
"Arga kemana, Bun?" tanya Asha. Masih dalam posisi tidur, manik matanya beredar seraya melihat ke sekeliling ruangan. Sejak dia membuka mata, wajah suaminya tidak nampak sama sekali.
"Tadi, setelah bunda datang, dia bilang pulang untuk berangkat kerja." Nyonya Wardah memberitahu. "Memangnya kamu belum melihat Arga sama sekali?" tanya beliau heran. Asha menggeleng. Nyonya Wardah hanya bisa mengernyitkan alisnya. Mendengar ini, keheranan beliau semakin besar.
"Aku datang." Muncul Paris menggeser pintu kamar pasien ini. "Eh, bunda juga kesini? Kak Asha sudah bangun?" Paris melihat ke arah kakak iparnya yang sudah membuka mata. Tangannya menjinjing tas kresek. Sepertinya gadis ini dari mini market.
"Hei Paris! Kenapa kamu kesini? Bukannya seharusnya kamu berada di sekolah juga?" tegur nyonya Wardah geram melihat putrinya masih memakai seragam sekolah datang ke rumah sakit. "Kamu bolos ya?" tuduh nyonya Wardah.
"Enggak. Sekolah pulang pagi. Ada rapat," jawab Paris enteng.
"Rapat gimana?" tanya nyonya Wardah tidak percaya. Jam dinding masih menunjukkan pukul sembilan kurang.
"Untuk lebih rincinya, Paris jelas mana tahu bunda. Pengumumannya ya hanya itu saja. Pulang pagi karena guru ada rapat. Masa aku juga harus tanya itu rapat apa? Bunda bagaimana, sih?" Paris tidak terima.
"Eh, ni anakkkk..." Nyonya Wardah gemas melihat pembelaan Paris yang menggemaskan dan bikin geram.
Mereka tidak sadar dan membiarkan Asha yang sepertinya sedang termenung. Pikirannya menerawang sambil melihat ke jendela kamar yang hanya menunjukkan langit-langit cerah. Ini lantai 15.
"Kamu lihat kakakmu di sekitaran rumah sakit?" tanya nyonya sedikit berharap putranya bukan benar-benar berangkat kerja. Mungkin hanya keluar sebentar.
"Ya. Aku bertemu Kak Arga. Saat aku tanya, dia bilang akan berangkat kerja tadi." Paris duduk di kursi dekat pinggir ranjang.
Asha yang mendengarkan kalimat Paris menarik napas agak panjang. Lalu menghembuskan pelan-pelan. Asha jadi gelisah.
Nyonya Wardah melirik dan melihat itu. Ada yang janggal. Ketidakpedulian Arga akan istrinya yang sedang sakit sekarang. Tidak biasanya dia begitu. Namun beliau segera mencoba menetralkan suasana.
"Bunda tadi sama ayah. Kebetulan di bawah ketemu sama temannya. Papanya teman kamu sekolah itu lho, Paris. Sandra." Nyonya Wardah kali ini melihat ke arah Paris. Sementara gadis ini mengangguk-angguk saja.
Dia sudah tahu bahwa ada papanya Sandra di koridor rumah sakit. Bukan hanya papanya, ada juga kakak laki-laki Sandra yang sempat membuatnya ke kantor polisi itu.
Dia juga awalnya datang sama Sandra, tapi melihat kakak laki-laki Sandra, Paris berinisiatif melenggang ke kamar kakak iparnya terlebih dahulu. Dia tidak mau bertemu dengan kakaknya Sandra.
Tidak lama ayah mertua datang. Menanyakan kabar menantunya dan berbincang sejenak.
"Kalau istrinya sakit, kenapa Arga harus berangkat kerja?" tanya ayah mertua ke istrinya. Nyonya Wardah hanya tersenyum tipis. "Seharusnya kan dia ada disini." Nyonya Wardah hanya bisa mengangguk-anggukan kepala mendengar perkataan tuan Hendarto.
Meskipun pelan, beliau tahu ini adalah sebuah teguran. Tuan Hendarto seperti menyayangkan sikap putranya yang dirasa kurang pas.
"Tidak apa-apa Ayah. Karena tahu Paris pulang pagi, Arga sengaja berangkat kerja. Dia memberi tugas Paris menjaga Asha...," ujar Asha di dalam suara lemahnya. Tuan Hendarto melihat Paris yang duduk di sofa dekat jendela. Bola mata Paris mengerjap mendengar penuturan kakak iparnya. Sejurus kemudian langsung tersenyum mengiyakan. Lalu beliau melihat ke arah menantunya lagi.
__ADS_1
Ayah mertua menghela napas. Kemudian tersenyum bijak. "Ya sudah. Ayah dan bunda pergi dulu. Ada tamu yang harus di temui. Paris ...," panggil tuan Hendarto membuat Paris berjingkat kaget.
"Iya, Ayah..." Paris segera berdiri dari duduknya.
