Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Masih ingat


__ADS_3


Paris duduk di bangku dengan santai sambil main game di bangkunya. Sementara Sandra masih memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Jam pelajaran usai beberapa menit yang lalu.


"Pulang bentar lagi ke daerah kampus yok," ajak Paris.


"Boleh. Aku akan kasih tahu sopirku untuk enggak jemput."


"Jangan, pakai sopir kamu aja. Angga aku suruh pulang."


"Boleh." Setelah selesai merapikan buku di atas meja, Paris berdiri. Di ikuti oleh Sandra, mereka keluar dari kelas untuk pulang. Sesampainya di depan gerbang, Sandra melambai pada mobil milik keluarganya.


"Eh, kenapa bukan sopir rumah?" Sandra terheran-heran.


"Kenapa?" tanya Paris yang melihat Sandra bingung.


"Itu, kayaknya bukan sopir rumah deh."


"Siapa?" tanya Paris. Belum sempat di jawab Sandra, mobil sudah mendekat.  Pria di balik kemudi melongok keluar sambil memanggil Sandra.


"Dra, ayo pulang," ajak pria yang tak lain adalah Biema. Kakak Sandra.


Busyet.


"Emm__ " Sandra tidak langsung menjawab. Bola matanya melirik ke arah Paris. Sementara Paris garuk-garuk tengkuknya sambil lihat ke arah lain. "Kemana, bang Adi, kak?" tanya Sandra.


"Di rumah. Lagi di suruh bantuin kakak yang ada acara. Ayo cepat pulang."


"Tapi aku lagi ada acara, kak."


"Mama repot, kamu coba bantuin. Jangan main terus."


"Em__" Sandra melirik Paris lagi.  "Paris ... gimana nih?" tanya Sandra tidak enak sama temannya.


"Ya, pulang sana. Kan di suruh pulang. Sana ...," ujar Paris sambil menggerakkan tangannya mengusir Sandra.


"Ikut saja. Nanti akan aku antar kamu pulang," ujar Biema menawarkan.


"Tidak terima kasih. Saya di jemput kok," tolak Paris sambil mengangguk sopan. Sandra melebarkan mata sejenak melihat tingkah Paris. Tidak biasanya dia begitu sopan. Mungkin Paris masih canggung soal di kelab malam itu.


"Memangnya kamu di jemput beneran?" tanya Sandra sambil berbisik.


"Oh, ternyata aku di jemput kok. Hehehe ..." Paris memamerkan deretan giginya. "Cepatlah, kamu pulaaanggg ... " Setengah mengusir, Paris menyuruh Sandra cepat angkat kaki dari sini. Dia tidak ingin melihat kakak Sandra lama-lama.


"Tapi kamu ..." Sandra masih ragu.


"Tenang saja. Aku juga sebentar lagi pulang. Lain kali saja kita keluar. Sana cepaaaat...." Paris setengah mendorong tubuh Sandra untuk segera masuk ke dalam mobil.


Dengan berat hati Sandra masuk ke dalam mobil meninggalkan Paris di dekat gerbang sekolah.


"Semoga selamat sampai tujuan ..." Paris melambaikan tangan saat mobil melaju pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Hhh ... Untung kakak Sandra segera pergi. Sangat tidak nyaman melihatnya terus saja memindaiku. Oke, sekarang menelepon Angga buat jemput.



"Itu cewek yang waktu itu kan? Putri pemilik Mall?" tanya Biema.


"Iya. Kakak masih ingat?" tanya Sandra sambil terus melihat ponsel.


"Bagaimana bisa aku tidak ingat. Dia kan yang buat geger di malam itu. Hingga aku harus menghadiri rapat esoknya dengan pipi lebam karena dia." Biema mengatakannya dengan geram. (Bab 42)


Tangannya Sandra berhenti menekan ponsel. Dia terdiam. Dia tidak bisa meneruskan percakapan menakutkan ini. Berbahaya. Sangat berbahaya karena bisa-bisa kakaknya marah lagi karena dia berteman dengan Paris.


Mobil sampai di rumah Sandra dengan cepat. Mama menyambut putrinya dengan senyum dan todongan meminta bantuan. Biema harus kembali ke kantor.


Saat melewati sebuah jalan, dia melihat seseorang yang tidak asing. Bukankah itu teman Sandra. Gadis itu. Saat melewati jalan itu, Biema menoleh dan mendapatkan sosok yang sesuai dengan dugaannya.


Paris tengah di kerubuti anak cowok. Biema mengerutkan dahinya melihat itu. Karena cowok-cowok itu berpakaian dengan style punk jalanan yang biasa ditemukan di lampu merah. Cowok dengan atribut punk dan serba hitam.


Biema menipiskan bibir dan mendeck melihat gadis itu mengobrol dengan mereka.


Gadis itu punya teman dengan semua tipe rupanya. Bisa-bisanya Sandra berteman dengannya. Jelas saja waktu itu aku bisa menemukan dia di kelab malam.


Apa yang dilihat mata seseorang, kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Paris memang sedang mengobrol dengan cowok-cowok dengan tindik di telinga dengan anting besar. Sebesar kancing jas kantoran.


"Apa?" tanya Paris saat dua cowok ini mendekatinya.


"Minta uang. Kamu pasti punya uang, kan?" kata seorang cowok dengan gigi tidak rata.


