Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Pemikiran yang salah


__ADS_3


"Temanku tidak mau ikut bersama denganmu, sebaiknya lepaskan tanganmu. Carilah perempuan lain yang mau denganmu," kata Paris kearah laki-laki di depannya. Laki-laki itu melihat dengan kerutan samar di dahinya. Entah apa yang sedang terlintas di dalam pikirannya. Dari raut wajahnya terlihat kalau dia tidak senang dengan perkataan Paris.


"Kau siapa? Kenapa kau harus mendikteku harus bagaimana?" tanya laki-laki itu mendekati Paris. Tangan Sandra di hempaskan begitu saja. Lalu Sandra merapatkan tubuhnya ke Paris.


"Sudahlah Paris... Kita pergi saja," bisik Sandra berusaha menenangkan Paris yang sepertinya ngajak gelut itu.


"Tidak. Aku tidak mendiktemu. Aku hanya perlu bilang, carilah perempuan lain karena temanku tidak mau mengikuti keinginanmu. Kita punya acara sendiri," kata Paris menjelaskan lagi.


"Lihatlah dia." Laki-laki itu tersenyum sambil menunjuk ke arah wajah Paris dengan geram tertahan. Paris masih saja bertahan untuk tetap berusaha melindungi Sandra. Laki-laki yang menarik lengan Sandra tadi tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengar celotehan Paris.


Asha dari tempat duduknya melihat ada yang tidak beres di sana. Lalu dia meneguk minumannya dan berdiri.


"Kau, mau apa?" tanya laki-laki itu tiba-tiba.


"Kesana," kata Asha menunjuk arah Paris yang bersitegang.


"Mereka orang kaya. Tidakkah kamu lihat setelan jas mahal itu? Lebih baik kamu tidak perlu ikut campur," ucap laki-laki itu memperingatkan. Sepertinya dia mengenal laki-laki yang mirip bocah di mata Asha itu dengan baik. Asha diam sambil memandang laki-laki di sebelahnya.


Anak orang kaya? Bukankah Paris juga anak orang kaya? Tidak masalah... Mereka sama-sama orang kaya kok.


"Tidak apa-apa. Salah satu gadis itu majikanku. Aku juga harus melindungi dia," ujar Asha sambil tersenyum dan menghampiri Paris. Merasa Paris terancam Asha perlu mendekat dengan siaga penuh. Apalagi tiga lawan satu itu tidak imbang.


"Kamu butuh pemeran tambahan Paris?" tanya Asha datang di sambut senyuman oleh Paris. Lalu Asha mendekati Paris dan berdiri sejajar.


"Kamu cepat kemari. Kalau tidak mereka akan membawamu paksa." Laki-laki itu menunjuk ke arah Sandra dengan geram.


"Enggakk... Aku enggak mau. Aku tidak mau ikut kamu. Aku mau ikut mereka," kata Sandra tetap menolak ajakan laki-laki itu. Asha dan Paris saling mendekatkan diri pada Sandra. Mereka berdua berniat melindungi gadis itu. Entah kode apa yang mereka lontarkan, Asha dan Paris sama-sama merobek gaun pesta mereka hingga memperdengarkan suara sebuah kain robek yang khas. Juga memperlihatkan dalaman berwarn hitam dengan panjang di atas lutut.


Mata laki-laki itu membeliak melihat dua perempuan merobek gaunnya. Begitu juga orang-orang yang ada di sekitar mereka. Asha melempar sandal dengan heel lumayan tinggi yang di pinjami Paris. Sepertinya Paris juga demikian. Saat Asha melirik ke bawah, kaki Paris terlihat telanjang.

__ADS_1


"Mereka berdua benar-benar gila. Tangkap dia segera. Cepat!" kata Laki-laki yang bertikai tadi memberi perintah. Asha dan Paris langsung memberi tendangan untuk menghalau laki-laki di depan mereka yang maju hendak menerkam Sandra. Tidak menyangka dua perempuan ini menendang, dua laki-laki yang maju tadi hampir saja terkena tendangan. lalu dua orang laki-laki lain datang ikut menyerang. Perkelahian tak terelakkan lagi.


