Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Aku lelaki, Sha..


__ADS_3


Benarkah boleh seperti ini? Benarkah aku boleh menuruti hati kecilku untuk sedikit bersenang-senang menjadi orang spesial bagi dia? Sepertinya aku juga ingin masuk kedalam dunia yang Arga bilang ada keajaiban di dalamnya. Seorang pembantu yang menjadi kekasih majikannya. Bukankah itu salah satu keajaiban dalam dunia nyata? tanya Asha dalam hati.


Walaupun ini sedikit tidak sesuai dengan hal-hal yang baku, aku ingin tetap mencoba masuk kedalam dunia itu. Mencoba menjalani dan mencicipi rasanya berada dalam dunia yang berisi keajaiban dan hal-hal diluar pemikiranku selama ini.


Mungkin nanti akan ada seruan tidak suka tentang kurang tepatnya pilihanku, dari orang-orang di luar sana. Aku yakin. Namun ini terlalu bagus untuk dilewatkan. Baiklah, aku akan mengambil kesempatan ini. Toh, bukan aku dulu yang memulai, tetapi dia..


"Aku sudah dengar pengakuanmu, Tuan Muda. Aku punya banyak pekerjaan. Jadi sekarang lepaskan aku," pinta Asha dalam ketenangannya dalam pelukan Arga. Kali ini Arga menyetujui perkataan Asha. Dia melepaskan tubuh gadis itu. Asha menghela napas lega. Arga baru menyadari wajah Asha yang merona merah setelah melepaskan pelukan. Warna merah itu menjalar dari wajah ke leher dan telinganya.


"Aku yakin kau sedang tersipu malu mendengar pengakuanku dan menerima pelukanku, Sha," ujar Arga seraya tersenyum dengan nakal dan menggoda.


"Diamlah, tukang ingkar janji," sembur Asha sambil mengibaskan tangan tegas di depan Arga. Lelaki itu mengerutkan kening. Membentuk kerutan samar pada keningnya.


"Aku ingkar janji?" tanya Arga seraya mengangkat alisnya.


"Jelas sekali kau tidak akan ingat apa yang sudah kau ucapkan. Buktinya saja kau sudah mengingkarinya," gerutu Asha.


"Karena aku menciummu tanpa meminta ijin?" tebak Arga yang sesungguhnya paham maksud Asha. Hanya saja dia tidak ingin langsung menunjukkan bahwa ia memang paham maksud Asha. Dia ingin membiarkan Asha larut dalam kekesalan yang membuatnya terlihat menggemaskan.


"Ya." Asha mendengkus lalu mengkerucutkan bibirnya. Melihat Arga dengan tatapan mengejek.


"Maaf," ucap Arga dengan raut wajah hangat. Dia bersungguh-sungguh dalam mengucapkannya. Ada rasa bersalah juga disana. Asha melirik ingin tahu. Lalu membuang muka ke arah lain.


"Kau jadi seperti ingin menerkamku. Sejak pertama," gerutu Asha dengan penekanan pada kalimat terakhir. Matanya melirik tajam saat mengucapkannya. Mengingatkan lagi kecupan pelan di malam itu. Di dapur. Ciuman ini pengalaman baru bagi Asha. Lelaki pertama yang menyentuh kulit bibirnya adalah dia, yang sekarang tengah berdiri menatap dirinya.


"Ciuman pertama mungkin adalah kesalahan, Sha. Namun itu jadi kesalahan manis yang berlanjut bagiku. Terima kasih. Untuk ciuman kedua, mungkin saja itu karena nafsu," ungkap Arga jujur tanpa merasa malu. Justru wajah Asha yang merona karena malu.


"Kau sungguh tidak tahu malu, Ga," cemo'oh Asha sambil menggelengkan kepala. Arga hanya tersenyum tipis mendengar cemo'ohan dari perempuan ini.


"Karena aku lelaki, Sha. Mungkin melihatmu yang terlihat manis membangkitkan gairahku untuk menciummu, tapi... jangan pernah kau berpikir bahwa gairahku ini bisa muncul saat melihat semua perempuan," ucap Arga dengan ekspresi wajah yang menyatakan ini benar adanya. Asha mendongak dan melihat wajah Arga yang mengeras. Bukan marah, lelaki ini hanya ingin mengatakan apa yang mengganggu hatinya.

