Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Cemberut


__ADS_3



Brak! Paris menutup pintu ruang tamu dengan kasar.


"Aduh, apa itu?" Nyonya Wardah berjingkat kaget. Bukan hanya beliau, Asha dan bik Sumi yang sedang mengobrol bersama di ruang tengah juga terkejut.


Semua kepala menoleh ke arah pintu depan. Jarak pintu depan dengan ruang tengah bukan dekat, tapi karena Paris menutup pintunya dengan setengah membanting, suara itu terdengar sangat keras.


Tak lama muncul Paris yang habis jalan-jalan memasang wajah cemberut.


"Kenapa menutup pintu seperti itu, Paris? Kan bisa dengan pelan tanpa suara yang mengagetkan begitu?" omel nyonya Wardah.


"Maaf, Bun." Kepala Paris menunduk dan segera naik ke lantai dua masih dengan wajah masam.


"Eh, kenapa responnya begitu?" Melihat sikap Paris, nyonya Wardah terheran-heran. "Dan lagi ini terlalu singkat buat anak itu keluar jalan-jalan," imbuh nyonya Wardah heran. Asha mencoba memperhatikan. Wajah menahan amarah itu mungkin berhubungan dengan kekasihnya, Lei.


"Nona Paris kenapa ya, Nyonya?" Bik Sumi yang tadi melihat juga terheran-heran.


"Enggak tahu. Datang main, pulangnya cemberut. Hhh ... Paris sedang bertengkar sama temannya mungkin. Atau jangan-jangan Paris itu punya pacar ya, Sha?"


"Hah?" Asha yang masih memperhatikan adik iparnya di lantai dua menoleh. "Ada apa, Bun?"


"Paris itu punya pacar, ya?" tanya bunda lagi.


"Asha kurang paham, Bunda."


"Oh, ya? Bukannya orang paling dekat disini sama kamu adalah Paris?" Beliau tahu Paris sering menempel terus sama Asha saat sebelum menikah dulu.


"Tidak juga. Saya dekat dengan semuanya, termasuk Bunda dan Bik Sumi." Asha menambah lengkungan senyum di bibirnya.


"Betul, terutama sama putra kesayangan Bunda. Si Arga." Nyonya Wardah justru sedang menggoda menantunya dengan senyumnya. Mungkin sisi ini juga ditiru Arga. Menggodanya.


"Kenapa menyebut namaku? Apa yang sedang di omongkan perempuan di rumah ini?" tanya Arga yang kedatangannya tidak disadari oleh mereka. Pyuhhh ... Untung saja. Asha sudah malu di goda sama ibu mertua.


Bik Sumi yang sedang duduk di karpet bareng nyonya dan istri tuan muda segera berdiri. Lalu menuju ke belakang. Asha berdiri dan mendekat. Memberi ciuman pada punggung tangan suaminya.


"Kita memang sedang membicarakanmu." Nyonya Wardah mengaku.


"Oh, ya? Tentang apa itu?"


"Dirumah ini, yang paling dekat dengan Asha dulu itu pasti adalah kamu, tapi istrimu ini malu untuk mengakuinya." Bunda tersenyum ke arah menantunya. Asha hanya mengangkat alis sambil tertunduk. Arga melirik istrinya. Lalu ikut tersenyum.


"Aku lelah. Asha ikut aku ya, Bun," pamit Arga untuk mengajak istrinya yang tadi sedang mengobrol.

__ADS_1


"Ya." Perkumpulan ketiga perempuan tadi langsung bubar. Kalau Bik Sumi ke dapur, Asha mengikuti suaminya menuju kamar tidur mereka, sementara nyonya Wardah masih betah di depan tv. Tuan Hendarto sedang tidak ada di rumah. Beliau sedang berkumpul dengan tetangga.


...----------------...


Asha membantu suaminya melepas setelan jasnya di dalam kamar.


"Sudah makan?" tanya Arga.


"Sudah, tapi sebentar lagi aku akan menemanimu makan. Oh, ya. Paris tadi pulang dari jalan-jalan dengan muka di tekuk. Aku yakin dia sedang punya masalah." Asha mengatakannya sambil meletakkan jas Arga pada gantungan baju. Sementara Arga masih melepas kancing kemejanya.


Tangan Asha mengambil alih untuk membantu membuka kancing kemeja satu persatu.


"Ada masalah apa?" tanya Arga sedikit menunduk melihat istrinya.


"Aku kurang tahu. Namun aku yakin begitu."


"Apa dia punya cowok?" tangan Arga mengangkat dagu istrinya untuk menengadah menghadap ke arahnya. Mencari tahu. Selama ini mereka selalu bicara berdua tanpa mengatakan apa-apa ke Arga.


"Mungkin seperti itu." Arga mendekatkan kepalanya dan mengecup lembut bibir istrinya. Tidak lama. Kemudian melepaskan tangannya.


"Jadi iya? Masih kecil kok sudah pacaran?" Arga berkomentar.


"Namanya remaja."


"Memangnya kamu dulu juga begitu?"


"Memangnya kenapa? Mungkin kalau aku lebih dulu bertemu denganmu daripada lainnya, aku akan mendekatimu." Arga melepaskan kemejanya. Asha membantu melepaskan.