"Jangan bohong. Cepat berikan uangmu. Anak sekolah pasti di kasih uang saku sama orangtuanya, kan?" tanya cowok yang lain memaksa.


"Iya, tapi kali ini dompetku enggak ada. Jadi aku enggak punya uang sepeserpun." Paris merogoh saku di kemeja sekolahnya dan menunjukkan bahwa saku itu kosong.


"Pasti di dalam tasmu." tunjuk cowok itu sambil mencoba menarik tas punggung Paris.


"Ni orang di kasih tahu enggak percaya. Aku beneran enggak ada uang. Dompetku raib entah kemana." Paris menarik tas ranselnya dan membuka resleting. Mencoba menunjukkan bahwa memang dia tidak punya apa-apa.


Saat itu ponsel yang sengaja di sembunyikan di saku tas menyembul.


Gawat.


"Aku minta hape-mu." Mata cowok itu melihat ponsel di dalam tas Paris.


"Enggak ada," tolak Paris sambil menutup kembali resleting tasnya dengan cepat. Namun cowok itu dengan cepat pula menarik tasnya paksa. "Hei, lepaskan tasku," hardik Paris.


"Aku harus mengambil ponselmu." Cowok yang lain membantu merampas ponsel itu. Paris mendorong cowok itu.


"Jangan melawan ya. Kamu itu cuma cewek. Sendirian pula." Cowok itu berusaha kembali menarik tas Paris. Kejadian tarik menarik ini akhirnya membuat Paris harus memukul cowok itu hingga mundur.


"Hei, kamu cewek sialan!" maki cowok itu karena sakit di perutnya terkena pukulan Paris.


"Kamu sengaja mau bermain kasar, ya." Sebelum cowok tadi melakukan hal yang mengancamnya, Paris segera memukul cowok itu dengan tasnya.

__ADS_1


Bruk!


"Aw!" Tas Paris tidak terlalu banyak isinya, tapi di pukul begitu saja jelas tetap membuat sakit.


"Cewek brengsek!" Cowok itu marah dan ___ Bruk! Sebelum berhasil melukai Paris, cowok itu terpental jatuh ke tanah. Kepala Paris menoleh ke arah berdirinya seorang pria berjas.


Siapa dia? Malaikat pelindungkah? Pangeran berkuda putihkah?


"Berhenti bertingkah menyebalkan. Aku akan memanggil polisi setelah menghajar kalian berdua," ujarnya membuat dua cowok tidak bersenjata itu pergi tanpa hasil apa-apa.


"Anda siapa?" tanya Paris karena merasa asing. Dia hanya bisa melihat punggung pria itu. Makanya dia belum bisa melihat raut wajahnya.


Berbaliklah ... Berbaliklah ... Aku ingin melihat rupa pangeran penyelamatku. Paris dengan gembira menunggu momen saat memandang seorang pria dengan aura menyilaukan.


"Memangnya rumah kamu dimana, hingga kesini?" tanya pria ini sambil memutar tubuhnya. Paris melotot.


Busyet!


"Kamu ..." Tunjuk Paris terkejut. Raut wajahnya jadi masam. Angan-angan melihat pangeran penyelamat gugurlah sudah.


"Iya. Aku. Aku pikir kamu tadi bilang kalau mau pulang, tapi ini apa?" Biema melihat kesekitar. Ini daerah yang agak jauh dari sekolah tadi. Paris menggaruk tengkuknya. Ya. Dia Biema. Kakak Sandra.


Sial.


"Jauhi keributan. Kenapa kamu suka sekali tempat berbahaya?" Biema mengatakannya seperti Paris ini tukang rusuh.


Siapa juga mau mendapat ketidakberuntungan bertemu preman-preman tadi? Aku itu sedang dalam musibah, tahu ... gerutu Paris dalam hati.


"Kamu masih canggung karena kejadian itu rupanya." Biema tersenyum mengejek saat tahu gadis ini gugup.


Sial. Dia ingat. Dia masih ingat!


"Tentu saja aku masih ingat. Bagaimana mungkin aku tidak ingat saat kamu berhasil membuat tanda merah di pipiku."


Hah? Dia mendengar suara hatiku? Ajaib. Apa mungkin aku tidak sedang berbicara dalam hati, ya ...


"Raut wajahmu mudah di tebak."


Upps ... Sepertinya aku ketahuan. Paris menunduk.


"Kamu pasti berpikir aku sudah tidak bisa ingat kejadian itu, bukan? Kamu berhutang maaf padaku."


Busyet. Apalagi itu?


"Memangnya minta maaf saat di kantor polisi itu tidak cukup?" tanya Paris setengah menggerutu. Mengkerucutkan bibirnya tidak setuju.


"Iya. Itu tidak cukup. Kamu setengah hati meminta maaf. Berbeda dengan perempuan yang aku pikir bodyguardmu waktu itu. Dia terlihat begitu sepenuh hati ketika meminta maaf padaku."


Yang di maksud itu pasti Asha. Karena memang waktu itu dia bersama kakak iparnya itu. Jelas saja waktu itu Asha yang masih sebagai seorang pelayan meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Karena sebagai bawahan, dia sudah melakukan kesalahan yang fatal.


L a d y V e r m o u t h

__ADS_1


__ADS_2