Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Paris salah tingkah


__ADS_3


"Memangnya kenapa mengarahkan kamera ke orang itu?" tanya Asha heran. Dia sudah tahu keusilan Paris tingkat tinggi, tapi dia masih ingin tahu alasan Paris melakukannya.


"Kak Arga menelpon," jawab Paris menjelaskan hanya sedikit. Arga. Nama itu jadi muncul lagi di kilasan bayangan Asha. Meskipun jawaban Paris aneh, tapi Asha membiarkan tanpa bertanya lagi. Sudah menyebut nama Arga, gadis ini memilih mundur.


Asha merasa ada yang bergetar di saku celananya. Ternyata ada yang sedang menghubunginya. Belum kelar Asha merogoh handphone dari saku, dering ponsel berhenti. Saat melihat ke daftar panggilan, ada lima kali panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Itu milik Tuan muda. Arga Hendarto.


Nih orang masih mau meneror juga, padahal kan sudah di luar kota.


Namun Asha jadi waspada. Mungkin saja seperti waktu janjian sama Cakra itu. Tahunya dia Tuan muda sudah keluar kota, ternyata masih di rumah. Pun menemukan dia sedang kirim chat palsu yang mengatakan dia mau tidur, padahal enggak. Kepala Asha melihat kanan dan kiri.


"Kenapa Kak?" Kali ini Paris heran melihat tingkah pelayannya.


"Kakak kamu beneran tidak ada di rumah kan? Beneran ke luar kota hari ini kan?" cerca Asha takut perkiraannya keliru.


"Iya. Memangnya kak Asha tidak di beritahu?" tanya Paris sambil sesekali lihat ke sekeliling juga mungkin saja ada laki-laki berkaos merah itu.


"Iya sihh.. Hanya memastikan saja," Akhirnya Asha lega. Namun jadi kepikiran sama lima kali panggilan tidak terjawab milik Tuan mudanya. Telinganya benar-benar tidak peka sama telepon itu. Karena orangnya tidak ada, alarm untuk Tuan muda itu jadi rusak.


"Masih beli sayuran lagi ini, Kak?" tanya Paris antara kecewa dan lega. Lega akhirnya bebas dari tugas berbelanja. Kecewa, sampai detik ini laki-laki itu tidak kelihatan. Paris ternyata ingin bertemu lagi.


"Masih banyak," kata Asha sebenarnya geram. Nona mudanya tidak berinisiatif untuk belajar belanja, hanya sibuk lihat-lihat saja. Bahan-bahan yang harus di beli masih kurang. Harus beli pakcoy, jagung muda, wortel... Asha membaca lagi tulisan dari Nyonya Wardah.


"Aku lihat saja ya... Dari situ aku belajarnya. Kakak kan sudah pernah belanja di pasar. Aku tinggal mempraktekkan kalau di suruh bunda lagi." Paris pintar betul membuat alasan yang menyebalkan jadi tersamarkan.


Aku tahu anda hanya beralasan saja nona. Anda dan kakak anda kurang lebih mirip. Kalian memang bersaudara.


Asha menipiskan bibir mendengar perkataan nona muda. Namun karena Asha adalah pelayan, pasti dia dengan tangan terbuka menerima tambahan pekerjaan yang di berikan oleh majikan.


Kaki Asha melangkah lagi menyusuri pedagang-pedagang yang berjejer. Satu persatu bahan di temukan. Dan akhirnya terkumpul semua. Kalau tugas ini mau tak mau Paris membantu. Karena barang belanjaan lumayan banyak Paris terpaksa membawa kresek belanja juga.

__ADS_1


"Haduuhh... tahu begini kita ngajak Angga. Ini penyiksaan namanya," rengek Paris jadi ingin ketemu sama sopir rumah sambil memaksa tubuhnya membawa belanjaan yang berat. Siapa yang tadi mengusulkan membawa motor? Asha diam saja tidak memberi balasan dengan komentar atas rengekan gadis SMA ini.


Melihat ada orang yang membawa barang belanjaan berat, tukang becak yang sengaja 'jemput bola' mendatangi penumpang, menawarkan jasa becaknya. Dengan mendatangi begini mereka memang cepat dapat penumpang. Ketimbang harus menunggu sambil duduk di jok becaknya, ada beberapa orang yang menawarkan langsung dengan mendatangi penumpang.


Sebagai penumpang yang sedang membawa barangĀ  belanjaan yang banyak sering langsung setuju. Karena mereka juga dapat servis yaitu di bantu membawakan barang belanjaannya.


"Becak mbak?" tanya seorang bapak menawarkan jasa becaknya. Asha menggeleng sambil tersenyum ramah. Paris hanya melihat saja. Bapak itu mengangguk mengerti dan berlalu mencari penumpang lainnya.


"Ada juga yang seperti itu ya, kak?" tanya Paris.


"Iya. Meskipun hanya tukang becak mereka ada persaingan juga," jelas Asha bagai seorang mentor bagi Paris. Kaki mereka akhirnya sampai di tempat parkir. Dimana sepeda motor bertengger di sana. Paris menyegerakan kakinya agar segera sampai pada motornya. Tangannya sudah panas karena beratnya beban pada tas kresek yang di bawanya.


Namun enggak jadi karena abang parkir sedang duduk di sana. Paris meletakkan kresek belanjaan yang berat tepat di sebelah motornya. Menghela napas berat. Juga mencoba mengatur napas sudah berjalan jauh dalam pasar yang letaknya di tengah-tengah kota.