__ADS_1


"Aku marah, karena kau menganggap perhatianku padamu selama ini adalah lelucon. Kau melihatku dengan enggan saat menerima perlakuanku. Seakan-akan aku dengan mudah, bisa memberikan perlakuan seperti itu pada semua perempuan. Itu benar-benar membuat hatiku sakit, karena aku tidak begitu. Aku memang sedang bermain-main denganmu, tapi aku tidak pernah mencoba bermain dengan melibatkan hati kalau aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku padamu," jelas Arga panjang, tapi mampu di serap dengan baik oleh otak Asha.


"Benarkah? Bukankah kau menciumku karena Chelsea?" tanya Asha yang langsung membuat wajah Arga masam. Tidak menyangka Asha akan menyebut nama itu saat ini. Nama itu jadi sangat mengganggu di telinga Arga. Tubuhnya sudah di depan timba cuciannya lagi.


"Kau sungguh menyebut nama itu karena sengaja membuatku gusar, ya?" tanya Arga dengan memiringkan kepala tidak suka, Asha menyebut nama mantan tunangannya. Arga mendekat.


"Aku hanya menebak. Tidak ada niat lain," jawab Asha tanpa menoleh. Tangan Asha mulai menjemur pakaian lagi. Dia juga mengatakannya seakan tidak ada apa-apa. Nadanya biasa dan datar. Seperti tidak peduli seseorang akan marah atau bagaimana dengan pertanyaannya. Arga menarik tubuh Asha lagi dan memeluknya dari belakang.


"Lepaskan," gerutu Asha karena sudah merasa cukup banyak pelukan dipagi ini.


"Aku mencintaimu Sha. Gairah ini muncul karena aku mencintaimu. Bukan hanya karena aku lelaki. Chelsea memang sempat jadi orang penting dalam hatiku, tapi saat aku sudah mengungkapkan perasaanku padamu, itu menunjukkan dihatiku sudah tidak ada lagi nama orang lain. Sepertinya bibirmu terlalu kejam jika harus menyebut nama itu saat aku sudah mengungkapkan perasaanku padamu, hm?" ujar Arga di telinga Asha sambil memeluk lembut tubuh Asha dari belakang.


Asha terdiam sejenak mendengar untaian kata Tuan Muda tampannya. Menatap jemurannya mulai ada yang sudah mengering. Arga melepaskan lengannya. Lalu memutar tubuh Asha agar berdiri menghadapnya. Lalu tangannya turun untuk meraih tangan Asha. Menyentuh pergelangan tangannya yang sudah mulai kembali berwarna normal.


"Maaf, tadi mencengkeram pergelangan tanganmu dengan kuat. Masih sakit?" tanya Arga sambil menatap pergelangan tangan Asha dengan penuh perhatian. Asha tidak menyangka Arga masih ingat tentang itu.


"Tidak," jawab Asha memalingkan wajah. Telinganya memerah. Setelah memijitnya pelan untuk meyakinkan diri bahwa pergelangan tangan itu benar-benar tidak apa-apa, Arga menggenggam kedua tangan Asha.


"Jadi... hari ini kita jadian, Sha?" tanya Arga ingin menegaskan. Sekarang dia justru mirip dengan seorang anak yang masih sekolah yang telah usai menyatakan cinta.


"Kau sudah menciumku lebih dari dua kali, Ga. Empat kali!" seru Asha menunjukkan keempat jarinya dengan geregetan dan geram. Arga melongok ke arah wajah Asha dengan kepala miring dan juga melihat pada jari-jari Asha yang tegas.


"Kau terlalu menggemaskan saat berwajah merah merona seperti itu," ujar Arga gemas. Asha merengut.


"Dasar mesum__" desis Asha geram. Arga menarik tubuhnya.


"Aku tidak menyangka kau akan menghitung jumlah kita berciuman dengan akurat," Arga mengerjapkan mata kagum.


"Ini bukan waktunya kagum. Aku bukan mengatakan ini untuk kau kagumi. Berhenti mengancam akan menciumku. Lalu... kau terlalu banyak menjamahku. Pagi ini sudah cukup dengan sentuhan, pelukan dan ciuman. Aku mau bekerja," ujar Asha sambil menunjuk ke arah Arga dengan penuh peringatan.


