Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Balita menggemaskan


__ADS_3


"Sebentar lagi belok ke toko brownies ya," pinta Asha saat sudah dekat dengan tempat itu.


"Yang biasanya kamu beli itu?" tanya Arga meyakinkan. Kepala Asha mengangguk. Arga segera membelokkan mobil dan berhenti tepat di toko depan. "Kenapa tiba-tiba ingin beli brownies?" tanya Arga saat turun dari mobil.


"Lagi ingin saja. Juga bunda sangat suka brownies ini. Aku mau beliin buat beliau."


"Wahhh... sekarang malah bunda saja yang di pikirin nih," kata Arga pura-pura cemburu sambil berjalan mendekat ke istrinya. Asha menoleh ke samping dan mengusap rambut Arga pelan.


"Tiba-tiba saja ingat."


"Bunda tidak terlalu menakutkan bukan?" Arga melingkarkan lengannya ke bahu istrinya. Asha memamerkan senyumnya.


"Lumayan," sahut Asha. "Terima kasih mau menunggu aku untuk bisa dekat dengan orangtuamu, terutama bunda. Maaf, aku sempat membuatmu khawatir soal ini. Maaf atas semua kecanggunganku terhadap mereka."


"Tidak apa-apa. Itu sudah seharusnya." Arga tersenyum sambil mengusap rambut istrinya.


Sesampai di dalam outlet, Asha segera mendekati etalase untuk memesan, brownies coklat dan pandan. Untuk rasa coklat adalah kesukaannya, sementara rasa pandan untuk ibu mertua. Tiba-tiba seorang balita dengan tubuh gemuk menggemaskan mendatangi mereka. Berdiri tak jauh dari tempat Arga dan Asha berdiri. Tanpa segan, Arga merunduk dan berjongkok menyamakan tinggi dengan balita itu.


Asha menundukkan pandangan melihat interaksi mereka. Tangan Arga terulur menyentuh pipi gembul balita yang sepertinya ingin menjelajahi semua tempat di toko yang tidak begitu besar ini. Balita laki-laki itu mengerjapkan mata karena di sentuh orang asing.


Namun sepertinya dia tipe balita yang berani. Meskipun Arga orang asing dan mendekatinya, anak itu tidak menangis. Mata beningnya menatap lurus ke wajah Arga seakan mengamati.


"Dia mengamatiku," ujar Arga takjub.


"Ya, dia sedang meneliti apa di depannya ini orang baik atau bukan," gurau Asha membuat Arga tersenyum. Karyawan toko juga terlihat tersenyum melihat Arga dan balita itu.


"Halo," sapa Arga membuat  balita itu mengerjap berulang-ulang. Agak lama mata polosnya mengamati Arga, akhirnya tangannya terulur untuk menyentuh wajah Arga.


"Ta. Ta ta ta...." ucap bocah kecil itu menggemaskan. Mungkin dia bermaksud mengajak ngobrol. Hanya saja masih belum bisa berbicara dengan benar. Tangan mungilnya menepuk-nepuk pipi Arga sambil tersenyum.


"Dia sepertimu. Suka sekali menepuk pipiku dengan gemas." Asha tersenyum geli. Arga semakin terhibur dengan tangan mungil yang menyentuh wajahnya. Membiarkan balita ini berkali-kali menepuk pipinya dengan semangat.


"Gara." Seorang ibu memanggil. Dari balik rak display muncul seorang wanita yang membuat bocah ini menoleh cepat. Lalu bibir balita ini tertawa senang. "Oh, kamu sedang berbicara dengan om ya..."


Dengan langkah yang masih belum benar tapi menggemaskan, balita itu menghampiri ibunya. Suara yang sungguh lucu nan polos itu menghiasi ruangan ini. Setelah bersusah payah untuk bisa sampai pada tempat ibunya berdiri, akhirnya bocah lucu itu sampai juga. Arga beranjak berdiri.


Dengan gemas, ibu itu menggendongnya. "Ayo lambaikan tangan sama om dan tante. Gara mau pulang om ... tante ...," ujar wanita itu mengajari putranya. Dengan semangat dan antusias tinggi balita lucu itu melambaikan tangan. Wajahnya juga terlihat senang. Arga dan Asha membalas lambaian tangan balita lucu itu.


"Sampai jumpa kembali Gara...," sahut Asha melempar senyum. Setelah interaksi barusan ibu dan anak tadi keluar toko. Arga terdiam dan mengawasi perut istrinya. Ada harapan mengenai momongan disana.


"Ini pesanan Anda," kata karyawan outlet ini ramah. Dua bungkus brownies di sodorkan.