"Itu karena kamu sekarang adalah suamiku. Andai bukan, tentu saja kamu enggak akan bisa bicara begitu. Kamu akan berpikir lagi untuk bilang akan mendekatiku, wahai putra Hendarto." Tangan Arga meraih pinggang istrinya yang akan meletakkan kemejanya dan memeluknya dari belakang.


"Mungkin saja. Aku perlu berpikir lagi, kenapa ada gadis yang tidak peduli dengan hal lain selain basket membuatku ingin mendekatinya? Mungkin seperti itu." Arga menekuk tubuhnya sedikit untuk mensejajarkan kepalanya agar bisa meletakkan di atas cekungan leher dan bahu istrinya. Asha tersenyum.


"Putra ayah Hendarto ini memang pintar berkata-berkata. Ayo cepat mandi lalu makan." Asha mengusap lembut kepala suaminya. Arga semakin menenggelamkan kepalanya dalam keharuman tengkuk Asha. Mengecupnya. Membuat Asha menyipitkan mata menahan gelenyar geli.


"Jadi adikku itu sungguh punya pacar? Siapa?" Arga masih tidak melepaskan pelukannya. Juga masih tetap membenamkan kepala dalam keharuman rambut istrinya.


"Aku harus menjawab, nih?"


"Benar. Aku juga ingin tahu apa saja yang kalian ceritakan saat berdua. Aku juga ingin terlibat." Hembusan napas Arga menerpa cuping telinga Asha.


"Sepertinya Paris tidak akan setuju."


"Aku tahu, tapi aku ingin kamu memberitahuku. Bagaimana?"


"Memangnya penting?"

__ADS_1


"Sebenarnya aku kurang suka mengurusi hal semacam itu, tapi jika istriku saja khawatir akan Paris, kenapa aku tidak ikut terlibat juga." Asha tersenyum juga mendengar kalimat suaminya.


"Ada. Teman sekolahnya. Kakak kelas. Sepertinya kamu pernah bertemu dengannya."


Arga berpikir. "Benarkah? Aku lupa."


"Jangan bertanya ke Paris sendiri kalau tidak penting. Dia pasti marah padaku. Karena yang tahu soal ini hanya aku."


"Enggakk ... aku hanya ingin tahu saja. Aku juga ingin tahu bagaimana perkembangan adikku. Bagaimanapun kalau bunda sudah beraksi, entah dia punya pacar atau enggak, Paris akan di jodohkan. Sama sepertiku dulu." Tangan Arga melepaskan pelukannya. Lalu menuju lemari. Membuka pintu lemari pakaian dan mengambil salah satu kaos pada lipatan baju yang rapi. Asha yang sudah terbebas dari kungkungan lengan suaminya meletakkan kemeja Arga ke gantungan baju.


"Aku merasa takut jika mengingat itu." Asha ingat lagi tentang perjodohan.


"Oh, ya?" tanya Arga yang masih perlu mencari pakaian dalam. Asha mendekat.


"Sini, biar aku siapkan baju ganti. Kamu segera mandi."


"Jadi kamu beneran takut kehilanganku ya, saat bunda selalu saja menjodohkanku?" Arga masih ingin melanjutkan perbincangan soal ini.


"Tentu saja. Aku juga takut kehilangan kamu bukan? Sudah. Ayo cepat mandi." Asha mendorong suaminya untuk masuk ke kamar mandi segera. Arga terkekeh.


"Ternyata kamu juga merasakan hal yang sama denganku."


"Masuk," paksa Asha saat Arga masih menyempatkan menjulurkan kepala dari balik pintu kamar mandi.


...----------------...


Asha memanaskan makan malam yang di buatnya tadi untuk suaminya. Makan malam mereka seringnya berdua. Karena yang lainnya seringnya sudah makan.


Setelah meletakkan semua makanan di atas meja, Asha kembali ke belakang.


"Temani aku makan," pinta Arga manja.


"Iya. Aku akan menemanimu. Aku akan mengupas alpukat dan membuatkanmu jus dulu. Makan saja pelan-pelan." Asha menuangkan alpukat yang sudah di kupas ke dalam blender bersama es batu dan susu. Menunggu beberapa menit lalu menuangkan dalam gelas. Tidak lupa memberi sentuhan cokelat kental manis di atasnya.


Asha mendatangi meja makan dan meletakkannya tepat di samping kanan piring Arga. Sementara Asha sendiri sedang membawa semangkuk alpukat di potong dadu dengan taburan meses cokelat dan di beri cokelat kental manis di atasnya.


"Enak?" tanya Arga yang memperhatikan Asha sedang memakan isi mangkuknya dengan senang.


"Banget. Aku sangat menyukai alpukat seperti aku menyukai buah semangka." Asha dengan senyum di atas bibirnya menjelaskan.


"Kamu ... beneran enggak ingin makan sesuatu yang lain?" tanya Arga.


"Kan sudah makan tadi."


"Mungkin saja kamu sedang ingin makan yang aneh?"

__ADS_1


"Makan yang aneh? Kenapa aku ingin makan yang aneh? Apa sih... Enggak paham." Asha tergelak dengan pertanyaan suaminya. Arga tersenyum tipis.



__ADS_2