"Bekerjalah... biarkan aku di sini," kata Arga seraya meletakkan punggungnya di atas bangku kayu tempat dia dapat melihat Asha melakukan rutinitasnya.

__ADS_1


"Terserah, tapi jangan menggangguku," Asha melangkah mendekat ke timba yang berada di tengah area penjemuran. Dia tidak langsung melakukan pekerjaannya. Tangannya masih membuka gelungan rambutnya yang berantakan karena di peluk Arga.


Arga memperhatikan dengan seksama gadis sederhana tapi nampak istimewa di depannya. Saat itu angin pagi sedang bertiup sepoi-sepoi. Menggerakkan rambut Asha yang panjang dan hitam legam bercahaya. Menandakan rambut itu belum pernah tersentuh pewarna rambut apapun. Rambut itu terurai dengan indah dan bergerak terkena hembusan angin saat Asha menyisirnya dengan jari. Sinar matahari yang terik ini juga seperti tidak terasa panas. Hanya hangat yang menyentuh permukaan kulit.


Angin yang bertiup pagi ini juga membuat jemuran yang sejak tadi sudah di jemur bergoyang mengikuti arah angin karena sudah terlihat mengering. Seperti sedang menari-nari turut bergembira akan pengakuan Tuan muda pada gadisnya. Suasana ini sama saat pertama kali Arga menemukan Asha di antara jemuran yang berkibar.


Di tempat ini Arga berhasil menemukan dan sadar akan keberadaannya di rumah ini untuk pertama kali. Di sini juga akhirnya Arga berhasil mengungkapkan perasaannya.


"Kak Ashaaaa!!" teriak Paris dari arah pintu belakang rumah utama. Membuyarkan lamunan Arga. Asha dan Arga menoleh ke arah suara Paris bersamaan. Gadis itu melangkah menuju tempat Asha. "Eh... kakak ada di sini?" tanya Paris kaget. Tubuhnya sempat berjingkat tadi. Tidak menyangka ada kakaknya.


"Kenapa panggil-panggil Asha?" tanya Arga seraya mengangkat dagunya ingin tahu. Juga karena adiknya telah merusak lamunan indahnya.


"Ada perlu," kata Paris singkat. Lalu berlari kecil menuju ke arah Asha yang masih menoleh menunggu kedatangannya.


"Aku ketemu cowok tampan di pasar itu..." cerita Paris sambil gemetar-gemetar kesenangan. Asha juga tersenyum mendengar curhatan itu. Tiba-tiba Paris berhenti dari acara geregetannya.


"Kakak lagi panas dalam, yah?" tanya Paris sambil melihat wajah Asha terperinci.


"Enggak.." jawab Asha setengah tidak yakin. Dia yakin dirinya tidak sedang panas dalam atau semacamnya, tapi Paris melihatnya seakan-akan Asha memang sedang di dera penyakit itu.


"Bibir kak Asha terlihat merah dan agak membengkak," tunjuk Paris dengan telunjuk yang sengaja di sembunyikan karena dia sedang menunjuk ke arah bibir milik Asha dari jarak dekat. Sesaat Asha menahan napas karena terkejut.


Ini pasti karena perbuatan Arga tadi.


"Tidak. Aku tidak apa-apa," kilah Asha sambil menipiskan bibir. Namun di dalam hati dia merutuk Arga yang sudah mencumbunya dengan serakah. Asha yang baru kali ini merasakan ciuman dahsyat seperti itu, juga baru paham kalau ternyata bibirnya sensitif dan mudah membengkak. Makanya sejak tadi terasa aneh di kulit bibirnya.


Arga yang mendengar percakapan Asha dengan Paris barusan, sempat melebarkan mata dan hanya bisa mendehem. Berusaha membasahi kerongkongannya dengan ludah. Seperti ada yang bercokol di tenggorokannya karena Paris sedang membicarakan bibir Asha.


Bisa di pastikan pelaku itu adalah dia. Itu semua di karenakan dirinya yang lepas kendali dan hilang pertahanan. Dia sudah mencumbu bibir Asha yang baru pertama kali mendapat ciuman seperti itu dengan posesif tadi.


Asha nenoleh ke Arga dengan mata tajamnya. Melihat itu Arga hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah lain. ******!

__ADS_1




__ADS_2