Saat keluar toko, mereka bertemu dengan Paris.


"Eh, kakak ada disini?" tanya Paris yang sepertinya terkejut.


"Ya. Sedang apa kamu?" tanya Arga.


"Beli-beli." Seorang cowok tinggi barusan saja membuka helm dan turun dari motornya. Arga mengamati. Asha tersenyum saat melihat itu siapa. Lei. Cowok yang di ceritakan Paris.


Namun buat Arga, ini menyebalkan. Arga masih mengira cowok ini pernah dekat dengan Asha gara-gara keisengan Paris yang belum terungkap. Melihat Asha, Lei tersenyum sambil menundukkan kepala. Lei pikir Asha adalah kakak Paris.

__ADS_1


"Dia juga pria yang pernah dekat denganmu," gumam Arga pelan tidak suka. Asha menoleh heran.


"Lei, mereka kakakku," ujar Paris memperkenalkan. Cowok yang punya badan besar itu mengulurkan tangan. Dengan penuh pikiran tidak suka akan keberadaan laki-laki ini, Arga menyambut uluran tangannya.


"Aku Lei."


"Ya," sahut Arga pendek. Asha hendak menyalami tapi di tarik pelan oleh Arga. "Kalian sudah kenal tidak perlu bersalaman," terang Arga. Wajah Asha keheranan. Lei menerima. Wajah Paris mengerut tidak suka.


"Kalian akan beli brownies juga?" tanya Asha ramah. Menetralkan suasana.


"I-iya," sahut Paris gugup. Wajahnya sedikit merona. Asha tahu, mungkin Lei ingin memberi oleh-oleh buat orangtua Paris. Hubungan mereka sangat dekat rupanya. Padahal Asha juga membelikan brownies untuk bunda tapi melihat Paris juga mau beli, Asha tidak memberitahu.


"Aku masuk dulu, ya." Paris menepuk lengan Lei pelan untuk memberi kode bahwa mereka harus segera masuk. Raut wajah Arga seperti tidak ramah.


"Ada apa dengan raut wajah itu? Tidak ada hal yang tidak menyenangkan disana tadi, kecuali kamu tidak setuju Paris dekat dengan teman cowoknya itu," tegur Asha saat berada di dalam mobil.


"Aku tidak terlalu memikirkan Paris, laki-laki itu tidak ada niat buruk."


"Lalu? Apa yang membuat wajahmu di tekuk hingga kusut begini?"


"Kamu."


"Aku? Ada apa denganku?" tanya Asha heran.


"Bukankah dia orang yang pernah dekat denganmu?"


"Dekat? Siapa yang kamu maksud?"


"Yang bersama Paris." Asha yang tadi mencari tisu di dalam tasnya, mendongak.


"Bukannya dia teman kamu?"


"Darimana kamu bisa berpikir seperti itu? Lei itu kakak kelas Paris di sekolah barunya."


"Yang aku lihat di pasar waktu itu bukannya dia?"


"Pasar? Jadi kamu juga pernah melihatnya di pasar?"


"Aku tahu dari Paris. Dulu. Sebelum kita menikah," ungkap Arga akhirnya. Asha melebarkan mata. Lalu tertawa kecil. Jelas sekali menertawakan suaminya. "Kamu menertawakan aku?"


"Iya. Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu tahu, kamu itu dulu mungkin sedang di kerjai oleh Paris." Arga mengerutkan dahi. Mobil yang di tumpangi mereka masih berjalan mulus di atas aspal. "Aku memang bertemu dengannya tapi itu karena ulah iseng Paris. Bocah besar barusan itu, sedang tertarik oleh ulah iseng Paris, dan tak di sangka Lei termyata satu sekolah dengannya."


"Paris mengerjaiku?"


"Entah kamu tahu atau tidak, bukannya Paris itu gadis sableng," kata Asha sambil tertawa lucu. Bukan mengejek adik iparnya tapi lebih kepada gemas. Arga membenarkan letak duduknya. Barusan dia melakukan aksi cemburu yang percuma rupanya.


"Kamu juga tak kalah menggemaskan dari balita gembul tadi." Asha menggelengkan kepala, masih tertawa kecil mengingat momen tadi. Arga teringat balita lucu tadi.


Ada rasa iri yang menyelinap di dalam hati Arga. Ekor matanya melirik ke arah istrinya lagi. Hamil? Meskipun dia jarang menyukai anak kecil, bukankah membahagiakan jika memiliki buah hati sendiri. Dia akan menjadi seorang ayah nanti.


"Mereka sangat bahagia," gumam Arga.


