
Andre mengerjapkan mata tidak percaya mendengar Hanny memintanya bertanya.
"K-kau memintaku bertanya?" tanya Andre terbata-bata. Hanny diam. Masih menyentuh ujung kaos Andre, "Kenapa?" tanya Andre.
"Aku tidak ingin kamu salah paham," jawab Hanny melepaskan tangannya dari ujung kaos Andre. Kali ini Hanny menunduk. Gadis manis ini menggerakkan flat shoes-nya dengan gelisah.
"Soal?" tanya Andre merasa otaknya tiba-tiba kosong. Dia merasa sebagian otaknya tidak bekerja dengan baik. Seperti paham, tapi tidak yakin. Yang di bahas pasti soal Arga dan Hanny. Namun mengapa Hanny takut dia salah paham? Ini yang tidak di mengerti Andre. Membuatnya jadi seperti orang bodoh.
"Aku dan Arga tidak ada apa-apa. Aku.."
"Aku bukan menanyakan kamu dan Arga. Aku ingin tahu kenapa kamu harus memberitahuku soal kejelasan hubunganmu dan dia?" potong Andre heran.
Saat ini dia dan Hanny sudah tidak begitu akrab karena harus menjaga sikap. Hanny anak orang penting. Dia tidak bisa seenaknya memperlakukan Hanny seperti yang lainnya. Walaupun Andre seperti kehilangan.
"Dasar mereka. Mereka membicarakan aku, saat aku masih ada disini," gerutu Arga pelan dari balik pohon. Dia sedang bersandar di sana. Dari jarak seperti ini Arga dan Asha bisa dengan jelas apa yang sedang di bicarakan mereka berdua. Asha meletakkan jari telunjuknya di atas bibir, untuk menghentikan gerutuan Arga.
Lalu Asha sesekali melongok dari balik tubuh Arga yang menghadapnya, untuk mengintip. "Kenapa kau mengintip romansa mereka berdua? Bukankah cerita kita cukup banyak hal seperti itu?" tanya Arga. Menurut dia Asha melakukan hal yang sia-sia. Toh, dia dan dirinya punya banyak romansa dalam jalinan cinta mereka. Malah lebih seru daripada Andre dan Hanny, begitu pemikiran Arga.
"Aku bukan mengintip percintaan mereka. Aku ingin tahu, apa benar Hanny tidak menginginkanmu..." ujar Asha yang berada tepat di depannya. Arga menatap gadisnya. Menyelipkan anak rambut Asha.
"Kamu khawatir juga, kalau ada yang menginginkanku?" tanya Arga masih merapikan rambut Asha. Sementara Asha tak menolak tangan Arga merapikan rambutnya. Dia hanya tertarik pada Andre dan Hanny, indra penglihatannya tidak melihat ke wajah Arga.
"Tidak. Aku tidak khawatir. Aku lebih khawatir jika kamu yang menginginkan seseorang," jawab Asha tanpa mengalihkan pandangan dari Andre dan Hanny.
"Walaupun kau mengatakannya dengan sangat dingin, aku menyukainya. Aku tidak menyangka kau berpikiran seperti itu juga," Arga menarik dagu Asha untuk memaksa menatapnya.
__ADS_1
"Tentu saja. Jangan menanyakan hal yang sudah pasti. Aku masih mau melihat mereka, lepaskan," kata Asha lalu menepis tangan Arga pelan dan kembali memperhatikan dua anak manusia yang sedang canggung dan gugup.
Ini tontonan menarik juga bagi Asha. Dimana Andre bisa jadi cute dengan mulut terbungkam, padahal dia adalah orang paling rame, paling banyak omong, terutama dengannya. Bisa jadi bahan ledekan kelak saat Andre ingin meledeknya juga.
Hanny yang mendapat pertanyaan itu tiba-tiba kebingungan, "Maaf. Aku sepertinya bicara macam-macam," Hanny menyadari arah pembicaraanya. Dia lupa diri karena ingin menahan Andre yang hendak melangkah pergi. "Bagaimana kabarmu?" tanya Hanny segera memperbaiki sikap.
Andre yang masih tertegun masih belum bisa mengeluarkan suara. Dia diam sejenak sebelum bisa menjawab.
"Kamu mengganti topik pembicaraan yang kamu buat sendiri. Aku baik," jawab Andre dengan sedikit kecewa. Hanny menarik napas dan membuangnya pelan. Dia memutus sendiri pembicaraan yang membuat Andre bertanya-tanya. Hanny bingung. Dia mengkerjap-kerjapkan matanya berulang-ulang. "Ada hubungan apa antara kamu dan Arga?" Andre mengambil inisiatif untuk menanyakan hal itu sesuai keinginan Hanny dan juga keinginan dirinya. Mencoba mengembalikan keadaan yang membuat Hanny gugup.
Kepala Hanny mendongak. Menatap Andre. "Aku sangat ingin tahu, tapi aku merasa tidak berhak. Aku takut itu membuatmu merasa aku terlalu lancang mencampuri urusanmu," jelas Andre. Hanny menelan ludah.
"Aku di perkenalkan kedua orangtua kami," terang Hanny. Andre mengerti. Mereka berdua anak orang kaya yang sering melakukan perjodohan seperti itu. Memilih yang setara.
"Aku tidak tahu apa responku cukup membuatmu puas atau tidak. Jujur, aku tidak bahagia jika kamu benar-benar akan menjadi pasangan orang lain, tapi selamat jika memang sekarang kamu akan mendapat pasangan," ucap Andre tersenyum getir seraya mengulurkan tangan. Mata Hanny berbinar tapi juga getir.
