
Pagi ini kaki Arga sudah melintas di dapur. Handphone Asha terus saja tidak bisa di hubungi, meski dia meneleponnya berulang-ulang. Semua itu membuat Arga berinisiatif menemui gadis itu di tempatnya melakukan kegiatannya.
Bola mata Nyonya Wardah yang sedang memasak, menoleh dengan heran. Bukannya berhenti di dapur, putra sulungnya itu langsung menuju pintu belakang yang terhubung dengan area penjemuran. Dia membuka pintu dan menghilang di sana.
Pagi seperti ini sudah ke area itu jelas hal baru bagi Arga. Hingga kening Nyonya Wardah perlu membuat kerutan samar sebentar, guna berpikir, ada apa dia pagi-pagi sudah menuju ke area yang biasanya tidak dia datangi.
"Arga kenapa pagi-pagi ke area belakang, Bi?" tanya Nyonya Wardah menanyakan hal ini ke Bik Sumi.
"Mengantar cucian mungkin Nyonya," tebak Bik Sumi yang memang tidak melihat tuan mudanya melintas. Beliau hanya coba mengira-ngira kemungkinan keperluan Arga bila menuju ke belakang. Bik Sumi sedang memotong sayur tadi, saat Arga lewat.
"Belakangan ini, Arga terlihat sering mengelilingi rumah. Bahkan tempat yang biasanya tidak di lihat sama dia pun, sekarang coba di kunjungi. Contohnya area belakang. Mana peduli dia sama tempat paling belakang itu dulu," kata Nyonya Wardah yang mulai merasakan perbedaan Arga yang dulu sama yang sekarang.
"Bosan kalau harus berada di kamar terus mungkin, Nyonya," tebak Bik Sumi lagi. Semua hanya terkaan saja, karena Bik sumi kurang memperhatikan.
"Mungkin seperti itu. Dia juga semakin ceria dan bersemangat. Tidak seperti saat bersama mantan kekasihnya. Bibik paham maksud saya, kan?" tanya Nyonya Wardah sambil memasukkan penyedap rasa ke dalam tumisannya.
"Nona Chelsea maksud anda, Nyonya?"
"Ya ..., itu," jawab Nyonya Wardah seperti kurang bersemangat saat mengatakannya.
"Arga seperti selalu saja dalam keadaan tidak sabar. Dia jadi mudah tertekan." Masih dalam ingatan tentang saat-saat itu. Bik Sumi sering jadi tempat curhat majikannya.
"Sekarang Tuan Muda memang lebih ramah dan bersahabat, Nyonya ...," kata Bik Sumi masih dengan nada sopan. Untuk ukuran pekerja dan majikannya, mungkin terlihat kurang tepat, tapi beliau sudah mengabdi pada keluarga Hendarto sudah lama. Sejak Arga masih duduk di bangku sekolah. Jadi mereka berdua sudah sangat dekat.
"Benar itu, Bi ...." Nyonya Wardah mengangguk setuju sama pendapat Bik Sumi.
Sementara Arga di belakang sudah sampai di tempat cuci. Mata Rike membulat terkejut melihat tuan muda muncul di ambang pintu. Asha yang sibuk berkutat dengan cucian tidak menyadari kedatangannya. Apalagi dia tengah sedikit melamun. Rike menekuk tubuhnya memberi hormat. Arga mengangguk menerima salam Rike.
Kaki Arga melangkah masuk perlahan. Kakinya berhenti saat melihat gadis itu sedang menekuk tubuhnya sambil duduk jongkok di depan mesin cuci. Tangannya bertumpu pada lutut untuk menopang kepalanya. Jari telunjuknya sekali-kali mengetuk-ngetuk kepalanya pelan. Seperti terdengar ada sebuah nada yang sedang mengalun dalam gendang telinganya. Pandangannya hanya fokus pada putaran pakaian yang bisa di lihat dari kaca mesin cuci. Namun pikirannya jelas sedang pergi berkelana kemana-mana.
__ADS_1
Rike bingung. Memilih tetap di sini atau keluar ruangan. Menilik sekarang dua manusia di depannya adalah pasangan kekasih. Sebagai rekan Asha, dia bisa ikut nimbrung saat mereka ngobrol. Di sisi lain, tentu saja dia tidak bisa bergabung karena kekasih rekannya adalah Tuan Muda.
Pilihan yang di ambil Rike adalah keluar. Walaupun tuan muda mungkin memperbolehkan, dia tidak akan bisa tinggal di sana dan melihat mereka berduaan. Apalagi Rike sempat menyaksikan mereka berdua yang sedang berciuman. Dalam bayangan Rike, bisa saja saat ini mereka juga akan melakukannya.
Rike membungkuk, bermaksud meminta ijin untuk keluar. Arga tidak menanggapi karena Rike langsung keluar ruangan sesaat setelah tubuhnya membungkuk.
Tubuh gadis di depannya beranjak berdiri dan heran mendapati tuan muda sedang di depannya. Arga tersenyum melihat gadisnya menemukannya terlebih dulu sebelum berhasil mengagetkannya dengan sentuhan.
"Kau ada di sini?" tanya Asha.
"Iya."
