Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Cinta Pertama


__ADS_3



Asha masih memegang kepalanya. Ada rasa sakit yang menyerang kepalanya tiba-tiba. Dia memegang kepalanya dengan siku lengan bertumpu pada pahanya. Matanya sempat berkaca-kaca tadi. Saat Arga mengatakan hal buruk tentangnya. Tapi langsung bisa teralihkan saat dia menyadari keberadaan Reksa.


Dia tidak ingin menangis dan menumpahkan semua airmatanya saat laki-laki itu ada di disini. Tidak harus menunjukkan hatinya sakit karena Arga pada Reksa.


"Bukankah seharusnya aku keluar dan mengatakan semuanya? Pada dia, lelaki yang di cintaimu. Bahwa kamu menolakku? Bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa?" tanya Reksa saat sudah di samping Asha. Tangan Asha maju ke depan menghentikan kalimat Reksa. Lalu menunjuk Reksa dengan telunjuknya


"Kau memang lebih baik tidak muncul. Itu semakin membuat keadaan menjadi sangat parah."


"Benarkah?"


"Dia sudah berpikir kau adalah penyebab aku..." Asha tidak jadi meneruskan kalimatnya. Lidahnya mendecak kesal lalu menghela napas panjang, "Kau tidak muncul, itu yang terbaik," lanjut Asha. Reksa memang tidak perlu tahu.


Reksa tersenyum masam. "Aku tidak percaya cintaku kandas begitu saja. Padahal aku menanti saat ini. Saat aku sudah bisa berdiri dengan tegak di depanmu. Dengan segala kekuatanku agar kamu mencair dan menerima cintaku." Asha tidak bisa membalas kalimat kekecewaan yang dirasakan Reksa. "Aku sengaja menghilang untuk kembali sebagai Reksa yang mampu membuatmu takluk."


Sebenarnya aku sudah takluk kepadamu sejak dulu, Reksa. Hanya saja aku belum bisa menunjukkannya. Aku terlalu kaku dalam memberimu sinyal kalau aku mencintaimu.


"Aku terlambat rupanya." Senyum Reksa terlukis lagi. Senyum patah hati dan sesal. Asha melirik laki-laki di sebelahnya sekilas.


Bukan terlambat. Hanya saja, mungkin waktunya tidak tepat. Kamu datang saat aku sudah punya orang lain. Yang mungkin saja aku bisa kehilangannya hari ini.


Tiba-tiba Tangan Reksa terulur menyentuh kepala Asha. Jelas saja membuat perempuan muda itu menjauh dengan mata membelalak terkejut.


"Apa itu, Rek?" tanya Asha ketus.


"Rasa simpati. Aku sedang membayangkan bagaimana caranya kamu bisa menunjukkan rasa sayang ke Arga. Aku ragu kamu bisa." Asha menipiskan bibir mendengar Reksa berkata seperti itu. "Aku kecewa semua tidak berjalan sebagaimana semestinya. Baik aku maupun kamu."


"Kau tidak perlu mempedulikanku, Reksa. Aku menjalani apa yang ingin aku lakukan."


"Benarkah ini yang ingin kamu lakukan?" tanya Reksa memaksa Asha menatapnya tajam.


"Apa? Yang mana?" tanya Asha gusar. Raut wajah Reksa seperti meremehkannya.


"Yang saat ini kau lakukan." Reksa membuka tangannya lebar sambil mengarah ke Asha. "Semua yang saat ini kau lakukan. Termasuk pria itu, Arga." Asha menyipitkan mata.


"Aku tidak paham."


"Kamu menjadi kekasihnya, tetapi tidak berjuang untuknya."


Asha mendengkus, "Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kita. Kamu tidak tahu sama sekali."

__ADS_1


"Aku tahu. Aku dengar dari Cakra," ujar Reksa tenang tapi sanggup mengejutkan Asha. Sobatnya basketnya itu lumayan ember rupanya. "Tentang kamu dan pekerjaanmu." Lidah Asha mendecak kesal.