Di sini bila ada yang lagi tarung malah jadi tontonan orang-orang. Bukannya di lerai malah di panas-panasi buat terus gelut.


"Sebenarnya mereka ngapain sih?" tanya laki-laki yang duduk di sebelah Asha tadi sambil menghela napas dan mengusap wajahnya. Setelah meneguk minumannya, dia berdiri dan menghampiri mereka. Pekerja bar berteriak memanggil penjaga. Lalu penjaga datang untuk melerai mereka.


"Hentikan kalian semua!!" teriak laki-laki tadi dengan sangat keras. Tapi tidak ada yang mendengarkan karena dentuman musik dari DJ.


Dorr!! Sebuah tembakan keluar dari moncong senpi milik lelaki ini yang ternyata seorang anggota kepolisian. Dia sedang bertugas di sini. Perkelahian terhenti seketika. Semua melihat ke arah suara tembakan terdengar.


Kepalanya mendongak ke atas langit-langit klub malam ini. Dimana pelurunya bersarang di sana. Lalu mendesah.


Kenapa harus menarik pelatuk di sini.. Sesalnya lagi.


Mendengar suara tembakan ini, semua panik. Hingga terjadi keributan di dalam klub malam. Semua berhamburan keluar. Paris yang terlanjur sudah melesakkan pukulan ke wajah laki-laki yang bertikai dengannya saat suara tembakan terdengar, sudah tak bisa di hentikan. Laki-laki yang memakai setelan jas rapk itu tersungkur ke tanah.


"Kakakkk!!" teriak Sandra panik dan terkejut. Namun bukan hanya Sandra yang tersentak kaget. Asha dan Paris yang mendengar teriakan ini langsung melihat ke arah laki-laki itu. Mata mereka melotot seperti akan keluar dari bingkainya. Sandra menghampiri laki-laki yang disebut kakak itu.


Kakak? pekik Paris dan Asha dalam hati. Mereka berdua saling menoleh.


"Aku sudah memperingatimu tadi," ujar laki-laki itu ke Asha setengah berbisik. Bibir Asha menipis dan menggeram. Dalam hati dia mengumpat habis-habisan kenapa harus terlibat hal konyol nan dramatis milik Paris. Wajah Paris jadi lesu dan lencu juga. Antara bengong, bingung dan panik.


Saat melewati mobil Angga, Paris kasih kode minta tolong ke Angga yang bengong melihat majikan dan rekannya di giring polisi. Dia sempat tertidur tadi karena rasa melilit di perutnya. Dan mendelik kaget karena mendengar suara tembakan dari dalam klub. Disaat bangun dia sudah melihat nona muda dan Asha di giring naik ke mobil patrol yang menuju ke kantor polisi.


Angga yang sudah mulai sehat mulai masuk mobil dan mengikuti mobil patroli dimana Asha dan Paris di giring. Semua pelaku perkelahian di dalam klub di suruh mengisi laporan. Yang menghambat Paris dan Asha adalah mereka tidak membawa kartu identitas. Asha sudah punya tapi tidak membawa. Sementara Paris masih belum punya kartu identitas karena ternyata belum tujuh belas tahun.


Asha dan Paris termangu. Aksi heroik mereka justru membuat masalah bagi diri mereka dan orang lain.


Laki-laki yang sudah di panggil kakak oleh Sandra itu punya nama Biema. Dia anak nomor dua keluarga Nugraha pemilik perusahaan textil yang saat ini mrnjabat direktur. Asha maupun Paris hanya terdiam saat di interogasi terkait penyerangan terhadap putra kedua keluarga Nugraha itu. Pikiran mereka di gelayuti geram, marah dan malu.


Angga yang sudah datang sebagai wali pun di tolak karena bukan keluarga. Akhirnya Angga menelepon Rendra dengan di dikte oleh Paris. Karena tidak mungkin memberitahu majikan di rumah.

