Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Otak tidak waras


__ADS_3


.


Dada Asha jadi berdegup kencang memikirkan apa saja yang bisa muncul dari balik pintu ini. Hatinya menjadi tidak karuan. Dia sudah berniat tidak mau mengikuti nona sableng ini saat Paris mulai mengetuk pintu.


Tok! Tok! Paris akhirnya mengetuk pintu kamar.


"Kak! Kak Arga!" Panggil Paris memberanikan diri. Asha mendelik mendengar Paris menyebut nama keramat itu. Walaupun tadi dia sudah belajar mencoba bersikap tenang saat ketahuan memandangi kamar Tuan Muda ini dari tempat penjemuran, bukan berarti dia sudah berani bertatap langsung setelah kejadian itu di depan pintu kamarnya. Terdengar suara kaki melangkah dari dalam.


.


.


Asha sudah tidak sanggup. Dia panik dan hendak melangkah kabur. Namun pintu kamar terbuka terlebih dahulu. Paris terkesiap melihat wajah kakaknya. Tanpa sadar dia menunduk karena takut.


"Ada apa kalian berdua?" tanya Arga di depan pintu yang melihat Paris dan juga perempuan muda yang mau kabur itu. Asha meringis dirinya ketahuan lagi. Tangan Paris menowel punggung Asha berkali-kali sambil menunduk. Meminta Asha untuk segera berbalik karena percuma mau kabur.


.


.


Aarggh!! Paris tidak bisa di percaya!! Jerit Asha dalam hati. Dengan lambat Asha memutar tubuhnya tanpa mendongak. Jadi mereka berdua sedang berdiri di depan kamar Arga dengan kepala menunduk.


.


.


"B-Bunda menyuruhku membangunkan kakak..." kata Paris terbata-bata tanpa berani melihat. Dia masih menunduk. Arga diam tidak menyahut. Namun dia juga tidak beranjak pergi. Paris semakin gugup. Asha juga mengalami hal sama. Dia juga harus menunduk untuk menunjukkan betapa menyesalnya dia dengan cerita tadi malam. Mata Arga memperhatikan mereka berdua. Terutama gadis bercepol lucu dari tempat penjemuran.


Asha merasa tengkuknya gatal. Tangannya terulur untuk menggaruknya dengan pelan. Arga menarik bibirnya membentuk senyuman, merasa ketahuan bahwa dia sedang memperhatikan dia.


"Maaf..." ucap Paris akhirnya. Arga masih diam tidak mengeluarkan suara apapun merespon kalimat Paris. Ini semakin membuat Paris tidak berani mendongak. "Maafkan Paris kak... Paris mengaku salah."


Asha menggemeretakkan giginya sangat... sangat kesal. Arga melirik. Dia seperti paham bahwa perempuan muda ini sedang kesal. Pasti kedatangan Asha bukan karena ada perintah dari Bunda, melainkan karena ajakan Paris. Lagi. Arga mendesah.


"Aku masih tidak ingin memarahimu karena lelah. Tetap simpan rasa bersalahmu sampai aku benar-benar membahas ini dengan kalian berdua," kata Arga mulai membuka suara dengan nada dingin yang kental. Kata berdua itu berarti di maksudkan untuk Paris dan Asha. Berarti Tuan Muda ini juga akan menghakiminya. Nanti. Suatu saat. Selamat menunggu waktu penghukuman tiba, Asha!


"Baik kak," ucap Paris mematuhi kakaknya. Asha merasa tidak perlu mengatakan apa-apa. Dia tidak pernah ada niatan kesini sendiri. Ini jebakan. Baginya Paris seperti ingin menjebaknya.

__ADS_1


"Pergilah. Aku sudah bangun. Hari ini aku tidak berangkat ke kantor. Sampaikan ke Bunda," kata Arga memberi Paris perintah. Kepala Paris mengangguk. Lalu dia menatap Asha mengajaknya untuk ke kamarnya mengambil pakaian kotor.


