
"Bagaimana kalau kita main basket di lapangan basket tempat kita pernah sewa dulu saja, Sha?" usul Cakra.
"Enak juga itu, Ca. Mumpung ada Asha yang munculnya hanya satu kali dalam satu abad," kata Andre. Ekor mata Asha sudah melirik tajam ke Andre. Dua sahabat ini memang cocok kalau di suruh adu mulut. Andre ini seperti punya banyak stok kosa kata untuk meledek Asha.
"Maklumlah, Dre. Dia kan punya bodyguard baru. Ganteng pula, yang mau nemenin dia kemana aja," imbuh Cakra. Asha hanya meringis memamerkan giginya ke arah Cakra sambil menepuk lengan Cakra pelan.
"Walaupun pelan, kalau tepukan tanganmu di lakukan berkali-kali lenganku juga bisa sakit, Sha.." protes Cakra.
"Sengaja. Sudah, mau berangkat ke lapangan basket kita atau masih terus meledek aku di sini terus nih?" tanya Asha geregetan.
"Ya elah, Sha. Jadi sensitif nih," kata Andre. Asha lagi-lagi memakai kakinya. Paris mulai paham juga perbedaan Asha di rumah dengan di luar. Kalau di dalam rumah, dia bersikap tenang dan sopan, karena mungkin tahu diri dia adalah seorang pelayan. Kalau di luar rumah dia gadis yang menyukai pertemanan dan kebebasan.
Lokasi nongkrong langsung berubah dari alun-alun ke lapangan basket yang sengaja di sewa mereka.
"Tapi harus beli cemilan untuk kita dulu ya, beli di minimarket." kata Paris.
"Aku enggak bawa uang banyak, Paris," cegah Asha.
"Biar aku saja yang bayar, Sha. Paris bisa beli apa saja sudah, terserah," ujar Ckra tumben-tumbennya baik hati.
"Kesambet, Ca? Tumben baik. Ke aku saja yang sudah temanan lama kamu enggak pernah baik." ujar Asha takjub. Tak pelak Cakra menyentil kening Asha.
"Aduh. Apaan sih," protes Asha sambil mengaduh.
"Kalau orang sudah terlalu banyak di kasih kebaikan ya seperti ini. Dia akan tidak ingat sama sekali dengan kebaikan yang pernah di terimanya," kata Cakra sambil jarinya menunjuk ke Asha. Bibir Asha mencebik.
Kak, kalau kak arga lihat ini apa kakak akan marah? Kak Asha memang terlihat sangat bebas dan nyaman dengan mereka bertiga daripada sama kak Arga. Kenapa jadi mikirin kak Arga sih.
***
Di kediaman keluarga Hendrto,
"Arga, ini lho putri keluarga wijaya. Namanya siapa, jeng?" tanya Nyonya Wardah yang terlihat bahagia memperkenalkan perempuan berambut sebahu yang berwarna hitam ke Arga. Perempuan dengan gerak penuh dengan sikap feminin ini melirik sekilas. Arga dengan enggan dan minat yang tipis mengulurkan tangan menerima perkenalan putri keluarga Wijaya.
__ADS_1
"Hanny," ujar perempuan itu menyebut namanya dengan bibir tipis yang semakin menegaskan dia adalah perempuan dengan tipe feminin.
"Dia Arga namanya, Hanny. Putra pertama kami. Dia ini orang yang bertanggung jawab sama pekerjaannya lho. Dia ini sangat kompeten," ujar Nyonya Wardah mempromosikan putranya dengan baik. Arga memaksakan telinganya mendengarkan semua basa-basi ini.
"Kelihatan kok jeng, Arga ini orangnya kompeten. Dia juga putra yang tampan, benar ka, Pa?" tanya Atma wijaya kepada suaminya. Mereka merupakan pasangan kepala cabang sebuah bank swasta terbesar tempat keluarga Hendarto meyimpan beberapa kekayaan dengan bentuk deposit, asuransi dan tabungan.
