
Ternyata tirai kamar itu sudah terbuka. Hingga mampu memperlihatkan tampilan seorang laki-laki yang sedang berdiri di sana. Dengan kaos oblong warna hitam dan celana pendek di bawah lutut berwarna navy, dia bersandar pada pilar yang ada di sebelah kanan. Laki-laki itu melihat ke arah tempat Asha melakukan kegiatan rutinnya.
Dia sudah bangun, ucap Asha dalam hati.
Walaupun sudah ketahuan sedang melihat ke arah jendela itu, Asha tidak cepat-cepat membuang muka. Perempuan muda ini ingin mengalihkan pandangan ke arah cucian di bawah -di dalam timba- dengan perlahan. Dia sedang mencoba sewajar mungkin meskipun itu percuma. Netra laki-laki di atas itu, sudah melihat bahwa perempuan ini sedang memperhatikan jendela kamar tidurnya.
Memperhatikan ke arah kamarku? Sebenarnya apa yang sedang di pikirkannya saat memperhatikan kamarku?
Perempuan itu benar-benar sudah membuat cemas. Meskipun aku memang ingin bertemu dengannya, aku tidak menyangka bisa segera bertemu dengannya tadi malam. Namun bertemu dengan moment seperti itu sangat mengejutkan. Dia memang terlalu unik.
Arga tersenyum sambil terus memperhatikan gadis yang masih menjemur pakaian itu. Lalu Arga mengangkat handphone yang sedang di pegangnya. Menekan tombol lalu mendekatkan handphone pada indra pendengarannya. Rupanya dia sedang mencoba menghubungi seseorang. Setelah nada tunggu berdering, akhirnya ada juga suara yang menerima panggilan itu.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Rendra di seberang. Arga sedang menelepon sekretarisnya.
"Hari ini aku tidak akan berangkat ke kantor. Kamu juga tidak perlu masuk kerja. Kamu boleh beristirahat dengan nyaman di rumah. Kita mulai bekerja lusa saja. Hari ini aku sangat lelah. Maaf aku terlambat memberitahumu karena aku baru bisa menghubungimu sekarang," kata Arga memberitahu.
Ya. Arga baru saja bangun lalu membersihkan diri. Kemudian membuka tirai hingga sinar matahari bisa menyentuh ruang pribadi ini. Dia juga langsung berdiri di dekat dinding kaca yang lebar ini. Lelaki ini lebih memilih pagi yang cerah ini untuk melihat perempuan di bawah sana terlebih dahulu daripada menelepon Rendra.
"Baik Tuan. Terima kasih," jawab Rendra yang ternyata sudah bersiap akan berangkat kerja. Lelaki ini sudah berpakaian rapi. Dia sudah memakai setelan jasnya. Karena dia harus memakai motor untuk ke rumah Direktur Arga terlebih dahulu karena mobil kantor ada di sana, dia sengaja bersiap lebih pagi. Tangannya masih menatap layar handphone. Setelah mendesah, lalu kakinya mengajak tubuh itu untuk menuju ke kamar tidur.
Sebenarnya dia juga masih lelah. Namun karena hari ini adalah hari aktif bekerja, dia memaksa tubuhnya untuk bangkit dari tidur dan berangkat kerja. Berita libur ini sangat menyenangkan baginya. Dia ingin tidur lagi. Menuntaskan mimpinya yang sempat terpotong tadi.
Berbeda dengan Arga. Walaupun dia juga lelah, dia tidak ingin melanjutkan tidurnya. Dia ingin bangun dan menikmati libur. Salah satunya dengan melihat dia yang sedang melakukan pekerjaan rutinnya.
Sambil menjemur pakaian lagi, Asha sempat berpikir soal tadi malam.
Semoga tidak ada kelanjutan soal tadi malam. Ini bisa jadi bencana. Tuan muda itu sepertinya tidak bekerja hari ini. Berarti itu seharian ini dia akan terlihat terus, Asha membuat keinginan dalam hati.
.
__ADS_1
.
Di dapur,
.
.
"Paris, bangunkan kakakmu," perintah Nyonya Wardah. Paris yang sudah menyelesaikan kegiatan memotongnya melihat ke bundanya dengan bingung. Dia tidak ingin bertemu kakaknya itu. Walaupun nanti pasti akan bertemu, tapi tidak pagi ini. Terlalu cepat jika harus pagi ini. Paris belum siap.
Tadi malam saja tidur menjadi tidak nyenyak lantaran kepikiran sama kakaknya. Arga sempat melontarkan ingin memarahi Paris, tapi karena sudah lewat tengah malam kakaknya mengurungkan niat untuk memarahinya. Tetapi bukan tidak memarahi, hanya akan menunda kemarahan. Yang artinya itu adalah sewaktu-waktu Arga akan memarahi Paris habis-habisan.
"Biasanya dia bangun sendiri kan, Bun..." Maksud Paris menolak dengan penolakan halus.
"Mungkin dia kecapekan dan tidak bisa bangun pagi. Bangunkan saja," Nyonya Wardah tetap menyuruh Paris membangunkan Arga.
"Aku bantu Bunda cuci piring saja," Paris segera menuju bak cuci piring di sebelah Bik Sumi. Padahal Bik Sumi mau mencuci perabot. Jadi beliau minggir di gantikan sama Paris.
