
Beberapa jam sebelum Paris dan Asha berada di kantor polisi.
.
.
.
"Ikut aku, ya..." bisik Paris sekitar jam enam lebih saat Asha melintas di ruang tengah. Asha mengerutkan kening dan noleh sambil mendekap nampan bekas membawa teh hijau untuk Nyonya Wardah. Lalu mengangkat dagu. Bermaksud bertanya tentang ajakan Paris barusan. "Ada deh.. Kakak harus ikut aku pokoknya." Asha tidak paham lalu beranjak menuju ke dapur. Meletakkan nampan di rak piring.
"Aduh!" pekik Asha terkejut saat mendapati Paris sudah ada di belakangnya. Rupanya dia mengikuti kaki Asha sampai ke dapur. Paris hanya nyengir saja. "Ada apa?" tanya Asha.
"Kakak cepat ganti baju ya. Atau kakak ikut aku saja ke kamar ....," Paris menarik lengan Asha paksa untuk mengikutinya. Asha tidak sempat memberontak dan menolak. Tubuhnya sudah di tarik tangan Paris.
"Sebentar Paris... Kasih penjelasan dulu," protes Asha sambil tetap mengikuti nona mudanya itu menuju lantai atas. Tuan besar dan Nyonya yang ada di ruang tengah noleh. Menatap heran dengan kedua bola mata mereka yang melebar.
"Kenapa Paris itu?" tanya Ayah Hendarto yang sedang menonton berita di tv. Tangannya menyeruput teh tawar yang tadi di buatkan pelayan mereka yang sedang di tarik-tarik paksa oleh putrinya. Asha dengan tangan di pegang Paris, membungkuk hormat sambil tersenyum ke arah dua majikannya, "Lagi seneng main sama Asha rupanya," imbuh Ayah.
"Iya. Kemana-mana Asha terus di ajakin. Padahal usianya kan berada di atas Paris," Nyonya Wardah ikutan berkomentar sambil mengangkat kedua kakinya ke atas sofa karena hawa malam ini terasa dingin.
Paris masih saja menarik tubuh Asha menaiki lantai dua. Terus melangkah menuju kamar gadis SMA itu.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Asha setelah bisa lepas dari cengkeraman tangan Paris.
"Party," jawab Paris penuh arti.
"Apaan tuh?" tanya Asha dengan wajah enggan.
"Kakak enggak pernah ikut party?" tanya Paris mengkerutkan kening. Asha tersenyum. Dulu saat masih sekolah, yang dinamakan party buatnya adalah pesta ulang tahun Wera. Ditraktir makan di sebuah cafe di daerah kampus. Trus pulang malam jam sepuluh lebih.
"Temanku Sandra ngadain party. Kakak harus temani aku, supaya tambah rame," kata Paris sambil menaikkan alisnya. Menurut gadis ini jika Sandra yang mengadakan party pasti seru. Paris sengaja mengeluarkan semua koleksi baju pestanya. Di pilah mana yang sekiranya bagus. "Bagus yang mana?" tanya Paris bingung melihat tumpukan baju di atas tempat tidur.
"Yang warna hitam," kata Asha asal. Paris mengamati lalu mencebik.
__ADS_1
"Oke juga. Nih!" Paris membawa baju itu ke depan Asha. "Nih kakak pakai ini."
"Aku?" tanya Asha heran sambil memegang gaun berwarna hitam itu.
"Iya. Kan aku ngajak kak Asha bentar lagi," jawab Paris tanpa menoleh. Dia juga sedang mencari baju yang cocok buatnya. Asha membentangkan baju yang di serahkan Paris. Sebelah matanya menyipit. Sebuah gaun pesta yang sangat mini.
Tidak mungkin aku memakai gaun ini. Asha meringis membayangkan dirinya memakai gaun pesta super sexy itu.
"Nahh.. aku pakai ini saja." Paris menemukan baju yang cocok buat dia. Bukan gaun mini yang sangat ketat seperti yang di berikan Paris ke Asha, melainkan gaun terusan sepanjang bawah lutut.
"Aku tidak ingin memakai pakaian mini ini. Aku juga tidak mau pergi," kata Asha. Paris mulai mengganti pakaiannya.
"Kakak itu harus ikut, titik!" kata Paris memaksa.
***
Sebenarnya tadi pesta di adakan di sebuah cafe seperti Asha merayakan ulang tahun Wera kala itu. Namun pesta berubah saat Sandra mengajak ke sebuah klub malam. Putri pemilik perusahaan textil ini ingin bersenang-senang layaknya orang dewasa. Berangkat tadi Paris hanya memakai pakaian yang biasa di pakai saat keluar bareng teman-temannya. Namun langsung berganti pakaian menjadi gaun pesta sebenarnya saat akan berangkat ke klub malam. Pilihannya Paris jatuh pada gaun berwarna blue black. Dan Asha tetap pada warna hitam.
Asha masih terkejut mendapati dirinya berada di sebuah pesta remaja yang di adakan di sebuah klub malam. Juga pakaiannya yang sangat tidak nyaman. Jam 10.35 WIB barusan mereka sampai di sini. Dia merasa menyesal sudah ikut anak majikan sableng ini.
"Paris, ini kan klub malam," inget Asha sambil melempar pandangan ke arah ruang klub yang sudah rame dengan pengunjung. Walaupun ini bukan Weekend tapi klub ini sudah rame jam segini.