Melihat ada yang datang mendekati, abang parkir berjingkat kaget sambil menoleh sekilas ke belakang dan segera berdiri. Raut muka Paris terkejut saat melihat abang parkir itu. Kaos merah, rambut jabrik, kenapa Paris bisa lupa sosok yang membuatnya salah tingkah tadi.


Asha datang menyusul kemudian. Mendongak dan memperhatikan sikap Paris jadi seperti tadi lagi. Salah tingkah. Tangannya menggaruk kepala dengan sambil meringis. Seorang laki-laki berdiri di depannya. Di sisi lain sepeda.


"Eh, iya," Paris sadar diri lalu meletakkan belanjaan ke alas kaki motor. Untung saja bawa motor matic. Laki-laki berkaos merah itu menyingkir saat Asha menggangguk sopan. Dia berpindah ke sepeda motor di sebelah.


"Mau di bantu?" tawar laki-laki itu sopan melihat Asha kesulitan mengangkat dan mengatur barang belanjaan.


"Bisa," jawab Asha sambil tersenyum senang. Ada bantuan gratis. Oke sajalahh.. Paris memperhatikan lelaki itu menata barang belanjaan yang berat itu.


"Sudah," ucapnya sambil bergeser dari sepeda motor. Mempersilahkan Asha untuk menaiki motornya.


"Terima kasih, ya." Pyuhhh... Asha mendelik melihat barang belanjaan yang menumpuk di atas sepeda motor. Asha merogoh uang kertas dari saku, "Minta tolong, kamu kasih ke abang parkir ya Paris...," Tangan Asha terulur menyodorkan uang lima ribuan ke Paris. Setengah nyambung sama enggak, Paris menerima dan memberikan uang kepada laki-laki kaos merah tadi.


Bola mata laki-laki kaos merah tadi melebar menatap selembar uang lima ribuan di tangan Paris. Lalu berganti mendongak menatap ke Paris yang masih menyimpan rasa malu mengingat kejadian tadi. Tidak di sangka dia tersenyum. Paris tidak menduga dapat senyuman.


"Uangnya lebih mbak. Enggak ada kembalian," katanya kemudian masih menyisakan senyum di ujung bibirnya. Dia menolak menerima uang lima ribuan itu. Paris memutar tubuh dan kepalanya menghadap Asha.

__ADS_1


"Kak, enggak ada uang kecil?" tanya Paris. Asha menggeleng.


"Terus bagaimana dong bayar parkirnya?" tanya Paris berlebihan, membuat Asha menaikkan alisnya.


Ini yang majikan yang mana sih? Kenapa dia malah tanya ke aku? Itukan uang belanjaan tadi. Mau di kasih semua atau gimana kan terserah dia.


Sepertinya Paris semakin salah tingkah karena senyuman barusan. Asha baru sadar sama laki-laki itu. Cowok tinggi, rambut jabrik, dan mata yang tajam. Mungkin ini cowok yang di maksud Paris tadi. Saat dia mengarahkan kamera seperti penguntit ke arah dia.


"Terserah kamu deh, Paris," jawab Asha.


"Terserah deh," Paris malah copy paste kalimat Asha sambil menyerahkan uang lima ribuan tadi. Ini anak sepertinya memang begitu gugup sampai ngomongnya begitu.


"Terserah? Terserah aku maksudnya?" tanya laki-laki itu seperti bingung. Paris mengangguk. Laki-laki itu menggeleng. Dia bersikeras tidak mau menerima. Wahh.. abang parkir yang penuh dengan pendirian nih. Jangan-jangan karena uang kembaliannya hanya sedikit jadi dia enggan mengambil beserta kembaliannya. Percuma mungkin.


"Terus parkir aku bagaimana? Enggak perlu bayar?" tanya Paris mendesak. Laki-laki itu senyum.


"Bukan begitu. Kamu kasih saja ke mas itu," tunjuknya ke arah mas-mas yang berkalungkan semprit parkir di lehernya. Mata Paris melebar. Asha mengerjap lalu tersenyum geli. Dia menyadari sesuatu.


"Maaf mbak, saya habis makan nasi di warung. Lapar soalnya. Mbaknya belum bayar ya... Seribu mbak," kata mas-mas yang pakai topi itu meringis. Tempat parkir di biarkan begitu saja karena dia lagi makan di warung depan tempat parkir. Paris membeku. Dia menarik tangannya yang memegang uang lima ribuan secara perlahan.


Sekarang salah tingkahnya menjadi-jadi. Rasa malunya semakin meningkat. Laki-laki itu bukan tukang parkir liar. Dia hanya numpang duduk di sepeda motor mereka.


"Maaf ya mas...," ujar Asha sambil mengangguk sopan. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk pelan. Memaklumi mereka berdua yang salah mengira.


"Tidak apa-apa mbak. Ngomong-ngomong adiknya lucu," ujarnya sambil tersenyum dan melirik ke Paris. Asha juga ikutan melirik ke arah Paris yang segera naik ke atas motor. Namun Paris sudah memberi barikade. Dia enggan menyahuti laki-laki itu. Dia sudah malu dua kali. Jadi saat ini dia ingin segera pulang.


"Ayo kak, pulang. Cepatt..," desak Paris gemas. Handphone Asha berdering lagi yang menimbulkan getar pada saku celana.


Namun Paris yang sudah duduk di belakangnya menowel bahu Asha berkali-kali untuk bergegas. Majikan ini... Kalau itu telepon penting bagaimana dong! Sableng!


__ADS_1


__ADS_2