Setelah acara perkenalan singkat, lalu di lanjutkan dengan makan malam sederhana di ruang makan keluarga Hendarto. Di sini, perempuan itu tak henti-hentinya menatap Arga. Lalu tersenyum apabila Arga memergokinya. Ini terjadi berulang-ulang.
Arga melihat ke segala penjuru di ruang makan, tapi tidak bisa menemukan Asha di sana. Hanya ada Bik Sumi dan Rike.
Kemana gadis itu?
Arga menjadi gelisah. Apalagi baru menyadari bahwa Paris juga tidak mengikuti pertemuan ini. Hatinya tidak tenang. Mereka pasti keluar.
***
Paris hanya jadi penonton di pinggir lapangan. Dia duduk selonjoran di pinggir lapangan, menyaksikan Asha dan ketiga temannya bermain basket. Sejak tadi handphone Asha berdering dari dalam waist bag-nya. Paris hanya menoleh sebentar. Setelah berkali-kali berdering, suara itu akhirnya berjeda dengan putus asa karena empu benda itu mengabaikannya.
Kali ini handphone Paris yang berdering. Paris yang sedang tertawa melihat Andre sedang berdebat lagi dengan Asha di tengah lapangan, merogoh merogoh kedalam isi tas tanpa menolehkan kepalanya. Setelah tangannya mampu menemukan benda yang berdering itu, Paris mengeluarkan dari dalam tasnya dan mendekatkan ke arah wajahnya. Menilik siapa yang sedang meneleponnya dengan memaksa. Kak Arga?!
"Kau bersama Asha? Dimana kalian?" tanya Arga menuntut. Paris menyipitkan mata. Namun Paris segera menyebut lokasi mereka berdua berada. "Bersama Cakra?" tanya Arga dengan nada kaku yang langsung bisa di kenali Paris dengan mudah.
Kak Arga marah. Kenapa? Apa karena bersama kak Cakra? Sepertinya bukan karena itu ada hal lain yang membuatnya gusar.
Sekitar dua puluh menit dari pembicaraan tadi, Arga muncul di lapangan basket dengan wajah kakunya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Sha?" tanya Arga dingin. Asha menoleh cepat, tergemap dengan kemunculan Arga di dalam lapangan basket ini. Gadis ini baru saja usai bermain basket, hanya saja masih berdiri di dekat ring basket bersama Andre sambil bergurau. Deni dan Cakra juga masih di sana. Semua menoleh ke arah suara tanpa terkecuali.
Aura berat dan hitam menyelimuti sekeliling mereka. Tidak ada yang berani bicara atau bertanya karena tergegau dan tertegun dengan pertanyaan Arga. Siapapun. Cakra yang ingin menyapa juga mengurungkan niat karena melihat raut wajah Arga yang terlihat kaku dan menahan marah. Mungkin situasi ini pernah Asha dan Paris lalui. Di kantor polisi waktu itu.
Saat mereka berdua usai di giring oleh polisi ke sana karena ulah konyol mereka sendiri. Arga di sana juga diam dan menahan marah karena terpaksa pulang dari dinas luar kota demi mereka. Sama seperti saat ini. Namun kali ini aura itu terasa lebih membebani mereka daripada waktu itu.
Arga seperti mengisi setiap kalimat yang terucap dari bibirnya, dengan semua kesal, marah, dan aura gelapnya.
"Aku sedang bertanya padamu, Sha. Apa yang sedang kau lakukan disini?" geraham Arga mengetat. Lehernya mengurat karena marah.
__ADS_1
"Aku sedang..."
"Kau sedang bersenang-senang?!" potong Arga tanpa memberi jeda, dengan amarah yang memuncak. Asha menatap lurus ke arah lelaki itu, dengan bibir terkatup. Arga memaksanya diam. Dia merasa tidak bisa menjawab lagi pertanyaan Arga. Raut wajah Asha sedikit tidak setuju, tapi dia menahan diri tidak menjawabnya.
