
Arga yakin mungkin Asha memang tidak ada keinginan untuk makan yang aneh-aneh. Istrinya ini sepertinya tidak punya rasa ngidam sama sekali. Apakah wajar? tanya Arga dalam benaknya.
Pagi ini adalah hari minggu. Arga sekeluarga berangkat ke alun-alun untuk olahraga. Meskipun itu hanya sekedar jalan kaki. Mungkin juga akan ada senam pagi nanti. Walaupun hamil, Asha masih punya semangat untuk melakukan hal ini. Mereka datang dengan mobil terpisah. Arga, istrinya dan Paris. Sementara tuan Hendarto bersama nyonya Wardah dan asistenya sebagai sopir.
Paris lagi badmood, tapi dia tetap ikut. Tujuannya untuk mengurangi rasa suntuk. Asha menyenggol lengan adik iparnya pelan.
"Butuh curhat?" tanya Asha. Kepala Paris menoleh. Diam sejenak. Lalu lihat depan lagi.
"Aku sedang malas bercerita. Walaupun sebenarnya memang butuh curhat."
"Baiklah. Aku siap menampung jika waktunya kamu mau cerita." Asha tidak memaksa.
Arga jalan kaki berjejer dengan bunda. Kalau ayah tentu dengan asistennya di depan. Melihat Arga mensejajarinya, nyonya Wardah keheranan. Karena putranya ini akan menempel terus sama istri kalau lagi begini.
"Ada apa?" tanya bunda langsung.
"Kenapa tanya ada apa, Bun?"
"Kamu pasti ingin bertanya tentang sesuatu, kan? Ayo cepat tanya. Bunda yakin kamu ini sedang mendekati bunda buat nanya-nanya. Apa?" Arga tersenyum ketahuan.
"Bunda memang hebat."
"Tentu saja. Bagaimana bisa bunda tidak tahu gelagat kamu sangat dekat begini. Kalau ingat dulu, saat kamu mendekati istrimu, bunda tidak bisa menemukan kedekatan kalian berdua. Bunda sampai terheran-heran sendiri mengapa kamu bisa menyimpan hubungan kalian sedemikian rupa."
"Namun ayah sempat membaca tuh gelagat Arga." Kali ini Arga mengunggulkan ayahnya.
"Karena ayah punya banyak mata-mata. Asha juga terlihat biasa saja di depan Bunda."
"Bukan berarti Asha selalu berbohong sama Bunda, lho..." Arga berusaha meluruskan tentang istrinya. Dia tidak mau Asha dianggap suka berbohong.
"Iya. Bunda ngerti. Bukan itu maksud bunda. Sekarang cepat tanya Bunda. Kamu mau diskusikan apa?" Bunda menyiapkan diri untuk mendengarkan putranya.
"Emm ... itu."
"Iya, Asha kenapa?"
"Kenapa jadi Asha?" tanya Arga terkejut.
__ADS_1
"Kamu itu yang di tanyakan ke Bunda soal apalagi kalau bukan tentang istrimu yang hamil."
"Memang benar." Arga tersenyum. Dari arah Arga yang sedang berjalan, sengaja Arga melihat kebelakang. Melihat-lihat apa istrinya sedang mendengar pembicaraannya dengan bunda atau tidak. Ternyata justru dia menemukan hal lain. Mereka, dua perempuan itu, Paris dan istrinya sedang berhenti.
"Ada apa?" tanya bunda yang menunggu putranya bertanya.
"Eh, sebentar." Arga berhenti. Bunda juga ikut berhenti. Arga melihat ke arah istrinya di belakang sana. Mencoba bertanya ada apa dengan isyarat.
"Memangnya ada apa?" tanya bunda lagi.
"Em...sepertinya tidak jadi pertanyaannya, Bun. Aku ke Asha dulu. Bunda gabung dulu sama Ayah." Arga dengan setengah memaksa membimbing bundanya untuk gabung berjalan bersama ayah dan asistennya. "Yah, bunda sama Ayah dulu. Aku berpencar sejenak sama Asha dan Paris." Bunda bermuka masam karena sebenarnya sedang tidak ingin mengganggu suaminya berbincang. Namun Arga memaksa. Akhirnya nyonya Wardah menurut.
Setelah menitipkan bunda kepada ayahnya, Arga bergegas menuju ke arah istrinya. Dimana mereka berhenti tiba-tiba tadi. Namun Arga sudah tidak bisa menemukan dua perempuan itu di sana. Tak di duga Asha menarik lengannya tiba-tiba. Arga lega akhirnya bisa menemukan istrinya.