"Kamu sudah tahu, tapi kau sengaja mendekatiku dan memperparah keadaan, Reksa! Kamu sungguh licik!" tuding Asha marah ke arah Reksa.


"Aku ingin mendekatimu jauh sebelum kamu mengenal Arga, Sha...," Reksa mengucapkannya dengan sendu tapi ada nada tegas disana. Asha tidak bisa membalas.


"Siapapun aku, ...." Cinta pertamamu sekalipun. Reksa mengucapkannya dengan kedua alisnya terangkat. Ini sedikit membuatnya kembali mengingat apa yang dikatakan oleh Cakra. "... kalau kamu memang punya cinta yang tulus untuk Arga, seharusnya kamu tetap berjuang."


"Perlu aku katakan, mungkin aku sempat senang saat kau ingin memberi perhatian padaku, tapi itu tidak berpengaruh padaku. Kehadirannmu menyenangkanku tapi tidak membuatku berpaling dari dia." Sedikit damai di hati Reksa saat Asha mengatakan ini dengan jujur.


"Lalu apa yang kau khawatirkan?" tanya Reksa dengan memiringkan kepala menoleh ke arah Asha.


"Banyak. Banyak yang perlu di khawatirkan Reksa. Kau tidak akan paham."


"Mungkin. Tapi aku lebih tidak paham saat kau merasa rendah dan terpuruk saat belum mencoba. Bagaimanapun sikap orangtua Arga, mereka juga manusia. Sama seperti aku dan juga kamu. Kalau kamu memang menginginkan Arga, seharusnya kamu maju terus pantang mundur."


Asha mendengar Reksa dengan penuh perhatian. Entah bagaimana jadinya, orang yang pernah di cintai Asha kini justru jadi pemberi nasehat untuk jalinan cintanya dengan Arga. Menurut Reksa ini miris. Ungkapan cintanya ditolak dan sekarang justru memberi nasehat untuk mereka berdua bisa bersama.


"Ada orang lain yang aku pertimbangkan selain orangtua Arga. Aku takut mereka terkena imbas dari kelancanganku," ujar Asha sambil mendesah lelah.


"Mungkin kamu bisa membicarakan ini dengan mereka?" usul Reksa.


Asha menggeleng lemah. "Beliau sudah memperingatiku." Reksa jadi ikut menghela napas panjang. Mereka berdua akhirnya terdiam. Perbincangan panjang dengan Reksa membuat Asha lelah.


"Sedang apa kalian?" tanya Kiran. Cakra yang ternyata ikut di belakang Kiran melongok.


Reksa mendongak. "Duduk." Jawaban Reksa ini mencurigakan. Sementara Asha melihat ke arah Kiran seraya tersenyum. Namun senyum itu bukan bahagia, dia sedang bersedih. Kiran yang jadi sahabat Asha paham. Kawannya sedang dalam suasana hati tidak baik. Kakinya melangkah dan mendekati Asha.


Reksa berdiri dan sedikit menjauh dari mereka. Berusaha berdiri mendekat ke Cakra. Mata Cakra terus mengawasi Asha.


Tiba-tiba Asha memeluk Kiran.


"Kenapa, Sha?" tanya Kiran dengan penuh perhatian. Lalu memeluk Asha juga. Menepuk-nepuk punggung Asha perlahan. Ternyata Asha pura-pura kuat. Dia menahan diri tadi. Namun ternyata saat ini tak mampu lagi untuk tidak menangis.


Saat melihat ini Cakra langsung menegur, "Apa yang kau lakukan, Rek? Kau membuatnya menangis? Kau memaksakan lagi cintamu ke dia?" sembur Cakra tidak sabar.


"Apa aku seperti itu?" Ini bukan sebuah pertanyaan. Ini lebih mengarah ke sebuah penegasan diri, bahwa Reksa tidak seperti yang Cakra katakan.


"Mungkin saja," jawab Cakra juga sebenarnya tidak yakin. Hanya saja hal yang terlihat saat ini, saat Asha tiba-tiba ingin menangis adalah karena Reksa.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Aku sudah menyerah soal Asha. Dia tidak akan menoleh padaku lagi," ucap Reksa seperti sedang kalah dalam sebuah kompetisi. Hatinya sedikit sakit di sana.