"Bukan? Aku tahu raut wajahmu membantah ini semua. Lalu apa ini? Kau sedang bergembira dengan basketmu dan juga mereka!" tunjuk Arga ke arah tiga lelaki yang tidak paham sedang ada cerita apa dengan mereka berdua.
Andre mulai bersungut-sungut tidak terima.
"Kenapa ini?!" Merasa tidak punya salah, Andre menyela tidak terima.
Cakra menahan tubuh Andre tanpa melihat. "Tenanglah dulu. Dengarkan dulu ada apa,"
"Dia seenaknya menunjuk kita dengan marah, Ca," protes Andre.
"Demi Asha. Tolonglah bersabar. Lihatlah Asha juga diam. Itu berarti memang ada yang sedang melakukan kesalahan. Kemungkinan dia atau sebaliknya. Arga orang yang kaku, tapi dia juga tidak akan langsung mengeluarkan kalimat penuh amarah tanpa ada penyebabnya," kata Cakra memberi penjelasan kemungkinan yang terjadi di antara Asha dan Arga. Deni juga menahan Andre yang sudah tidak sabar ingin maju menghadapi Arga. Andre membuang napas dengan kasar.
"Oke, demi Asha. Aku bisa diam karena Asha, bukan karena Arga." Andre berusaha menenangkan dirinya sendiri. Cakra menepuk punggung Andre. Menunjukkan betapa hebatnya Andre bisa menahan emosi. Deni ikut memberi satu jempolnya ke depan Andre. Pujian untuk Andre yang sudah bisa menahan diri tidak memperburuk keadaan.
"Aku pikir sekarang kau sedang bersedih, karena aku yang jadi kekasihmu saat ini sedang di perkenalkan dengan seorang perempuan lain oleh orangtuanya. Tapi apa yang aku lihat sekarang? Apa?!" bentak Arga tidak percaya.
"Jadi aku harus bersedih dan berdiam diri di dalam kamar pelayan, Ga? Juga harus menangisimu karena kamu sedang bersama perempuan lain?" tanya Asha memperburuk keadaan. Arga memicingkan mata. Dia tidak percaya dengan kalimat Asha yang terdengar meremehkan marahnya.
"Bukankah wajar jika memang kau melakukan itu. Karena aku kekasihmu. Walaupun aku mulai paham kau bukan gadis lemah seperti itu, tapi setidaknya bukan bergembira seperti ini yang harus kau lakukan saat aku sedang mencemaskanmu. Bodohnya aku yang saat ini sedang takut kau tersakiti karena aku mengikuti keinginan orang tuaku untuk berkenalan dengan seorang perempuan," Arga tersenyum sinis.
"Jadi ternyata ini cerita tentang aku sendiri. Sepanjang waktu Sha, disana! Di depan perempuan itu dan juga keluarganya! Aku gelisah dan merasa bersalah karena berada disana, kau tahu?! Tapi aku tidak menyangka masih harus mencarimu dengan bersusah payah hanya untuk melihatmu bergembira dengan kesenanganmu. Aku merasa seperti orang bodoh," Arga mendengkus.
"Bukan," bantah Asha.
"Apa yang bukan, Sha? Saat ini kau memang seperti itu. Kau mencoba mencari kesenanganmu sendiri tanpa berpikir kalau aku terus memikirkanmu," Walaupun tidak setinggi tadi Arga masih marah.
"Ga..."
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan soal perkenalan yang di atur oleh bundaku. Namun perlu kau tahu, bisa saja aku tidak akan kembali padamu karena memilih wanita itu daripada kamu!" Arga melepas tuas pertahanannya. Paris yang sejak tadi terdiam kini membeliakkan mata terkejut mendengar kalimat kakaknya.
__ADS_1