"Bunda bilang aku di suruh latihan menjadi istri yang baik. Ya ini di mulai dengan mencuci piring dulu..." Paris mulai bisa menguasai keadaan. Dia mengatakannya dengan senyum menawan. Alasannya kali ini sangat bagus dan menyentuh hati.
"Bunda paham tapi cepat ke kamar kakakmu. Kamu tidak sedang menyuruh bunda sendiri yang menuju kamar kakakmu kan?" Ini bukan pertanyaan biasa, Bunda sedang melakukan intimidasi.
"Baiklah...," Paris akhirnya menyerah dan mencuci tangannya. Saat itu Asha masuk dari pintu belakang. Dia hendak menanyakan cucian ke Bik Sumi. Wajah Paris sumringah.
"Bunda, aku pinjam kak Asha dulu," kata Paris dengan bahagia dan tiba-tiba. Mata Asha sudah melebar dan hendak menolak ajakan Paris. Dia trauma dengan ajakan nona muda sableng ini. Paris memaksa dengan menarik lengan Asha. Sekarang melihat Paris menarik lengan Asha pelayannya, jadi tontonan biasa dalam rumah ini. Asha ini layaknya teman bermain untuk Paris.
Dengan berat hati Asha melangkahkan kaki mengikuti Paris. Berdiri di dekat tangga menuju lantai dua.
"Ada apa?" tanya Asha was-was. Sekarang ikut dengan Paris seperti sebuah kotak pandora yang saat di buka akan membuat dirinya masuk ke dalam dunia baru dan ajaib.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Paris yang terlihat sangat khawatir. Rasa was-was Asha menurun. Raut wajah Paris mengatakannya dengan sungguh-sungguh, "Kak Arga tidak memecat kakak kan? Dia tidak marah-marah atau bagaimana ke kakak kan?" Asha menggeleng.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak apa-apa." jawab Asha. Dari pilihan jawaban yang di berikan Paris soal Tuan Muda tadi malam, mungkin lebih tepatnya Asha bisa memilih pilihan ketiga.
Dia memang bagaimana ke aku. Memberikan jasnya dengan suka rela untuk menutupi gaun kita yang sangat mencolok robekannya tadi. Iya, ya... aku belum mencuci jas itu. Bagaimana aku bisa membawanya tanpa di ketahui Rike?
"Kakak ikut aku ya..." Mendengar kalimat ini bagaikan petir menyambar bagi Asha. Ajakan-ajakan maut yang membawanya ke arah jalan yang menciptakan sebuah kejadian yang sensasional dan memalukan.
"Tidak," tolak Asha tegas dengan tangan tegas di depan wajah putri majikannya. Jangan lagi ada hal-hal aneh. Asha tidak mau terulang hal seperti itu lagi.
"Aku tidak akan mengajak kakak keluar dan bikin onar kayak kemarin kok. Ups.." Paris menutup mulutnya sendiri karena suaranya terlalu keras seraya melihat ke sekeliling. Takut ada yang mendengar. "Ayolah.. Aku hanya mengajak kakak ke lantai dua. Ke atas," tunjuk Paris ke lantai dua. Dia memang sedang ada keperluan di lantai dua.
"Soal gaunmu aku tidak bisa mengembalikan sekarang. Itu masih robek kan, jadi... " Asha teringat gaun hitam yang di robek paksa tadi malam.
"Aku tidak membahas itu," ujar Paris sambil mengibaskan tangannya, "Terserah mau kakak apakan baju kenangan memalukan kita itu. Aku hanya akan mengajak kakak ke atas," Asha melihat ke lantai dua.
"Beneran bukan mengajak keluar jalan-jalan kan?" kata Asha ragu. Paris menggeleng, "Tapi aku masih harus menanyakan cucian ke Bik Sumi." Asha masih ingat tujuannya masuk ke dapur tadi.
"Di atas ada. Di dalam kamarku masih ada cucian. Kakak juga bisa mengambilnya." Akhirnya Asha setuju mengikuti Paris menaiki tangga menuju lantai dua. Kepala Asha melihat kanan dan kiri merasa sangat asing. Ini bukan lorong menuju kamar Paris!
"Kita mau kemana? Ini bukan arah ke kamar kamu," tanya Asha saat melewati lorong yang tidak pernah terjamah oleh Asha sebagai pelayan di bagian paling belakang sendiri. Paris tidak menjawab. Tibalah mereka berdua pada sebuah pintu ruangan. Sebelum mengetuk pintu, Paris melakukan peregangan dulu. Asha melihat dengan heran kelakuan aneh nona mudanya. Dia semakin tidak tenang.
"Kenapa melakukan peregangan? Kita bukan akan mendobrak pintu ini, kan?" tanya Asha cemas. Paris menggeleng.
"Tidak mungkin. Aku akan di hajar Bunda habis-habisan bila melakukannya." Paris memainkan mata dan kepalanya dengan tenang untuk membuat Asha percaya.
"Tapi apa yang sedang kamu lakukan? Ini seperti kita akan bertempur. Kita seperti mau menghadapi seseorang yang kuat." Paris mengangguk.
Kenapa justru kepalamu mengangguk wahai nona muda? Sebenarnya kita mau apa?!
Semua tingkah laku nona muda membuat Asha panik dengan banyak bayangan di kepalanya. Dia menjadi resah dan gelisah.
__ADS_1