"Ada apa? Sepertinya ada hal yang gawat."
"Paris. Paris sedang naik darah." Setengah menyeret lengan suaminya, Asha mengajak suaminya melihat Paris yang sudah berdiri tegak di pinggir batas paving dan rumput alun-alun.
"Karena?" Kening Arga mengernyit.
"Oh, Evan."
"Bukan dia, tapi cowok yang sedang bersama mereka," bisik Asha. Paris masih tetap memandangi mereka.
"Cowok? Hmm... " Arga mencoba berpikir. Diantara mereka memang ada seorang cowok. Arga terkejut. "Cowok di pasar itu? Teman Paris?"
"Lebih tepatnya, pacar Paris." Asha berbisik takut membuat adik iparnya meradang.
"Jadi dia pacar Paris. Lalu?"
"Lihatlah dia. Dia sedang bersama Chelsea dan Evan. Kamu tahu kan adikmu enggak suka sama Chelsea."
"Karena ceritaku dan dia?"
"Tepat."
"Terus apa hubungannya pacar Paris itu sama Chelsea?" tanya Arga tidak paham.
__ADS_1
"Cowok itu keponakan Chelsea," jawab Paris ketus. "Kenapa kakak enggak kasih tahu aku saat tak sengaja bertemu dengan Lei saat itu?" tegur Paris dengan wajah marah. Arga sungguh enggak paham. Asha hanya diam. Dia ingin membela suaminya, tapi sepertinya saat ini tidak tepat. Tanpa permisi Paris pergi begitu saja.
"Keponakan Chelsea? Siapa? Dia?" tanya Arga sungguh kebingungan. Asha hanya mengusap rambutnya. Tidak menjawab pertanyaan suaminya.
"Hei, Arga! Kalian juga ke sini?!" seru Evan senang saat melihat Arga dan istrinya ada di pinggir lapangan. Chelsea dan cowok itu ikut menoleh ke arah mereka berdua. Tangan Evan melambai meminta Arga dan Asha bergabung.
"Mau ikut gabung?" Arga justru meminta pendapat Asha.
"Kenapa harus bertanya?"
"Aku hanya bertanya jika saja kamu tidak mau bergabung dengan mereka. Bukan karena masa lalu aku dan Chelsea, tapi apa kamu berkenan gabung. Itu saja."
"Aku tidak masalah. Enggak apa-apa sama bunda dan Paris?"
"Aku rasa aku dan Chelsea adalah masa lalu. Cerita itu tidak ada hubungannya dengan masa sekarang, dimana aku yang menjadi suami kamu."
"Kalau begitu ayo aja."
"Baiklah. Ayo kita kesana." Meskipun mengiyakan, Asha masih saja menoleh ke belakang mencari keberadaan Paris. Dia khawatir. "Paris di urus nanti. Aku juga ingin tahu siapa pacar adikku itu." Asha setuju.
Evan menyambut temannya dengan gembira. Lei mengangguk. Menunjukkan kesopanannya terhadap kakak pacarnya.
"Perut Chelsea benar-benar membesar." Asha menunjukkan kekagumannya. Chelsea tersenyum. Evan dengan bangga mengelus perut istrinya.
"Ini siapa?" tanya Arga menunjuk Lei dengan tatapannya. Melihat tatapan menyelidik kakak pacarnya, Lei jadi sedikit gugup.
"Dia sepupu jauh Chelsea yang tinggal di rumah lama dengan kakaknya," terang Evan mewakili istrinya. "Biar rumah Chelsea dulu enggak kosong. Jadi istriku memberi ijin."
"Sepupu, ya?"
"Mungkin kamu baru tahu karena memang baru kali ini tinggal di sini. Kenapa malah tanya soal dia?" tanya Evan heran.
"Karena Paris, ya?" todong Chelsea secara langsung. Dia tahu, sejak tadi Arga selalu menatap keponakannya dengan menyeluruh. Seperti sengaja memindai agar bisa membaca bagaimana Lei sebenarnya.
Evan menoleh ke arah istrinya. "Paris? Kenapa dengan Paris?" Evan tidak mengerti. Arga diam tidak menjawab. Lei juga tidak segera mengatakan yang sebenarnya. Chelsea sepertinya tahu soal Lei dan Paris tapi perempuan ini langsung menoleh ke arah lain. Tidak menjawab pertanyaan suaminya.
__ADS_1