__ADS_1


Karena Paris juga sudah meminta ijin lagi karena akan pulang sekitar jam 11 malam, Nyonya Wardah tidak khawatir. Mungkin mereka juga sudah tidur karena merasa sudah ada Angga dan Asha yang menemani Paris.


Sandra juga ikutan bingung dan merasa tidak enak sama Asha dan Paris. Ternyata Sandra sedang berusaha kabur karena ketahuan berada di klub malam oleh kakaknya yang kebetulan sedang datang ke klub malam itu bersama beberapa pengawal setelah jamuan makan dengan orang penting.


Paris dan Asha sudah tidak sanggup lagi untuk marah. Mereka hanya bisa diam dan mendengarkan ceramah petugas polisi yang sebenarnya juga kurang masuk di gendang telinga mereka. Mereka sangat malu hingga merasa ingin menutup kepala dengan apa saja asal tidak bisa melihat wajah-wajah orang-orang di situ, terutama Biema. Direktur itu.


Paris yang melirik ke arah sana langsung menarik lirikannya ke bawah. Ke arah tangannya yang menyatu di atas pangkuannya. Dengan wajah lebam dua bola matan direktur itu menatap tajam dari tempat duduknya.


***


Arga yang sedang teralihkan oleh keberadaan Asha lupa bahwa ada petugas polisi yang senior sudah menunggu kedatangannya dengan sabar.


"Tuan," tegur Rendra pelan. Arga langsung tersadar bahwa dia sedang mendekat ke arah Brigadir Sugianto yang menangani. Berjabat tangan dan di persilahkan duduk di sofa. Brigadir Sugianto mengikuti langkah Arga yang beranjak pergi ke sofa. Menghempaskan punggungnya di ikuti Dirga yang kemudian duduk di sampingnya.


"Apa yang sudah adik saya lakukan, Pak?" tanya Arga. Dirga noleh. Rupanya direktur ini benar-benar tidak mendengarkan semua perkataannya. Buktinya dia masih bertanya.


"Adik-adik anda tidak melakukan apa-apa. Mereka berdua hanya melakukan pembelaan diri. Semua ini hanya karena telah salah paham," jelas Brigadir Sugianto tenang. Rupanya Bapak polisi ini mengira Asha juga adalah adik dari direktur perusahaan yang bergerak di bidang ritel ini. Arga menoleh ke Dirga. Bertanya tentang kasus yang menyangkut dua perempuan di sana.


Soal apa ini? Kedua alis Arga mengerut. Lalu menoleh ke Dirga dengan tatapan bertanya.


Sementara lelaki pucat itu melihat dengan malas dan enggan karena sudah merasa di abaikan. Tadi sudah di beri laporan tapi tidak di dengarkan. Justru fokus ke hal yang lain.


Namun saat akan menjelaskan, Brigadir Sugianto melanjutkan bicaranya, "Semua sudah di selesaikan dengan baik oleh pengacara anda. Sebenarnya bukan masalah besar. Hanya saja tolong adik-adik anda di beri bimbingan lagi untuk tidak masuk klub malam. Apalagi ada diantara mereka bedua yang masih belum genap delapan belas tahun," ucap Brigadir Sugianto masih tenang. Arga tidak habis pikir.


Mereka dari klub malam? Ada apa dengan mereka?


"Mungkin memang mereka membela diri karena di serang, tapi membuat keonaran di suatu tempat juga termasuk suatu pelanggaran," terang Bapak Sugianto lagi.


Keonaran? Mereka berdua? Paris dan Asha? Mata Arga melihat ke arah mereka berdua yang masih tertunduk lesu di kursinya.


Mendengar penjelasan dengan sabar dan tenang dari polisi yang sudah lebih senior dari mereka, membuat Arga perlu meminta maaf sambil membungkukkan badan. Hingga tidak mengurangi rasa hornat mereka kepada polisi senior itu.

__ADS_1


"Maafkan perbuatan adik saya Bapak..." ucap Arga tulus sambil membungkuk hormat yang di ikuti Rendra, Dirga dan Angga.



__ADS_2