"Tinggalkan dia disini. Aku ada tugas untuknya," kata Arga meminta Paris pergi tanpa mengajak Asha. Kedua mata Asha terpejam kesal.


"Sepertinya kak Asha ada pekerjaan jadi aku harus pergi sendiri karena aku juga ada tugas dari kak Arga. Kalau sudah selesai kakak bisa ambil cucian kotor di kamarku sendiri. Atau bisa minta tolong antar kakak untuk masuk ke kamarku," kata Paris menjelaskan dengan gamblang tanpa merasa telah bersalah. Asha terdiam di tempatnya. "Sudah ya kak, aku turun dulu," pamit Paris lalu beranjak pergi.


.


.


Terserah, terserah..... Tinggalkan saja aku berdua terus dengan Tuan Muda di dalam kamar tidur itu sekalian biar puas. rapal Asha dalam hati.


.


.


Dia benar-benar di tinggal lagi. Sendirian. Asha menyambut kepergian Paris dengan sebal dan jengkel. Bola mata Arga menatap perempuan muda di depannya yang sedikit menunduk.


"Masuklah. Banyak cucian di dalam," kata Arga mengajak Asha ke dalam kamar. Gadis ini terkejut. Selama bekerja di rumah keluarga Hendarto ini, dia tidak pernah memasuki kamar Tuan Muda. Orang ini selalu mengurung diri saat berada di rumah. Tugas mengambil cucian tidak pernah di berikan padanya walaupun dia adalah tukang cuci.


Mungkin baru Bik Sumi, pelayan yang pernah masuk ke dalam kamar Tuan Muda. Kaki Asha melangkah ragu. Apalagi dengan sikap Tuan Muda yang kadang seperti hewan buas. Perkataannya jadi kenyataan. Dia benar-benar akan berdua di dalam kamar tidur ini. Sebagian perkataan adalah doa. Jadi ini doa darimu, Sha?


.


.


.


.


"Kamu masih di situ?" tegur Arga karena Asha tidak segera masuk. Dengan langkah tidak nyaman Asha mulai masuk ke dalam kamar. Bagaimanapun dia pelayan harus patuh. Asha menguatkan diri. Kakinya melangkah memasuki kamar tidur lelaki ini dengan lambat-lambat. Matanya beredar ke seluruh ruangan. Semua nampak sederhana dan rapi. Cukup besar tapi tidak berlebihan. Kepala Asha miring dan menipiskan bibir menanggapi selera Tuan Muda sangat sederhana tapi menyenangkan untuk di lihat.


Arga yang menengok sekilas ke belakang, tahu bahwa gadis itu sedang mengamati kamar tidurnya. Dia membiarkan perempuan muda itu menjelajahi ruang pribadinya ini dengan indra penglihatannya. Lalu dia membungkuk mengambil tas yang berisi pakaian kotornya di bawah tempat tidur. Karena lelah tadi malam dia hanya meletakkan tasnya begitu saja di depan meja nakas di samping ranjang.


"Apakah kamu tidur dengan nyenyak tadi malam?" tanya Arga masih duduk jongkok.


"Ya Tuan," jawab Asha asal. Bagaimana dia bisa nyenyak. Dengan tidur terlambat dia merasa semakin sulit terlelap yang membuat dirinya semakin lelah. Juga... dia masih sedikit terkejut dengan kejadian itu.


"Benarkah? Beruntung sekali. Karena aku sulit untuk terlelap tadi malam karena masih merasa cemas dengan seseorang," kata Arga tanpa menoleh.

__ADS_1


Asha hanya mengangguk mendengar cerita Tuan Mudanya. Dia harus memberi respon baik bila majikan sedang bercerita. Apapun itu. Walaupun dia tidak paham sekalipun. Mata Asha menatap Arga yang masih jongkok karena dia penasaran Tuan mudanya sedang apa. Jadi saat Arga mulai berdiri, Asha masih memandang lelaki itu dari tempatnya. Dia yang terkejut karena pandangannya bersirobok dengan Tuan muda langsung hilang arah.