Di dalam sana banyak perempuan-perempuan berpakaian seksi layaknya orang berpesta. Asha tidak menyangka kalau Sandra itu masih SMA. Di karenakan tubuh gadis itu yang bongsor. Mungkin menu makanannya sangat lengkap. Jadi tubuh teman majikannya itu tumbuh dengan pesat. Justru Asha yang kelihatan lebih mirip anak-anak sekolah, karena tubuhnya tidak bisa menonjol dengan mencolok di bagian dada dan pantat.
"Umur kamu berapa, kok bisa masuk klub malam?" selidik Asha pelan sambil mendekat ke Paris.
"Delapan belas tahun, kurang sedikit." Paris mengatakannya dengan senyum anak kecil yang sedang mencuri makanan di atas meja. Asha sudah menduga. "Kakak kan sudah dewasa jadi tidak apa-apa kan masuk klub...," kata Paris sambil menepuk bahu Asha seperti pada bocah seumurannya.
Sableng nih anak memang.
Asha membiarkan Paris bergabung dengan orang-orang di klub. Sementara dia duduk berdua bersama Angga. Dimana dia bisa memantau nona majikan.
"Jangan mabuk, Ga. Aku enggak bisa menyetir mobil," inget Asha saat Angga berniat memesan minuman. Laki-laki berbadan gempal ini ternyata seumuran dengan Asha. Berarti dia lebih muda dari tuan muda dong. Hanya saja karena tubuhnya besar, dia lebih mirip om-om.
"Aku hanya pesan cola. Minuman begini mana bisa bikin mabuk," kata Angga menunjukkan segelas besar cola warna cokelat tua itu. Ujung mata Asha melirik. Benar itu hanya cola. "Kamu jadi sering bareng nona itu," kata Angga sambil melempar pandangan ke arah nona yang sedang berpesta pora, lalu tangannya mengangkat gelas dan meneguk colanya.
__ADS_1
"Terpaksa..," Asha menyeruput minuman bersoda berwarna merah.
"Kalau ketahuan Nyonya bagaimana, Sha?" tanya Angga khawatir.
"Tidak tahu," jawab Asha sekenanya saja.
"Aku pikir mau di suruh antar kemana. Ternyata di sini." Angga melebarkan bola matanya saat mengatakan tempat ini.
"Kamu pikir aku juga tahu akan di ajak ke tempat ini?" tanya Asha mengulang adegan yang dilakukan Angga tadi. Melebarkan mata dan berekspresi seolah baru tahu.
"Nona Paris memang agak sableng...," desis Angga sembari meneguk colanya lagi. Asha mengangguk setuju.
"Tapi nona itu sebenarnya hatinya baik," kata Asha kemudian. Angga mengangguk.
"Soal itu, semua keluarga Tuan besar memang baik." Dua pekerja yang melayani keluarga Hendarto ini, sama-sama mengakui kalau keluarga kaya ini memang baik. "Kamu juga seperti nona muda kalau berpakaian seperti ini," puji Angga lihat Asha berpakaian mirip dengan nonanya. Asha mengibaskan mata Angga sambil menggerutu geram. Angga tertawa. Tiba-tiba Angga menggeliat. Memegangi perutnya yang melilit.
"Kenapa Ga?" tanya Asha heran. Angga meringis sakit.
"Perutku sakit," Angga mengadu sambil masih memegangi perutnya.
"Idihhh... makan apaan tadi? Makan banyak pasti.."
"Tahu nih. Sakit benar."
"Pergi sana!" usir Asha sambil meringis ngeri. Walaupun badannya gempal, hatinya hello kitty. Sakit perut aja laporan. Dia enggak jaga citra diri sama sekali di depan Asha. Mungkin karena sama-sama pekerja di rumah keluarga Hendarto, Angga menganggap Asha seperti keluarganya sendiri. Angga melesat nyari toilet. Asha tersenyum geli saat melihat Angga pergi dengan meringis menahan sakit.
Akhirnya Asha duduk sendiri di meja bar. Saat itu seseorang mendekat. Duduk di tempat duduk yang di tinggalkan Angga dan memesan minuman. Asha yang sudah mengeluarkan handphone asyik mengutak -atik tanpa peduli dengan sekitar.
Setelah dapat pesanannya, lelaki itu lihat ke samping. Melihat ke Asha dan bertanya, "Sendirian?" tanya lelaki itu sopan. Asha noleh dan mengangguk, "Nasib kita sama," ujarnya tersenyum tipis. Senyuman galau habis patah hati sepertinya. Kalau di pikir lagi, Asha tidak sendirian. Karena di tanya tiba-tiba, spontan dia jawab iya dengan anggukan. Padahal dia bersama Paris dan Angga. Namun karena saat ini duduk sendiri dia memang menganggap dirinya lagi sendirian.
Mata laki-laki itu melirik ke arah gelas Asha yang berisi minuman berwarna merah muda itu. Dia tahu itu hanya minuman soda. Ini menandakan bahwa perempuan di sampingnya adalah pemula dalam klub malam ini.
Malam semakin larut. Angga minta ijin istirahat di dalam mobil lewat handphone. Paris masih berpesta dengan duduk dan bercengkrama layaknya seorang wanita mapan. Lagak tuh anak..
Asha masih duduk di depan meja bar yang semakin banyak orang, ditemani oleh laki-laki tak di kenal di sampingnya. Melihat Asha yang sejak tadi tidak terusik dengan kedatangannya ataupun orang lain, laki-laki itu justru yang merasa terusik. Sesekali matanya melihat ke samping untuk menengok perempuan yang betah sejak tadi tidak beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Paris yang sedang berpesta di lantai dansa sepertinya sedang bertikai dengan seseorang. Asha mencoba memperhatikan dari tempat duduknya.