"Jaga kakakmu ini."
"Tenang. Beres Ayah..." Paris memberi hormat pada ayahnya. Kemudian ayah dan bunda keluar ruangan.
...----------------...
...----------------...
Seorang petugas makanan rumah sakit datang membawakan makanan dan pencuci mulut ke ruangan Asha.
"Makan pagi aja dulu." Paris memberitahu. Asha mulai beranjak duduk. Paris membantu memberi sandaran bantal pada punggung kakak iparnya.
Paris mengambil nampan makanan diatas nakas. "Aku suapin, kak?"
"Enggak perlu. Aku masih bisa makan sendiri." Paris menyerahkan nampan itu. Asha mencoba memakan beberapa suap. Dalam menyuapkan makanannya, mereka berdua diam. Sedang larut dalam pikiran masing-masing.
"Alasan apa tadi?" tanya Paris menanyakan perihal kakak iparnya yang menyebut namanya tanpa ijin dalam membuat alasan tadi.
"Spontan," jawab Asha pendek sambil menyodorkan nampan makanan yang tidak habis.
"Paham sih, kalau itu spontanitas. Tapi kok gitu banget? Memangnya perlu?" Paris menyodorkan segelas susu. Asha juga meminumnya sedikit. Kemudian menyerahkan pada Paris lagi.
"Supaya ayah tidak berburuk sangka sama kakakmu."
Paris membuka bungkus kemasan camilan yang di belinya sebelum berangkat ke sini. "Memangnya kak Arga lagi berbuat hal yang buruk, ya... Pakai di belain segala."
Asha mendengkus pelan. "Aku tidak tahu."
"Ada apa? Kelihatan banget muka muram begitu. Sudah pucat karena sakit, kini di tambahi muram jadi sedikit ... memilukan."
Asha mendengkus lagi. "Lagi pilu mungkin."
"Kalian bertengkar?" tebak Paris.
"Enggak tahu."
__ADS_1
"Lalu kenapa kak Arga enggak nungguin kakak?"
"Kan lagi kerja."
"Oke. Penjelasannya memang seperti itu saat ini. Trus kenapa pula kakak bisa enggak ketemu kak Arga sama sekali? Bukannya kak Arga selalu nungguin kakak kemarinnya." Asha melihat ke adik iparnya sambil mengerutkan kening. "Aku nguping tadi. Dikiiit..."
"Aku tidak tahu. Kita berselisih mungkin. Aku tidur, dia ada. Aku bangun, dia pergi," jawab Asha sambil menghela napas. Paris memerhatikan kakak iparnya sambil mengunyah snacknya dengan semangat. Krauk, krauk.
"Aku dengar yang nolongin kak Asha pertama, si Reksa ya?" Asha yang awalnya lihat ke jendela kini melihat ke adik iparnya.
"Kamu punya mata-mata, ya ..."
"Sengaja nanya ke Rendra. Karena kak Arga agak tidak ramah. Mukanya di tekuk terus." Paris mencibir. Asha melihat langit-langit kamar pasien yang berwarna putih bersih ini. "Reksa memang keren sih."
"Kamu ngomong gitu ke kakakmu?" tanya Asha terkejut ke Paris. Si gadis ini malah ketawa meledek.
"Takut beneran yah... jika aku bahas si Reksa sama kak Arga."
"Memangnya itu perlu di tanya?" Asha yang energinya sudah terisi sama sarapan meski sedikit, mulai terlihat lebih sehat. Matanya sedikit membulat gemas.
"Cinta beneran sama kak Arga? Enggak nyangka." Gadis ini malah cekikikan.
"Kalau enggak cinta mana mungkin nikah, Paris... Kamu ini orang sakit malah di ledekin." Suasana disini jadi seperti bukan lagi sedih karena ada orang sakit. Kesablengan adik iparnya membuat suasana menjadi lebih ringan.
"Kak Arga pasti sedikit marah. Dia mungkin sedang gundah gulana. Maka dari itu jadi enggak nemenin kak Asha."
"Aku tahu. Enggak usah di perjelas."
"Berarti sudah siap dong, jika di interogasi nanti." Asha mengangkat bahu.
Sesaat mereka terdiam karena mendengar pintu di sentuh seseorang. Sepertinya akan ada orang yang masuk. Dua orang di dalam kamar menoleh ke arah pintu bersamaan.
"Hai...," sapa Sandra ceria.
"Ih, kamu Dra. Kirain kak Arga. Hhh...," seru Paris protes. Sandra nyengir.
"Halo kak," sapa Sandra mengangkat tangan menyapa Asha. Bibir Asha tersenyum.
"Tutup pintu..." Paris hendak menyuruh Sandra segera menutup pintu, tapi masih ada orang lagi di belakang Sandra. Mata Paris melotot. Membulat terkejut melihat siapa di belakang temannya.
__ADS_1