"Siapa? Paris dan Lei?"

__ADS_1


"Bukan. Evan dan Chelsea. Sebentar lagi mereka bisa menimang bayi." Asha melihat ke samping menatap suaminya yang nampak serius. "Kamu... masih belum telat?" tanya Arga yang tidak tahan lagi untuk bertanya. Asha paham pertanyaan itu.


"Belum." Arga mengangguk-anggukkan kepala. Tangannya memegang dagu. Berpikir lebih keras. "Apa mungkin aku belum maksimal melakukannya?" tanya Arga dambil memiringkan kepalanya. Asha menoleh cepat.


"Soal..." Asha ragu meneruskannya.


"Membuahimu. Mungkinkah aku belum maksimal?"


"Sepertinya bukan. Belum waktunya saja," sahut Asha cepat.


"Mungkin... frekuensi bercinta kita kurang." Arga mengambil kesimpulan sendiri dengan mata melebar. Seperti senang sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri.


"Apa? Kurang?" Asha mengatakannya seperti tidak bisa menerima perkataan suaminya. "Bagaimana bisa kurang? Tiap ada waktu kamu selalu memintanya. Aku selalu memberi, kecuali di mobil tentunya. Bagaimana itu bisa di bilang kurang? Tubuhku juga punya batas saat kamu terus saja memintanya," protes Asha.


"Mungkin... kita memang harus benar-benar melakukannya di mobil." Arga seperti mendapat ide ajaib dari kalimat istrinya. Dia tidak mendengarkan kalimat terakhir Asha.


"Tidak," tolak Asha.


"Kamu tidak ingin mencobanya? Mungkin peruntungan kita baik kali ini." Mata Arga berkilat sangat ingin mencoba bercinta di mobil.


"Tidak sayang... " Akhirnya Asha menelan ludahnya sendiri. Kata sayang ini akhirnya terucap dari bibirnya juga. "Kita hanya belum mendapat kesempatan saja" Asha perlu merayu lagi. Mendesakkan tubuhnya pada lengan suaminya.


"Dalam pernikahan kehadiran seorang anak sangat di dambakan, ya Sha."


"Ya. Aku yang menjadi perempuan lebih tahu akan perasaan itu. Aku juga menunggu." Tiba-tiba Asha merasa sedih. Setelah pernikahan mereka, sampai sekarang belum di karuniai momongan.


"Baiklah, mungkin memang belum waktunya." Arga mengambil keputusan sendiri karena melihat nuansa muram pada istrinya. Sesampai dirumah, Asha tidak langsung memberikan brownies pada bunda. Kotaknya hanya di letakkan di dalam kulkas, karena bunda ternyata sudah tidur.


****



Asha masih terbayang dengan pertanyaan Arga soal buah hati. "Apa kita perlu melakukan pemeriksaan atau konsultasi?" tanya Asha saat melihat suaminya selesai mandi karena tubuhnya terasa lengket karena keringat.


"Bisa juga, tapi tidak apa-apa. Kalau kamu ragu, kita tunggu dengan sabar saja. Maaf aku sudah membuatmu resah." Arga tahu Asha memikirkannya karena pertanyaannya tadi.


"Kamu takut aku tidak bisa hamil?" tanya Asha memberanikan diri. Dia juga tidak tahu kondisi rahimnya bagaimana. Melihat kesehatan tubuhnya yang sangat mudah lelah, membuatnya berpikir. Mungkin saja itu berasal dari dirinya. Dengan menguatkan hati ia coba bertanya


Sebenarnya ini sangat menakutkan baginya. Ia sangat yakin tubuhnya tidak sehat dan mungkin tidak subur. Menstruasinya juga tidak lancar. Ini saja bisa mengindikasikan bahwa tubuhnya tidak sehat.


Sepertinya Arga terkejut mendengar kalimat istrinya.


"Apa yang kamu katakan? Ini tidak masuk akal. Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa kita juga harus menyiapkan diri untuk memulai pemeriksaan ini. Kamu tidak apa-apa?" Asha mengangguk.


"Aku siap."


"Baiklah. Besok kita akan membuat jadwal periksa pada dokter kandungan. Sini mendekat padaku." Asha mendekat. Lalu Arga memeluk tubuh itu dengan merasa tidak percaya diri. Tiba-tiba saja dia juga merasa berkecil hati. Bagaimana bisa laki-laki sehat, bertubuh tegap dan berwajah tampan sepertinya tidak bisa membuat istrinya hamil?



Jika berkenan, silakan kunjungi cerita Lady Vermouth yang lain. Terima kasih.


__ADS_1




__ADS_2