di dalam perutnya. Matanya berair dan meneteskan airmata karena rasa sakit yang menyerang.


Rasa sakit kali ini seperti di remas-remas hingga menimbulkan kesakitan yang sangat. Asha muntah dan muntah lagi. Mungkin hanya cairan berwarna putih kental yang keluar. Karena pagi ini, perutnya memang belum terisi makanan. Asha baru bangun tidur dan merasa sakit pada perutnya. Dan itu membuatnya lama di dalam kamar mandi karena terus saja muntah. Hingga cairan berwarna kuning keluar dari tenggorokannya sebagai pamungkas. Asha mulai berhenti muntah.

__ADS_1


Wajahnya penuh airmata dan kuyu. Asha kelelahan. Tubuhnya terduduk di  atas kloset yang sudah di tutup dan bersih.


"Asha...," ujar Arga yang muncul di depan kamar mandi dengan wajah cemas. Bibir Asha tersenyum tipis. Masih dengan wajah tak berdayanya. Tangan Arga menyentuh sisi permukaan pipi istrinya dan mengusap rambut yang berjatuhan menutupi wajah. Mengelap keringat yang ada di dahi dengan tangannya. "Kamu muntah-muntah lagi?" Melihat keadaan istrinya yang lemah, Arga paham Asha pasti habis muntah. Sepertinya kali ini lebih parah. Asha mengangguk lemas. "Ayo, aku gendong ke ranjang dulu."


Asha menggeleng menolak. "Aku masih bisa berjalan."


"Baiklah. Ayo aku papah." Dengan penuh perhatian, Arga membantu istrinya kembali ke ranjang. Asha merebah secara perlahan dengan bimbingan suaminya. Mata Asha langsung memejam saar tubuhnya berayun lembut di ranjang. Merasakan nyamannya pinggangnya yang bertemu ranjang empuk.


"Aku akan meminta bunda membuatkan minuman yang membuat perutmu nyaman." Masih dengan mata terpejam Asha mengangguk. Arga turun ke bawah meninggalkan Asha yang menghela napas.


Arga melangkah turun ke dapur dan mendekati nyonya Wardah. Melihat wajah putranya, beliau langsung bertanya.


"Asha kenapa, Ga?"


"Dia muntah-muntah lagi, Bun."


"Muntah?"


"Ya. Sepertinya agak parah kali ini. Dia kelihatan pucat dan lemas. Bisa minta tolong buatkan minuman yang membuatnya nyaman, Bun?"


"Iya. Bunda akan buatkan. Kamu kembali lagi saja ke kamar. Nanti Bunda bawakan kesana." Arga mengangguk. Lalu dia berbalik dan berjalan lagi ke kamarnya.


"Non Asha masih muntah-muntah, Nya?" tanya Bik Sumi. Nyonya Wardah yang berjalan menuju rak mengangguk.


"Iya. Padahal aku pikir, Asha sudah berhenti mual dan muntah. Karena jarang terdengar keluhan Arga soal mual istrinya. Ternyata sekarang kata Arga justru lebih parah." Tangan nyonya Wardah meraih mug dan sekotak teh rasa lemon. "Tolong rebus jahe, Bi. Sekarang saya buatkan teh lemon saja. Kelamaan kalau harus menunggu rebusan jahe. Kasihan Asha. Ini bisa sedikit membuatnya tenang setelah muntah."


"Iya. Nyonya." Dengan sigap bik Sumi mengambil jahe dan mengupasnya.


"Saya ke atas dulu, Bi. Lihat kondisi Asha." Bik Sumi mengangguk. Sambil membawa mug berisi teh lemon nyonya Wardah menuju ke lantai atas.


Pintu dibiarkan tidak di tutup dengan rapat. Hingga memudahkan beliau membuka pintu. Hanya dengan mendorongnya sedikit, pintu itu bisa terbuka dengan cepat.


Melihat bunda muncul, Arga berdiri dari duduknya di pinggir ranjang. Tampak menantunya merebah dengan wajah kuyu.


"Bunda datang," ujar Arga memberitahu Asha yang masih memejamkan mata. Dengan perlahan Asha membuka mata.

__ADS_1


"Bunda bawa teh lemon." Di bantu suaminya, Asha bangkit dari tidur. Duduk bersandar agar punggungnya nyaman. "Asha minum ini dulu, biar perutnya hangat," pinta beliau. Masih dengan teh di tangannya, beliau duduk menggantikan posisi Arga. Lalu menyerahkan mug berisi teh ke menantunya.



__ADS_2