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu duduk di depan mesin cuci dan terhanyut dengan lamunan," jelas Arga sambil menunjuk ke bawah. Ekor mata Asha melihat ke bawah tempat dia melamun tadi. Kepalanya mengangguk-angguk mengerti.
"Rike mana?" tanya Asha yang melihat ruang cuci hanya tinggal berdua, Dia dan Arga.
"Kamu menyuruhnya pergi?" selidik Asha.
Arga tersenyum, "Tidak. Dia sendiri yang ingin pergi. Inisiatifnya sendiri. Bukan aku yang menyuruhnya," jelas Arga mengerti kalau Rike takut padanya. Tanpa di suruhpun dia akan pergi. "Sedang apa?" tanya Arga mendekati mesin cuci.
"Jelas mencuci. Tugasku kan itu. Kenapa kesini?" tanya Asha yang mulai menekan tombol agar air kotor bekas cucian bisa di buang.
"Ingin bertemu," sahut Arga tanpa basa-basi.
"Itu saja?" tanya Asha tanpa melihat.
"Kau ingin aku menciummu?" tawar Arga yang membuat Asha langsung mendongak cepat. "Seperti tadi malam ...," ingat Arga yang membuat Asha tersipu malu saat itu juga. Lalu menipiskan bibir dan mendengkus.
"Berhenti! Bahas yang lain," cegah Asha cepat. Asha tidak sanggup mengingat ciuman Arga tadi malam yang entah kenapa terasa semakin menggairahkan. Setelah pertemuan dengan Juna tadi malam, Arga tak henti mencicipi bibir merahnya.
"Kali ini tidak terlihat bengkak. Bibir itu mulai terbiasa, ya ...," goda Arga.
__ADS_1
"Aarggghhh! Stop bahas itu!" seru Asha yang geregetan sambil menunjuk ke arah Arga. Bibir Arga menyeringai senang, melihat kekasihnya mencoba menahan malu.
"Iya ...," tukas Arga sambil menganjurkan tangan ke kepala Asha dan mengusapnya.
"Kenapa tidak menerima teleponku?" tanya Arga yang sebenarnya ingin menanyakan langsung jika bertemu, tapi saat melihat gadis ini melamun, niat tadi di hapus segera.
"Eh, iya kah?" Asha mendekati kursi dan mengambil ponselnya. Saat menyalakannya, ada panggilan tidak terjawab dari Arga, juga dari nomor tidak di kenal. Walaupun hanya satu panggilan tidak terjawab yang ada di bawah nomor Arga, itu cukup menyita perhatiannya.
"Aku benar meneleponmu, kan?" tanya Arga sambil melongok ke tubuh Asha yang membelakanginya, karena terlihat diam.
"Ah, iya. Ada panggilan tidak terjawab darimu," jawab Asha segera dan memutar tubuhnya dan menghadap Arga. Pertanyaan Arga yang menegurnya membuyarkan apa yang sedang berada dalam pikirannya. Dia sedang mencoba mencari tahu siapa yang meneleponnya sebelum Arga tadi..
Bukan karena Asha orang yang kepo dan semacamnya, tapi ini aneh. Dia tidak lagi pernah menambah daftar orang yang ditemuinya. Apalagi saat menjadi kekasih tuan mudanya. Tidak ada waktu bertemu dengan orang baru.
"Kamu tidak memperbesar volume suaranya ya?" Padahal jarak ponsel dan tempat Asha berdiri sangat dekat, tapi Asha tidak bisa mendengar nada dering ponselnya. Itu aneh.
"Iya," jawab Asha sambil senyum tipis menyadari kebiasaannya. Arga melangkah menuju kursi yang berada di belakang Asha.
"Setelah bertemu Juna adikmu, tadi malam, aku jadi ingin bertemu dengan orangtuamu," ujar Arga yang membuat Asha membalikkan tubuhnya untuk melihat lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Asha. Tangannya berhenti menekan tombol untuk menggiling cuciannya lagi karena terkejut dengan kalimat Arga.
"Kenapa? Kok malah tanya, kenapa? Bukankah wajar kalau aku, kekasihmu, ingin bertemu orangtuamu?" Kedua alis Arga terangkat heran dengan pertanyaan Asha. Tangan Asha menggaruk belakang kepalanya yang mendadak terasa gatal.
"Ah ... iya, iya." Bibir Asha melukis senyum kaku.
Bertemu orangtuaku? Bapak dan Ibuku? Itu sangat wow tapi juga meragukan. Indah tapi juga menyedihkan. Sebelum bertemu orangtuaku, alangkah baiknya hubunganku dengan orangtuamu menjadi baik dulu. Bukan sebagai majikan dan pelayan, melainkan seorang Ibu dari kekasihku. Sangat dekat tapi juga sangat mustahil.
"Bagaimana mereka saat melihatku, ya?" ujar Arga sudah membayangkan hari perjumpaan itu dengan indah. Asha tahu dari wajah Arga yang sangat berseri-seri saat mengucapkannya.
Mereka pasti sangat menerimamu. Banyak keindahan pada dirimu yang bisa langsung di terima dengan tangan terbuka dan penuh cinta oleh mereka. Aku yakin itu. Jadi simpan dulu keinginanmu untuk itu sebelum hal baik terjadi di antara aku dan orangtuamu. Itu yang terpenting.
__ADS_1