Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Bertanya lebih baik


__ADS_3

..."Kak, bisa pinjam kak Asha, gak?" tanya Paris. Arga noleh. Melihat adiknya dan coba membaca raut wajah agar tahu maksud adiknya. Asha mengerjapkan mata. Setelah lama dia tidak 'di ganggu' oleh kesablengan gadis ini, kali ini tiba-tiba saja dia bertanya tentang hal yang tidak biasa....


..."Kamu mau apa?" tanya Arga tidak begitu saja menyerahkan istrinya....


..."Ada perlu," jawab Paris....


..."Harus lebih detail penjelasannya. Hingga aku bisa dengan mudah tahu, keperluan apa itu." Arga tetap bersikeras tidak mau menyerahkan istrinya. Asha hanya menyaksikan. Menatap Arga dan adiknya bergantian....


...[ Episode Sebelumnya ]...



"Detail? Enggak bisa. Pokoknya aku ada perlu." Paris terkejut. Kepalanya menggeleng kuat.


"Kita sedang punya rencana sendiri. Jadi sebaiknya tidak mengganggu. Ayo." Arga mengajak istrinya untuk segera menjauh. Paris meringis, merasa kalah tidak berhasil membuat kakaknya mau menyerahkan istrinya.


"Emmm ... kalau memang tidak lama, aku bisa bersama Paris dulu. Lalu kita mencari list itu." Arga mengernyit. Asha melirik Paris.


"Iya, iya. Aku sebentar saja. Enggak lama." Paris menangkap kode dari kakak iparnya.


"Jangan aneh-aneh ya, Paris," ancam Arga. Asha memijit lengan suaminya pelan agar tidak memasang wajah galak.


"Enggak. Aku enggak mungkin ngajakin kak Asha aneh-aneh. Bisa-bisa di demo sekeluarga aku." Mata Paris melebar menunjukkan dia juga takut jika kali ini mengajak kakak iparnya aneh-aneh seperti dulu.


"Baik. Sebentar saja. Kalau ternyata lama, aku akan kesini sendiri buat ambil Asha."


"Iyaa..." Paris menipiskan bibir.


"Aku sama Paris dulu ya?" Asha tersenyum menenangkan suaminya.


"Aku ada di kamar. Nanti kalau sudah selesai, kembali ke kamar." Arga memberitahu.


"Iya." Asha mengangguk. Lalu mendorong tubuh Paris untuk segera masuk kamar. Menutup pintu dan duduk di atas ranjang. "Ada apa?"


"Aku bertemu kak Lei sama seseorang." Paris mengatakan ini sambil menekuk wajahnya. Asha mendengarkan dengan seksama. "Dia bersama seorang cewek."


"Cewek?" Asha melihat ke arah Paris. Bibir Paris mengkerucut dan membentuk wajah cemberut. "Ini maksudnya kamu lagi mode cemburu nih?" goda Asha. Paris melengos. Berguling di atas kasur agar bisa merebahkan tubuhnya. Asha memutar tubuh mengikuti gadis ini. Paris menyeret bantal lalu menindihkan di atas tubuhnya. "Dia siapa?"


"Tidak tahu." Dahi Asha berkerut mendapat jawaban ini.


"Kamu kan tahu dari wajah cewek itu."


"Aku melihatnya dari belakang mereka." Paris mengatakan dengan pelan.

__ADS_1


"Kamu enggak menghampiri mereka?" tanya Asha perhatian. Paris menggeleng.


"Kamu enggak nanya?" tanya Asha heran.


"Enggak mau." Kali ini Paris menjawab dengan nada mengambek.


"Lho, trus gimana?"


"Coba aja kakak bayangin. Kenapa aku harus bertemu kak Lei saat bareng cewek," gerutu Paris.


"Lebih baik tanya saja dulu. Mungkin saja hanya teman. Bukannya kalian di sekolah campuran. Jadi bisa saja tak sengaja Lei sedang bersama seorang cewek."