"Melihatmu terlihat tidak terguncang pagi ini karena berada di kantor polisi tadi malam, kecemasanku jadi berkurang," ujar Arga sambil tersenyum hangat. Kepala Asha kembali menghadap Tuan muda dan menatapnya dengan sedikit pikiran menerawang.


.


.


Tidak. Aku terguncang. Aku tidak pernah menyangka akan masuk kantor polisi dengan cara di giring polisi dan di interogasi. Bukankah itu memalukan. Itu bisa jadi aib bagiku juga keluargaku. Namun untuk bersikap sangat terguncang sungguh tidak perlu. Aku tidak perlu berlebihan saat aku sudah di selamatkan. Walaupun aku sedikit khawatir kedepannya, setidaknya aku bisa sedikit percaya bahwa aku tidak apa-apa saat ini. Benarkan, Tuan Muda?


.


.


"Kamu terlihat tidak sehat, benarkah kamu tidak apa-apa?" tiba-tiba Arga sudah ada di depan Asha dengan tangan terulur hendak menyentuh keningnya. Mata Asha membeliak dan mundur dengan spontan. Dia terkejut dengan kemunculan Tuan Muda di depannya. Sangat dekat.


"Benar. Saya tidak apa-apa." Asha mengkerjapkan matanya melihat tangan kokoh itu hendak menyentuhnya. Arga menatap perempuan itu lagi. Bibirnya tersenyum. Dia ingat perempuan ini sering melindungi diri dari dirinya.


.


.


Kalau ada kesempatan dia memang selalu mencari celah untuk menghindar. Apa sebaiknya aku tidak memberinya kesempatan untuk menghindar seperti tadi malam?


.


.


"Aku hanya ingin memeriksamu. Apakah kamu demam atau tidak. Raut wajahmu berubah tidak baik barusan. Aku pikir kamu sakit," kata Arga memberi penjelasan dan kembali tersenyum dengan hangat.


Asha jadi memberanikan diri mendongak. Dia tidak enak juga menganggap Tuan Muda seperti hewan buas yang siap menerkam. Padahal tadi malam dia sudah datang ke kantor polisi memenuhi permintaan petugas kepolisian meskipun itu bukan karena dirinya. Juga karena sudah berbaik hati meminjamkan jasnya untuk menutupi gaunnya yang robek karena kesengajaan.


Rambut Arga yang terlihat basah dan acak-acakan tak beraturan sungguh tidak memudarkan wajah tampannya. Justru semakin memberi kesan segar yang menyejukkan. Menyajikan tampilan lain dari lelaki ini yang lebih sering terlihat dengan setelan jasnya. Kaos berwarna hitam itu semakin menegaskan dada bidangnya. Juga bahu lebar yang terkesan kuat dan luas, seluas samudera itu nampak keren. Seperti mampu menampung tubuh seseorang saat merasa gelisah.


Pasti perempuan-perempuan yang pernah jadi kekasihnya pernah berada dalam dada bidang dengan bahu lebar itu. Mungkin terasa nyaman di dalam rengkuhan tubuh tegap dan bagus itu.


"Aku tidak menyangka kamu berani memindai tubuhku saat kamu sedang berada dalam kamarku," tegur Arga membuat Asha mengerjap beberapa kali lalu tersadar bahwa telah melakukan kesalahan. Retina Asha melebar. Raut wajah lelaki itu tidak marah, dia tersenyum seperti mendapat kesenangan baru. Kali ini Asha perlu memalingkan wajah dengan cepat ke arah lain. Ada rona merah di wajahnya.


What? No! Apa aku sehina itu? Tidaaakkk! Aku tidak menyangka aku semesum itu. Apa yang aku lihat. Mata ini melihat kemana sih. Tidak beradab sekali. Juga otakku sedang apa sih. Senggang sekali berpikir soal begituan. Bahkan saat sedang di dalam kamar lelaki itu pula. Otak stress nih. Otak miring enggak waras nih. Pasti karena kurang tidur nih.

__ADS_1


.



__ADS_2