"Lalu, apa?" tanya Cakra.

__ADS_1


Kiran mengibaskan tangan ke arah mereka. Wajahnya mengkerut seraya menyuruh mereka untuk menjauh dan membicarakan hal-hal yang mereka debatkan saat ini di tempat lain.


Reksa dan Cakra menurut. Mereka berjalan masuk ke dalam lapangan basket.


"Lalu?" tanya Cakra lagi. Dia masih mengejar pertanyaan yang sama.


"Arga." Mendengar nama di sebut Reksa, Cakra terkesiap.


"Dia kemari?"


"Benar. Dia muncul di depan tadi." Cakra berpikir. Mungkin temannya itu sengaja mencari keberadaan Asha.


Sebenarnya tidak ada yang salah pada mereka berdua. Arga ingin menikahi, karena yakin dengan pilihannya. Mungkin sedikit mendadak karena Arga memang sedang terburu-buru. Melihat kemunculan Reksa, itu sangat mengganggunya. Itu membuatnya gegabah untuk segera ingin menikahi Asha.


Sementara Asha sendiri terlalu memikirkan banyak hal. Memang, melihat posisinya, dia perlu juga memikirkan banyak hal. Bagaimana jika kelancangannya menjalin hubungan dengan Arga membuat posisi Bik Sumi dan Rike terancam?


Mereka yang membawa Asha pada majikannya dan bisa bekerja di sini. Bik Sumi menjadi wali di sini. Jika dia berani bertingkah lancang, itu mungkin juga mempengaruhi mereka. Asha berpikir tentang mereka berdua juga.


Kalau sudah tahu begini kenapa menerima cinta Arga dari awal? Cinta itu datang tak di sangka-sangka darimana asalnya.


Mungkin awalnya, saat mengetahui bahwa Arga mencintainya, Asha sendiri belum yakin dengan perasaanya. Dia hanya mengikuti dongeng manis yang di tawarkan Arga karena terlihat menarik. Namun sepertinya saat ini Asha juga merasakan perasaan yang sama seperti Arga. Hanya saja keadaan semakin rumit.


Tangis Asha sudah mereda, tapi Kiran masih ingin menemani Asha. Karena ini, Rezky dan Kiran harus pulang agak malam. Rezky mengerti, jadi membiarkan Kiran menenangkan Asha lebih lama. Membiarkan mereka berdua mengobrol lebih banyak lagi. Setelah itu Kiran meminta Cakra untuk mengantar Asha pulang karena jam malam hampir habis.


***


Meskipun sudah larut, Asha belum bisa tidur. Rike sudah terlelap sejak tadi. Gadis itu sudah tidur saat dia baru pulang. Dari sekian banyak yang mulai di hapus oleh Nyonya Wardah, jam malam ini masih tetap seperti sedia kala. Tidak di hapus. Asha pantas bersyukur.


Tangan Asha berkali-kali memainkan handhpone tanpa tujuan. Dia gelisah. Tiba-tiba handphone-nya berdering.


Rendra?!


Asha merasa aneh sekretaris Rendra meneleponnya. Mata Asha mengerjap. Masih tidak menerima panggilan. Dia heran. Apalagi jam dinding menunjukkan jam satu dini hari. Ini jam tidak wajar buat Rendra meneleponnya.


Handphone-nya semakin mendesak meminta untuk di terima.


"Ya. Ada apa?" tanya Asha. Setelah berpikir berulang kali, mau menerima atau tidak, keputusan Asha jatuh pada bersedia menerima panggilan telepon itu.


"Maaf mengganggu tidurmu, Asha. Aku ingin meminta bantuanmu," kata Rendra tanpa memberi jeda pada kalimatnya. Seperti ada kepentingan mendesak.


"Bantuan?"


"Ya. Bisa kamu kemari?" tanya Rendra mengherankan.

__ADS_1



__ADS_2