"Cewek itu menggandeng lengan kak Lei. Sementara kak Lei biasa saja. Tidak merasa risih,"" ujar Paris menambahi keterangan soal kecemburuannya itu. Asha manggut-manggut. Sedikit paham jika gadis ini gusar. Siapa saja pasti akan seperti ini jika melihat pacarnya sedang bergandengan dengan cewek lain. "Kalau kakak gimana, saat menghadapi masalah seperti ini?"


"Aku?" Paris mengangguk. Tangannya masih memeluk bantal. Asha berpikir sejenak. "Aku tidak pernah pacaran, selain sama kakakmu." Mendengar ini, Paris terkejut. Mulutnya menganga. "Sampai segitunya terkejutnya." Asha memukul kaki Paris pelan sambil tersenyum pelan.


"Soal gantungan kunci itu gimana? Bukannya kakak masih bisa mengenang masa lalu lewat benda kesayangan itu?"


"Gantungan kunci? Ingatanmu rupanya sangat bagus." Asha berdecak kagum. Kejadian itu sudah lama, tapi gadis ini masih mengingatnya. "Itu hanya sebuah kisah cinta tak sampai. Bukan aku lagi teringat sama seseorang karena pernah jadian," ungkap Asha akhirnya.


"Wahhh ... Kak Arga dapat gres nih," decak Paris membuat Asha tergelak.


"Benar. Kakakmu dapat yang gres," timpal Asha. "Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya dulu mengatasi masalah seperti yang kamu alami, karena aku tidak pernah mengalami, tapiii ... menurutku ya, lebih baik di bicarakan sama yang bersangkutan."


"Tapi aku jadi pingin banget marah sama kak Lei." Paris mengobarkan api kemarahan di matanya.


"Benar sih ...." Suara Paris memelan sambil memainkan bibirnya dan menatap langit kamar. Asha melihat gadis yang pernah jadi nona mudanya itu dengan seksama.


"Kamu sebenarnya takut, ya?" tebak Asha yang langsung di respon Paris dengan mata membelalak. Dia terbeliak tegang mendengar apa yang di katakan Asha. Paris langsung membuang muka saat sadar dirinya sangat terkejut. "Benar kan?" Paris tidak menjawab. Matanya kini melirik ke arah kakak iparnya dengan wajah gadis yang sedang menghadapi rasa lara. "Wajar jika kamu merasa seperti itu. Kamu sebenarnya takut bertanya karena nanti akan menemukan jawabannya yang mungkin saja kamu tidak ingin mendengarnya. Saat kakak kamu di jodohin, aku berusaha menghindar. Bukan karena enggak cinta sama kakakmu, tapi lebih karena takut. Rasa takut yang tidak akan pernah bisa di mengerti orang lain. Jadi aku merasa tidak perlu bertanya. Hanya berusaha menenangkan diri dengan kegiatan lain."


"Sepertinya iya." Paris mengaku seraya memeluk bantalnya erat.


...****************...



...****************...


Melihat istrinya muncul di pintu kamar tidur, membuat Arga menghela napas lega. Sejak tadi dia gelisah dan ingin segera menghampiri istrinya.


"Aku hampir saja ke kamar Paris untuk memaksamu kembali ke kamar." Asha tersenyum melihat suaminya sudah menggebu saat di tinggal sebentar. "Ada apa?"


"Hanya sekedar bercerita."

__ADS_1


"Soal apa? Cowok?" tebak Arga. Asha naik ke atas ranjang dan ikut duduk sambil bersandar ke bahu ranjang. Asha mengangguk kemudian untuk menjawab pertanyaan suaminya. "Paris itu ada-ada saja. Hanya karena ingin bercerita sampai membuyarkan rencanaku," gerutu Arga. Dia sudah menduga adiknya pasti cerita soal itu.