"Kenapa? Karena kaya dan miskin?" Asha menoleh. Arga ternyata sedang menatapnya. "Siapa yang kaya? Siapa yang miskin? Soal cinta semua sama saja. Jika seseorang masih memikirkan hal-hal seperti itu, bukankah berarti mereka bukan sedang berbicara soal cinta? Mereka sedang membicarakan napsu yang tidak berkaitan sama sekali dengan cinta antara dua hati manusia." Arga menjabarkan seperti tidak suka Asha berbicara seperti itu. Asha tidak memberi tanggapan. Hanya menatap Arga yang masih menatapnya dengan serius.
Tangan Arga melingkar di pinggang Asha.
"Aku paham semua yang kau pikir barusan. Aku akan berjuang untuk itu. Siapkan dulu hatimu, karena sepertinya kau belum siap menghadapi hal-hal seperti itu." Asha hanya mengkerucutkan bibirnya tidak menanggapi perkataan Arga.
"Aku masih mau lihat mereka, lepaskan.." Arga melepaskannya.
Ditempatnya, Andre masih mengulurkan tangan yang tidak segera di sambut oleh Hanny. Sementara Hanny menatap tangan itu dengan mata yang tidak bisa di tebak.
"Mereka ini, bikin geram saja... " Arga menegakkan punggungnya sambil berdecak kesal. Dia mulai tidak sabar.
"Mau apa?" tanya Asha melihat gelagat Arga seperti sedang menyiapkan diri.
__ADS_1
"Mau membantu mereka. Aku tidak mau terus-terusan menunggu mereka selesai mengatasi kecanggungan. Aku ingin segera bertemu Bunda di rumah untuk kasih tahu bahwa aku dan Hanny tidak akan melanjutkan perkenalan ini ke hal lain selain teman," ujar Arga tegas dan segera keluar dari persembunyian. Asha tidak bisa lagi menahannya.
Melihat Arga muncul dari persembunyian membuat Hanny terkejut dan menunduk malu. Andre menarik tangannya yang terulur dan menoleh ke belakang. Asha berjalan mengikuti Arga dari belakang.
"Hanny di kenalkan padaku, oleh orang tuanya. Kita hanya berkenalan, itu yang aku tahu. Aku tidak ada keinginan untuk melanjutkan kedepannya selain teman, karena aku punya Asha," ujar Arga sambil menarik tubuh Asha agar berdiri di depannya dan melingkarkan lengannya di bawah dagu Asha. Tubuh Asha akan bergeser, tapi Arga menahannya. "Bagaimana denganmu, Hanny?" tanya Arga.
"Bukankah ini urusan kalian berdua? Aku akan pergi karena tidak ada alasan untuk tinggal," kata Andre mengambil keputusan.
"Justru karena ada hubungan denganmu, Dre.. Hanny jadi seperti itu," tegas Arga mendahului kalimat Hanny yang akan menahannya. Padahal Arga sendiri tidak tahu ada apa dengan mereka. Namun sepertinya Hanny memendam rasa untuk Andre, itu yang di tangkap Arga.
Melihat Andre menemukan dirinya muncul bersama Arga, Hanny cemas. Walaupun Andre sudah tidak seakrab dulu saat mengobrol dengannya, Hanny masih berharap waktu-waktu akrab dulu terulang.
Sebagai anak kepala cabang, Hanny tidak bisa bersikap sembarangan. Dia tidak ingin membuat cap buruk yang bisa membuat Papanya juga mendapat dampaknya. Hanny selalu menjaga sikap. Andre datang dan memperlakukan dirinya seperti karyawan yang lain tanpa melihat statusnya sebagai anak kepala cabang. Itu hal baru baginya. Jadi sedikit menyenangkan bagi hari-harinya bekerja di sana.
Namun Hanny menjadi sedih saat Andre tiba-tiba memilih banyak diam saat bersamanya. Ternyata Andre sudah tahu siapa Hanny. Andre seperti menjaga sikap. Dia sudah tidak seperti dulu.
"Kedepannya, aku juga tidak punya keinginan melanjutkan hubungan lain dengan Arga selain teman. Aku hanya ingin kamu tahu, aku ingin kita kembali akrab seperti dulu, Dre..." ungkap Hanny meneruskan kalimat Arga. Mata Andre melebar dan menjadi semakin gugup.
"Emmm itu... Kamu anak kepala cabang, aku tidak bisa sembarangan, aku..." Andre menjawab dengan ragu.
"K-kamu bisa mengabaikan itu dan dekati aku lagi seperti dulu," paksa Hanny lembut.
"Hanny itu tertarik padamu, Dre.." Arga bantu ngomong. Asha mendelik, protes ke Arga. Takut tidak sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi. Kenyataanya Hanny merona malu. Apalagi Andre yang langsung menggaruk tengkuknya. Arga benar.
Tangan Asha terangkat dan menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Ini adalah waktu yang tepat untuk meledek Andre habis-habisan. Namun itu tidak mungkin di lakukannya. Asha masih berbelas kasih karena ada Hanny.
"Tidak ada yang lebih menggemaskan dari kamu saat merona dan memerah karena tersipu," bisik Arga memuji seraya menundukkan kepala. Berbisik tepat di dekat telinga Asha. Mata Asha membeliak dan mendongak. Kali ini bukan protes, dia terpana mendengar pujian itu. Arga tersenyum simpul.
__ADS_1