"Hei ... jangan seperti itu. Paris itu kan cewek. Ya memang punya kebiasaan curhat." Asha tidak setuju sambil mencubit gemas dan tidak menyakiti pipi suaminya.


"Memangnya kamu begitu? Aku rasa kamu enggak terlalu suka bercerita seperti itu."


"Sama. Ada kalanya aku juga butuh curhat walaupun enggak sebanyak itu. Sudah, ayo kita googling." Asha menunjuk laptop yang berada di pangkuan suaminya. Arga melepas satu tangannya dari laptop dan membawa kepala istrinya mendekat. Kemudian mencium pelipis istrinya dengan intens. Asha tersenyum sambil memejamkan mata sekilas.


"Oke, kita mulai googling." Tangan Arga mulai bermain di atas keyboard. Mengetik kata yang di inginkan dan klik enter. Bermacam pilihan situs web yang menyediakan informasi untuk mengetahui apa saja camilan yang baik untuk ibu hamil tersedia. Arga mulai mengklik salah satunya.


Ada banyak pilihan camilan yang baik untuk ibu hamil.


"Wow, alpukat juga termasuk baik untuk ibu hamil. Enak, nih...," seru Asha senang.


"Suka?" tanya Arga sambil menoleh ke samping. Asha menoleh juga sambil mengangguk.


"Kebanyakan camilan yang baik untuk ibu hamil dan enggak bikin mual, aku suka. Alpukat, yoghurt, kentang. Emm ... semua suka." Asha jadi gemas sendiri membayangkan makan camilan itu. Arga jadi ikutan gemes dan mencubit pipi istrinya tanpa menyakitinya.


"Bagus. Berarti kita harus membeli ini dan menyediakan stock agak banyak. Agar istriku tetap banyak makan walaupun mual. Supaya perempuan ini tetap sehat begitu juga bayi kecil di dalam perutnya. Karena aku sangat menyayangi mereka berdua." Arga mengusap perut Asha dengan sayang. Asha tersenyum senang.


"Kalau di perhatikan seperti ini, aku dan anak kita pasti akan selalu sehat. Karena ayahnya orang yang sangat perhatian," puji Asha.


"Tentu saja." Arga menyombongkan diri sambil tersenyum jenaka. Memainkan alisnya yang membuat Asha tergelak.


...****************...



...****************...


Niat belanja camilan ibu hamil akan di lakukan di rumah mertua. Arga membuat jadwal keberangkatan ke rumah mertua dengan cepat. Karena tidak ingin membuat mertua harus lama bertemu dengan putrinya. Meskipun bukan hari minggu, siang ini mereka akan tetap berangkat. Arga sudah mengatur jadwal dengan Rendra.


"Titip salam sama ibu dan bapak ya, Sha," ujar bunda menyertai keberangkatan mereka berdua.


"Baik bunda." Bunda melambaikan tangan saat melihat Asha dan Arga berangkat. "Pas, Yus. Saya pulang kampung dulu ya," pamit Asha pada tukang kebun yang membuka pintu gerbang.


"Hati-hati di jalan."


"Iya." Pak Yus mengangguk sopan saat Arga juga berpamitan. Mobil Arga melaju keluar dari perumahan Argopuro dan melesat menuju ke arah jalan barat dan menuju kampung halaman istri tercinta.


Setelah melalui perjalanan yang lumayan, sampailah mereka di depan halaman rumah Asha.


"Sha, kita sampai...," ujar Arga membangunkan istrinya yang terlelap di samping. Lambat-lambat Asha membuka mata karena guncangan lembut tangan Arga. "Kita sudah sampai di warung ibu."

__ADS_1


"Enggg ... sampai ya." Asha mengucek matanya dengan punggung tangan. Lalu melihat kesekitar. Dia sudah berada di depan warung ibu. Arga membantu istrinya membuka sabuk pengaman. Lalu turun dari mobil bersama-sama.



__ADS_2